Thursday, 12 September 2019

All You Can See is Death

Flying the Amazon fires, "all you can see is death"
Source: Natalie Gallon (CNN)

Few weeks ago when I was in Jakarta for quite some time, I had everyday lunch break with my colleagues; a routine I rarely did. While waiting for my food, I checked my phone and stumbled upon an article covering the Amazon Fires. I held my breath as I looked at the headline photograph: The rainforest being wrapped in plumes of smoke as fires rage across the parts of the rainforest. Realizing that The Amazon has been called lungs of the planet, my lung suddenly was hurting and my eyes watery. I immediately closed article and put down my phone on the table as I knew it was going to trigger a burst of sadness. I tried distracting my thought by touching food served on the table and engaging myself on colleagues’ lunch discussion only to realize that they had been conversing the pros and cons about government’s plan to move the Capital to East Kalimantan and how it would (not) solve problems that Jakarta has been bearing for so long.

I slowly retracted my intention to jump into the discussion and prefer savoring my food while listening to their arguments. Most of their arguments were pertaining to moving the Capital will make palpable distance to their family, tear life they have built here, and only trigger new problems. Until they asked my two cents, “Do you think moving the Capital will serve greater good?”

I tried to quickly compose a reasonable answer but my mind still was on the Amazon. I ended up blurting without direction,

“To be frankly honest I have the least strong stance to utter a valid argument as I am currently not a permanent Jakarta resident and I don’t think I would be significantly impacted much as you guys. However moving the capital would only seem to me to be what David Harvey refers to spatio-temporal fix: solutions to capitalist crises through temporal deferment and geographical expansion. Besides  we are always on a losing side.”

They looked at me in a demeaning way until one popped a question,

“Who is this David Harvey anyway?”

A strange queasiness bloated in my stomach.


Monday, 5 August 2019

Journey to Nothingness



The rustling voice of railroad tracks ground by the train
The sunbeam reeking through the clouds
Reaching window where my head is glued onto
My eyes are gazing out 
Tailing landscapes altering rapidly. 
I am astounded.
It is nearly hypnotizing.

The train moves forwards but my mind strangely wanders backwards. It takes me seamlessly on how I am engulfed on days and nights of mundane routines for pointless efforts of trying to comprehend what every moment brings me to the table of life. Some days I find a thousand kisses so soft that smells like a cotton candy. Some other days I find water welling out of my eyes streaming down to test the limits of the sea that drowns the table.

Certain ripples from reality tick memories of particular place, moment, or person and take me into an emotional submerge on a ripped map of my own heart. They conspire to cajole me into travelling away from the presence and cornering me to exile into the past. The risk of being lost over and over engraves me a deep sense of intricacy. It feels like I am driving fast at a lethal speed and chased by hell only to realize that I am going nowhere.

Thursday, 18 July 2019

Memperluas Perspektif Linguistik melalui Seminar Internasional Kebahasaan 2019

Saya dan Poster Penelitian saya

Minggu lalu saya berkesempatan menghadiri Seminar Internasional Kebahasaan di Jakarta yang diselenggarakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Beruntung karena pekan itu saya juga berencana ke Jakarta untuk ikut konsolidasi proyek yang sedang dikerjakan satu konsultan.
 
Berawal dari penelitian tentang kebahasaan yang saya kerjakan, supervisor saya menyarankan saya untuk mengikuti Seminar Internasional Kebahasaan ini sebagai bentuk evaluasi. Judul seminarnya cukup panjang, yakni 'Memajukan Peran Bahasa dalam Kancah Kontemporer Indonesia: Penguatan Strategi dan Diplomasi di Berbagai Bidang'. Walaupun tidak sebidang dengan latar belakang pendidikan saya, saya tak menolak kesempatan ini. Oleh karena itu saya ikuti proses submisi makalah. Setelah menunggu cukup lama, saya mendapat kabar satu kali revisi untuk bisa terpilih menjadi salah satu pemakalah poster.

Seminar Internasional Kebahasaan ini bertempat di salah satu hotel di jalan Cikini. Ada empat subtema yang diusung, yaitu 1) Bahasa dan Pengajaran, 2) Forensik Kebahasaan, 3) Penerjemahan, 4) Kebinekaan dan Kekerabatan Bahasa. Saya memilihi subtema keempat walaupun sebenarnya tertarik dengan subtema kedua dan ketiga. Seminar ini dihadiri akademisi dan pegiat bahasa yang dirangkai dengan lokakarya. Saya berkenalan dengan dosen, guru, dan pegawai Balai Bahasa dari beragam daerah. Saat melihat daftar pemateri utama, teman saya berkomentar bahwa sebelas pemateri utama dalam seminar ini memiliki kredibilitas tak diragukan di bidangnya baik secara nasional maupun internasional. Walaupun begitu, nama mereka masih asing di telinga saya.

Monday, 15 July 2019

Menuju Taman Bumi Tersembunyi (Bagian Akhir)


Hamparan sawah dan benteng pegunungan

Setelah menghabiskan malam di Curug Awang dan mendengar suara usil, aku segera menghubungi Kang Wildan untuk memesan kamar tidur di tempatnya. Sebelum zuhur kami sudah bertemu di mulut jalan menuju Curug Sodong yang berjarak 40 menit dari Curug Awang. Kang Wildan tinggal bersama dengan orang tuanya. Rumahnya merupakan salah satu rumah yang dibina dalam program pemberdayaan kepariwisataan. Tak heran rumahnya jadi mirip hostel mini. Tiga kamar kecil dengan kipas angin yang masing-masing cukup dihuni dua orang, dan satu kamar yang bisa dihuni empat orang dengan pendingin ruangan. Kamar mandi khusus tamu berada di ruang tengah. 


Tuesday, 18 June 2019

Belajar Mengenal Kopi


Kombinasi Paripurna


Kopi menjadi salah satu minuman yang akrab di mulut banyak orang. Sebagian bahkan tak bisa menjalani harinya tanpa menyeruput kopi, baik dingin maupun panas. Tak heran kopi menjadi komoditas primadona dunia internasional termasuk Indonesia sebagai negara keempat terbesar penghasil biji kopi. Bagi saya, kopi salah satu yang menemani saat mengerjakan tugas, membaca buku, dan santai bersama sahabat.

Dari tahun ke tahun kopi semakin ramah di tengah masyarakat. Baik itu sasetan, mesinan, maupun seduhan manual, tiap orang memiliki selera kopinya masing-masing. Saya cukup kaget ketika menemukan banyak sekali kedai kopi yang berjamuran di Bandung satu tahun belakangan ini. Sekarang hampir di setiap jalan besar dan area padat penduduk saya bisa menemukan kedai kopi, yang murah atau mewah, yang membentuk kultur budaya masyarakat penyuka kopi. Dalam hal ini saya menemukan familiarity dengan Sydney dan Melbourne, atau Paris dan Roma, baik di pusat kota maupun suburbannya terdapat banyak kedai kopi. Saya sempat heran ketika melihat sebagian besar kebiasaan orang di sana: pagi minum kopi, siang kopi, sore kopi, malam kopi, jika tidak diselingi anggur dan bir.