Thursday, 31 March 2011

Hujan dan Jamu


Di luar hujan deras menjelma jarum perak yang menghujam tanah.
Kupandang matamu dalam, kau dan aku saling memandang gelisah.
Segelas jamu temulawak-beras kencur untukku dan segelas jamu campuran untukmu sebagai pemahit keluh.
Dua gelas jahe hangat siap sedia disesap tanpa polah.
Chocolate Mousse menegur pahit yang tercurah.
Kusadari, setiap hela nafasmu, terselip kesedihan yang indah.
Aku rendah
tapi
Sungguh, aku ingin mencintaimu dengan sederhana
bagai hujan yang merengkuh dedaunan rapuh tanpa merasa pongah.

somewhere in Bandung. 2011.

Saturday, 26 March 2011

Ibu Bapak Anak


ma pere, ma mere, et moi

Orang tua pernah melalui proses menjadi bayi, anak kecil, remaja, dan dewasa muda. Mereka pernah mengalami dinamika yang dipenuhi oleh kuriositas tinggi dan adrenalin yang kental. Tapi terkadang mereka lupa menyadari bahwa mereka pernah mengalaminya. Dan kadang ada selisih paham yang terjadi di antara orang tua dan anak. Bahkan seringkali selisih paham itu berujung pada konflik atau friksi yang menyebabkan rumah bukan lagi menjadi home.

Itu yang pernah saya alami. Semenjak SMA, saya ingin sekali melakukan rebellion terhadap pakem dan standardisasi yang diterapkan oleh orang tua saya di rumah. Saat itu saya bertempat tinggal di sebuah lingkungan yang nyaman untuk tumbuh, lingkungan di mana Pak Pos akan kesulitan mengantar surat karena rumah-rumah berjejak seenak sejarah. Ya nyaman, karena tetangga akan menjadi sangat dekat. Dulu juga saya tinggal di daerah kos-kosan mahasiswa, di Taman Sari Bawah, dekat Unisba.

Jujur, keluarga saya bukanlah keluarga yang harmonis. Tahun 2004-2008 merupakan masa-masa sulit bagi kami. Saat itu kami yang empat bersaudara dan kesemuanya laki-laki memiliki karakter konfliktual yang berbeda. Kakak saya yang saat itu transisi mahasiswa menjadi sarjana sedang mengalami instagnasi yang luar biasa. Dari perkataan dan perbuatan mencerminkan bahwa dia memang berontak terhadap nilai yang diterapkan oleh oleh orang tua. Bukan karena nilai itu tidak bagus namun karena nilai itu ternyata berlaku hanya untuk kami para anak, orang tua punya hak prerogatif untuk melenceng dari nilai-nilai tersebut. Saya sendiri sudah bosan apabila bapak bilang : Beda ! Kamu itu anak, saya itu orang tua !!

Jelas orang tua dan anak itu beda, tapi harusnya nilai yang berlaku di rumah berlaku untuk semua. Boleh ada hirarki tapi bukankah penerapan nilai egaliter itu penting ? contoh, bapak saya selalu menasihati kalau kita tidak boleh memotong pembicaraan seseorang, namun ia sendiri sering memotong pembicaraan anak-anaknya. Menekan penjelasan anak-anaknya. Contoh lain, ia sering berceramah harus menghadapi masalah dengan kepala dingin namun ia sendiri berkepala panas. Tempramen dalam menghadapi masalah, judgmental dalam menilai persoalan dan emosional dalam memutuskan perkara. Dan dengan entengnya beliau bersembunyi dibalik alasan : Orang tua masalahnya lebih berat dari anak.

Orang tua punya masalah. Anak juga punya. Karena usia yang beda ya pasti beda beratnya juga, ga relevan kalau memang mau dibandingkan. anak usia 6 tahun pada umumnya akan berat membawa akua galon tp usia 16 tahun pada umumnya sudah bisa memindahkan akua galon tersebut. Perbedaan ini yang sering dilupakan orang tua. Karena orang tua merasa tua, masalah yang mereka hadapi menjadi semakin rumit. Saya sering ketawa miris mendengar kontradiksi ayah saya.

