Saturday, 31 December 2011

2012

Malam tahun baru merupakan momen yang menarik bagi saya. Jujur, saya bukanlah seorang fans berat dari perayaan tahun baru. Anda tidak akan menemukan saya meniup terompet di alun-alun kota ataupun membunyikan klakson sambil berkendara di jalan raya. Tapi saya juga bukan seorang pesimis yang mengubur semua harapan untuk perbaikan tahun depan. Saya merayakan tahun baru dengan cara sendiri.

Setiap akhir tahun saya selalu pergi backpack ke salah satu daerah di Jawa. Tujuannya adalah untuk berkontemplasi. Saya sadar kapasitas otak dan kapabilitas tekad saya masih seumur toge yang baru berkecambah, namun rasa penasaran saya mengakar dan tumbuh menjadi buah pikiran. Buah pikiran inilah yang saya coba petik dalam perjalanan akhir tahun.


Mengapa harus memetiknya hanya di penghujung tahun saja ?

Sederhana, karena jika ingin menuai, waktu adalah segalanya. Setiap tahun banyak sekali yang telah terjadi di hidup saya. Dan tidak mungkin semuanya terwujudkan dalam tulisan. Ya, seperti yang saya bilang, tekad saya dalam menulis belum bulat.


Perjalanan yang saya lakukan hanyalah backpack dengan dana seadanya dengan destinasi setahunya. Sampai tahun 2009, saya masih sempat melakukan backpack ke Yogyakarta bersama para sahabat. Menjelang tahun baru, mereka pergi ke alun-alun malioboro untuk mencicipi riuhnya malam pergantian tahun di sana. Sedangkan saya duduk melamun di dalam kamar. Lagi, saya senang sekali menghabiskan waktu dengan sosok yang ada di dalam diri. Berdialog dengan ia yang jarang saya perhatikan, berdialog dengan Ia yang sering saya lalaikan.

Tidak pernah saya mempertanyakan causa prima atau perputaran roda nasib yang bagi saya (dan bagi semua orang) selalu menempatkan diri di bawah. Saya hanya mengevaluasi apa yang sebenarnya saya lewatkan bersama diri sendiri. Tenang, saya bukan seorang narsistik. Saya benci diri saya sendiri, kok.

Tahun 2010 bergulir terlalu cepat tanpa jejak yang membekas. Banyak sekali nikmat yang saya rasakan selama 2010 sampai saya lupa mempost refleksi akhir tahun saya. Saat itu saya sedang kerja (anggaplah kerja) di Gedung Merdeka, acara dinas.

Paginya saya malas sekali mengkritalisasikan refleksi akhir tahun saya di sini. Benar-benar malas. Alasannya ya sibuklah, capeklah, galaulah, yah banyak sekali rasionalisasi yang dijadikan pembenaran.

Sama, saat menulis ini saya sedang dalam situasi kerja. Pasti saat usai kerja, saya akan sangat malas menulis cerita ini. Jadi saya sempatkan sekarang.

Tidak ada satu kejadianpun yang saya sesali selama tahun 2011. Saya masih merasa besok adalah fajar pertama 2011 dan saat mata mengejap, esoknya adalah fajar pertama 2012. Saya tidak sempat backpack dan mengevaluasi dalam perjalanan yang jauh dari kampung halaman. Saya rindu berkereta, bertanya, tersesat, dan berteman baru. Saya ingin hari ini saya habiskan berkeliling kota Malang ataupun mampir di Yogya. Tapi perlahan saya kenal dengan diri saya sendiri, inti dari perjalanan saya bukanlah backpack akan tetapi perjalanan itu sendiri. Bukankah hidup sendiri adalah perjalanan.

Di tahun ini saya mendapatkan banyak sekali pengalaman berharga: prestasi, akademik, magang, pertemanan baru, karir, beasiswa dan lainnya. Bukan hanya yang manis seperti itu, tapi juga yang benar-benar gahang. Saya belajar menerima kekalahan, pengkhianatan, kebohongan, dan juga kekecewaan. Benar-benar menerima, tanpa ada ekspektasi apapun. Sebelumnya saya selalu berontak jika menerima pengkhianatan dan kekecewaan. Mempertanyakan segala kesalahan diri yang menyebabkan pengkhianatan dan kekecewaan, mencoba memperbaikinya dengan paksa, berlarut dalam sedih dan akhirnya tenggelam dalam trauma masa lalu. Saya lelah dengan diri yang berusaha mengeksludasi apa yang saya miliki saat itu. Dewi Lestari menyebut konsep Budha yaitu annica yang berarti bahwa segala sesuatu itu tidak ada yang kekal. Kalaupun pengkhianatan terjadi, sakit yang kita alami akan berbuah manis suatu saat.

Yang saya pelajari, waktu dan juga kualitas yang orang/dunia tunjukan pada kita bukanlah refleksi yang sebenarnya. Di tahun 2012 ini saya ingin lebih mengenal diri saya sendiri dan kamu. Izinkan saya masuk mempelajari relung pikiranmu dan menetap di sana. Mari sama-sama belajar memahami diri sendiri melalui orang lain. Saya dan kamu, suatu saat pasti bertemu. Jangan menyerah, kamu tidak pernah sendirian.

Published with Blogger-droid v2.0.1

Sunday, 25 December 2011

Solitude #10


AR


Sepi yang bergetar
nurani yang gentar
kekuasaan yang nanar
kemanjaan kota yang gahar

harapan yang terlempar
cinta yang hambar
suara yang berkoar
langit yang kasar

globalisasi yang buar
meliuk tanpa jalan keluar
kapitalisme mengakar
rakyat terbiasa gusar





......
Kita bercinta menikmati redupnya suar pantai
aku susah sadar, kita terus memudar

sentul, 20-21 Desember 2011



Tuesday, 20 December 2011

solitude #9


"There is no friend as loyal as a book." ~ Ernest Hemingway

"when you read, you realize that you are not alone." ~moi

Published with Blogger-droid v2.0.1

refreshment #3


you have crush on someone and fall in love secretly with him/her but you are receiving an unrequited love. Don't wait, leave them because you still have Green Iced Tea Caramel Crush to cheer up your mood. It chills your nerves by its relaxing aroma and cool sensation, served @Tokyo Connection, 19k

Published with Blogger-droid v2.0.1

refreshment #2


This is Pina Colada, a famous french beverage. I found it really pinching in my throat, which is good. served @Tokyo Connection, jalan Progo, 18k.








Published with Blogger-droid v2.0.1

Sunday, 18 December 2011

refreshment #1




When everything hurts too much, Green Tea eases your anger.
Green Iced Tea from Paris Van Java Coffee shop, @Borma Setiabudhi, 19k.

Saturday, 17 December 2011

Solitude #8

Sajak Seorang Tua Di Bawah Pohon
W. S. Rendra

Inilah sajakku,
seorang tua yang berdiri di bawah pohon meranggas,
dengan kedua tangan kugendong di belakang,
dan rokok kretek yang padam di mulutku.

Aku memandang zaman.
Aku melihat gambaran ekonomi
di etalase toko yang penuh merk asing,
dan jalan-jalan bobrok antar desa
yang tidak memungkinkan pergaulan.
Aku melihat penggarongan dan pembusukan.
Aku meludah di atas tanah.

Aku berdiri di muka kantor polisi.
Aku melihat wajah berdarah seorang demonstran.
Aku melihat kekerasan tanpa undang-undang.
Dan sebatang jalan panjang,
punuh debu,
penuh kucing-kucing liar,
penuh anak-anak berkudis,
penuh serdadu-serdadu yang jelek dan menakutkan.

