Saturday, 13 August 2016

Catatan Ringan: 5 Petualangan Sebelum Lulus


Sumber
Seorang teman, sebut saja Mawar, menantang saya untuk menulis topik yang ringan. Padahal dua postingan saya terakhir itu postingan ringan, dalih saya. Apa saya harus buat tulisan tentang makanan dan minuman ringan? Tapi ternyata yang diminta Mawar teman saya ini seperti yang sering ia baca: 7 cara jadi cewek idaman, 1001 cara mengecilkan perut, 8 upaya lulus cepat, 5 sehat 4 sempurna, dan angka yang digandeng kalimat singkat lainnya. Sebabnya menurut Mawar  teman saya ini, isi blog saya cuma berkutat di seputar kegelisahan, kegalauan, dan kecacatan mental yang dapat melemahkan karakter bangsa, kalau tidak tentang catatan perjalanan yang isinya narsisme belaka. Here we go, I've spitted what you said. Sebenarnya saya agak tersinggung dengan penilaian seperti itu. Tadinya mau jawab, blog gua ya terserah gua, tapi gak jadi karena nanti gak ada habisnya. Satu hal yang pasti, blog saya memang mengutarakan perasaan dan pengalaman saya selama ini. Pun begitu dengan blog orang lain. Sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Ah denial doang bisanya. Bukan, ini mah rasionalisasi keleus. 

Jadi, saya berniat menggabungkan sebuah angka dengan kalimat pendek sebagai bukti komitmen saya terhadap permintaan Mawar teman saya: 101 Cara Mengurus Anjing Dalmatians. Kebanyakan angka? Okay, kita tendang angka terakhir. Masih kebanyakan? Bagi dua kali tiga bagi tiga aja ya, jadi cuma 5 doang. Gak suka anjing? Banyak maunya ya. Okay, kita ganti topik karena saya juga gak punya Dalmatians. Gimana kalau 5 Petualangan Sebelum Lulus Kuliah? Bisa jadi tulisan ini bisa dibuat materi sekuel Petualangan Sherina dan Sadam waktu kuliah di Bandung. Terus mereka bingung sebentar lagi lulus tapi hidup mereka cuma dipenuhi ratapan kenangan petualangan mereka di kebun bayam Lembang dan Boscha doang. Tenang, saya gak akan tulis yang berhubungan dengan: kita harus ikut kompetisi debat internasional, ayo kita demo masak rektorat, kuliah yang rajin dan blablabla~~ . Yang jelas kuliah itu harus lulus pada waktunya, selow aja.

Sunday, 7 August 2016

Di Stasiun Pulang Kerja


Di stasiun ini, cuping hidungmu bergerak-gerak membaui aroma lelah yang menyeruak dari orang-orang lalu lalang. Bola matamu mencerminkan kekosongan orang-orang berpapasan. Raut mukamu berubah masam, merangkum kegelisahan orang-orang duduk dan mematung menanti malam. Mereka membangun sekat transparan dengan deretan telepon genggam, bacaan, atau penyuara kuping yang ditanamkan dalam-dalam. Saat kau hanya bisa sedikit berharap untuk membangun ruang sendiri, mereka sudah tenggelam. Kita putus asa untuk melocot kebisingan yang sudah mengerak di bawah kulit kita. 

Wednesday, 22 June 2016

Ngabuburit: Bertualang di Manglayang




1
Foto di atas sekilas seperti dalam keadaan senang dan mudah: 1818 mdpl doang. Tapi memang menyenangkan sih. Foto tersebut diambil Jumat lalu saat saya bersama dua orang teman – Tedi dan Dimas – pergi berkemah ke Gunung Manglayang. Rencana untuk pergi berkemah sudah menjadi wacana sejak bulan lalu namun belum terealisasi karena tak kunjung menemukan tempat yang cocok. Awalnya Prau menjadi pilihan pertama namun gagal setelah mengecek jadwal kerja kami yang hanya cocok dengan dua hari libur. Setelah memilih dan memilah, kami memutuskan mencari lokasi yang strategis dan mudah diakses di sekitar Bandung. Jadilah Gunung Manglayang yang lumayan dekat dari kota Bandung. Gunung Manglayang sendiri bisa diakses dari Bumi Perkemahan Batu Kuda di Cibiru dan Bumi Perkemahan Kiarapayung lewat desa Barubereum. Kami memilih lewat Kiara Payung karena memang lebih familiar. Selain itu saat masa awal mahasiswa, saya pernah berkegiatan di Kiarapayung (dan juga Manglayang sepertinya). Jadi masih ada bayangan samar. Termasuk bayangan bahwa Gunung Manglayang memiliki karakter seperti bumi perkemahan Kiara Payung. Mudah didaki.

Friday, 8 April 2016

Bumi

Kita sama-sama percaya ada luka yang menjelma gembira dan ada suka yang menjelma derita.
Kita sama-sama percaya ada bagian diri kita yang menyatu dengan alam semesta dan ada bagian dari semesta yang tercermin dalam diri kita. Kita sama-sama mengetahui 
bahwa waktu jualah yang menuntun kita 
kapan bersembunyi dan menampakan diri, 
kapan jemu berhenti dan kapan lelah berlari. 

Bumi terasa lebih sepi tanpa dirimu

Wednesday, 23 March 2016

Door Duisternis Tot Licht


Last night I witnessed my own dream leaving me empty: I was only blanketed in opulent darkness and floating comfortably without destination. I was free and lost: catching my own hands i couldn't see, reaching a heart i couldn't feel. I was trapped and okay. It was on repeat over and over as if it was only my destiny. 

I woke up sweating. My hands cold and the remaining waves of anxiety and doubt kept hitting me even after i opened my eyes. I was exhausted as if i had been having a series of explosive laugh, or cry, i didn't know i couldn't differ. I felt groggy and weepy. Even so the immediateness moved me from the bed and made me ponder how today could be a bit different. 

I walked slowly into the sun and noticed the shining morning dew. 

Door Duisternis Tot Licht.




Meru Betiri. 25032015.