Kamis, 30 Juli 2009

Berfilosofi Kopi Sambil Ngopi bareng Dewi Lestari

Minggu, 19 Juli 2009, ada diskusi buku Filosofi Kopi bersama Dewi Lestari di Potluck. Semenjak Fadhli mewartakan hal ini, thanks to him :-), dalam pikiran saya, saya mesti ikut diskusi ini. Bagi yang belum tau, saya fans berat tulisannya Mba Dee. Buat yang belum tahu, Mba Dee adalah nama pendek buat Dewi Lestari. Bagi yang belum tahu Dewi Lestari, ke laut aja. Hehe.

Dewi Lestari itu adalah seorang novelis dengan karyanya : trilogi Supernova, Filosofi Kopi, Perahu Kertas, dan yang terbarunya Rectoverso. Buat pengagum diksi yang indah dan luwes, alur yang menawan namun mendalam, filosofi kopi adalah yang terbaik. Filosofi kopi merupakan kumpulan prosa dan cerpen Dewi Lestari selama satu dekade. Dan sekarang, Dewi Lestari akan berbagi ramuannya meracik Filosofi Kopi

Yah beginilah kronologisnya kira-kira :

Pukul 15.00 WIB :
gw dan fadhli nyampe Potluck, bagi yang belum tahu, Potluck berlokasi di jalan Haji Wasid no 31 Bandung.
Tepatnya di belakang Rabbani dipatiukur, deket Universitas Padjadjaran. Potluck tempat yang nyaman untuk ngobrol, small meeting, hotspotan, atau baca buku. Potluck juga menyediakan perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan para penggila bacaan sekaligus penggila kopi. Tapi sayang perpustakaannya tidak terlalu besar dan buku-bukunya juga tidak terlalu variatif. Tapi untuk mencari inspirasi dan relaksasi, Potluck cukup akomodatif untuk dicoba. Sampai di sana, gw langsung menuju venue diskusi. Sebelumnya gw diminta ngisi daftar tamu dan memilih menu makanan yang udah termasuk dalam biaya masuk.

Taman belakang berhasil disulap oleh para kru Potluck menajdi arena berdiskusi yang minimalis dan berkesan. Dan bagi yang ingin merayakan ulang tahun sederhana tapi berkesan, bisa mencoba taman belakang ini. Di sebelah kanan venue itu ada sebuah mushola kecil. Tidak membuang waktu, gw langsung aja menyambar air wudhu untuk menunaikan sholat ashar.

Pukul 15.30 WIB:
30 menit dari kedatangan gw, acara pun dimulai.
Moderator pun membuka acara. Acara yang berbayar seharga Rp. 69.000,00 ini (entah ada apa dibalik angka eksotis ini ? :-p ) sebanding dengan paket makan dan minum yang tersedia dalam berbagai alternatif ( saya coba nasi goreng black pepper dan cappucino), goodiebag dari potluck yang berisi majalah dan asesoris Chic, dan tentunya temu langsung mba Dee, yang sedang hamil. :-)

Tepat setelah moderator membuka acara, Mr Teddy Bear band (aduh lupa nama lengkap bandnya, maaf kalo salah) pun mengisi sejenak kekosongan yang ada dengan lagu Firasat. Setelah itu barulah Mba Dewi Lestari naik ke tatas panggung.


<----- suasana panggung minimalis yang didiami oleh dua wanita yang sedang menjadi Centre of Attention.





deg-degan, muka gw merah menyala di sebelah Dewi Lestari, aduh si Pradip malu-maluin aja.


Waw. She was really beautifully pregnant !! wanita hamil ternyata memancarkan aura kesejukan dan kealamian. :-)

Peserta yang ikut lumayan banyak. Bahkan ada yang sengaja datang dari Bogor dan jauh-jauh dari Yogyakarta untuk meminta tips-tips Mba Dee yang inspiratif. Satu jam sudah sesi diskusi dari Mba Dee dan sesi pertanyaan selama 15 menitpun sudah berakhir. Sebelum acara benar-benar berakhir, ada sesi foto dan booksigning. oia, ternyata mba Dee sendiri ga pernah mencoba semua kopi yang ada di cerita pendek Filosofi Kopi loh. itu hanya imajinasinya dia : mengaitkan antara karakter kopi dengan karakter orang-orang.