Aku berjalan menempuh matahari,
menyusuri jalan sejarah pembangunan,
yang kotor dan penuh penipuan.
Aku mendengar orang berkata :
“Hak asasi manusia tidak sama dimana-mana.
Di sini, demi iklim pembangunan yang baik,
kemerdekaan berpolitik harus dibatasi.
Mengatasi kemiskinan
meminta pengorbanan sedikit hak asasi”
Astaga, tahi kerbo apa ini !

Apa disangka kentut bisa mengganti rasa keadilan ?
Di negeri ini hak asasi dikurangi,
justru untuk membela yang mapan dan kaya.
Buruh, tani, nelayan, wartawan, dan mahasiswa,
dibikin tak berdaya.

O, kepalsuan yang diberhalakan,
berapa jauh akan bisa kaulawan kenyataan kehidupan.

Aku mendengar bising kendaraan.
Aku mendengar pengadilan sandiwara.
Aku mendengar warta berita.
Ada gerilya kota merajalela di Eropa.
Seorang cukong bekas kaki tangan fasis,
seorang yang gigih, melawan buruh,
telah diculik dan dibunuh,
oleh golongan orang-orang yang marah.

Aku menatap senjakala di pelabuhan.
Kakiku ngilu,
dan rokok di mulutku padam lagi.
Aku melihat darah di langit.
Ya ! Ya ! Kekerasan mulai mempesona orang.
Yang kuasa serba menekan.
Yang marah mulai mengeluarkan senjata.
Bajingan dilawan secara bajingan.
Ya ! Inilah kini kemungkinan yang mulai menggoda orang.
Bila pengadilan tidak menindak bajingan resmi,
maka bajingan jalanan yang akan diadili.
Lalu apa kata nurani kemanusiaan ?
Siapakah yang menciptakan keadaan darurat ini ?
Apakah orang harus meneladan tingkah laku bajingan resmi ?
Bila tidak, kenapa bajingan resmi tidak ditindak ?
Apakah kata nurani kemanusiaan ?

O, Senjakala yang menyala !
Singkat tapi menggetarkan hati !
Lalu sebentar lagi orang akan mencari bulan dan bintang-bintang !

O, gambaran-gambaran yang fana !
Kerna langit di badan yang tidak berhawa,
dan langit di luar dilabur bias senjakala,
maka nurani dibius tipudaya.
Ya ! Ya ! Akulah seorang tua !
Yang capek tapi belum menyerah pada mati.
Kini aku berdiri di perempatan jalan.
Aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing.
Tetapi jiwaku mencoba menulis sajak.
Sebagai seorang manusia.

Pejambon, 23 Oktober 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi


Solitude #7


He is Meki (or mecky ? meqi ? whatever, but at least it sounds Meki). He is the toughest motorcycle i ever rode. (Look at the picture !) At a sudden i felt his solitude when i starred at him and made eye contact with him. He has been carrying a lot of stuffs, pain, and burden all this time. Witnessing his efforts to make people on him happy, i took a bow for him. if Blue Fairy makes him alive, i'd like to ask him one insignificant question:
"aren't you tired ?"

Well, i don't sruely know his answer but seeing him going all the way, i bet he won't personally disappoint me.

So everyone struggles, so does Meki ! Go Meki !

*Oh Lord, I am so crazy, talking so much about a motorcycle*

Friday, 16 December 2011

#Before Sunset

It is one of my fave movie in the world: Before Sunset
scene above led to the best dialogue i ever knew:
it was the scene when Jessy and Celine went on a bot in the afternoon, then Celine said the most mindful part of her heart:


"i'm happy that you're saying that because i'd always feel like a freak because i am never able to move on like this *clicking fingers*. People are just having affairs or even entire relationships. They break up and they forget. They move on like they would have changed a brand of cereals. i feel i was never able to forget anyone i've been with. Because each person has, you know, specific qualities. You can never replace anyone, what is lost is lost. Each relationships, when it ends really damages me. i've never fully recovered. that's why i'm very careful with getting involved because it hurts too much, even getting laid. I actually don't do that. i will miss of the person the most mundane things like i am obsessed with little things. maybe i am crazy but when i was little, my mom alwas told me that i was late for school. one day she followed to see why. i was looking at chestnuts falling from the trees, rolling on the sidewalk or ants crossing road, the way leaf casts a shadow on a tree trunk..little things. i think it's the same with people. i see in them little details, so specific to each other, that move me and that i miss, and i always miss. you can never replace anyone because everyone is made of such beautiful specific details."

Tuesday, 6 December 2011

Delapan Tahun Kemudian


Durasi: 129 menit. Genre: Drama Komedi (Dewasa). Sutradara: Nia Dinata. Pemain: Tora Sudiro, Rachel Maryam, Aida Nurmala, Cut Tari, Surya Saputra, Rio Dewanto, Pong Harjatmo, dll.

Delapan tahun yang lalu Nia Dinata telah berhasil membius penonton dengan drama komedi yang menyentil, Arisan!. Sekarang Nia Dinata berusaha mencoba menyukseskan sekuelnya yang ke dua dengan judul Arisan!2.

Cerita masih berputar di antara lima sahabat yang tinggal di ibu kota yaitu Sakti (Tora Sudiro), Meimei (Cut Tari), Andin (Aida Nurmala), Lita (Rachel Maryam), dan Nino (Surya Saputra). Delapan tahun berlalu setelah kematian suami Andin, perceraian Meimei dan hubungan Nino dan Sakti yang mengalami kejenuhan. Fokus Arisan!2 terletak pada kehidupan Meimei yang diceritakan mengidap kanker. Meimei harus berpisah dulu dari ibu kota dan sahabatnya untuk menjalani terapi dengan dalih liburan. Tentu Meimei tidak menceritakan tujuan ia pergi dari ibu kota supaya tidak membebani sahabat-sahabatnya.

Tokoh Okta (Rio Dewanto) ikut meramaikan film ini. Okta adalah kekasih baru Nino. Untuk menghadapi bayang-bayang Nino, Sakti pun menjalani hubungan dengan Gerry (Pong Harjatmo). Di tengah kekikukan Nino, Sakti, dan Okta, dokter Joy (Sarah Sechan) dan Ara (Atiqah Hasiholan) bergabung dengan komunitas sosialita Jakarta. Andien pun sibuk mengurusi acara-acara sosialita tersebut bersama mereka.

Di pulau lain, Meimei yang sedang menjalani pengobatan dengan perawatan dr. Tom (Edward Gunawan) ingin kembali ke Jakarta untuk bergabung bersama teman-temannya. Di tengah pengobatannya, Meimei juga mendapat spirit dari seorang bartender cantik, Molly(Adinia Wirasti), yang juga mengidap kanker.

Setelah tiba di Jakarta, Meimei merasa tidak cocok lagi dengan gaya hidup ibu kota. Ia memutuskan untuk tinggal di pulau secara permanen, sebelumnya ia pergi ke Borobudur untuk menemui Tom yang sedang mengikuti perayaan Waisak. Teman-temannya curiga dengan perubahan sikap Meimei dan memutuskan untuk menyusul Meimei ke pulau. Rahasia Meimei terbongkar seperti rahasia-rahasia lain yang disimpan oleh teman-temannya.

Dari segi plot, Arisan!2 mengeskplorasi cerita-cerita tokoh lama dan baru. Dengan plot maju, Arisan!2 membawakan saya cerita yang segar seperti Lita yang masih vokal mengadvokasi hak kaum marjinal dan Nino yang masih vokal menyutradarai film-film yang nonmainstream. Dari segi setting, saya kurang memperhatikan apa nama pulaunya disebut atau tidak di dalam cerita, namun saya hapal persis bahwa pulau yang ditempati Meimei saat menempuh proses penyembuhannya adalah Gili Trawangan, Lombok. Selain Gili Trawangan, Jakarta tentu menjadi setting utama film ini.

