Friday, 21 December 2012

Belajar dari Alam

Alam memang memiliki banyak sekali pelajaran yang bisa kita pahami dan teladani. Alam dan lingkungannya yang selama ini kita tinggali tidak pernah menuntut apapun kecuali untuk dijaga dan dilestarikan. Saya merasa beruntung bisa berkenalan jauh lebih dekat dengan alam terlepas saya yang seorang mahasiswa ilmu lingkungan.

Beberapa minggu yang lalu seorang teman (yang seorang dosen) meminta tolong kepada saya untuk menemani mahasiswa-mahasiswanya melakukan sampling air sungai. Awalnya saya merasa keberatan untuk melakukannya. Alasannya karena waktu yang mendadak. Teman saya menghubungi saya sehari sebelum mahasiswa-mahasiswa nya ingin melakukan sampling. Selain itu, mereka sendiri belum menentukan tempat spesifik untuk melakukan sampling. Yang paling utama juga adalah saya merasa bukan orang yang kompeten untuk melakukan hal tersebut meskipun hanya menemani. Saya kuliah di sosial sedangkan mereka kuliah di kimia. Tapi akhirnya saya ambil juga karena saya memang ingin membantu teman saya yang selama ini juga telah banyak membantu saya. Terlebih lagi karena saya juga ingin menemani mahasiswa-mahasiswa tersebut. Mereka adalah mahasiswa yang tekun dan serius.

Sebelumnya saya pernah mengisi kelas mereka satu kali pertemuan. Saat itu saya membahas tentang teknik FGD dan the ins and outs of Nuclear. Membahas nuklir bukanlah sesuatu yang sulit karena dulu saya mendapat satu mata kuliah khusus yang membahas persoalan nuklir dan perang yang melingkupi perjanjian, penggunaan, dan juga dampak nuklir. Saat itu saya mengajar dua kelas. Kelas pertama pukul satu tigapuluh sampai tiga tigapuluh dan kelas kedua pukul tiga tigapuluh sampai lima tigapuluh. Dalam pertemuan ini saya menemukan semangat mereka yang begitu luar biasa. Pertanyaan-pertanyaan kritis dan pernyataan yang terkadang mereka lontarkan kadang membuat kening saya mengkerut dan mulut saya melengkung. Saya memberikan materi kurang lebih lima belas menit dan sisanya saya pandu mereka untuk melakukan FGD dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka tampak antusias dengan teman yang diberikan yaitu Nuclear: Energi booster or disaster? Kelas menjadi ramai dan seru ketika perdebatan mengenai penggunaan nuklir bagi negara-negara maju dan berkembang. Terlebih lagi kelas kedua. Meski waktu sudah menunjukan pukul enam dan adzan telah berkumandang, mereka tetap meneruskan FGD dan diskusi terus menerus dengan keadaan kelas yang gelap. Beberapa di antara mereka menggunakan layar handphone sebagai penerangan. Mengingat hal ini, mana mungkin saya bisa menolak mereka yang ingin melakukan sampling air dengan antusiasnya? 

Hari itu saya berkoordinasi dengan teman saya mengenai lokasi sampling. Lokasi sendiri belum ditentukan mengingat kesibukan dan kepadatan kegiatan mahasiswa dengan jurusannya. Hari itu hujan deras dari pagi hingga pukul dua siang. Saya sempat menyarankan untuk menjadwalkan ulang kegiatan sampling tersebut namun mahasiswa menolak karena mereka ingin sekali menyelesaikan sampling ini dengan cepat. Akhirnya pukul setengah tiga, hujan sudah mulai reda. Saat saya berkoordinasi dengan ketua kelas mereka, Eji, tentang lokasi sampling, ia mengatakan bahwa ingin melakukans ampling di sekitar dago pakar - tahura. Saya kemudian memastikan dulu untuk ke penjaga tahura, Pak Dadan, karena saat itu sedang ada renovasi. Pak Dadan menyarankan saya untuk mengontak Bu Eli untuk urusan perizian penelitian. Namun saat itu saya berhasil meyakinkan Pak Dadan bahwa kami hanya akan melakukan sampling hari itu di tiga titik yang aman. Sebenarnya hal ini saya lakukan mengingat mahasiswa yang sudah dalam perjalanan dan tak mungkin menunda kegiatan mereka hanya karena surat izin. Setelah itu saya berkoordinasi lagi dengan Eji dan sekitar setengah jam kemudian mereka berdatangan di gerbang Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda (Tahura).. Ada empat puluh enam mahasiswa yang ikut sampling saat itu. Tiket masuk masih Rp.8000, jam operasional dari delapan pagi hingga empat sore, dan tiket parkir untuk kendaraan roda dua Rp. 2000 sedangkan roda empat Rp. 4000. Tapi usahakan jangan lebih dari jam empat. Karena saat itu kami selesai pukul setengah lima sehingga penjaganya sudah pulang, ada oknum tukang parkir yang meminta parkir tambahan (seharusnya ditindak). 

