Ibu Bapak Anak


ma pere, ma mere, et moi

Orang tua pernah melalui proses menjadi bayi, anak kecil, remaja, dan dewasa muda. Mereka pernah mengalami dinamika yang dipenuhi oleh kuriositas tinggi dan adrenalin yang kental. Tapi terkadang mereka lupa menyadari bahwa mereka pernah mengalaminya. Dan kadang ada selisih paham yang terjadi di antara orang tua dan anak. Bahkan seringkali selisih paham itu berujung pada konflik atau friksi yang menyebabkan rumah bukan lagi menjadi home.

Itu yang pernah saya alami. Semenjak SMA, saya ingin sekali melakukan rebellion terhadap pakem dan standardisasi yang diterapkan oleh orang tua saya di rumah. Saat itu saya bertempat tinggal di sebuah lingkungan yang nyaman untuk tumbuh, lingkungan di mana Pak Pos akan kesulitan mengantar surat karena rumah-rumah berjejak seenak sejarah. Ya nyaman, karena tetangga akan menjadi sangat dekat. Dulu juga saya tinggal di daerah kos-kosan mahasiswa, di Taman Sari Bawah, dekat Unisba.

Jujur, keluarga saya bukanlah keluarga yang harmonis. Tahun 2004-2008 merupakan masa-masa sulit bagi kami. Saat itu kami yang empat bersaudara dan kesemuanya laki-laki memiliki karakter konfliktual yang berbeda. Kakak saya yang saat itu transisi mahasiswa menjadi sarjana sedang mengalami instagnasi yang luar biasa. Dari perkataan dan perbuatan mencerminkan bahwa dia memang berontak terhadap nilai yang diterapkan oleh oleh orang tua. Bukan karena nilai itu tidak bagus namun karena nilai itu ternyata berlaku hanya untuk kami para anak, orang tua punya hak prerogatif untuk melenceng dari nilai-nilai tersebut. Saya sendiri sudah bosan apabila bapak bilang : Beda ! Kamu itu anak, saya itu orang tua !!

Jelas orang tua dan anak itu beda, tapi harusnya nilai yang berlaku di rumah berlaku untuk semua. Boleh ada hirarki tapi bukankah penerapan nilai egaliter itu penting ? contoh, bapak saya selalu menasihati kalau kita tidak boleh memotong pembicaraan seseorang, namun ia sendiri sering memotong pembicaraan anak-anaknya. Menekan penjelasan anak-anaknya. Contoh lain, ia sering berceramah harus menghadapi masalah dengan kepala dingin namun ia sendiri berkepala panas. Tempramen dalam menghadapi masalah, judgmental dalam menilai persoalan dan emosional dalam memutuskan perkara. Dan dengan entengnya beliau bersembunyi dibalik alasan : Orang tua masalahnya lebih berat dari anak.

Orang tua punya masalah. Anak juga punya. Karena usia yang beda ya pasti beda beratnya juga, ga relevan kalau memang mau dibandingkan. anak usia 6 tahun pada umumnya akan berat membawa akua galon tp usia 16 tahun pada umumnya sudah bisa memindahkan akua galon tersebut. Perbedaan ini yang sering dilupakan orang tua. Karena orang tua merasa tua, masalah yang mereka hadapi menjadi semakin rumit. Saya sering ketawa miris mendengar kontradiksi ayah saya.

Dan tahukah, bahwa kami anak-anakmu juga tidak gampang menjadi seorang anak. Kami bekerja, belajar, bertahan dari sebuah lingkungan keluarga yang represif, intimidatif, dan juga materialistik. Perasaan iri terhadap sebaya seringkali kami rasakan, karena hangatnya sebuah keluarga. Namun kami memaklumi dan terus bertahan. Saya memahami.

Sampai suatu saat di awal tahun 2009 kami mulai pindah ke daerah suburb karena satu dan lai hal. Saya terus berdoa dan berusaha supaya kondisi kami menjadi lebih baik. Dan saya pun bisa mengekstrak apa yang baik dan bisa dipelajari dari kedua orang tua saya dan memperbaiki apa yang mereka tidak bisa lakukan. Jujur, saat itu saya tidak pernah memprioritaskan keluarga. Mereka tida bertindak idealnya orang tua, ataupun sekadar berusaha. Saya merasa homeless.Dan bagian terburuk, saya kehilangan roket saya. Hidup saya didorong oleh roket-roket yang mampu mengantarkan saya ke titik paling tinggi, dan tahun 2009, salah satu roket paling signifikan dalam hidup saya padam. Nenek saya meninggal. Lain kali saya ceritakan betapa beliau begitu penting dalam hidup saya.

Nah, saya menjadi awam di rumah sendiri. Berusaha menemukan rumah di luar rumah saya sendiri. Pergi ke rumah orang lain, diterima di rumah yang lebih hangat. Tapi sejalan waktu, saya sadar bahwa tidak ada yang lebih menyenangkan di bandingkan rumah sendiri. Persoalannya, konfliknya, dan perasaan yang menenangkan bahwa actually, i belong there.Keluarga tempat kita tumbuh dengan sebuah lingkungan yang menjadikan kita ya kita.
Saya bersyukur sampai hari ini atas yang saya miliki dan tidak saya miliki. saya mencintai kekurangan keluarga saya. Sampai pada akhirnya saya bisa memahami kesulitan orang tua saya. Mereka yang tempramen, yang insecure, dan ternyata butuh dukungan.

kebencian saya terhadap orang tua saya hilang. Bagai pasir pantai yang lambat laun diabrasi oleh air dan akhirnya larut dalam air laut. Mereka hanyalah manusia biasa. Mereka gelisah dan tahu bahwa mereka memiliki banyak kekurangan dalam mendidik kami. Mereka ingin kami menjadi lebih baik dari mereka tapi mereka tidak tahu bagaimana caranya. Mereka bingung apa yang harus mereka lakukan ketika mereka merasa insecure. Mereka sedih ketika mereka marah-marah karena hal yang sangat sepele. Mereka menyesal. Dan maturasi diri saya menjadikan saya lebih peka terhadap perasaan mereka. Mereka sudah tua dan rapuh. Kami adalah penerus semangat mereka. Marah, kesal, benci, sedih, nyesek, sayang, kasihan, canggung dan sebagainya merupakan dinamika keluarga kami.

Satu hal yang saya pahami, bahwa setiap orang tua berdoa agar anaknya sukses. Di tengah sunyinya malam, mereka merapal doa demi kebaikan anaknya. Setiap orang tua sayang anak-anaknya. Namun mereka juga manusia yang tidak tahu bagaimana berekspresi. Saya akan membuat mereka tersenyum karena saya.

Ibu, Bapak, Saya meminta maaf atas semua prasangka, pra-asumsi, dan juga perilaku saya yang kekanak-kanakan. Saya sadar betul setiap nadi yang berdenyut dan darah yang mengalir di dalam daging yang membalut adalah karena kerja keras dan doamu. ya Allah, sungguh, tempatkanlah mereka di sisi-Mu.

Family. Father And Mother I Love You.


je vous aime beacoup :)

Comments