samedi 17 mars 2012

Lela Oh Lela

Pecel Lele Lela


Minggu lalu (11/03/2012), setelah beres urusan di kampus Unpad Dipatiukur, saya sama cici Linda dan teman-teman baru kelaparan. Bingung milih tempat makan di mana, saya ngasih saran makan capcay atau ayam bakar di belakang Monumen Perjuangan. Selain banyak, murah pula. Komplit buat mantan mahasiswa yang perutnya kaya gorila. Tapi Linda dengan manis menawarkan, "Gimana kalao kita coba Pecel Lele Lela aja?" ting ting. Matanya mengerdip jenaka. Oke, akhirnya kami terbius mata Linda dan akhirnya makan di Pecel  Lele Lela cabang Dipatiukur yang belum lama baru berdiri. Penasaran juga sih gimana pecel lele yang kata temen-temen enak banget. Setelah nunggu lima menit, saya dikasih menu. Mmmm...lagi baca-baca pilihannya, mata saya tertuju pada Es Fruit Tea Jelly dan Wedang Jahe yang dilabeli Coming Soon. Yah. Coming Soon layaknya artis ayau sesuatu yang ditunggu-tunggu.


coming soon, tunggu kehadirannya!


Ngakak miris. Ga jelas alasannya. Beralih dari situ, perut godzila udah mengaum, saya akhirnya memesan paket Lele Original seharga 17rebu termasuk air aqua gelas (bener-bener di gelas), lalap (dibatasi dua potong mentimun dan seiprit selada), (1/4 tempe goreng dan 1/4 tahu goreng), tak lupa pecel lele bumbu original dan nasinya. Dari porsi makannya aja udah bisa ditebak, cuma bisa ganjel ampe sore doang. Saya berharap semoga rasanya yang enak menutupi porsinya yang bener-bener sedikit. Saya juga berharap tiba-tiba nama saya berubah menjadi Lela. Atau saya ulang tahun hari itu. Soalnya kalau nama saya lela atau saya ulang tahun hari itu, saya bisa gratis makan. Tuhan ga adil ternyata, doa orang teraniaya tiadk dikabul. Nama saya tetap Pradipta dan tanggal ulang tahun saya tidak berubah.

Ketika pecel lele original sudah terhidang beberapa saat kemudian....

Dan rasanya biasa aja. Kecewa sih. Bumbu pecelnya justru gak nendang ditambah sambelnya yang nanggung. Mau pedes, apa mau manis? Pedes manis sekalian? Rasa lelenya juga standar seperti kebanyakan. Saya jadi inget pecel lele enak yang ada di deket SMPN 40, Wastukencana. Cukup sembilan rebu saja, tahu dan tempe segede badig udah bisa dilahap. Ditambah akses tak terbatas ke lalap bonteng, surawung, dan seladanya plus air putih. Haaa~aaah.

Linda pun tampak menyadari kesalahannya kemudian nyeletuk,
Dip, pilihan ke dua gw ini salah lagi ya? Hehe. Maaf ya.

Saya pun membalas celetukannya,
Sabar nak, dunia kuliner memang tidak seperti yang orang bilang.


vendredi 16 mars 2012

Memorabilia

Apa kabar Dip?
Itu sms dari temen smp saya yang satu almamater kuliahan.
Saya bingung apa itu pertanyaan basa-basi yang harus dijawab dengan, "Baik. Kamu gimana?"
Atau memang ada sebuah kontak batin persahabatan yang terjalin secara tidak intens yang membuat dia merasa ada ketidakstabilan emosi yang ngbuat dia ngsms kaya gitu yang ternyata harus bikin saya juga harus membalasnya dengan niat sepenuh hati, "Gila ya, gw baru lulus dan gw kangen masa kuliah gw, gw kangen masa sma, dan gw juga kangen masa smp. Kangen kalian juga, kalian ke mana aja? Baik juga kan? Ada cerita apa? Eh ayo ketemuan, kita ngobrol semalam atau begadang lagi di rumah gw."

Sebulan yang lalu tepatnya tanggal 15 Februari, saya wisudaan. Ini menandakan bahwa saya telah mengakhiri masa perkuliahan saya selama empat setengah tahun. Secara seremonial iya, tapi secara esensial belum. Saya ternyata masih harus bolak-balik kampus untuk mengurus revisi skripsi yang baru saja saya kerjakan hari ini. Saya sebenarnya ga suka menunda-nunda pekerjaan. Betapa saya alergi terhadap procrastination namun masa-masa kuliah terus membayangi saya erat sehingga saya menjadi seorang yang ignorant.