Dari segi penokohan, ini yang saya suka, Arisan!2 lebih menonjolkan karakter Meimei. Dr Tom yang senantiasa memberikan banyak nasihat dan kata mutiara menjadi pemacu perubahan gaya hidup Meimei. Inipula yang menyemangati Meimei untuk tetap berjuang melawan kanker dan menikmati hidup. Menurut saya tokoh Meimei berhasil digarap oleh Cut Tari. Sedangkan tokoh Sakti mengalami penuruan pendalaman karakter. Tora Sudiro memerankan Sakti dengan gaya yang canggung, berbeda dengan tokoh Sakti di Arisan!. Tokoh Octa berhasil memberikan gula (atau garam?) di dalam film ini dengan sikapnya yang manja dan kekanak-kanakan. Surya Saputra jg berhasil menunjukan kebimbangan yang dialami oleh tokoh Nino. Dalam benak saya, Nino ingin move on dengan menggandeng Octa namun ia belum bisa melenyapkan sayangnya untuk Sakti.

Film Arisan!2 ini lebih menceritakan kebijaksanaan dan filosofi dalam hidup. Filosofi dalam agama Budha diracik menjadi ringan di film ini. Meskipun demikian, gambaran sosialita ibu kota tetap kental dan juga renyah. Kontras antara foya-foya sosialita dan perjuangan hidup Meimei digambarkan di film ini.

Penunjukan gimmick khas masing-masing karakter juga menjadi salah satu hal yang saya suka. Sentuhan, pandangan, dan juga lirikan yang mengandung interpretasi dan intimasi yang begitu dalam. Satu hal yang kurang dalam film Arisan!2 adalah banyaknya ambiguitas dalam penokohan. Seperti dr Joy dan Ara yang digambarkan kurang tegas (mungkin terbatas durasi). Secara keseluruhan, Arisan!2 jelas melampaui pertamanya.

Film inipun ditutup dengan cantik oleh adegan snorkel di Lombok oleh para pemain sementara Meimei menarasikan kutipan dari Jalaluddin Rumi di akhir cerita,

"Lovers don't finally meet somewhere, they're in each other all along."

Friday, 2 December 2011

janji

Moal ogo mun tikusruk

Published with Blogger-droid v2.0.1

wouldyoueraseme ?

When something so heartbreaking is coming, after good memories take care of us ? Would you erase me ?

Published with Blogger-droid v2.0.1

Wednesday, 16 November 2011

a love letter

to you.

Dear, I love you now and forever. But why do you keep wasting me ? twisting me around ? Is it because i am boring ? or Is it because you're bored ? whatever it is, please be bold and honest so we can settle this down. I am torn apart because you have fallen for someone else but not telling me. I am not angry or even mad for you being in love with someone else. But you have been dishonest with me. It's very hard for me to trust the rest of your words, words that i have been holding on. Just tell me the truth. Tell me it's my mistake. Tell me i am not perfect in your eyes. Tell me i am not who you really want. Just tell me the truth. I am not the one for you like i thought you were the one for me.

*terdengar suara orang loncat dari jembatan Cikapundung*

Friday, 14 October 2011

The Greenest Heroes Ever


You know for the time being I really like DC Heroes. I read them a lot. I even collected them, some in comics, some in action figures. Well most people kept saying that it was just a phase that I’d certainly pass like when you were a kid, you idolized Red Ranger from Power Rangers but when you grew up, you gave up on them. Really, I am not like that. To me, DC universe is bigger than power ranger. Each heroes in DC has his/her own complicated life that is tied with the other one. Maybe, the only universe can beat DC is Marvel Universe.
Just yesterday I watched one of DC heroes visualized into a movie: The Green Lantern. My expectation to this movie was really high. It was because there was no green lantern that’s visualized into a movie before until now. We can name Superman, Wonder Woman, or Batman that have been remade several times. I think it’s worth waiting for its debut.
Here we go, when my expectation met the ultimate green lantern corps:
The story begins when Hal Jordan (Ryan Reynolds) is chosen by the ring and transported to the crash site of spacecraft. It’s Abin Sur’s (Temura Morrison) spacecraft. He’s the Green Lantern that has imprisoned Parallax (voiced by Clancy Brown) in the Lost Sector on the ruined planet Ryut. Parallax is made of fear-essence that can endanger the entire universe. Somehow, Parallax manages escaping from Ryut and attacks Sector 2814 which is Abin Sur’s sector and Parallax successfully wounds Abin Sur who escape and crash-lands on Earth. While dying, Abin Sur commands his ring to find his successor on Earth and it chooses Hal. Hal is the test pilot for Ferris Aircraft. You can find the complete story herehttp://en.wikipedia.org/wiki/Green_Lantern_(film)
And now i am going mention two crucial things about Green Lantern Movie failed to deliver, one is major and the other one is minor:
1. The Plot, as a big fan of Green Lantern, it only took 10 minutes of the beginning of the movie that the plot had been adapted in so many ways. The comic plot did not match with the movie Plot. Hal Jordan was first introduced in 1960 in Silver Age Green Lantern and it was so different with the movie. On the movie, The crash-land Abin Sur's spaceship was on Coast City bay while on the comic it was on a desert around California. And the other one is when Sinestro and Kilowog found Hal fooling around using the power of Green Lantern on Earth.
2. The Costume, I know that the Green Latern glows with green light but i did not expect that the costume would be as cheapy as the poster below. i know the costume must glow but it glows like nightclubs neon. it tickles me.
Well, in the end, eventhough i am quite dissapointed with the movie, i still feel happy to see the movie, not as a big fan of Green Lantern. At least, the oath - my favorite scene- is said several times. here it is:

"In brightest day, in blackest night,
No evil shall escape my sight
Let those who worship evil's might,
Beware my power... Green Lantern's light!"