Tujuan sampling mereka adalah membandingkan ph, suhu, dan unsur lainnya seperti BOD yang ada di tiga titik berbeda dalam aliran sungai di hulu dan hilir. Memasuki tahura, kami agak kelimpungan mencari lokasi sampling. Saya kira mereka sudah mengetahui lokasi sampling namun ternyata mereka sama sekali tidak tahu akan melakukan sampling di mana. Akhirnya saya menyarankan ke beberapa anak sungai di daerah upstream tahura. Tapi mereka menolak karena alasan yang terlalu jauh dan waktu yang terbatas. Kami melakukan sampling di sungai limpahan yang kami lewati pertama kali yang bermuara di sebuah kolam. Saya kemudian teringat ada satu sungai di lembah yang cocok untuk dijadikan lokasi sampling. Persoalannya adalah tidak ada jalan setapak menuju sungai tersebut. Sebenarnya saya bisa menemani mereka hanya sampai pukul empat karena ada kewajiban lain setelah itu. Ejipun berkata bahwa jika waktu sudah habis, saya dipersilakan pamit pergi dan mereka akan mencari lokasi samplingnya sendiri. Lagi-lagi, rasa tidak tega menguasai saya dan saya putuskan untuk menemani mereka. Akhirnya saya mengantar mereka ke sungai di lembah. Karena tebing yang cukup terjal, saya hanya mengizinkan laki-laki saja untuk turun.

Mahasiswa sedang Sampling

Lokasi 1


Masih ada sampah

Riakan

mahasiswa sedang sampling



Masuk hutan

Tahura dari Atas


Setelah melakukan sampling, mahasiswa sadar bahwa sampling merupakan kegiatan yang menyenangkan. Hal ini juga perlu didukung oleh outfit yang sesuai. Kebanyakan dari mereka menggunakan sepatu pantofel, kemeja, dan celana bahan untuk melakukan sampling. Selain itu, waktu yang lebih lengang sebenarnya bisa membuat mereka melakukan eksplorasi lokas. 

Pelajaran yang bisa diambil selain jangan buang sampah (yang ternyata masih ada walaupun di daerah yang sulit dijangkau) adalah menjaga lingkungan ternyata tidak bisa kita dapatkan dari membaca buku saja. Menurut saya harus ada hubungan khusus antara kita dan alam sehingga kita bisa menjaganya sepenuh hati. Salah satu cara untuk menjalin hubungan tersebut adalah berinteraksi dengan alam: camping atau hiking. Keduanya bisa mendekatkan kita dengan alam. Dengan merasa dekat, kita akan menjaga alam itu sendiri.

Monday, 10 December 2012

Solitude #16

Overwhelming




You stayed in the darkest corner of my mind and kept whispering things i wasn't familiar with. I tried to seek for the switch but i found nothing. I tried to make light but i failed. I wept in the silence.

Then i started to doubt you staying there. Maybe you were just the manifestation of my anxiety.  Maybe you already emerged with darkness perfectly. You were never there for the very first time. I hugged my knees.

No one cared. 
It worked.

World turned upside down. Every morning i drank bottles of sunshine. Every night i ate plates of moonlight. Every day i danced with happiness. Every tranquility i filled with sleeping on pillows full of rainbows, blanketed with wonderful fireflies. Life seemed flawless. I felt life alluring its great fervor. 

I was tantalized.

I grabbed a crystal jar to put it in there so i could look at it again and again eternally. But it was full of remainder of broken hearts. I swallowed it all till empty.