Dan tahukah, bahwa kami anak-anakmu juga tidak gampang menjadi seorang anak. Kami bekerja, belajar, bertahan dari sebuah lingkungan keluarga yang represif, intimidatif, dan juga materialistik. Perasaan iri terhadap sebaya seringkali kami rasakan, karena hangatnya sebuah keluarga. Namun kami memaklumi dan terus bertahan. Saya memahami.

Sampai suatu saat di awal tahun 2009 kami mulai pindah ke daerah suburb karena satu dan lai hal. Saya terus berdoa dan berusaha supaya kondisi kami menjadi lebih baik. Dan saya pun bisa mengekstrak apa yang baik dan bisa dipelajari dari kedua orang tua saya dan memperbaiki apa yang mereka tidak bisa lakukan. Jujur, saat itu saya tidak pernah memprioritaskan keluarga. Mereka tida bertindak idealnya orang tua, ataupun sekadar berusaha. Saya merasa homeless.Dan bagian terburuk, saya kehilangan roket saya. Hidup saya didorong oleh roket-roket yang mampu mengantarkan saya ke titik paling tinggi, dan tahun 2009, salah satu roket paling signifikan dalam hidup saya padam. Nenek saya meninggal. Lain kali saya ceritakan betapa beliau begitu penting dalam hidup saya.

Nah, saya menjadi awam di rumah sendiri. Berusaha menemukan rumah di luar rumah saya sendiri. Pergi ke rumah orang lain, diterima di rumah yang lebih hangat. Tapi sejalan waktu, saya sadar bahwa tidak ada yang lebih menyenangkan di bandingkan rumah sendiri. Persoalannya, konfliknya, dan perasaan yang menenangkan bahwa actually, i belong there.Keluarga tempat kita tumbuh dengan sebuah lingkungan yang menjadikan kita ya kita.
Saya bersyukur sampai hari ini atas yang saya miliki dan tidak saya miliki. saya mencintai kekurangan keluarga saya. Sampai pada akhirnya saya bisa memahami kesulitan orang tua saya. Mereka yang tempramen, yang insecure, dan ternyata butuh dukungan.

kebencian saya terhadap orang tua saya hilang. Bagai pasir pantai yang lambat laun diabrasi oleh air dan akhirnya larut dalam air laut. Mereka hanyalah manusia biasa. Mereka gelisah dan tahu bahwa mereka memiliki banyak kekurangan dalam mendidik kami. Mereka ingin kami menjadi lebih baik dari mereka tapi mereka tidak tahu bagaimana caranya. Mereka bingung apa yang harus mereka lakukan ketika mereka merasa insecure. Mereka sedih ketika mereka marah-marah karena hal yang sangat sepele. Mereka menyesal. Dan maturasi diri saya menjadikan saya lebih peka terhadap perasaan mereka. Mereka sudah tua dan rapuh. Kami adalah penerus semangat mereka. Marah, kesal, benci, sedih, nyesek, sayang, kasihan, canggung dan sebagainya merupakan dinamika keluarga kami.

Satu hal yang saya pahami, bahwa setiap orang tua berdoa agar anaknya sukses. Di tengah sunyinya malam, mereka merapal doa demi kebaikan anaknya. Setiap orang tua sayang anak-anaknya. Namun mereka juga manusia yang tidak tahu bagaimana berekspresi. Saya akan membuat mereka tersenyum karena saya.

Ibu, Bapak, Saya meminta maaf atas semua prasangka, pra-asumsi, dan juga perilaku saya yang kekanak-kanakan. Saya sadar betul setiap nadi yang berdenyut dan darah yang mengalir di dalam daging yang membalut adalah karena kerja keras dan doamu. ya Allah, sungguh, tempatkanlah mereka di sisi-Mu.

