Saturday, 31 December 2011

2012

Malam tahun baru merupakan momen yang menarik bagi saya. Jujur, saya bukanlah seorang fans berat dari perayaan tahun baru. Anda tidak akan menemukan saya meniup terompet di alun-alun kota ataupun membunyikan klakson sambil berkendara di jalan raya. Tapi saya juga bukan seorang pesimis yang mengubur semua harapan untuk perbaikan tahun depan. Saya merayakan tahun baru dengan cara sendiri.

Setiap akhir tahun saya selalu pergi backpack ke salah satu daerah di Jawa. Tujuannya adalah untuk berkontemplasi. Saya sadar kapasitas otak dan kapabilitas tekad saya masih seumur toge yang baru berkecambah, namun rasa penasaran saya mengakar dan tumbuh menjadi buah pikiran. Buah pikiran inilah yang saya coba petik dalam perjalanan akhir tahun.


Mengapa harus memetiknya hanya di penghujung tahun saja ?

Sederhana, karena jika ingin menuai, waktu adalah segalanya. Setiap tahun banyak sekali yang telah terjadi di hidup saya. Dan tidak mungkin semuanya terwujudkan dalam tulisan. Ya, seperti yang saya bilang, tekad saya dalam menulis belum bulat.


Perjalanan yang saya lakukan hanyalah backpack dengan dana seadanya dengan destinasi setahunya. Sampai tahun 2009, saya masih sempat melakukan backpack ke Yogyakarta bersama para sahabat. Menjelang tahun baru, mereka pergi ke alun-alun malioboro untuk mencicipi riuhnya malam pergantian tahun di sana. Sedangkan saya duduk melamun di dalam kamar. Lagi, saya senang sekali menghabiskan waktu dengan sosok yang ada di dalam diri. Berdialog dengan ia yang jarang saya perhatikan, berdialog dengan Ia yang sering saya lalaikan.

Tidak pernah saya mempertanyakan causa prima atau perputaran roda nasib yang bagi saya (dan bagi semua orang) selalu menempatkan diri di bawah. Saya hanya mengevaluasi apa yang sebenarnya saya lewatkan bersama diri sendiri. Tenang, saya bukan seorang narsistik. Saya benci diri saya sendiri, kok.

Tahun 2010 bergulir terlalu cepat tanpa jejak yang membekas. Banyak sekali nikmat yang saya rasakan selama 2010 sampai saya lupa mempost refleksi akhir tahun saya. Saat itu saya sedang kerja (anggaplah kerja) di Gedung Merdeka, acara dinas.

Paginya saya malas sekali mengkritalisasikan refleksi akhir tahun saya di sini. Benar-benar malas. Alasannya ya sibuklah, capeklah, galaulah, yah banyak sekali rasionalisasi yang dijadikan pembenaran.

Sama, saat menulis ini saya sedang dalam situasi kerja. Pasti saat usai kerja, saya akan sangat malas menulis cerita ini. Jadi saya sempatkan sekarang.

Tidak ada satu kejadianpun yang saya sesali selama tahun 2011. Saya masih merasa besok adalah fajar pertama 2011 dan saat mata mengejap, esoknya adalah fajar pertama 2012. Saya tidak sempat backpack dan mengevaluasi dalam perjalanan yang jauh dari kampung halaman. Saya rindu berkereta, bertanya, tersesat, dan berteman baru. Saya ingin hari ini saya habiskan berkeliling kota Malang ataupun mampir di Yogya. Tapi perlahan saya kenal dengan diri saya sendiri, inti dari perjalanan saya bukanlah backpack akan tetapi perjalanan itu sendiri. Bukankah hidup sendiri adalah perjalanan.

Di tahun ini saya mendapatkan banyak sekali pengalaman berharga: prestasi, akademik, magang, pertemanan baru, karir, beasiswa dan lainnya. Bukan hanya yang manis seperti itu, tapi juga yang benar-benar gahang. Saya belajar menerima kekalahan, pengkhianatan, kebohongan, dan juga kekecewaan. Benar-benar menerima, tanpa ada ekspektasi apapun. Sebelumnya saya selalu berontak jika menerima pengkhianatan dan kekecewaan. Mempertanyakan segala kesalahan diri yang menyebabkan pengkhianatan dan kekecewaan, mencoba memperbaikinya dengan paksa, berlarut dalam sedih dan akhirnya tenggelam dalam trauma masa lalu. Saya lelah dengan diri yang berusaha mengeksludasi apa yang saya miliki saat itu. Dewi Lestari menyebut konsep Budha yaitu annica yang berarti bahwa segala sesuatu itu tidak ada yang kekal. Kalaupun pengkhianatan terjadi, sakit yang kita alami akan berbuah manis suatu saat.

