Tuesday, 21 February 2017

Solitude #22

There are two things I loathe about myself: the overrated affection of books and the stupidity of loving someone too deeply. But this writing has nothing to do with both aforementioned.


Either pondering life or feeling sleepy.

Tuesday, 13 December 2016

Surat untuk Bumi





                                                                                                                    Sydney, 13 November 2016

Dear Bumi,


Apa kabar kamu di sana? Sudah hampir dua bulan saya tinggal di benua Kanguru, sembilan bulan sejak kepergian kamu. Tujuan dan waktu memang bukan kita yang menentukan bukan? Kamu yang ingin pergi ke sini malah saya yang terdampar di sini.

Friday, 28 October 2016

Menjalani Jeda Karir (Career Break)


Genap satu minggu saya menjejakan kaki di kota Sydney, kota paling padat penduduk di benua Australia. Saat ini sedang musim semi jadi cuaca masih bisa dianggap bagus. Walau cerah pada hari-hari biasanya, kadang diselingi hujan dan angin kencang. Untungnya saya sudah sempat mengunjungi Sydney Opera House dan Royal Botanical Garden saat hari sedang cerah dan jalan kaki mengelilingi kota. Dari pagi hingga malam, Sydney ini layaknya kota besar lainnya yang tak pernah tidur. Sibuk sepanjang hari sepanjang pekan. Saya sebenarnya bukan tipikal penyuka kota besar. Tinggal sebulan di Jakarta saja sudah buat saya pusing dan gak betah. Lantas apa yang sebenarnya saya lakukan di sini?

Sydney Opera House

Monday, 3 October 2016

Empat Tahun Bersama TVRI Jabar


Banyak orang beranggapan pekerjaan idaman adalah hobi yang dibayar. Namun perkara idaman biasanya antara sulit didapatkan atau ya too good to be true.  Terlebih kalau berurusan dengan kenyamanan. Saya sendiri memiliki hobi jalan-jalan, naik gunung, menulis, atau tidur. Nyaman dengan latar belakang pendidikan saya di bidang politik dan lingkungan. Pekerjaan saya (setidaknya sampai Jumat lalu) adalah jurnalis televisi. Sama seperti orang-orang, saya juga suka tanya diri saya sendiri, sebenarnya mau saya itu apa?

Sunday, 2 October 2016

Tentang PON XIX Jawa Barat

MENGAPA PON (TAK) HARUS ADA?

Lili dan Lala, maskot PON 19, diambil dari sini

Kamis lalu Pekan Olahraga Nasional XIX atau PON XIX (selanjutnya ditulis PON 19) di Jawa Barat resmi ditutup dengan penyerahan pataka dari Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan kepada Gubernur Papua Lukas Enembe sebagai simbol penyelenggaraan PON XX yang dituanrumahi Papua di tahun 2020. PON 19 ini menimbulkan eforia warga Jabar yang luber ke mana-mana. Ada yang semangat kedaerahannya mendadak meningkat. Ada pula yang latah menyukai olahraga. Termasuk saya.

'Eforia' ini sebenarnya muncul pada awal bulan September saat saya ditugaskan liputan PON 19. Saya sempat menolak tugas tersebut dengan alasan saya bukan reporter olahraga. Saya beralasan akan lebih baik jika liputan diserahkan pada reporter olahraga atau yang memang menyukai dunia olahraga. Atau setidaknya melek dunia olahraga. Sebetulnya saya  suka dengan olahraga. Saya suka renang, joging, atau bermain futsal hanya saja sebagai gerakan olah raga atau momen sosialisasi. Setelah memberikan beberapa nama sebagai pengganti saya, saya tetap ditugaskan untuk meliput PON ini. Jadilah saya punya eforia menerima tugas liputan PON 19 ini.

Eforia saya bercampur dengan rasa khawatir. Ada 44 cabang olahraga (cabor) yang dipertandingkan dan setidaknya saya harus menguasai aturan dan istilah dasar dalam cabang tersebut. Karena itu saya coba mencari referensi mengenai setiap cabor, termasuk menelusuri PON sebelumnya. Saya akui saya termasuk mereka yang pesimis dengan PON. Jujur, anggarannya yang fantastis membuat saya berpikir kalau PON ini hanyalah bagi-bagi jatah saja. PON 19 ini contohnya, anggarannya mencapai 3 triliun rupiah. Saya berpikir keras bahwa dana sebesar ini memungkinkan celah penggunaan dana yang tidak efektif jika tidak diawasi dengan saksama.