Thursday, 22 September 2011

kepada X

Apa kabar X ?
Ku harap engkau sebahagia bintang yang bersinar terang di sana.
Aku pun di sini baik seperti yang kau bayangkan, sebongkah kayu yang bengkok namun tidak patah. Tenang, aku ini Jati, bukan bambu.
Sudah lama aku tidak bertemu denganmu, banyak sekali yang terjadi sejak kita terakhir bertemu. Aku tak tahu harus memulai dari mana, apa atau siapa
Cinta ? Aku selalu tertawa ketika kau menyinggung yang satu itu. Aku tak pernah hebat dalam yang satu itu. Ia redup dan aku tetap hidup bersamanya. Aku menikmati setiap degupnya. Seperti saat kita menikmati riuh yang kian menggelup.
Telaga air mata itu masih saja terisi penuh dan kadang bercampur peluh, membuatku ingin bermimpi saja agar bisa kurengkuh. Kubilang padanya kau selalu menungguku di saat aku pilu. Dia hanya mengangguk, percaya seperti biasa. Tapi di dalam hatinya, aku tahu betul bahwa tonggak semangatnya terus tergerus keraguan. Tapi ia tetap menyimpannya dalam-dalam.
Kau tahu, aku pernah menyelam ke dalam bola matanya yang cokelat menawan. Awalnya aku merasa berada di himpitan realita dan cinta. Kudapatkan perasaan mencinta yang rela didera derita. Tapi kemudian ketika aku menyelam ke perasaannya yang lebih dalam, dadaku terhimpit perasaan itu. Aortaku meledak dahsyat. Mendadak di dunianya, ada definisi tenggelam yang ia ciptakan. Aku terkejut bagai dicium belut listrik. Ia membuat pembatas di dunia khayalnya untukku. Satu-satunya untuk bertahan adalah mencapai permukaan dan menghirup udara. Tapi jika aku mencapai permukaan, itu berarti aku menyerah.
X, aku sangat benci pilihan. Selalu saja ada ambivalensi yang meruntuti aku, membuat gelegak yang menggerogoti keceriaan yang sudah aku tabung. Konsekuensi logis yang harus aku ambil karena mengetahui dua hal yang ku anggap penting. Hidupku atau hidupnya.
Di dunianya, aku bisa bernapas lega saat mencapai permukaan namun aku tidak bisa menggenggam sebongkah rasa yang kudapatkan ketika sedang menyelam. Dan kau tahu aku, aku tak pernah tanggung-tanggung. Aku selalu saja ingin menyelam lebih dalam, mencoba menerangi sudut-sudut gelap yang siapa tahu aku bisa menemukan sesosok pikiran yang tersesat. Namun pembatas itu akan selalu hadir dan membuatku sesak. Aku lagi-lagi akan kembali ke permukaan dengan perasaan terengah-engah. X, aku tidak tahu analogi apa yang bisa kuuraikan lagi. Ia bukanlah pelengkapku. Ia adalah aku. Bagaimana aku bisa tenggelam dalam duniaku sendiri. Ah kau membuatku berpikir seperti ini X ? kau sengaja membuatku berpikir bahwa ia bukanlah aku.
Kau tahu, saat-saat seperti ini adalah di mana kau melempar buku Voltaire dan tersenyum. Atau mencoba menjahiliku dengan kata-kata Schopenhaur. Tapi kini ketika ku buka dunia Voltaire, Schopenhaur atau bahkan Freud, aku hanya menemukan kata dan kepingan memori. X, tolong katakan padanya, aku merindunya seperti rerumputan menunggu hujan di pagi hari. Tidak ?
Aku pernah terbelenggu cinta yang kopong. Lara yang kutanggung saat itu ingin sekali aku bagi. Mencari belahan hati yang selalu pergi. Kau, sahabatku, pun tak sudi. Aku mengerti. Ketika mataku dibutakan sesuatu, aku selalu mencari penerang. Senter, sakelar lampu, atau lilin. Kau mengajariku untuk bertahan dalam gelap. Waktu akan terbuang percuma jika kita mencari terang, semudah itu kau menyelipkan ajaranmu. Lantas kau mengubahku menjadi terang benderang. Meski kau selalu bilang kau hanya membantuku, aku tahu kau mengubahku menjadi terang.
Aku terbiasa dengan gelap. Tapi gelap dalam dunianya lebih pekat. Aku mencoba dan berlatih untuk terus pergi ke sana namun pembatas itu tetap ada. Aku tetap tersedak sepi yang mencekam itu. Dan aku tidak tahu kapan aku bisa seenak hati menyelam di dunianya. Cepat atau lambat, satu di antara kami akan menyerah. X, kau harus hadir saat itu tiba.
Aku kuat X, jangan khawatir. Setiap hari aku menelan mimpi. Vitamin yang kau sarankan agar bisa bertahan.
X, Himpitan ingar bingar modernisme benar-benar membuatku lingar. Iya, kau selalu menyarankanku menjauhinya.
Ku tahu kau tak punya banyak waktu tapi bodohnya aku malah kutulis cerita cinta yang dangkal tapi apa daya, kita sudah terbiasa. Aku akan menjawab pertanyaanmu dengan jawaban sumir:
1. S baik-baik saja, doakan aku bertemu dengannya 1 putaran bulan.
2. Janji sudah terikat di pelataran cinta yang gemilang namun sedih, asa yang mereka tanam terhempas menjadi buih.
3. Aku benar-benar bahagia. Dengannya aku lebih bahagia lagi. F, aku titip salam untuk Tuhan. Aku tahu Dia tahu. Aku hanya ingin semua bahagia. Tanpa terkecuali.
4. Oh ya, duo itu telah berlalu. Mereka menjadi sarapan biru yang tak henti-hetinya berjejeran seperti labu.
5. Spongebob di TV sekarang sudah ada episode baru, ku harap kita bisa menontonnya lagi. Kau tahu, ia juga penggemar spongebob.
X, aku senang kau mampir di sini. Berbincang sejenak denganku. Aku harap kita bertemu lagi, entah kapan tapi aku tahu itu pasti.
Untuk yang terakhir kalinya, katakan padanya, aku benar-benar menyayanginya. Melebihi sayang Heloise kepada Abelard.
Peluk hangat.

Thursday, 18 August 2011

Madre


Mengunyah Madre, Menyesap Filosofi Kopi

Judul : Madre

Jenis : Fiksi

Pengarang : Dewi Lestari

Tahun terbit : 2011

Penerbit : PT Bentang Pustaka

Jumlah halaman : xiv + 160

Harga : Rp. 45.000 – Rp. 60.000

Dewi Lestari alias Dee memang penulis ulung. Karya-karyanya mampu menyedot perhatian banyak orang tidak terkecuali saya. Buku terbaru yang ditulis oleh Dee adalah Madre yang berarti ibu dalam bahasa Spanyol. Buku yang memperbaharui daftar karyanya setelah Perahu Kertas ini memiliki raga yang sama dengan Filosofi Kopi. Madre dan Filosofi Kopi adalah kumpulan cerita, puisi, dan prosa. Yang bikin saya penasaran apakah ruh kedua buku ini juga sama ? ayo tengok !

Buku ini berisi tiga belas bagian dengan hidangan utama Madre pada awal buku. Madre berkisah tentang seorang pemuda sederhana bernama Tansen Roy Wuisan yang tiba-tiba mendapat sebuah warisan dari orang yang tak dikenalnya sama sekali, Tan Sin Gie. Setelah kematian Tan Sin Gie, Tansen memperoleh warisan yang benar-benar aneh yaitu biang roti yang dinamai Madre. Madre ini telah dijaga oleh Hadi di sebuah toko bekas Tan Sin Gie berjualan dulu, Tan de Bakker. Hadi yang merupakan pegawai lama Tan de Bakker sangat antusias dengan kedatangan Tansen. Hadi percaya bahwa Tansen dapat menghidupkan kembali Madre yang sudah lama mati suri. Sebaliknya, Tansen kecewa mengetahui warisan yang ditulis untuknya hanyalah berupa Madre, biang roti yang sudah ada sejak tahun 1943. Tansen yang kesehariannya seorang pekerja lepasan di Bali pada awalnya menolak haknya sebagai pewaris Madre. Namun hati nuraninya berkata lain, ia akhirnya percaya pada nasib yang membawa perubahan pada hidupnya dan tinggal untuk belajar membuat roti. Tansen juga dipertemukan dengan Mei, seorang wanita pengusaha roti modern yang menaruh minat terhadap Madre. Meipun menawarkan sejumlah uang yang banyak untuk membeli Madre. Dari sinilah Tansen menyadari bahwa Madre bukanlah sekadar biang roti.

Dee lagi-lagi bisa mengenalkan kita pada dunia yang sama sekali baru yaitu dunia roti. Namun selain itu, Dee juga menggabungkan roti dengan romansa dan problematika sehari-hari. Plotnya yang maju menjadi tetap menarik dengan kejutan klimaks dan antiklimaks sepanjang cerita. Namun begitu penokohan yang kurang dalam menjadi penurunan Madre. Hal ini saya sadari karena ruang terbatas dari sebuah cerita pendek. Amanat yang bisa dipetik dari Madre pun sangat kentara. Banyak hal yang bisa dimaknai. Membaca Madre seperti menikmati matahari di pagi hari. Kita jarang menyadari bahwa di pagi hari, matahari itu menyehatkan. Satu lagi yang saya senangi dari karya Dee adalah ia tetap mempertahankan ritme kata dan juga penggunaan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Secara Keseluruhan ketiga belas fiksi Dee memiliki poin kuat di masing-masing sisi. Misalnya Madre yang kuat di alur, Have You Ever yang kuat di penokohan, dan Guruji yang kuat di sisi filosofi. Dari ketiga belas fiksi itu, saya menjagokan Guruji. Cerita Guruji lebih unik dan merepresentasikan sedikit perasaan saya. Sedikit loh ya :D Sedangkan cerita yang saya kira lebih menyentuh perasaan banyak orang adalah Menunggu Layang – Layang. Ceritanya benar-benar muda-mudi.