Yang saya pelajari, waktu dan juga kualitas yang orang/dunia tunjukan pada kita bukanlah refleksi yang sebenarnya. Di tahun 2012 ini saya ingin lebih mengenal diri saya sendiri dan kamu. Izinkan saya masuk mempelajari relung pikiranmu dan menetap di sana. Mari sama-sama belajar memahami diri sendiri melalui orang lain. Saya dan kamu, suatu saat pasti bertemu. Jangan menyerah, kamu tidak pernah sendirian.

Published with Blogger-droid v2.0.1

Sunday, 25 December 2011

Solitude #10


AR


Sepi yang bergetar
nurani yang gentar
kekuasaan yang nanar
kemanjaan kota yang gahar

harapan yang terlempar
cinta yang hambar
suara yang berkoar
langit yang kasar

globalisasi yang buar
meliuk tanpa jalan keluar
kapitalisme mengakar
rakyat terbiasa gusar





......
Kita bercinta menikmati redupnya suar pantai
aku susah sadar, kita terus memudar

sentul, 20-21 Desember 2011



Tuesday, 20 December 2011

solitude #9


"There is no friend as loyal as a book." ~ Ernest Hemingway

"when you read, you realize that you are not alone." ~moi

Published with Blogger-droid v2.0.1

refreshment #3


you have crush on someone and fall in love secretly with him/her but you are receiving an unrequited love. Don't wait, leave them because you still have Green Iced Tea Caramel Crush to cheer up your mood. It chills your nerves by its relaxing aroma and cool sensation, served @Tokyo Connection, 19k

Published with Blogger-droid v2.0.1

refreshment #2


This is Pina Colada, a famous french beverage. I found it really pinching in my throat, which is good. served @Tokyo Connection, jalan Progo, 18k.








Published with Blogger-droid v2.0.1

Sunday, 18 December 2011

refreshment #1




When everything hurts too much, Green Tea eases your anger.
Green Iced Tea from Paris Van Java Coffee shop, @Borma Setiabudhi, 19k.

Saturday, 17 December 2011

Solitude #8

Sajak Seorang Tua Di Bawah Pohon
W. S. Rendra

Inilah sajakku,
seorang tua yang berdiri di bawah pohon meranggas,
dengan kedua tangan kugendong di belakang,
dan rokok kretek yang padam di mulutku.

Aku memandang zaman.
Aku melihat gambaran ekonomi
di etalase toko yang penuh merk asing,
dan jalan-jalan bobrok antar desa
yang tidak memungkinkan pergaulan.
Aku melihat penggarongan dan pembusukan.
Aku meludah di atas tanah.

Aku berdiri di muka kantor polisi.
Aku melihat wajah berdarah seorang demonstran.
Aku melihat kekerasan tanpa undang-undang.
Dan sebatang jalan panjang,
punuh debu,
penuh kucing-kucing liar,
penuh anak-anak berkudis,
penuh serdadu-serdadu yang jelek dan menakutkan.

Aku berjalan menempuh matahari,
menyusuri jalan sejarah pembangunan,
yang kotor dan penuh penipuan.
Aku mendengar orang berkata :
“Hak asasi manusia tidak sama dimana-mana.
Di sini, demi iklim pembangunan yang baik,
kemerdekaan berpolitik harus dibatasi.
Mengatasi kemiskinan
meminta pengorbanan sedikit hak asasi”
Astaga, tahi kerbo apa ini !

Apa disangka kentut bisa mengganti rasa keadilan ?
Di negeri ini hak asasi dikurangi,
justru untuk membela yang mapan dan kaya.
Buruh, tani, nelayan, wartawan, dan mahasiswa,
dibikin tak berdaya.

O, kepalsuan yang diberhalakan,
berapa jauh akan bisa kaulawan kenyataan kehidupan.

Aku mendengar bising kendaraan.
Aku mendengar pengadilan sandiwara.
Aku mendengar warta berita.
Ada gerilya kota merajalela di Eropa.
Seorang cukong bekas kaki tangan fasis,
seorang yang gigih, melawan buruh,
telah diculik dan dibunuh,
oleh golongan orang-orang yang marah.