Setelah wisuda, tidak banyak aktivitas yang saya lakukan. Cari kerja, baca buku, berenang, lari pagi,  tidur seharian, ga mandi seharian. Cari kerjapun setengah niat, setengahnya lagi masih tertinggal di masa kuliah dulu. 
.
Lantas saya suka balik lagi mengingat masa-masa kuliah dulu, masa-masa awal kuliah dulu.
SPMB. OSPEK. SEMESTER PENDEK. UAS LISAN PHI. BEASISWA. PRAKTIKUM PROFESI. SKRIPSI.
Itu satu barisan kata kunci yang kira-kira merangkum passion saya. Kalau mikirin semua itu, ada perasaan nyelekit yang akhirnya nggugurin bulir-bulir air mata yang sering saya tahan. Soalnya masalah yang lebih gawat hadir saat saya ngangenin masa kuliah: saya kangen sama masa SMA, SMP, kangen temen-temen semua. apa kabar ya mereka? Mudah-mudahan baik. Memang udah takdir hape saya hilang berkali-kali jadi aja nomor mereka pada hilang. Cuma beberapa yang tertinggal.

Yah, cuma bisa nginget terus kangen. Cuma itu yang ternyata saya lakuin hampir dua bulan ini.
Ya Tuhan, kembalikan saya pada aktivitas yang padat lagi. Aamiiin.





Satu lagi, saya kangen nenek saya.

Public Display of Affection

Public Display of Affection ~ Love or Lust ?

pengalaman

Hemm hari gini jomblo ? 
kalau ada orang yang tiba-tiba nyeletuk gitu persis di depan kita gimana coba?
timpuk pake bata. makanya siapin bata portable buat kejadian-kejadian ga terduga kaya gitu.
Nah yang repot kalau ternyata ada orang yang suka nyinyir tentang pacaran dan berceramah di twitter atau facebook atau bahkan 'pacaran' di twitter. Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa kalau dia taken dan seharusnya banyak beramal supaya hubungannya langgeng.

Kali ini saya ga akan ngobrol tentang kompleksitas persona individu dalam sebuah hubungan, seksualitas, ataupun mainstreaming dalam berhubungan tapi  saya bakal ngobrolin satu topik yang ada hubungannya (tipis) dengan itu semua. Public Display of Affection

Yang pernah jomblo pasti tau. Secara harfiah, Public Display of Affection (PDA) mengacu pada gesture apapun yang secara kultural menunjukan adanya indikasi seksual atau romantika yang bertempat di arena yang terbuka bagi anggota publik lainnya (referensi 1). Dari pengertian sederhana ini, dapat diungkapkan dengan jelas bahwa "pacaran" di tempat umum merupakan sebuah indikasi dari PDA. Terus kalau mau pacaran harus di mana kalau gitu?

Tenang, kata penting yang kedua adalah "kultural". Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Nah tiap kebudayaan di berbagai negara tentu aja beda apalagi mengenai hal pacaran. Di Arab misalnya, perempuan dan laki-laki sudah jelas ga boleh saling pandang apalagi pegangan tangan kalau pacaran, di Jepang, pada awalnya pacaran itu mengharuskan pegangan tangan di tempat umum, sedangkan di Indonesia yah banyak ngikut-ngikutannya. 

Yang perlu dimengerti adalah tidak ada yang salah jika kita ingin mengapresiasi pacar kita namun hal yang harus digarisbawahi adalah kenyataan bahwa sebenernya apakah kita benar-benar mengapresiasi pacar kita secara dalam? Maksud saya, kita pacaran pegangan tangan di mal itu apakah emang bener love atau lust?

PDA sendiri dikategorikan menjadi gentle action/mild form dan intimate action/extreme form. Gentle action bisa diderivasi menjadi pegangan tangan, cium kening, merangkul, bersandar, dan sebagainya. Sedangkan intimate action sudah pada tahapan frenchkiss, penetrasi seksual dan hal-hal fisik lainnya. Nah dalam sebuah survei dari 200 pelajar ada 42%nya yang sudah berpacaran dan bergandengan tangan  (referensi 2). Hal ini salah satu bentuk halus dari PDA. Perlu diketahui juga PDA dalam tingkatan wajar merupakan salah satu bentuk upgrade hubungan kita menjadi lebih nyaman dan berkualitas namun dalam tahapan extreme akan menimbulkan obsessive love disorder.