Pukul 17.00 WIB :
Acara b
erakhir jam 17.00. Sebelum pulang, gw nyoba dulu hotspotan dan memesan beberapa camilan.

Ternyata kita harus membeli minimum Rp.25.000,00 untuk mendapatkan kode hotspotan.

Entah cerdik entah pelit .

Hehe. :-P

this is the beginning

Bienvenue monsieur, madame, et mademoiselle.

welcome to my blog.

Sebenarnya ini bukan kali pertama gw bikin blog. Percaya atau tidak, gw pernah bikin blog saat kelas 3 sma, hampir tiga tahun yang lalu. Alhasil, blog itu hanya berisikan empat artikel yang berisi curhatan semua. Junk lah. Selebihnya gw juga lupa kapan terakhir memutakhirkan artikel yang ada di sana. Seenggaknya gw inget kalo gw lupa kapan gw terakhir menulis. tapi gw sadar menulis itu ternyata sulit. sulit mengeliminasi rasa malas dan mengkristalisasikan perasaan kita dalam bentuk sebuah kalimat, bahkan kata. :-)

Malas mulai dari awal-kaya gw udah bikin blog yang berisikan puluhan artikel berkualitas aja- karena memulai itu lebih sulit daripada mengakhiri. Semenjak kuliah, gw terbiasa tidak menulis kecuali tugas, makalah, review, critical review, maupun cuma sekedar pr ngisi soal biasa. Tapi dipikir lagi, gw tergila-gila sama yang namanya nulis sejak kelas lima sd. Saat itu gw nulis puisi, lupa judulnya, tapi intinya tentang gunung yang tinggi dan langit yang biru. masa gw mau melepas hal yang gw sukai :-D

Puisi gw pun dinobatkan jadi puisi terbagus dan terpanjang di kelas. Saat itu gw menjadi lebih termotivasi lagi untuk membuat cerpen. akhirnya cerpen gw yang pertama muncul di koran lokal. Dan waw, ternyata ada honornya. Waktu itu gw duduk di bangku smp. Lama kelamaan gw menyadari bahwa menulis itu bisa menghasilkan. Uang ? tentu. Pengalaman ? pasti. Pacar ? bolehlah. Teman baru ? bisa jadi. Mulai dari prosa kacangan tugas sekolah sampai puisi yang masuk antologi Dian Sastro for President seenggaknya pernah gw rasain. :-D

Tapi susahnya di jurusan gw sekarang, Hubungan Internasional, gw jarang menulis kalo tidak berkaitan dengan tugas-tugas tadi. Hobi menulis gw sudah gw khianati dengan menulis karya ilmiah. Padahal gw memiliki tendensi menulis hal yang lebih sastrawi.


Terus gw inget Scripta Manen Verba Volent, yang tertulis kekal dan yang terucap menguap.
Serem amat dengernya. Kebayang dong sama kalo setiap yang kita omongin menguap begitu saja.

Asumsikan :
Apa yang kita bagi dengan sahabat, keluarga, pacar, atau minimal diri sendiri pudar begitu saja. Mungkin kalo ada kamera bisa membantu. Tapi foto itu kurang dramatis dan sistematis. Makanya kalo kita nulis maka kita bisa setidaknya mengingat kembali apa yang sudah kita ucap, atau pikirkan.

Lain lagi kalo kita nulis, dan tulisan kita dibaca sama banyak orang (Amiiin). Bakal bisa jadi inspirasi orang lain, ya seenggaknya membunuh waktu luang orang yang lagi ga ada kerjaan.

Marx aja bisa menginspirasikan kaum buruh lewat Das Capitalnya. Chairil Anwar apalagi, baca dah yang Krawang Bekasi. kalo gw sih merinding bacanya.

seenggaknya kalo anak cucu gw udah lahir, mereka baca buku Das Capital dan tentunya tahu siapa Karl Marx. tapi sedih banget kalo anak cucu kita bahkan ga tahu siapa kakek-neneknya karena ga ada catatan mengenai mereka. Gw hapal siapa Pramoedya Ananta Toer dan Sutardji Calzoum Bachri. Tapi gw ga tau siapa Almarhum kakek gw, kecuali nama lengkap beliau.:-(

jadi konklusinya adalah menulis, menulis, dan menulis !