Tuesday, 13 December 2016

Surat untuk Bumi





                                                                                                                    Sydney, 13 November 2016

Dear Bumi,


Apa kabar kamu di sana? Sudah hampir dua bulan saya tinggal di benua Kanguru, sembilan bulan sejak kepergian kamu. Tujuan dan waktu memang bukan kita yang menentukan bukan? Kamu yang ingin pergi ke sini malah saya yang terdampar di sini.

Sunday, 2 October 2016

Tentang PON XIX Jawa Barat

MENGAPA PON (TAK) HARUS ADA?

Lili dan Lala, maskot PON 19, diambil dari sini

Kamis lalu Pekan Olahraga Nasional XIX atau PON XIX (selanjutnya ditulis PON 19) di Jawa Barat resmi ditutup dengan penyerahan pataka dari Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan kepada Gubernur Papua Lukas Enembe sebagai simbol penyelenggaraan PON XX yang dituanrumahi Papua di tahun 2020. PON 19 ini menimbulkan eforia warga Jabar yang luber ke mana-mana. Ada yang semangat kedaerahannya mendadak meningkat. Ada pula yang latah menyukai olahraga. Termasuk saya.

'Eforia' ini sebenarnya muncul pada awal bulan September saat saya ditugaskan liputan PON 19. Saya sempat menolak tugas tersebut dengan alasan saya bukan reporter olahraga. Saya beralasan akan lebih baik jika liputan diserahkan pada reporter olahraga atau yang memang menyukai dunia olahraga. Atau setidaknya melek dunia olahraga. Sebetulnya saya  suka dengan olahraga. Saya suka renang, joging, atau bermain futsal hanya saja sebagai gerakan olah raga atau momen sosialisasi. Setelah memberikan beberapa nama sebagai pengganti saya, saya tetap ditugaskan untuk meliput PON ini. Jadilah saya punya eforia menerima tugas liputan PON 19 ini.

Eforia saya bercampur dengan rasa khawatir. Ada 44 cabang olahraga (cabor) yang dipertandingkan dan setidaknya saya harus menguasai aturan dan istilah dasar dalam cabang tersebut. Karena itu saya coba mencari referensi mengenai setiap cabor, termasuk menelusuri PON sebelumnya. Saya akui saya termasuk mereka yang pesimis dengan PON. Jujur, anggarannya yang fantastis membuat saya berpikir kalau PON ini hanyalah bagi-bagi jatah saja. PON 19 ini contohnya, anggarannya mencapai 3 triliun rupiah. Saya berpikir keras bahwa dana sebesar ini memungkinkan celah penggunaan dana yang tidak efektif jika tidak diawasi dengan saksama.

Wednesday, 21 September 2016

A Fine Morning with Mount Sumbing

Going Up
Last month, I got an occasional job to Wonosobo in regard to commemoration of Indonesian independence. It was coincidentally matched with my friend’s plan to hike Mount Sumbing.  At first I just wanted to get my  job done then go back home right away. But after looking up about Mount Sumbing, I decided to join him to give a visit to Mount Sumbing after completing my job there.

We booked the bus tickets one hour before departure. I had browsed days before and found out Budiman that we chose undoubtedly because they provide two routes: from Bandung (Terminal Cicaheum) and Cimahi (Pasar Antri/Cimahi Mall) to Wonosobo (Terminal Mendolo). I had to be meticulously aware with their schedule from Cimahi because per last August they only served to Wonosobo only on morning (07.30) and afternoon (18.00). We were chasing a hike in the morning so we decided to go after sundown.

Saturday, 13 August 2016

Catatan Ringan: 5 Petualangan Sebelum Lulus


Sumber
Seorang teman, sebut saja Mawar, menantang saya untuk menulis topik yang ringan. Padahal dua postingan saya terakhir itu postingan ringan, dalih saya. Apa saya harus buat tulisan tentang makanan dan minuman ringan? Tapi ternyata yang diminta Mawar teman saya ini seperti yang sering ia baca: 7 cara jadi cewek idaman, 1001 cara mengecilkan perut, 8 upaya lulus cepat, 5 sehat 4 sempurna, dan angka yang digandeng kalimat singkat lainnya. Sebabnya menurut Mawar  teman saya ini, isi blog saya cuma berkutat di seputar kegelisahan, kegalauan, dan kecacatan mental yang dapat melemahkan karakter bangsa, kalau tidak tentang catatan perjalanan yang isinya narsisme belaka. Here we go, I've spitted what you said. Sebenarnya saya agak tersinggung dengan penilaian seperti itu. Tadinya mau jawab, blog gua ya terserah gua, tapi gak jadi karena nanti gak ada habisnya. Satu hal yang pasti, blog saya memang mengutarakan perasaan dan pengalaman saya selama ini. Pun begitu dengan blog orang lain. Sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Ah denial doang bisanya. Bukan, ini mah rasionalisasi keleus. 

Jadi, saya berniat menggabungkan sebuah angka dengan kalimat pendek sebagai bukti komitmen saya terhadap permintaan Mawar teman saya: 101 Cara Mengurus Anjing Dalmatians. Kebanyakan angka? Okay, kita tendang angka terakhir. Masih kebanyakan? Bagi dua kali tiga bagi tiga aja ya, jadi cuma 5 doang. Gak suka anjing? Banyak maunya ya. Okay, kita ganti topik karena saya juga gak punya Dalmatians. Gimana kalau 5 Petualangan Sebelum Lulus Kuliah? Bisa jadi tulisan ini bisa dibuat materi sekuel Petualangan Sherina dan Sadam waktu kuliah di Bandung. Terus mereka bingung sebentar lagi lulus tapi hidup mereka cuma dipenuhi ratapan kenangan petualangan mereka di kebun bayam Lembang dan Boscha doang. Tenang, saya gak akan tulis yang berhubungan dengan: kita harus ikut kompetisi debat internasional, ayo kita demo masak rektorat, kuliah yang rajin dan blablabla~~ . Yang jelas kuliah itu harus lulus pada waktunya, selow aja.

Sunday, 7 August 2016

Di Stasiun Pulang Kerja


Di stasiun ini, cuping hidungmu bergerak-gerak membaui aroma lelah yang menyeruak dari orang-orang lalu lalang. Bola matamu mencerminkan kekosongan orang-orang berpapasan. Raut mukamu berubah masam, merangkum kegelisahan orang-orang duduk dan mematung menanti malam. Mereka membangun sekat transparan dengan deretan telepon genggam, bacaan, atau penyuara kuping yang ditanamkan dalam-dalam. Saat kau hanya bisa sedikit berharap untuk membangun ruang sendiri, mereka sudah tenggelam. Kita putus asa untuk melocot kebisingan yang sudah mengerak di bawah kulit kita.