Bagi pembaca yang pernah mengorek kakak Madre yaitu Filosofi Kopi maka kita akan menemukan semangat yang sama dalam kedua buku itu. Yang satu berbicara kopi, yang satu berbicara roti. Dua hal yang menurut saya manusia tidak bisa hidup tanpanya, makan dan minum. Hebatnya, dari makanan dan minuman ini, Dee berhasil mengelaborasi makna dalam dari keduanya dan mengemasnya secara ringan. Lagi, ringan tapi dalam. Tapi menurut saya jika harus membandingkan dengan Filosofi Kopi, Filosofi Kopi lebih menggigit dibandingkan Madre. Ada banyak twist di dalam Filosofi Kopi. Filosofi Kopi membawa saya secara personal ke dalam cerita-cerita manis mengenai berbagai bentuk cinta tapi saya agak kesulitan menemukan benang merah Madre. Selain itu Filosofi Kopi lebih menuangkan nuansa yang lebih kontras dari satu cerita ke cerita lain meskipun masih dalam kerangka yang sama, cinta.

Baik Filosofi Kopi maupun Madre benar-benar memperkaya persoalan makan dan minum saya. Madre menurut saya bisa menghidupkan croissant yang sehari-hari saya makan langsung. Look ! now I can communicate with my own croissant J

Baca Madre, rasakan lezatnya !

Thursday, 4 August 2011

Air Mata #1

Amor Fati
Di desa di mana kita masih bisa mendengar nyanyian burung gereja pertanda pagi menjelang siulan burung hantu pertanda malam menghadang, hiduplan seorang anak bernama Air Mata. Setiap malam, seusai bekerja, dia selalu berdoa kepada Tuhan. Air matanya berlinang ketika ia mengucap doa. Warga desa pada awalnya tidak terganggu dengan kehadiran Air Mata namun karena air mata yang selalu mengalir ketika ia berdoa seringkali membuat banjir dan merusak ladang warga, lantas warga desa mengusirnya ke dalam hutan rimba. Air Mata tidak pernah tahu mengapa air mata yang keluar dari air matanya menjadi hukuman untuknya. Ia tidak bisa mengontrol air mata setiap kali ia berdoa. Ia sedih karena ketika ia berdoa tidak ada jawaban dari Tuhan. Maka tanpa putus asa ia terus berdoa meskipun telah diasingkan ke dalam hutan. Hingga suatu malam…
Air Mata : Tuhan, aku ingin bercerita. Aku tahu Kau Maha Mendengar. Tapi rasa sakit ini terlampau perih untuk dijawab oleh kesunyian. Apakah Engkau benar di sana ??
Tiba-tiba seorang kakek tua muncul dari kegelapan malam.
Air Mata : Apakah engkau Tuhan ?
Kakek : Bukan, aku bukan Tuhan. Aku adalah malaikat yang dikirim untuk mendengarkan keluh kesahmu. Tuhan menyuruhku menemuimu.
Air Mata : Apakah Tuhan sedang sibuk sehingga Dia tidak bisa menemuiku langsung ?
Tuhan : Tuhan selalu mengawasimu bahkan ketika kau sedang tidak berdoa. Dia selalu ada untukmu. Perihal aku menemuimu, itu adalah jalan yang sudah ditentukan-Nya.
Air Mata : Tuhan sungguh baik, akhirnya Dia mengutus kau untuk menemuiku. Aku sudah lama menunggu banyak jawaban.
Kakek : Silakan.
Air Mata : Kek, aku merasa hidup sendirian di desa ini. Setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing dan mereka bersosialisasi bukan karena mereka ingin tapi karena itu suatu keharusan untuk menjadi bagian dari masyarakat. Hasilnya, mereka hanya sekadar basa-basi. Aku seperti berada di dunia yang bahasanya tak aku kenali. Ada kesunyian yang merambat sepi. Apakah aku harus terus bertahan dengan mereka atau haruskah aku mencari lingkungan lain ?
Kakek : sosialisasi merupakan proses yang penting dalam masyarakat. Kau tak bisa hidup sendiri. Sosialisasi inilah yang membuatmu bertahan. Jika kau merasa nyaman dengan mereka, maka teruskanlah untuk bersama mereka. Namun jika mereka membuatmu merasa tidak nyaman, maka bertahanlah sampai kau merasa tidak kuat dan akhirnya kau memilih untuk mencari lingkungan baru. Tapi bukan berarti kau tidak melakukan sosialisasi di lingkungan baru itu. Kau tetap harus bersosialisasi hingga akhirnya kau merasa nyaman dengan orang-orang di sekitarmu.
Air Mata : apakah aku akan menemukan mereka ? aku sudah beberapa kali bersama dengan individu yang aku anggap spesial namun kisahku selalu berakhir dengan rasa sesak di dada ketika mengingatya.
Kakek : kau pasti menemukannya. Untuk bersama mereka atau individu yang spesial membutuhkan proses yang panjang. Ingat, sesuatu yang instan akan berakhir instan. Perihal luka yang kau tanggung karena kesalahan mereka, janganlah kau membiarkannya menganga terlalu lama. Cari obatnya kemudian sembuhkan.
Air Mata : aku tidak bisa. Komitmen yang aku bangun bersama mereka selalu diakhiri oleh pengkhianatan. Mereka meninggalkanku dan aku tidak bisa menyalahkan mereka untuk itu.
Kakek : kenapa ?
Air Mata : setiap kali aku dikhianati, aku merasa itu adalah kesalahanku karena tidak bisa menjadi pribadi yang lebih baik untuk mereka sehingga mereka meninggalkanku begitu saja. Tahu kah kau kek, aku tersiksa. Aku menitipkan sebagian jiwaku kepada mereka yang aku anggap spesial dan mereka pergi begitu saja membawanya. Ketika mereka sudah tidak peduli terhadapku, aku mulai merasakan hampa. Ruang kosong di sekelilingku yang menghisap keadaan sekitar menjadi kesedihan. Aku berusaha menggantikan bagian jiwa yang hilai itu dengan kerja keras setiap hari, berusaha melupakan mereka dengan kesibukanku. But the more I try to be busy, the more I miss them. Eh maaf aku pakai bahasa inggris.
Kakek : it’s ok. I get it. Kesalahan yang mereka buat tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu. Kau dan mereka ibarat orang-orang yang mengendarai bis umum yang sama namun turun di tempat yang berbeda. Kau akan bertemu orang baru di tengah jalan sampai akhirnya kau menemukan satu yang ternyata juga memiliki destinasi akhir yang sama denganmu. Seberapa keras kau tahan mereka untuk tidak turun dari bis, jika itu adalah destinasi mereka, maka usahamu sia-sia. Mereka pada akhirnya akan turun juga. Kau mencoba sibuk, mencoba lelah secara fisik, dan itu bukanlah solusi. Time heals everything. Nikmati ketika kau sedang terluka, kenali apa gejalanya, bagaimana rasa sakit itu karena ketika luka itu tertoreh lagi, kau sudah kebal. Kau tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk ke dua kalinya.
Air Mata : bagaimana bagian jiwaku yang telah mereka ambil ?
Kakek : sebenarnya kau bisa mengambilnya lagi tanpa harus memintanya langsung, itu adalah belahan jiwamu yang ada pada raga mereka. kontrol bagian jiwamu itu. Buat mereka kembali. Karena sebenarnya, mereka juga meninggalkan belahan jiwa mereka di dalam dirimu. kalian sama-sama berbagi kenangan atas waktu yang pernah kalian jalani bersama. Dan kau tidak perlu permisi untuk mengambil apa yang sebelumnya memamng menjadi milikmu.
Air Mata : apakah aku harus menunggu mereka menemukanku atau aku harus menemukan mereka ?
Kakek : pada akhirnya, mencari dan dicari, menunggu dan ditunggu hanyalah akan menjadi kamuflase akan mekanisme rahasia yang sebenarnya terjadi. Ketika kau mencari, sebenarnya ia hanya bersembunyi di dekatmu. Dan ketika kau menunggu, sebenarnya ia sudah menunggu di dekatmu. Kau akan tahu kapan harus menunggu dan mencari. Jalani harimu tanpa harus memilih di antara mencari dan menunggu
Air Mata : Aku benar-benar sendiri. Aku sedih melihatku sendiri. Apakah aku layak diapresiasi dan dicintai oleh orang lain ? aku merasa lemah.
Kakek : kau kuat. Setiap manusia kuat namun mereka lupa. Kau tidak sepenuhnya sendiri. Banyak orang merasa seperti apa yang kau rasa. Namun mereka tidak menunjukannya dan akhirnya lupa dengan luka yang mereka rasakan. Kau layak diapresiasi dan dicintai. Jangan salahkan dirimu atas apa yang tidak kau perbuat. Tapi benarkan dirimu atas apa yang telah kau perbuat. Tidak usah menyesal. Kau tahu ? Spinoza menemukan konsep Amor Fati yang artinya adalah cinta kepada nasib. Apa yang terjadi padamu merupakan rangkaian nasib yang akan menuntunmu pada sesuatu yang lebih baik dan juga lebih besar. Kau hanya perlu percaya.
Air Mata : apakah dengan percaya semuanya akan menjadi lebih baik ?
Kakek : tidak ada salahnya mencoba. Kau sudah lama percaya, bukankah kini aku datang mendengarkanmu.
Air mata : kakek, apakah kau hanya ada di dalam pikiranku ? apakah kau ilusi ?
Kakek : iya, aku berada di dalam pikiranku. Tapi tidak berarti aku adalah ilusi.
Air mata : terima kasih kakek, aku akan terus bersemangat dalam menjalani hidup. Aku percaya suatu saat aku menemukan apa yang aku cari. Aku percaya suatu saat nanti kita pasti bertemu lagi.
Kakek : pasti.
Air mata : titip salam untuk nenekku. Aku rindu sekali kepadanya.
Kakek : berdoalah untuknya. Ia pasti mendengarmu.
Dalam sekejap kakek tersebut hilang dan mengeluarkan cahaya yang terang benderang. Air matapun terbangun oleh suara burung gereja yang berkicau merdu di sebelahnya. Hari telah pagi dan ia ternyata tertidur di tengah hutan yang dipenuhi bunga iris. Ternyata air matanya semalam mengalir menjadi anak sungai yang membuat lahan disekitarnya subur. Air matanya telah kembali menjadi air mata yng akan kering karena dipacu untuk keluar.

