Thursday, 30 July 2009

this is the beginning

Bienvenue monsieur, madame, et mademoiselle.
welcome to my blog.
Sebenarnya ini bukan kali pertama gw bikin blog. Percaya atau tidak, gw pernah bikin blog saat kelas 3 sma, hampir tiga tahun yang lalu. Alhasil, blog itu hanya berisikan empat artikel yang berisi curhatan semua. Junk lah. Selebihnya gw juga lupa kapan terakhir memutakhirkan artikel yang ada di sana. Seenggaknya gw inget kalo gw lupa kapan gw terakhir menulis. tapi gw sadar menulis itu ternyata sulit. sulit mengeliminasi rasa malas dan mengkristalisasikan perasaan kita dalam bentuk sebuah kalimat, bahkan kata. :-)
Malas mulai dari awal-kaya gw udah bikin blog yang berisikan puluhan artikel berkualitas aja- karena memulai itu lebih sulit daripada mengakhiri. Semenjak kuliah, gw terbiasa tidak menulis kecuali tugas, makalah, review, critical review, maupun cuma sekedar pr ngisi soal biasa. Tapi dipikir lagi, gw tergila-gila sama yang namanya nulis sejak kelas lima sd. Saat itu gw nulis puisi, lupa judulnya, tapi intinya tentang gunung yang tinggi dan langit yang biru. masa gw mau melepas hal yang gw sukai :-D
Puisi gw pun dinobatkan jadi puisi terbagus dan terpanjang di kelas. Saat itu gw menjadi lebih termotivasi lagi untuk membuat cerpen. akhirnya cerpen gw yang pertama muncul di koran lokal. Dan waw, ternyata ada honornya. Waktu itu gw duduk di bangku smp. Lama kelamaan gw menyadari bahwa menulis itu bisa menghasilkan. Uang ? tentu. Pengalaman ? pasti. Pacar ? bolehlah. Teman baru ? bisa jadi. Mulai dari prosa kacangan tugas sekolah sampai puisi yang masuk antologi Dian Sastro for President seenggaknya pernah gw rasain. :-D
Tapi susahnya di jurusan gw sekarang, Hubungan Internasional, gw jarang menulis kalo tidak berkaitan dengan tugas-tugas tadi. Hobi menulis gw sudah gw khianati dengan menulis karya ilmiah. Padahal gw memiliki tendensi menulis hal yang lebih sastrawi.

Terus gw inget Scripta Manen Verba Volent, yang tertulis kekal dan yang terucap menguap.
Serem amat dengernya. Kebayang dong sama kalo setiap yang kita omongin menguap begitu saja.
Asumsikan :
Apa yang kita bagi dengan sahabat, keluarga, pacar, atau minimal diri sendiri pudar begitu saja. Mungkin kalo ada kamera bisa membantu. Tapi foto itu kurang dramatis dan sistematis. Makanya kalo kita nulis maka kita bisa setidaknya mengingat kembali apa yang sudah kita ucap, atau pikirkan.
Lain lagi kalo kita nulis, dan tulisan kita dibaca sama banyak orang (Amiiin). Bakal bisa jadi inspirasi orang lain, ya seenggaknya membunuh waktu luang orang yang lagi ga ada kerjaan.
Marx aja bisa menginspirasikan kaum buruh lewat Das Capitalnya. Chairil Anwar apalagi, baca dah yang Krawang Bekasi. kalo gw sih merinding bacanya.
seenggaknya kalo anak cucu gw udah lahir, mereka baca buku Das Capital dan tentunya tahu siapa Karl Marx. tapi sedih banget kalo anak cucu kita bahkan ga tahu siapa kakek-neneknya karena ga ada catatan mengenai mereka. Gw hapal siapa Pramoedya Ananta Toer dan Sutardji Calzoum Bachri. Tapi gw ga tau siapa Almarhum kakek gw, kecuali nama lengkap beliau.:-(

jadi konklusinya adalah menulis, menulis, dan menulis !