Family. Father And Mother I Love You.


je vous aime beacoup :)

Let's preserve our Batik


Let's preserve our Batik
Yayasan Batik Jawa Barat

Night #3



jump off !

Solitude #2


You Are (Not) Alone
when the dawn reveals, night falls into a complete sorrow
i am not alone, aren't i ? you are alone, aren't you ?
let's be together always.

Solitude #1


i wasn't lonely but
it's just
loneliness loved me

Friday, 25 March 2011

my hero #1

Night #2


Picture above will make you frown. Yes, what picture is that ? It's like a blurry unidentified object with no meaning on it.
I'll tell you. If you take angkot (one kind of public transportation in Indonesia), the door of the car will always be open. And something usually holds it to keep open. And i found "that" thing when i was in angkot Cimahi - Station hall.
I came back late from my work so the angkot was really empty. Exhausted and starving, my mind was floating around there and here until my eyes unintentionally caught a little piece of wood. I was wondering what it felt like to be the poor wood.
It had to accept the weight of the door and was pushed down with great amount of mass.
poor.
it must be hard.

so at that night, it connected me with story of Atlas, a Greek mythology. He was a titan and punished by Zeus to bear the sky on his shoulders. Some pictures showed him bear the earth.
i can't imagine how on earth a man bears sky and earth on his shoulders.
anyway, it's a myth.
but, the message is every person holds something.

all i want is you share your sky and earth with me.
let me hold your things.
no, you don't have to hold mine.
mine is really light.



Night #1


take a rest

Naked Eyes



are you really proud of your eyes ? grateful, yes. But proud ? read first.

Empirically eyes are a mean to catch what we usually call reality. We have same eyes. But those who doesn't, have more reliable one, heart. Wisemen say seeing is believing. Nonsense. Eyes are easy to be manipulated.

Sometimes, we saw what we wanted to see. Or even we saw what we didn't want to see. How could it happen ? there's a sweet thing inside our body called Solar Plexus. It consists of nerves united in a complex network, located in abdomen. You can browse more. But based on Supernova : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, solar plexus is a place where our deepest and honest feeling comes from. So our fear appeared something we could/not see.

when you see your loved one have an affair with someone else, what your eyes'd say ?
your eyes : Hey, you saw him/her walking down with someone else, and they were holding hands together. Don't be stupid, rage against them !!!
your heart : you have to calm down dear, be considerate. trust him/her but don't get carried away. Investigate when it's necessary.

and you and i often got tricked by eyes and heart, worse is you didn't even know who's talking : eyes or heart. And even then worst, you didn't know who to believe. Like i have said before, eyes are a mere tool. it can be manipulated. but heart, it understands better. Once it got manipulated, you wouldn't regret, trust me.

so, you can't close your eyes forever and rely on your heart when the truth says you are able to see. But i am really amazed to those who can't see but they really can see. They see what other people can't see. No ! i am not talking anything supernatural. I am just reminding you, when eyes see something, heart understands the thing.

so, you saw me smoking. Am i ?

Quote of The Day

I might fall again and again, fail again and again. But i could stand up higher than i was used to be. Then i finally found out that i am not good at giving up.
(@akarliar)

Saturday, 19 March 2011

Surviving !


Di tengah gempuran foodcourt BIP, saya menemukan tukang cuanki bersama cuankinya menunggu lesu di luar. Alih-alih masuk ke dalam dan mampir ke jeko, akhirnya saya malah mampir liat-liat cuanki. Dan akhirnya beli.

Di tengah globalisasi yang kerap bergema, cuanki hadir dalam lokalitasnya yang khas. tetap menggunakan gerobak angkat (what do we call it ?), 500k/pc, dan emangnya pasti pake topi. Beli 5000-eun keunyang. cuanki, i am still keen on you :) tanpa msg tentunnya.