Nah yang ingin saya kritisi di sini adalah PDA di twitter yang terkadang membuat kita jenuh. Intensitas bermesraan yang terlalu sering membuat follower-nya banyak mengeluh. Tiap ngtweet isinya pasti berbau mesra. Dan dalam waktu dekat dapat memancing kecemburuan sosial.

Kalau saya buka twitter di BB, pasti saya sudah mute orang-orang yang begitu. Bukan karena saya cemburu atas hal semacam itu tapi cinta itu memang ga butuh publikasi. Kasih sayang itu cukup dirasa di hati. Dari pengalaman sendiri, orang yang level PDA-nya tinggi memiliki kerapuhan yang tinggi dalam masyarakat dan hubungan interpersonal. Mereka juga akan menjadi co-dependent yang artinya menggerus kemandirian dirinya sendiri. Selain itu, saya juga berasumsi bahwa orang yg PDA membutuhkan rekognisi masyarakat sebagai ajudicatornya. Entah ingin penilaian atau hanya sekadar pemberitahuan.

Yah mengutip dari perkataan teman yang sudah sangat membenci bentuk tidak wajar dari PDA:
ya udah cukup dengan yang lebay, biasa aja sih. Yang wajar-wajar aja. Kita kan hidup di Indonesia yang budaya ketimurannya masih kental dan juga harus dijaga.

Ya menurut saya sih pacaran  mah ga usah bilang-bilang. Ga perlu seisi bumi tahu kalau kita pacaran. Kecuali ditanya polisi, baru bilang. Cukup kita dan Tuhan aja yang tau.

jeudi 15 mars 2012

Metamorloveis

Metamorloveis

Two days ago my bestfriend was getting married and a week earlier she told me and the gang that she was eventually getting married. Well, as others responded, i threw a big smile and said, "Congratulations, tons of happiness for you both!" and blahblahblah.

 But  as time went by, my smile became wry. 

This was what happened. I never have bestfriends for real before. This one, Ms D (Mrs i supposed?) is one of my best friends from senior high school. I dont have a lot of friends but they confirmed my thought that i actually have a few of bestfriends, the true ones. I have told you earlier in my previous posts that there's few people who are willingly to stand up for someone like me. I am barely human and I don't have anything extraordinary to offer but they, including dewi, have accepted me what i am. This is something that so much valuable for me. And thinking that i am gonna lose one of friends like her just gave me a goosebump.

Ms. D is a very sweet and mature woman. She's one of best secret keepers i ever knew and she's one kind of human that does not care about what people -who don't know her- say yet she's funny and  kinda dull in serious matters. And since we four established the friendship "Berbagi Suami", she's the most closest person i got used to be with in the gang. And we share almost everything (in spite of gender difference). Our painful love stories, our family problems, and other stuffs. I knew her for almost ten years and i know a bit about her transformation. It got me thinking after she told us that she was getting married that I am gonna lose one of my bestfriend. 

I feel so terribly sad because of it. I don't mean my feeling toward her as an affection of a man longing for a woman but it's like she's the part of me that is going to be gone in a minute and not coming back. I am not ready to sip on loneliness feeling again and i don't think i am capable to take it back. I know once she got married, everything'd be a bit different. She now is a housewife and has a lot of new responsibilities. And for sure i don't wanna burden her by sharing the stories like we got used to do. 

But for the most of my life, i have never been happier than this. I'm totally happy thinking that she  could finally stop being galau, because deep inside, i know that she is worth a lot of happiness. And after attending her wedding, i know i would miss her as a single bestfriend :)

the Beautiful Bride, my bestfriend :D

Eight years ago, we were still laughing on how love fooled us. but two days ago, you woke up in the morning and realized you were Queen already. Congratulations, Mrs. Dewi :) 

Semoga sakinah mawadah warahmah.



Mrs. D between Me and R

vendredi 9 mars 2012

Damai dalam Badai

Menjadi Damai dalam Badai

Beberapa sore lalu saya membongkar kardus-kardus yang ada di lantai atas. Kardus itu ternyata berisi buku-buku. Mulai dari buku kuliah kakak yang sudah lapuk sampai majalah Kartini dan Femini edisi tahun 90an. Isinya juga beragam: buku teori sastra, kebudayaan, dan juga novel-novel. Nah bagian yang terakhir ini yang saya antusias. Waktu lagi cari novel-novel jadul, ada buku pengarang terkenal Motinggo Busye! Bukunya berjudul Damai Dalam Badai.