Thursday, 28 July 2011

Wednesday, 27 July 2011

what am i to you ?


undeniable truth, quoted from "the Romantics"
one of my fave romantic movies 

Monday, 25 July 2011

Solitude #6


Me and my rusted Nike

Cinta, Kesabaran, dan Memaafkan (3)

Gimana rasanya memaafkan orang lain ??
buat saya, rasanya lebih enak daripada ngabisin j-cool to go sendirian dengan topping lychee, kiwi, peach, dan almond yang berlimpah.
Memberikan maaf tidak bisa terlepas dari meminta maaf. Keduanya bagai sisi uang yang berlainan. Jika kita memberi maaf kepada orang lain yang menyakiti kita, kita juga harus bisa meminta maaf kepada orang yang kita sakiti. Memberi dan meminta maaf keduanya merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Kontradiksi keduanya memupuk egoisme kita sehingga seringkali kita lebih menginginkan permintaan maaf daripada pemberian maaf itu sendiri.
Dalam konsep aktualisasi diri, maaf adalah konsep yang sangat penting. Hal ini disebabkan tidak ada manusia yang sempurna. Mungkin di antara kita ada yang merasa sempurna sehingga tidak perlu meminta maaf. Tapi dengan memberi dan meminta maaf kita juga menerima kekurangan diri sendiri dan orang lain. Nah saya tidak akan menjustifikasi siapa yang harus memberi maaf atau meminta maaf karena maaf erat kaitrannya dengan kesalahan yang pernah kita atau orang laiun buat. Dan jujur, lebih sulit mengakui kesalahan kita daripada mencari kesalahan orang lain. Celakanya kesalahan yang ada di benak masing-masing orang itu memiliki konsep yang berbeda. Di sini, saya hanya ingin berbagi pengalaman mengapa memaafkan dan meminta maaf itu penting untuk diri kita sendiri.
Saya merasa kamu bersalah karena telah membaca blog ini tanpa seizin saya tapi kamu ga ngrasa bersalah karena persoalan sepele ini, contohnya. Perbedaan seperti ini yang sering menimbulkan permasalah di kehidupan kita sehari-hari. Permasalahan seperti ini sebenarnya bisa diminimalisasi dengan meningkatkan logika kita dibandingan perasaan kita. Perasaanlah yang sering mendramatisasi kenyataan yang ada menjadi visualisasi sinteron masa kini.
Hubungannya dengan cinta dan kesabaran, memaafkan merupakan penutup yang bakal menghapus perasaan-perasaan (kalut) yang menghantui kita. Mintalah maaf meskipun kita tidak melakukan kesalahan. Dan maafkanlah semua kesalahan orang lain yang telah melukai kita. Saya sadar kok kalau memaafkan tidak pernah semudah membalikan telapak tangan. Karena itu sebelum memaafkan orang lain, kita juga harus memaafkan diri kita sendiri. Banyak orang yang merasa terluka karena cinta dan luka itu membekas dalam di hati. Saya adalah pribadi yang selalu menyalahkan diri sendiri karena perilaku orang lain. Saya adalah penyebab luka yang saya akibatkan dari orang lain. Saya selalu menyalahkan diri sendiri atas kesalahan yang saya tidak perbuat dan jujur, it cant be helped. Setiap perlakuan tidak menyenangkan orang lain terhadap saya selalu saya sangkut pautkan dengan perilaku saya dan akhirnya saya hanya bisa memupuk rasa bersalah tersebut. Saya merasa inferior.
Lantas saya belajar memaafkan diri saya sendiri melalui banyak hal, salah satunya dengan berguna bagi orang lain. Dengan begitu saya juga bisa memaafkan orang lain tanpa harus bersemuka dengan orang tersebut kemudian berkata saya memaafkannya tapi berkaca pada diri sendiri dan berkata, “saya memaafkan. Kamu, saya, dan semua hal miserable yang kita (berdua) rasakan.” Terlebih memaafkan itu menyenangkan. Saya tidak mau dihantui oleh perasaan-perasaan bersalah dan juga dendam kesumat yang melekat kuat di hati.
Yah, perasaan lega akan datang dengan sendirinya, berangsur-angsur karena pada akhirnya waktulah yang akan memulihkan kita. Saya juga belajar sedikit-sedikit. Bukan untuk menghargai orang lain tapi untuk menghargai diri sendiri dulu. Egois ? enggak. Karena saya, kamu, dan kita semua juga berhak untuk bahagia.