Friday, 18 March 2011

what we called home


the other side


a-box-to-sleep

what is inside that box ?
a sleeping guy.

Home can be found everywhere.
to him, earth is his home.
he can sleep anywhere.
yeah, it is his home.

where is your home ?


Be grateful guys :)



Hope

When i taught some students in a remote area
Some of them have dream to be a celebrity. Yes those who appear on Sinetron every night. Some of them have dream to be a school guard. Yes, those who ring the bell when the school's over. But the truth is they don't know what they said. The difference is those, who have dream to be a celebrity, always watch Sinetron every night without parents by their side. Those who want to be a school guardian were told by their parent to take a real job that they can do when they graduate junior high school. Dream in remote areas are expensive. But they never give up. They hope by learning hard everyday. so why don't we ?

Honesty

is when someone asks you something but you know nothing about it, you just say that you don't know without making up your mind. Without wanting to impress. Or even to be great. You just don't know. And you look "know nothing". And it is fine. Children know honesty better.

Tuesday, 8 March 2011

Nasty Beach



Can you imagine what kind of nightmare you've just had last night when see these pictures ?



Local Unidentified Creature


It looks like a smile but trust me, your happiness will be gone when she smiles, it is not a smile at all.

a female dementor has been founded !!

(this is my bestfriend, dewa :D )

Sunday, 6 March 2011


inspired by story of Abelard and Heloise, and then i found this picture above representing

Feel Noir
release your breath my dear
I am here to ease your fear
by whispering to your ear :
with you by my side, nothing can veer.

Dearest, hold my heart, don’t be such a prophesier
telling us that the ambience of our love’s going to sear
let’s try to believe like we always hear :
a river washing pain away from yesteryear

I want to wipe out your sadness that still remains for years
I say, our tears will dissolve into thin air

Somewhere in Bandung, March 4th 2011, cogitating about you.

Friday, 4 March 2011

Mr. Sumpena

Mr. Sumpena Class
last semester i had to take few subjects. Indonesian’s Foreign Politics was one of them. Well, i kinda missed the first class because i was away to finish my actual practical studies at the same time. So i gotta attend this class next week.
And one morning was the third attendance. It didn't mean I missed the second meeting but I just got no chance to type about it .
This class was lectured by premier lecturer, Mr. Soempena and assisted by Mrs. Viani. Mr. Soempena was an old funny man. In a good way. Even so, he was very entertaining and totally wise. Mrs Viani mainly gave us the lessons but because she was pregnant, she couldn't help so much. So Mr Soempena was the only one who always gave us lesson.
He was not preachy. And yet he was knowledgeable. He was the oldest lecturer on my department since he was the first bachelor from my department. Then I bet he knew the ins and outs about International Relations as my major and also about life. He had faced a lot of hardship. His wife had passed away, once I heard him said with a little bit sadness in his eyes and tried to put smile on his face.
He always made the whole class laugh. He was able to make relations between real life and theory. And he connected them both into Indonesian Foreign Politics. The result is, we could understand the concept he was trying to transfer easily. He taught us the importance of being smart. He said repeatedly that we had to have our own crazy ideas which were valuable so we were able to sale it. Yes, his words were reasonable. In this competitive globalization world, we had to be creative and dig our creativity to make different big things.
But he was scary at the same time. He was like a clairvoyant. He could guess what we feel at that time. Or even made a funny prophecy about my friends. He said to my friend, Diva, that she was about to get married twice !! then he described Diva’s love story including how his boyfriend looked like. I could see her shivering because she could not stand to hear prophecy about her.
Another example, he said that I would not make it if I went through my carrier on politics. and I rather didn't like to be in political practice job area. He said I was too idealist to be a politician. An he was right about me. I didn't wanna spend my life to be in politics. I hope so.
So, with his ability, Mr. Soempena became my fave lecturer. Yes, I will keep listening to his advices about life. J

Maaf

Mulutmu, Harimaumu.
Kurang sadis.
Mulutmu, Matimu.
Pagi ini, aku berharap seuntaian kata tulus dapat terurai mulus untuknya. Namun apa daya, jurang interpretasi dan juga humor yang membatasi di antara kita, pada akhirnya membuahkan konflik yang menyebabkan luka dan lara. Niatku, berterima kasih. Yang ia tangkap, hujaman “doa” yang tidak pada tempatnya. Niatku, becanda. Yang ia tangkap, ketidaklucuan yang berujung sakit hati. Ia berlara.
Ironisnya, ia begitu ekspresif ketika sedang nyeri hate. Khususnya jika nyeri hate itu diakibatkan oleh kelakukan kasarku. Jika orang lain yang melakukannya, tak pernah ia mau berbagi sakitnya itu. Dan ironisnya lagi, aku merasa bersalah sekaligus senang. Bersalah karena membuatnya sakit hati dan senang mendapatkan atensi yang selama ini ia tidak pernah berikan.
Jujur, aku pun pernah merasakan sakit hati olehnya namun dalam sekejap dua kejap, sakit hati itu sembuh oleh senyumnya, banyolannya, dan juga dirinya yang apa adanya. Tapi tidak berlaku baginya. Satu kesalahan absolut dariku tidak akan pernah sembuh oleh ku.
Maaf yang infinitif dan definit begitu besar terlontar dari jemariku. Aku meminta maaf, karena merasa semakin mengertimu namun masih tersandung oleh kesalahan yang sama. Aku merasa menjadi snob sejati, maaf. (tertunduk malu, kepala menyentuh lutut).
PS : adakah doa seperti “Jika kamu mencuri, aku doain kamu ga naek kelas ya.” terkabul dalam suasana becanda ? jika ya, semoga malaikat mengamini revisi doaku yang lebih bermanfaat. dan Allah mengabulkannya.

seul au monde

Quand je me sense tres seul, j'essaye bien pour penser la vie. et je decouvrie que tu es a ici avec moi. Je veux dire a la vie, que je l'aime beaucoup. Alors, je ne me sense pas tres seul encore. merci beaucoup mon amour :)