Sontak novel ini jadi distraksi hebat, saya enggan membereskan isi kardus yang tergeletak di lantai. Saya mulai membaca novel ini sambil tiduran. 

Damai dalam Badai :)
Tebal novel ini 314 halaman di cetak di Jakarta oleh Gultom Agency tahun 1988. Wow, pantes ya semua halamannya sudah menguning juga rapuh.

Dua jam saya larut dalam plot novel ini. Ceritanya mengenai dua mahasiswa yang berbeda perangai yaitu Firman yang religius dan Leo, sepupu Firman, yang  benar-benar free, terkenal playboy dan tidak bertanggung jawab.. Kemudian Firman jatuh cinta kepada Tanty, mahasiswa yang berasal dari keluarga yang menjunjung nilai islami. Tanty dididik untuk tidak berpacaran jadi siapa yang ingin menikahi Tanty, ia harus menjalani proses taaruf dengannya dan keluarganya tidak terkecuali Firman. Di sinilah perbedaan karakter yang sangat kontras dan jelas digambarkan Motinggo ke dalam karakter  Firman dan Leo. Firman berusaha menikahi Tanty dengan niat dan juga komitmen yang serius sedangkan Leo akhirnya harus menikah dengan Susanti. Susanti menjebak Leo dengan berpura-pura hamil di luar nikah namun ternyata Susani belum hamil sebelum ia menikah. Nasi sudah menjadi bubur Leo terpaksa menikahi Susanti. Namun begitu, Leo masih belum bisa menyadari tanggung jawabnya sebagai seorang suami, ayah, dan juga kepala keluarga.

Beberapa tahun berlalu, Firman dan Leopun akhirnya sudah memiliki anak. Romansa dan problematika pun bergulir kepada Ani, anak Firman, dan Niko, anak Leo, yang mewarisi nilai-nilai kokoh yang diajarkan di dalam keluarganya. Niko dan Anipun saling jatuh cinta namun lagi-lagi status sosial dan juga perbedaan sikap menjadi batasan curahan cinta mereka. Motinggo menggambarkan secara prinsipil mengenai proses penyatuan karakter Niko dan Ani dalam kerangka jatuh cinta.

Cerita yang dilukiskan oleh Motinggo menggambarkan penterasi kebudayaan Barat pada saat itu. Ketika nilai-nilai universal dan global mulai memasuki Indonesia atas nama modernisasi, nilai yang dianut oleh Firman dan Tanty beserta keluarganya dianggap sudah kuno dan usang. Susanti dan Leo yang memang hidup berkecukupan dan mewah dibandingkan kehidupan sederhana Firman dan Tanti tidak menjadikan Susanti dan Leo keluarga yang utuh dan bahagia. Membaca novel ini saya dibawa ke dalam kehidupan selanjutnya dari keluarga Firman dan Leo: Ani dan Niko. Saya diajak tumbuh bersama Niko dan juga Ani hingga mereka bersama dan juga berpisah. Twist di akhir novelpun lumayan mencubit. Penokohan yang kuat menjadi salah satu kelebihan Motinggo dalam menulis novel. Selain itu, Motinggo juga piawai dalam mengajak kita menelusuri masalah keluarga Firman dan Leo dengan sabar.

Betapa agama (Islam) sangat penting dijadikan sandaran hidup saat zaman kapanpun merupakan amanat yang ingin disampaikan Motinggo. Selain itu di dalam novel ini juga dijelaskan bagaimana seharusnya seorang pria memperlakukan wanita dalam kasus Ani dan Niko bagaimana keduanya memenuhi kewajiban mereka sebagai suami dan istri.

Saya senang dengan novel ini karena saat ini jarang sekali ada penulis yang menekankan pada bagaimana kita menghormati wanita dalam berhubungan, bagaimana kita memperlakukan mereka sesuai dengan nilai-nilai agama. 

Saya senang dengan ucapan Ani, 
"Orang tukang omong mungkin pembohong tapi orang pendiampun bisa juga pembohong."

dimanche 26 février 2012

Rejected Doll

 

When you try your best but you don't succeed
When you get what you want but not what you need
When you feel so tired but you can't sleep
Stuck in reverse

When the tears come streaming down your face
When you lose something you can't replace
When you love someone but it goes to waste
Could it be worse?

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you
Fix You - Cold Play

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons