Friday, 8 April 2011

Carpe Diem !


Kita suka ragu memulai perkara, meneruskannya ataupun menyelesaikannya. Kadang juga ada niatan berhenti karena lelah. Meragu karena resah. Itu wajar dan manusiawi. Berbagai kendalan permisif dijadikan alasan untuk melakukan sebuah tindakan. personal force majeure. Hal yang sudah direncanakan dengan matang dan detil mengalami perubahan kecil ataupun signifikan karena hal lain. Dan lagi, itu manusiawi. Kita berencana, Tuhan menentukan.

Dulu saya kira kehidupan ini adalah sebuah eksekusi kontrak vertikal anatara manusia dan Tuhan saja. Kita hanya diberi skenario yang bahkan kita tidak tahu. Kita bagaikan boneka tangan, wayang, ataupun boneka tali yang terus digerakan tanpa sadar. Itu dulu. Sekarang saya tahu bahwa Allah memberikan manusia free will. Beliau Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang memberikan saya dan kamu kebebasan untuk memilih. Jika membaca buku Iblis Menggugat Tuhan, free will ini dianalogikan sebagai sebuah kereta yang melaju dengan jalur dan masinis yang bisa kita buat sendiri. Namun, Allah berperan sebagai stasiun kendali yang bisa memberikan rem mendadak jika terjadi apa-apa.

Banyak sekali aktivitas yang kita lakukan selama ini menjadi rejeki untuk kita. Sekolah, bekerja, ataupun bermain. Sebagian bisa juga menjadi ujian. Kita sering bingung memilih jurusan kuliah, linglung mengerjakan sesuatu yang tidak kita sukai. Dan akhirnya meragu. Misalnya jika kita kerja di perusahaan A tetapi minat dan bakat kita di perusahaan B, maka apakah lantas kita akan pindah ke perusahaan B karena itu yang paling cocok ? atau terus bekerja di perusahaan A karena menganggap itu adalah rejeki kita ?

Rejeki. Suatu hari saya pernah diajar dasar-dasar teater oleh Kang Iman Soleh. Beliau adalah penanggung jawab teater di komunitas Celah-Celah Langit (Juga saya pernah dijurii beliau saat Lomba Baca Puisi Piala Rendra 2002). Beliau bercerita mengenai diskusi beliau dengan ayahnya, kira-kira begini esensinya :
Iman : "Pak, abdi teh kaluar wae kitu ti sakola teater ?"
Bapa : "Naha make jeung kaluar ?"
Iman : "Nya, bisi seusah milarian damel ti sakola teater mah."
Bapa : "Ai Iman resep ka teater ?"
Iman : "resep pisan pa."
Bapa : "Nya atos weh atu tuluykeun nepi ka beres. Da rejeki ma Gusti Allah nu ngatur. Mun Iman kaluar ti sakola teater gara-gara sieun teu aya rejekina, berarti Iman ngaremehkeun Gusti Allah. Dan rejeki mah Gusti nu ngatur."
Iman Soleh muda pun beristigfar.

Cerita di atas (bagi yang mengerti) merupakan persoalan sederhana tapi bermakna. Di mana ada beragam logika dan cerita dibalik kita bekerja atau pada umumnya bertindak. Tapi yang saya perah dari cerita di atas adalah bahwa kita itu punya free will ini loh. Kita bisa milih apa yang kita mau lakukan selama masih dalam koridor yang benar, yang tidak merugikan orang lain. Sisanya, serahkan sama Sang Produser. Jikalau kita melakukan sesuatu dengan keraguan, hati tidak nyaman, dan pikiran tidak fokus, maka berhenti sejenak dan pikirkan lagi, apakah sesuatu ini adalah yang membuat kita antusias ? Jika jawabannya tidak, maka segera tinggalkan. Iman Saleh pun bercerita bahwa beliau bisa menghidupi 22 orang yang tinggal di rumahnya. Ia pun sempat melanglang ke luar negeri termasuk Perancis untuk menonton pagelaran teater di sana.

Konklusi. Suara hati kita perlu bulat dalam menentukan pilihan. Karena dengan hati yang bulat, pertanggungjawaban pun menjadi terasa tidak berat. Rejeki, sesuatu yang tidak bisa kita ketahui secara gamblang sering kali membuat kita gamang. Kebutuhan di era kapitalis ini, konsumerisme yang ditanam secara tidak sadar telah mencocok hidung kita tanpa kita sadari. Hingga kita harus keluar dari jalur yang sebenarnya ingin kita telusuri.

Sayapun seringkali menghadpi berbagai tradeoff, dilema. Sering juga menghitung opportunity cost dari setiap opsi. Namun pada akhirnya, saya berserah sama Beliau, karena yang saya hitung merupakan bagian permukaan saja, motif ekonomi dan materi. Padahal dari situ saya bisa mendapatkan banyak barokah. Nah, dari opsi-opsi itu saya mulai menikmati apa yang saya suka dan meninggalkan apa yang saya enggak suka. Carpe Diem !!

Bismillah..

*nb : ilustrasinya mata, biar multiinterpretasi :p