Thursday, 3 March 2011

Kenalkan, Namanya Pahitpekat

Satu malam, aku menangis tanpa meneteskan sebulir air mata. Yang ada hanya kebulan asap rokok plus total mengumpat. Aku tidak tahu bahwa kesedihan yang begitu dalam dapat menyetir kita untuk melakukan sesuatu yang kita tidak sukai. Aku tidak suka merokok. Tidak juga mengumpat. Yang pertama seperti membakar uang, udara, dan juga kesehatan. Yang kedua seperti penolakan atas asumsi Derrida. Metafora dan kata tidak mewakili makna. Karena untuk menuju makna, kita diatur oleh tanda. Berteriak anjing, goblok, tai, bangke, sama halnya seperti kau meracau saat seks. Nikmat, tapi tak ada satu kata pun yang bisa merepresentasikannya. Sedih sebenarnya. Aku dengan mulutku sendiri, mengumpat. Kepuasan yang diberikan mengumpat tidak sedikitpun berbanding dengan kepuasanku berdoa. Mencoba mencari kata yang mewakili apa yang aku rasa tapi aku tidak menemukannya, makanya aku mengumpat, meracau.
Doa dan Pertanda
Mengenai berdoa, aku juga bukan sesosok lelaki yang rajin menghembuskan harapan melalui puja dan puji kepada Beliau (seorang sahabat menggunakan kata ganti Beliau, menunjukan bahwa kita sedang membicarakan-Nya, dengan sepengetahuan-Nya, melibatkannya secara tidak langsung, hmmm apapun itu, entahlah, aku suka menggunakan kata Beliau untuk-Nya). Namun semalam, aku berdoa khusyuk meminta pertanda yang selama ini sering aku abaikan. Aku kehilangan pertanda-Nya. Or maybe i’ve lost capability to feel it. Aku percaya, dengan semiotika ataupun logika, pertanda itu selalu ada. Tapi pertanda yang bersifat personal dan vertikal, sifatnya berbeda. Ia lebih mistis. Doa yang kupanjatkan semalam adalah semoga Ia memberi tanda bahwa apa yang aku kerjakan adalah makna dari pertanda-Nya. Bagaimana aku memahami pertanda-Nya, bahwa itu merupakan tanda dari-Nya? kau tanyakan itu padaku. Sama kawan, aku juga tidak memahami mekanisme Dalang kita ini. Tapi yang jelas aku merasakannya. Sama seperti kita bernafas. Kita mungkin mengerti mekanisme bernafas. Bagaimana respirasi manusia yang begitu kompleks terjadi melalu exhale dan inhale. Dunia medis memahami mekanisme komrehensifnya. Namun coba berhenti sebentar : Tarik nafas dalam-dalam dan keluarkan perlahan, rasakan jeda yang ada saat udara terhisap ke paru-paru dan dikeluarkan secara perlahan melalui mulut, lakukan lagi dengan mata terutup.
Apa yang kau rasakan ?
Aku merasa lega dan menyejukan Santai dan tenang. Tentu akan semakin khidmat dengan teh daun hijau dan dua buah aliagrem setelahnya. Aku menyadari bahwa bernafas adalah hal yang kompleks namun kita tidak menyadari kompleksitasnya saat melakukannya. Ga keliatan kompleks toh. Yang ada hanyalah perasaan memahami bahwa ada sesuatu yang dihisap dan dihembus tanpa kita tahu bahwa setiap organ yang terlibat dalam proses respirasi ini memberikan tanda satu sama lain Nih Dung, giliran gua udah beres, keluarin lewat lu ya (paru-paru berbicara)- dan akhirnya berharmonisasi.
Selama ini udara” ini tidak bisa aku inhale dan exhale dengan baik. Tidak seperti bernafas lega seperti yang baru aku lakukan. Harmonisasipun rusak. Aku tidak bisa menangkap pertanda apalagi menerjemahkannya karena aku sedang tidak mampu. Terjerumus dalam lautan kemanjaan kota yang membuat aku berpaling pada pertanda yang seharusnya aku terjemahkan. Aku mati rasa. Aku bagai seorang tarzan yang seumur hidup tinggal di hutan dan keesokan harinya menginjakan kaki di PVJ. Tidak mengerti apapun.
Doa yang kupanjatkan, semuga terkabul bagi kita semua. Semoga setiap orang menemukan pertandanya.

