Thursday, 18 August 2011

Madre


Mengunyah Madre, Menyesap Filosofi Kopi

Judul : Madre

Jenis : Fiksi

Pengarang : Dewi Lestari

Tahun terbit : 2011

Penerbit : PT Bentang Pustaka

Jumlah halaman : xiv + 160

Harga : Rp. 45.000 – Rp. 60.000

Dewi Lestari alias Dee memang penulis ulung. Karya-karyanya mampu menyedot perhatian banyak orang tidak terkecuali saya. Buku terbaru yang ditulis oleh Dee adalah Madre yang berarti ibu dalam bahasa Spanyol. Buku yang memperbaharui daftar karyanya setelah Perahu Kertas ini memiliki raga yang sama dengan Filosofi Kopi. Madre dan Filosofi Kopi adalah kumpulan cerita, puisi, dan prosa. Yang bikin saya penasaran apakah ruh kedua buku ini juga sama ? ayo tengok !

Buku ini berisi tiga belas bagian dengan hidangan utama Madre pada awal buku. Madre berkisah tentang seorang pemuda sederhana bernama Tansen Roy Wuisan yang tiba-tiba mendapat sebuah warisan dari orang yang tak dikenalnya sama sekali, Tan Sin Gie. Setelah kematian Tan Sin Gie, Tansen memperoleh warisan yang benar-benar aneh yaitu biang roti yang dinamai Madre. Madre ini telah dijaga oleh Hadi di sebuah toko bekas Tan Sin Gie berjualan dulu, Tan de Bakker. Hadi yang merupakan pegawai lama Tan de Bakker sangat antusias dengan kedatangan Tansen. Hadi percaya bahwa Tansen dapat menghidupkan kembali Madre yang sudah lama mati suri. Sebaliknya, Tansen kecewa mengetahui warisan yang ditulis untuknya hanyalah berupa Madre, biang roti yang sudah ada sejak tahun 1943. Tansen yang kesehariannya seorang pekerja lepasan di Bali pada awalnya menolak haknya sebagai pewaris Madre. Namun hati nuraninya berkata lain, ia akhirnya percaya pada nasib yang membawa perubahan pada hidupnya dan tinggal untuk belajar membuat roti. Tansen juga dipertemukan dengan Mei, seorang wanita pengusaha roti modern yang menaruh minat terhadap Madre. Meipun menawarkan sejumlah uang yang banyak untuk membeli Madre. Dari sinilah Tansen menyadari bahwa Madre bukanlah sekadar biang roti.

Dee lagi-lagi bisa mengenalkan kita pada dunia yang sama sekali baru yaitu dunia roti. Namun selain itu, Dee juga menggabungkan roti dengan romansa dan problematika sehari-hari. Plotnya yang maju menjadi tetap menarik dengan kejutan klimaks dan antiklimaks sepanjang cerita. Namun begitu penokohan yang kurang dalam menjadi penurunan Madre. Hal ini saya sadari karena ruang terbatas dari sebuah cerita pendek. Amanat yang bisa dipetik dari Madre pun sangat kentara. Banyak hal yang bisa dimaknai. Membaca Madre seperti menikmati matahari di pagi hari. Kita jarang menyadari bahwa di pagi hari, matahari itu menyehatkan. Satu lagi yang saya senangi dari karya Dee adalah ia tetap mempertahankan ritme kata dan juga penggunaan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Secara Keseluruhan ketiga belas fiksi Dee memiliki poin kuat di masing-masing sisi. Misalnya Madre yang kuat di alur, Have You Ever yang kuat di penokohan, dan Guruji yang kuat di sisi filosofi. Dari ketiga belas fiksi itu, saya menjagokan Guruji. Cerita Guruji lebih unik dan merepresentasikan sedikit perasaan saya. Sedikit loh ya :D Sedangkan cerita yang saya kira lebih menyentuh perasaan banyak orang adalah Menunggu Layang – Layang. Ceritanya benar-benar muda-mudi.

Bagi pembaca yang pernah mengorek kakak Madre yaitu Filosofi Kopi maka kita akan menemukan semangat yang sama dalam kedua buku itu. Yang satu berbicara kopi, yang satu berbicara roti. Dua hal yang menurut saya manusia tidak bisa hidup tanpanya, makan dan minum. Hebatnya, dari makanan dan minuman ini, Dee berhasil mengelaborasi makna dalam dari keduanya dan mengemasnya secara ringan. Lagi, ringan tapi dalam. Tapi menurut saya jika harus membandingkan dengan Filosofi Kopi, Filosofi Kopi lebih menggigit dibandingkan Madre. Ada banyak twist di dalam Filosofi Kopi. Filosofi Kopi membawa saya secara personal ke dalam cerita-cerita manis mengenai berbagai bentuk cinta tapi saya agak kesulitan menemukan benang merah Madre. Selain itu Filosofi Kopi lebih menuangkan nuansa yang lebih kontras dari satu cerita ke cerita lain meskipun masih dalam kerangka yang sama, cinta.

Baik Filosofi Kopi maupun Madre benar-benar memperkaya persoalan makan dan minum saya. Madre menurut saya bisa menghidupkan croissant yang sehari-hari saya makan langsung. Look ! now I can communicate with my own croissant J

Baca Madre, rasakan lezatnya !

Thursday, 4 August 2011

Air Mata #1

Amor Fati
Di desa di mana kita masih bisa mendengar nyanyian burung gereja pertanda pagi menjelang siulan burung hantu pertanda malam menghadang, hiduplan seorang anak bernama Air Mata. Setiap malam, seusai bekerja, dia selalu berdoa kepada Tuhan. Air matanya berlinang ketika ia mengucap doa. Warga desa pada awalnya tidak terganggu dengan kehadiran Air Mata namun karena air mata yang selalu mengalir ketika ia berdoa seringkali membuat banjir dan merusak ladang warga, lantas warga desa mengusirnya ke dalam hutan rimba. Air Mata tidak pernah tahu mengapa air mata yang keluar dari air matanya menjadi hukuman untuknya. Ia tidak bisa mengontrol air mata setiap kali ia berdoa. Ia sedih karena ketika ia berdoa tidak ada jawaban dari Tuhan. Maka tanpa putus asa ia terus berdoa meskipun telah diasingkan ke dalam hutan. Hingga suatu malam…
Air Mata : Tuhan, aku ingin bercerita. Aku tahu Kau Maha Mendengar. Tapi rasa sakit ini terlampau perih untuk dijawab oleh kesunyian. Apakah Engkau benar di sana ??
Tiba-tiba seorang kakek tua muncul dari kegelapan malam.
Air Mata : Apakah engkau Tuhan ?
Kakek : Bukan, aku bukan Tuhan. Aku adalah malaikat yang dikirim untuk mendengarkan keluh kesahmu. Tuhan menyuruhku menemuimu.
Air Mata : Apakah Tuhan sedang sibuk sehingga Dia tidak bisa menemuiku langsung ?
Tuhan : Tuhan selalu mengawasimu bahkan ketika kau sedang tidak berdoa. Dia selalu ada untukmu. Perihal aku menemuimu, itu adalah jalan yang sudah ditentukan-Nya.
Air Mata : Tuhan sungguh baik, akhirnya Dia mengutus kau untuk menemuiku. Aku sudah lama menunggu banyak jawaban.
Kakek : Silakan.
Air Mata : Kek, aku merasa hidup sendirian di desa ini. Setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing dan mereka bersosialisasi bukan karena mereka ingin tapi karena itu suatu keharusan untuk menjadi bagian dari masyarakat. Hasilnya, mereka hanya sekadar basa-basi. Aku seperti berada di dunia yang bahasanya tak aku kenali. Ada kesunyian yang merambat sepi. Apakah aku harus terus bertahan dengan mereka atau haruskah aku mencari lingkungan lain ?
Kakek : sosialisasi merupakan proses yang penting dalam masyarakat. Kau tak bisa hidup sendiri. Sosialisasi inilah yang membuatmu bertahan. Jika kau merasa nyaman dengan mereka, maka teruskanlah untuk bersama mereka. Namun jika mereka membuatmu merasa tidak nyaman, maka bertahanlah sampai kau merasa tidak kuat dan akhirnya kau memilih untuk mencari lingkungan baru. Tapi bukan berarti kau tidak melakukan sosialisasi di lingkungan baru itu. Kau tetap harus bersosialisasi hingga akhirnya kau merasa nyaman dengan orang-orang di sekitarmu.
Air Mata : apakah aku akan menemukan mereka ? aku sudah beberapa kali bersama dengan individu yang aku anggap spesial namun kisahku selalu berakhir dengan rasa sesak di dada ketika mengingatya.
Kakek : kau pasti menemukannya. Untuk bersama mereka atau individu yang spesial membutuhkan proses yang panjang. Ingat, sesuatu yang instan akan berakhir instan. Perihal luka yang kau tanggung karena kesalahan mereka, janganlah kau membiarkannya menganga terlalu lama. Cari obatnya kemudian sembuhkan.
Air Mata : aku tidak bisa. Komitmen yang aku bangun bersama mereka selalu diakhiri oleh pengkhianatan. Mereka meninggalkanku dan aku tidak bisa menyalahkan mereka untuk itu.
Kakek : kenapa ?
Air Mata : setiap kali aku dikhianati, aku merasa itu adalah kesalahanku karena tidak bisa menjadi pribadi yang lebih baik untuk mereka sehingga mereka meninggalkanku begitu saja. Tahu kah kau kek, aku tersiksa. Aku menitipkan sebagian jiwaku kepada mereka yang aku anggap spesial dan mereka pergi begitu saja membawanya. Ketika mereka sudah tidak peduli terhadapku, aku mulai merasakan hampa. Ruang kosong di sekelilingku yang menghisap keadaan sekitar menjadi kesedihan. Aku berusaha menggantikan bagian jiwa yang hilai itu dengan kerja keras setiap hari, berusaha melupakan mereka dengan kesibukanku. But the more I try to be busy, the more I miss them. Eh maaf aku pakai bahasa inggris.
Kakek : it’s ok. I get it. Kesalahan yang mereka buat tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu. Kau dan mereka ibarat orang-orang yang mengendarai bis umum yang sama namun turun di tempat yang berbeda. Kau akan bertemu orang baru di tengah jalan sampai akhirnya kau menemukan satu yang ternyata juga memiliki destinasi akhir yang sama denganmu. Seberapa keras kau tahan mereka untuk tidak turun dari bis, jika itu adalah destinasi mereka, maka usahamu sia-sia. Mereka pada akhirnya akan turun juga. Kau mencoba sibuk, mencoba lelah secara fisik, dan itu bukanlah solusi. Time heals everything. Nikmati ketika kau sedang terluka, kenali apa gejalanya, bagaimana rasa sakit itu karena ketika luka itu tertoreh lagi, kau sudah kebal. Kau tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk ke dua kalinya.
Air Mata : bagaimana bagian jiwaku yang telah mereka ambil ?
Kakek : sebenarnya kau bisa mengambilnya lagi tanpa harus memintanya langsung, itu adalah belahan jiwamu yang ada pada raga mereka. kontrol bagian jiwamu itu. Buat mereka kembali. Karena sebenarnya, mereka juga meninggalkan belahan jiwa mereka di dalam dirimu. kalian sama-sama berbagi kenangan atas waktu yang pernah kalian jalani bersama. Dan kau tidak perlu permisi untuk mengambil apa yang sebelumnya memamng menjadi milikmu.
Air Mata : apakah aku harus menunggu mereka menemukanku atau aku harus menemukan mereka ?
Kakek : pada akhirnya, mencari dan dicari, menunggu dan ditunggu hanyalah akan menjadi kamuflase akan mekanisme rahasia yang sebenarnya terjadi. Ketika kau mencari, sebenarnya ia hanya bersembunyi di dekatmu. Dan ketika kau menunggu, sebenarnya ia sudah menunggu di dekatmu. Kau akan tahu kapan harus menunggu dan mencari. Jalani harimu tanpa harus memilih di antara mencari dan menunggu
Air Mata : Aku benar-benar sendiri. Aku sedih melihatku sendiri. Apakah aku layak diapresiasi dan dicintai oleh orang lain ? aku merasa lemah.
Kakek : kau kuat. Setiap manusia kuat namun mereka lupa. Kau tidak sepenuhnya sendiri. Banyak orang merasa seperti apa yang kau rasa. Namun mereka tidak menunjukannya dan akhirnya lupa dengan luka yang mereka rasakan. Kau layak diapresiasi dan dicintai. Jangan salahkan dirimu atas apa yang tidak kau perbuat. Tapi benarkan dirimu atas apa yang telah kau perbuat. Tidak usah menyesal. Kau tahu ? Spinoza menemukan konsep Amor Fati yang artinya adalah cinta kepada nasib. Apa yang terjadi padamu merupakan rangkaian nasib yang akan menuntunmu pada sesuatu yang lebih baik dan juga lebih besar. Kau hanya perlu percaya.
Air Mata : apakah dengan percaya semuanya akan menjadi lebih baik ?
Kakek : tidak ada salahnya mencoba. Kau sudah lama percaya, bukankah kini aku datang mendengarkanmu.
Air mata : kakek, apakah kau hanya ada di dalam pikiranku ? apakah kau ilusi ?
Kakek : iya, aku berada di dalam pikiranku. Tapi tidak berarti aku adalah ilusi.
Air mata : terima kasih kakek, aku akan terus bersemangat dalam menjalani hidup. Aku percaya suatu saat aku menemukan apa yang aku cari. Aku percaya suatu saat nanti kita pasti bertemu lagi.
Kakek : pasti.
Air mata : titip salam untuk nenekku. Aku rindu sekali kepadanya.
Kakek : berdoalah untuknya. Ia pasti mendengarmu.
Dalam sekejap kakek tersebut hilang dan mengeluarkan cahaya yang terang benderang. Air matapun terbangun oleh suara burung gereja yang berkicau merdu di sebelahnya. Hari telah pagi dan ia ternyata tertidur di tengah hutan yang dipenuhi bunga iris. Ternyata air matanya semalam mengalir menjadi anak sungai yang membuat lahan disekitarnya subur. Air matanya telah kembali menjadi air mata yng akan kering karena dipacu untuk keluar.