Aku menatap senjakala di pelabuhan.
Kakiku ngilu,
dan rokok di mulutku padam lagi.
Aku melihat darah di langit.
Ya ! Ya ! Kekerasan mulai mempesona orang.
Yang kuasa serba menekan.
Yang marah mulai mengeluarkan senjata.
Bajingan dilawan secara bajingan.
Ya ! Inilah kini kemungkinan yang mulai menggoda orang.
Bila pengadilan tidak menindak bajingan resmi,
maka bajingan jalanan yang akan diadili.
Lalu apa kata nurani kemanusiaan ?
Siapakah yang menciptakan keadaan darurat ini ?
Apakah orang harus meneladan tingkah laku bajingan resmi ?
Bila tidak, kenapa bajingan resmi tidak ditindak ?
Apakah kata nurani kemanusiaan ?

O, Senjakala yang menyala !
Singkat tapi menggetarkan hati !
Lalu sebentar lagi orang akan mencari bulan dan bintang-bintang !

O, gambaran-gambaran yang fana !
Kerna langit di badan yang tidak berhawa,
dan langit di luar dilabur bias senjakala,
maka nurani dibius tipudaya.
Ya ! Ya ! Akulah seorang tua !
Yang capek tapi belum menyerah pada mati.
Kini aku berdiri di perempatan jalan.
Aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing.
Tetapi jiwaku mencoba menulis sajak.
Sebagai seorang manusia.

Pejambon, 23 Oktober 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi


Solitude #7


He is Meki (or mecky ? meqi ? whatever, but at least it sounds Meki). He is the toughest motorcycle i ever rode. (Look at the picture !) At a sudden i felt his solitude when i starred at him and made eye contact with him. He has been carrying a lot of stuffs, pain, and burden all this time. Witnessing his efforts to make people on him happy, i took a bow for him. if Blue Fairy makes him alive, i'd like to ask him one insignificant question:
"aren't you tired ?"

Well, i don't sruely know his answer but seeing him going all the way, i bet he won't personally disappoint me.

So everyone struggles, so does Meki ! Go Meki !

*Oh Lord, I am so crazy, talking so much about a motorcycle*

Friday, 16 December 2011

#Before Sunset

It is one of my fave movie in the world: Before Sunset
scene above led to the best dialogue i ever knew:
it was the scene when Jessy and Celine went on a bot in the afternoon, then Celine said the most mindful part of her heart:


"i'm happy that you're saying that because i'd always feel like a freak because i am never able to move on like this *clicking fingers*. People are just having affairs or even entire relationships. They break up and they forget. They move on like they would have changed a brand of cereals. i feel i was never able to forget anyone i've been with. Because each person has, you know, specific qualities. You can never replace anyone, what is lost is lost. Each relationships, when it ends really damages me. i've never fully recovered. that's why i'm very careful with getting involved because it hurts too much, even getting laid. I actually don't do that. i will miss of the person the most mundane things like i am obsessed with little things. maybe i am crazy but when i was little, my mom alwas told me that i was late for school. one day she followed to see why. i was looking at chestnuts falling from the trees, rolling on the sidewalk or ants crossing road, the way leaf casts a shadow on a tree trunk..little things. i think it's the same with people. i see in them little details, so specific to each other, that move me and that i miss, and i always miss. you can never replace anyone because everyone is made of such beautiful specific details."

Tuesday, 6 December 2011

Delapan Tahun Kemudian


Durasi: 129 menit. Genre: Drama Komedi (Dewasa). Sutradara: Nia Dinata. Pemain: Tora Sudiro, Rachel Maryam, Aida Nurmala, Cut Tari, Surya Saputra, Rio Dewanto, Pong Harjatmo, dll.

Delapan tahun yang lalu Nia Dinata telah berhasil membius penonton dengan drama komedi yang menyentil, Arisan!. Sekarang Nia Dinata berusaha mencoba menyukseskan sekuelnya yang ke dua dengan judul Arisan!2.

Cerita masih berputar di antara lima sahabat yang tinggal di ibu kota yaitu Sakti (Tora Sudiro), Meimei (Cut Tari), Andin (Aida Nurmala), Lita (Rachel Maryam), dan Nino (Surya Saputra). Delapan tahun berlalu setelah kematian suami Andin, perceraian Meimei dan hubungan Nino dan Sakti yang mengalami kejenuhan. Fokus Arisan!2 terletak pada kehidupan Meimei yang diceritakan mengidap kanker. Meimei harus berpisah dulu dari ibu kota dan sahabatnya untuk menjalani terapi dengan dalih liburan. Tentu Meimei tidak menceritakan tujuan ia pergi dari ibu kota supaya tidak membebani sahabat-sahabatnya.