Pahitpekat
Semalam aku terbawa suasana melankolis nan dramatis barat. Kegagalan menjadi pemicu untuk merokok dan mengumpat. Barat selalu memberikan excuse ketika kegagalan tumbuh dan bersemai. Lantas, untuk melipur lara, ada sekotak obat yang mampu mengurangi sakitnya. Rokok, mengumpat, mabok, seks, berdoa, olahraga, mati. Ada luka insecure dan obat secure. Seperti aku yang mengalami depresi yang menukik dalam dan untuk mengobatinya aku harus memuntahkan lukanya melalui tulisan. Tapi apa berarti setiap aku harus menulis aku juga harus mengalami kegagalaan dan kepedihan yang dalam ? Aku tidak mau menulis jika begitu. Dan aku tidak akan secara naïf percaya bahwa ketika aku mengalami kepahitan pekat, tulisanku dapat mengurangi pahitpekat ini. (Poin penting, kenyataannya aku lebih suka menulis daripada merokok dan mengumpat, bagaimana dengan kau ? )
Jujur, aku mengalami kegagalan yang berulang. Hujamannya tidak terlalu dalam karena aku pernah mengalaminya. Namun ada sesak yang melebihi segalanya. Keburukanku, aku tidak pernah benar-benar menelan pahitpekat ini dan mengeluarkannya melalu kencing. Gara-gara kekasih, orang tua, ipk turun, penolakan beasiswa, kepura-puraan komred, patah hati bertubi, masih meninggalkan ampas. Karena patah hati selanjutnya, dalam keburukanku, membawa segenap perasaan patah hati sebelumnya. Rasa sesaknya menjadi berpuluh kali lipat. Pahitnya semakin pekat. Tapi syukur, itu cuma temporer. Dan secepatnya, aku berharap bisa memuntahkan si pahitpekat atau menelannya bulat-bulat, kemudian yang berguna di cerna oleh tubuh dan sisanya dibuang dalam kencing, kentut, ataupun berak. Sulit ? tentu tidak, aku tidak kesulitan kentut, kencing apalagi berak. Tapi saat aku bisa benar-benar berak ampas pahitpekat, aku butuh sesuatu yang bisa menenangkan jiwa. Sedative therapy.
Amnesia. Aku butuh amnesia. Seperti menekan reset handphone atau memformat ulang komputer. Seperti lagu Rocket Rockers – Ingin Hilang Ingatan.
Lucunya, lupa bukanlah akhir permasalahan. Kita, aku dan kau, adalah walking audio-video recording . Amnesia. Aku pikir aku butuh amnesia. Kita kertas putih yang baru. Digoresi lagi. Goresan memadu kata. Kata memadu cerita. Cerita berulang kembali, dengan different cover version. Seperti mendengarkan Syahrini menyanyikan lagu Nieke Ardila, Aku Tak Biasa. Kita tentunya tidak akan tahu bahwa kita pernah mengalami patah hati kan ? lantas kepahitan pekat ini akan melekat kembali dalam ingatan kita. Amnesia : pilihan buruk. Lantas apa lagi ? Mati. Kau mati, persoalan terselesaikan. Tapi tidak dengan mematikan diri sendiri. Bunuh diri. Bedanya mati dengan bunuh diri apa ? toh dua-duanya mati. Aku tidak perlu membahas ini. Tapi jika sungguh kau bertanya, maka aku menjawab : Dia memberikan kau hak untuk mati, pastilah melalui rencana-Nya, bukan rencana kau apalagi aku. Aku terlahir dari sperma unggul ayahku dan ovum pilihan ibuku. Bukan kehendak aku untuk lahir. Begitu juga mati.
Aku pernah ingin amnesia juga mati. Di situ aku tahu, aku benar-benar pandir. Betapa tidak, setiap kali aku merasakan pahit pekat ini, aku pasti ingin amnesia dan mati. Aku benar-benar nyinyir.
Kawan, percayalah amnesia dan bunuh diri bukan solusi sama sekali. Sama seperti kau, yang sering bingung dan juga penat menghadapi hidup, tapi coba kenanglah sesuatu yang bikin kau tersenyum. Satu-satunya solusi adalah jalani. Deal with it. Terlihat melelahkan dan tanpa ujung, tapi ketika kita menikmati semuanya dengan apa adanya kita –tanpa harus merokok juga mengumpat, tapi sungguh merokok itu nikmat jikalau bukan untuk pelarian– semuanya akan berjalan nikmat. Tidak perlu mengumpat dan meracau, rasakan saja. Kau boleh mengerang. Pada akhirnya, aku sadar, selain pahit pekat, hidup juga punya perawis manis. God, SMYW !!

Dan ternyata…
09.34 Aku meminta hujan pada Beliau. Dalam diam, aku merapal : tolong, jika Kau perkenankan aku untuk kembali menegakkan daguku setelah tertunduk kalah, biarkan aku menangis, berduka, dan menghayati lara ini. Dan saat hujan berhenti, aku siap kembali maju.
09.40 Menulis
10.49 Hujan
11.03 berhenti
11.04 mandi.