jadi gmana rasanya memaafkan orang lain ??

moi #1


Bermain-main dengan vintage

Tuesday, 19 July 2011

Cinta, Kesabaran, dan Memaafkan (2)

Kesabaran
Kesabaran adalah ketenangan hati dalam menghadapi cobaan sedangkan sabar adalah tahan dalam menghadapi cobaan. Pengertian ini secara sederhana didapatkan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pengertian yang sederhana namun sangat sulit dilakukan.
Secara personal, perasaan saya seringkali kacau jika menghadapi persoalan pribadi yang kerap membuat hari-hari saya menjadi muram. Perasaan itu seperti antonim eforia, sedih yang berlebihan. Tapi sungguh itulah yang saya rasa. Saya coba menghilangkan rasa itu dengan pergi jalan-jalan, membaca buku (hobi saya), brainstorming dengan teman, atau pun tidur. Namun itu semua tidak bisa menghilangkan sesak yang ada di dada. Saya pun mengumpat, melempar benda, mengutuk, dan juga mengeluarkan air mata. Namun tetap tidak berguna. Saking capeknya, saya biarkan sesak itu menyergap saya. Perlahan, perasaan buruk itu hilang. Dan sayapun lebih mengenal diri saya. Jika perasaan saya sedang kacau, maka obatnya adalah waktu.
Pembahasan kita sebelumnya adalah cinta dan saat ini kita akan membahas kesabaran. Dan jujur, membahas kesabaran akan melegakan jika kita menggunakan logika dibandingkan menggunakan perasaan. Saya bisa mengidentifikasi sumber-sumber perasaan kacau ini dan mengambil aksi untuk menguranginya. Dibandingkan dengan mengandalkan perasaan yang biasanya berakhir dengan hati yang pilu. Hal ini disebabkan sejak kecil kita selalu dididik untuk bersabar. Entah dengan iming-iming mainan, makanan, atau bahkan liburan ke kebun binatang. Ketika kita terjatuh saat mencoba berjalan pun, kita selalui diberikan kesabaran oleh orang tua, kita diberikan kenyamanan melalui kata-kata, "Sabar yaaaa". Ketika kita kecewa dan terluka, orang di sekitar kita pun mendorong kita untuk bersabar dan bangkit.
Saya mengerti bahwa kesabaran menjadi indikator kita untuk memperoleh hasil yang manis. Contohnya, jikalau saja kita bersabar untuk terus belajar hingga ujian semester, maka IPK fantastis menjadi milik kita. Hal ini berarti bukan saja hasil yang manis akan didapat tapi ketenangan hati selama proses menghadapi persoalan itu sendiri. Dan ternyata sabar itu tidak ada batasnya. Sungguh, karena tidak terbatas maka kita akan dituntut untuk lebih durable dalam menghadapi masalah. Semakin sabar, kita semakin kuat. Poinnya, kita bisa menghadapi masalah-masalah berikutnya dengan jauh lebih mudah.
Bentuk kesabaran yang bisa kita lakukan sangatlah mudah. Dari hal terkecil hinggal hal besar. Bersabar juga merupakan salah satu bentuk apresiasi kepada diri kita sendiri. Dengan bersabar maka kita memberikan raga dan jiwa kita waktu dan juga hasil yang pantas dengan apa yang kita lakukan. Dalam proses menyukai, bersabar adalah ketika kita menunggu dia membalas sms kita atau legowo ketika menghadapi masalah yang membuat hati kalut. Dalam kehidupan mahasiswa, bersabar adalah tahan menunggu bimbingan dan kritikan dari dosen kita. Banyak lagi hal-hal sederhana namun sangat berarti jika kita bersabar. Satu hal yang saya pahami bahwa bersabar dalam mencintai seseorang itu menyenangkan meski orang tersebut tidak mencintai kita balik. Bersabar mendapatkannya atau bersabar merelakannya.
Pada akhirnya kesabaran akan menunjukan hasil yang akan kita dapat. Semakin bersabar, haslinya semakin manis. Ingat, aksi selalu sama dengan reaksi. J
nb : untuk hati kita yang sedang kalut

Monday, 18 July 2011

memorabilia


hey, it was little me. now, whenever i feel sad and blue, like i'm gonna give up coz world turns against me, i just look at this picture and know : when i was a kid, i wanted to be a fighter. no one took me down. no one takes me down. and i keep that spirit : i'll be rage against anything that bothers me. yeah ! i am not good at giving up.

Cinta, Kesabaran, dan Memaafkan (1)

Cinta
Cinta adalah kata benda yang memiliki banyak definisi. Ya karena cinta itu memang tidak memiliki definisi. Sedangkan kesabaran dan memaafkan saya dapatkan ketika saya membaca blog teman saya yang sedang hamil. Terima kasih Dian atas inspirasinya. Saya berusaha menulis sejak 3 minggu yang lalu tapi selalu berujung writer’s block. Saya coba freewriting juga enggak keluar apapun. Lantas berkat blog temen saya tadi saya bisa mengidentifikasi perasaan yang saya sedang rasakan lantas menali hubungan ketiganya dalam hidup saya yang ternyata sangatlah erat dan juga dekat.
Cinta, acuh tak acuh, mau tak, sudi tak sudi, terus kita alami. Seringkali kita mencoba menjauhinya, mengalienasinya, memusuhinya atau bahkan berpura-pura tak mengenalnya tapi tetap saja cinta merangkul hidup kita tanpa kita sadari. Cinta juga menyebabkan banyak akibat seperti trauma, imun, cuek, penasaran dan keseriusan. Yang terakhirlah yang sering kita dambakan. Melalui analisis dangkal dan generalisasi tidak valid saya terus menerus mencoba memahami cinta. Jujur, cinta mengakibatkan saya imun. Empat perempuan berhasil membuat saya menutup mata terhadap cinta. Klise, berkhianat. Mereka. Yah masa lalu, kata orang bijak, hanyalah bayangan kita. Kemudian saya mengevaluasi keempat hubungan tersebut dengan seksama, I didn’t truly want them. Dari keempatnya, hanya satu saja yang saya inginkan. Itupun hanya temporer dan wajar saja jika ternyata kami gagal. Tapi balik lagi saya ternyata belum pernah benar-benar menginginkan seseorang.
Dalam hidup saya, cinta berubah bentuk. Bentuk inkonsistensi saya terhadap cinta saya pernah saya alami. Awalnya, saya tidak percaya pada love at first sight. Gak mungkin cinta yang sakral dan dalam dapat ditemukan pada satu momen instan. Itu yang saya pikirkan dulu. Kenyataannya saya mengalami love at first sight. Saya sampai sekarang heran dan bertanya-tanya mengapa saya bisa mengalaminya saat itu. Dada saya turun naik setiap kali bertemu dengannya, jantung saya berdegup kencang, meski saya seorang debater, mulut saya terkunci rapat ketika melihat dia berbicara. Bahkan, setiap kali bertemu dengan ibu, mulut saya tak tahan ingin melontarkan kalimat : “Ma, pokoknya nde (saya) pengen dia titik !” seperti anak kecil yang nyinyir. Saya hapal setiap sekon bersamanya dan mau mengulangnya milyaran kali. Sekarang saya sadar bahwa betapa cinta memang tidak bisa disalahkan jika harus ditemui ditempat dan waktu yang tidak semestinya. Cinta tidak perlu dibatasi apalagi diberi definisi. Saya rasa kita semua pernah terluka karenanya tapi juga sering bahagia karenanya. Nikmati momen yang diproduksi oleh cinta itu. Tidak usah melihat kebelakang mengenang rasa sakitnya. Tidak usah memandang jaug kedepan mengkhawatirkan akhirnya. Jalani saja sekarang selagi waktunya. L’amour actuelemment est tout autour J
p.s. for you who couldn't type A.