Tokoh Okta (Rio Dewanto) ikut meramaikan film ini. Okta adalah kekasih baru Nino. Untuk menghadapi bayang-bayang Nino, Sakti pun menjalani hubungan dengan Gerry (Pong Harjatmo). Di tengah kekikukan Nino, Sakti, dan Okta, dokter Joy (Sarah Sechan) dan Ara (Atiqah Hasiholan) bergabung dengan komunitas sosialita Jakarta. Andien pun sibuk mengurusi acara-acara sosialita tersebut bersama mereka.

Di pulau lain, Meimei yang sedang menjalani pengobatan dengan perawatan dr. Tom (Edward Gunawan) ingin kembali ke Jakarta untuk bergabung bersama teman-temannya. Di tengah pengobatannya, Meimei juga mendapat spirit dari seorang bartender cantik, Molly(Adinia Wirasti), yang juga mengidap kanker.

Setelah tiba di Jakarta, Meimei merasa tidak cocok lagi dengan gaya hidup ibu kota. Ia memutuskan untuk tinggal di pulau secara permanen, sebelumnya ia pergi ke Borobudur untuk menemui Tom yang sedang mengikuti perayaan Waisak. Teman-temannya curiga dengan perubahan sikap Meimei dan memutuskan untuk menyusul Meimei ke pulau. Rahasia Meimei terbongkar seperti rahasia-rahasia lain yang disimpan oleh teman-temannya.

Dari segi plot, Arisan!2 mengeskplorasi cerita-cerita tokoh lama dan baru. Dengan plot maju, Arisan!2 membawakan saya cerita yang segar seperti Lita yang masih vokal mengadvokasi hak kaum marjinal dan Nino yang masih vokal menyutradarai film-film yang nonmainstream. Dari segi setting, saya kurang memperhatikan apa nama pulaunya disebut atau tidak di dalam cerita, namun saya hapal persis bahwa pulau yang ditempati Meimei saat menempuh proses penyembuhannya adalah Gili Trawangan, Lombok. Selain Gili Trawangan, Jakarta tentu menjadi setting utama film ini.

Dari segi penokohan, ini yang saya suka, Arisan!2 lebih menonjolkan karakter Meimei. Dr Tom yang senantiasa memberikan banyak nasihat dan kata mutiara menjadi pemacu perubahan gaya hidup Meimei. Inipula yang menyemangati Meimei untuk tetap berjuang melawan kanker dan menikmati hidup. Menurut saya tokoh Meimei berhasil digarap oleh Cut Tari. Sedangkan tokoh Sakti mengalami penuruan pendalaman karakter. Tora Sudiro memerankan Sakti dengan gaya yang canggung, berbeda dengan tokoh Sakti di Arisan!. Tokoh Octa berhasil memberikan gula (atau garam?) di dalam film ini dengan sikapnya yang manja dan kekanak-kanakan. Surya Saputra jg berhasil menunjukan kebimbangan yang dialami oleh tokoh Nino. Dalam benak saya, Nino ingin move on dengan menggandeng Octa namun ia belum bisa melenyapkan sayangnya untuk Sakti.

Film Arisan!2 ini lebih menceritakan kebijaksanaan dan filosofi dalam hidup. Filosofi dalam agama Budha diracik menjadi ringan di film ini. Meskipun demikian, gambaran sosialita ibu kota tetap kental dan juga renyah. Kontras antara foya-foya sosialita dan perjuangan hidup Meimei digambarkan di film ini.

Penunjukan gimmick khas masing-masing karakter juga menjadi salah satu hal yang saya suka. Sentuhan, pandangan, dan juga lirikan yang mengandung interpretasi dan intimasi yang begitu dalam. Satu hal yang kurang dalam film Arisan!2 adalah banyaknya ambiguitas dalam penokohan. Seperti dr Joy dan Ara yang digambarkan kurang tegas (mungkin terbatas durasi). Secara keseluruhan, Arisan!2 jelas melampaui pertamanya.

Film inipun ditutup dengan cantik oleh adegan snorkel di Lombok oleh para pemain sementara Meimei menarasikan kutipan dari Jalaluddin Rumi di akhir cerita,

"Lovers don't finally meet somewhere, they're in each other all along."

Friday, 2 December 2011

janji

Moal ogo mun tikusruk

Published with Blogger-droid v2.0.1

wouldyoueraseme ?

When something so heartbreaking is coming, after good memories take care of us ? Would you erase me ?

Published with Blogger-droid v2.0.1