Sunday, 19 June 2011

Solitude #5


i might be just a dot in this world, have you forgot about me ??
i might be very small in your life, have you stopped loving me ??
i might be a micro scatter in your mind, have you ever thought about me ??
it might me falling in love so deeply, but have you realized ??

without a dot, not even a line could be recognized.
without being small, not even big thing could be measured.
without a scatter, not even a picture could be drawn.
without me, not even you could feel the way to be loved.



Monday, 16 May 2011

Iga Bakar Yogya

Pals, it's my first time writing about culinary experiences. Yes, i admit that i write too much about personal life and it makes me hungry. now i am writing about what i like most : food !! fyi, i am writing with mouth watering like a waterfall.

Yesterday afternoon, my cousin and i went to Iga Bakar Yogya at Jalan WastuKencana. You can go directly from BEC and turn right when it comes to a junction. it's located on the left side of the street. There's Iga Bakar Yogya, next to Seafood Bali.

At first, the restaurant seems little different because its open kitchen next to the parking area. But don't worry, it's not really an open kitchen so the blower won't disturb our nose. When i stepped inside, the interior is quite good. Simple and well-organized. the chairs are made of wood and the chair is a long one type like i always used to sit when i was in elementary school. So i concluded this restaurant is not that focused on customer's comfortability because i won't feel comfy if i wanna sit all day long in that restaurant. But don't worry, there's some magazines and wi-fi available there.

Let's go to the menu !! after few minutes wondering the taste, i decided to order an Iga Bakar Special 250 gr and Pinnacolada. There are 4 main menus : Iga Bakar Special 250gr costs Rp 23k, Iga Bakar 350gr costs Rp 30k and Iga Bakar double 450gr costs Rp 35k. You can choose 4 different sauces. also, there's a honey sauce available there. I picked Pedas, like i always do. My cousin ordered Iga Bakar Blacan served with sayur lodeh costs Rp 29k. We both ordered Nasi Rp 5k. Pinnacolada costs Rp 15k. You can pick other tasty menus btw.

after couple minutes of waiting, i forgot to take very first pictures of it, yeah, it's half eaten :


Iga bakar blacan


Iga blacan with sayur lodeh


iga bakar special 250gr

it's so yummy !! it's more tasty than other iga bakar i ever tasted : iga bakar jangkung, iga bakar bubah batu, iga bakar setiabudhi, and else. But afterall, the taste of iga bakar special 250gr tasted like beef sausage from Pizza Hut and the sauce was quite hot. iga bakar blacan is good to taste too. the Pinnacolada is so so because i've ever tasted better than this one, but afterall, it is worth to taste !!

Friday, 8 April 2011

Carpe Diem !


Kita suka ragu memulai perkara, meneruskannya ataupun menyelesaikannya. Kadang juga ada niatan berhenti karena lelah. Meragu karena resah. Itu wajar dan manusiawi. Berbagai kendalan permisif dijadikan alasan untuk melakukan sebuah tindakan. personal force majeure. Hal yang sudah direncanakan dengan matang dan detil mengalami perubahan kecil ataupun signifikan karena hal lain. Dan lagi, itu manusiawi. Kita berencana, Tuhan menentukan.

Dulu saya kira kehidupan ini adalah sebuah eksekusi kontrak vertikal anatara manusia dan Tuhan saja. Kita hanya diberi skenario yang bahkan kita tidak tahu. Kita bagaikan boneka tangan, wayang, ataupun boneka tali yang terus digerakan tanpa sadar. Itu dulu. Sekarang saya tahu bahwa Allah memberikan manusia free will. Beliau Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang memberikan saya dan kamu kebebasan untuk memilih. Jika membaca buku Iblis Menggugat Tuhan, free will ini dianalogikan sebagai sebuah kereta yang melaju dengan jalur dan masinis yang bisa kita buat sendiri. Namun, Allah berperan sebagai stasiun kendali yang bisa memberikan rem mendadak jika terjadi apa-apa.

Banyak sekali aktivitas yang kita lakukan selama ini menjadi rejeki untuk kita. Sekolah, bekerja, ataupun bermain. Sebagian bisa juga menjadi ujian. Kita sering bingung memilih jurusan kuliah, linglung mengerjakan sesuatu yang tidak kita sukai. Dan akhirnya meragu. Misalnya jika kita kerja di perusahaan A tetapi minat dan bakat kita di perusahaan B, maka apakah lantas kita akan pindah ke perusahaan B karena itu yang paling cocok ? atau terus bekerja di perusahaan A karena menganggap itu adalah rejeki kita ?

Rejeki. Suatu hari saya pernah diajar dasar-dasar teater oleh Kang Iman Soleh. Beliau adalah penanggung jawab teater di komunitas Celah-Celah Langit (Juga saya pernah dijurii beliau saat Lomba Baca Puisi Piala Rendra 2002). Beliau bercerita mengenai diskusi beliau dengan ayahnya, kira-kira begini esensinya :
Iman : "Pak, abdi teh kaluar wae kitu ti sakola teater ?"
Bapa : "Naha make jeung kaluar ?"
Iman : "Nya, bisi seusah milarian damel ti sakola teater mah."
Bapa : "Ai Iman resep ka teater ?"
Iman : "resep pisan pa."
Bapa : "Nya atos weh atu tuluykeun nepi ka beres. Da rejeki ma Gusti Allah nu ngatur. Mun Iman kaluar ti sakola teater gara-gara sieun teu aya rejekina, berarti Iman ngaremehkeun Gusti Allah. Dan rejeki mah Gusti nu ngatur."
Iman Soleh muda pun beristigfar.

Cerita di atas (bagi yang mengerti) merupakan persoalan sederhana tapi bermakna. Di mana ada beragam logika dan cerita dibalik kita bekerja atau pada umumnya bertindak. Tapi yang saya perah dari cerita di atas adalah bahwa kita itu punya free will ini loh. Kita bisa milih apa yang kita mau lakukan selama masih dalam koridor yang benar, yang tidak merugikan orang lain. Sisanya, serahkan sama Sang Produser. Jikalau kita melakukan sesuatu dengan keraguan, hati tidak nyaman, dan pikiran tidak fokus, maka berhenti sejenak dan pikirkan lagi, apakah sesuatu ini adalah yang membuat kita antusias ? Jika jawabannya tidak, maka segera tinggalkan. Iman Saleh pun bercerita bahwa beliau bisa menghidupi 22 orang yang tinggal di rumahnya. Ia pun sempat melanglang ke luar negeri termasuk Perancis untuk menonton pagelaran teater di sana.

Konklusi. Suara hati kita perlu bulat dalam menentukan pilihan. Karena dengan hati yang bulat, pertanggungjawaban pun menjadi terasa tidak berat. Rejeki, sesuatu yang tidak bisa kita ketahui secara gamblang sering kali membuat kita gamang. Kebutuhan di era kapitalis ini, konsumerisme yang ditanam secara tidak sadar telah mencocok hidung kita tanpa kita sadari. Hingga kita harus keluar dari jalur yang sebenarnya ingin kita telusuri.

Sayapun seringkali menghadpi berbagai tradeoff, dilema. Sering juga menghitung opportunity cost dari setiap opsi. Namun pada akhirnya, saya berserah sama Beliau, karena yang saya hitung merupakan bagian permukaan saja, motif ekonomi dan materi. Padahal dari situ saya bisa mendapatkan banyak barokah. Nah, dari opsi-opsi itu saya mulai menikmati apa yang saya suka dan meninggalkan apa yang saya enggak suka. Carpe Diem !!

Bismillah..

*nb : ilustrasinya mata, biar multiinterpretasi :p