This was how it felt to hide in your shade. How comfortable it was. How soothing it was. How endearing it was. In the end i could see you here appearing gradually. I could feel you here unveiling yourself from . obscuring reality. I was wondering. What.

Then, i began to vanish.


Oh i knew!
I was smitten to death.



Cimahi - December 2012



Friday, 2 November 2012

Playlist



"Playlist is simply a list of songs. Constraint satisfaction techniques were developed to create playlists that satisfy arbitrary 'sequence constraints' such as continuity, diversity, similarity, etc." ~Wikipedia~
This afternoon I learned something important from an unimportant thing. It happened after I left the scientific philosophy class earlier because the lecturer came late and extended the time. I was bored and I decided to go. I went to parking area immediately because i saw the skies were quite cloudy. I thought it would be very nice to ride a motorbike for home with earphones plugged into my ears serving my favorite play list. Right before the rain fell for sure. But my wish became insatiable when the clouds began to pour some raindrops. It touched my skin very slowly and gently that dramatically dragged me into a melancholic ambiance. I complained a little about being afraid of getting soaked but still managed to plug the earphones into my ears in the midst of rain. But instead clicking my favorite playlist as i planned before, I unintentionally clicked "play all songs" in random mode.

Instead of pulling off the motorbike to adjust my favorite playlist, I kept going on. Yeah, Life’s too short to remove USB safely. So I kept riding with some random songs keeping me accompanied. I have more than 250 songs in my music player but turns out I always pick two or three and repeat it over and over. I might be   conventional and inefficient but i like to have so many songs as options for i don't have many of it in life.

Everything seemed gloomy as I listened to unexpected songs which were supposed to uplift my mood a bit but not unfortunately. I must say that the rain, the songs, and me getting soaked have successfully coalesced into a universal conspiracy reminding me again of what I’ve been trying to pick up:  scattering pieces of a broken heart. When i got home, i abruptly wrote down the songs. 
Here are the songs, following is in shuffled order as i listened :

Firasat – Marcell
Lagi Bohong – Soulmatch
Waiting in Vain – MYMP

On the way home, the rain got heavier but I didn’t back down.

Rumor – Butiran debu
Senza Fine – Gino Paoli
Maha daya cinta – Krisdayanti
Sweet Nothing – Calvin Harris ft. Florence Welch
Manusia Bodoh – Ada Band

Judging from the playlist above you must assume that I am a cheesy guy with some old sentimental songs, right? Not entirely wrong and right. 

There some of those songs my friends downloaded along.
There’s one song that I was smitten with when I was a second grade junior high school so that I played it almost every single night before I went to sleep. 

There’s one new song I recently listened that appeases me so gently. 

There’s one song I have deep memories in it and make me want to hang myself every time i hear it. 

There’s one song I am forced to like. 

There’s one song that every time I listen to it, my mind shouts loudly, “Why the hell are you listening to such a trashy song?”

There’s one song that reminds me of my perpetual stupidity. 

There’s one song that scolds me too much I can barely listen for the second times.


Okay, now here it is. What’s the lesson?

Life’s is a playlist containing random songs that some you hate, some you love, some expected, some unexpected but all needs to be faced. Immerse yourself in the ambiance. Enjoy every single words and tunes.



Just sing along. 


P.S: maybe you need to pull off awhile to put your raincoat on so you wouldn't end up shivering at home while sipping a cup of coffee you don't like.

Friday, 19 October 2012

Membangun Komunitas, Meningkatkan Kualitas

Membangun Komunitas, Meningkatkan Kualitas


Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia!” ~ Soekarno

Siapa tidak merinding membaca kalimat yang dilontarkan presiden pertama negara kita? Tidak ada yang bisa menyangkalnya terutama saat pemuda berperan penting dalam merebut kemerdekaan dari para penjajah. Namun enam puluh tujuh tahun setelah Indonesia merdeka, bagaimanakah potret pemuda kini? Apakah perjuangan mereka sudah berakhir?

Saat ini pemuda aktif dalam berbagai kegiatan pembangunan. Salah satunya dengan bekerja yang membutuhkan keahlian dan pendidikan. Di antara mereka ada yang langsung mencari pekerjaan setelah menyelesaikan sekolah menengah pertama saat usia mereka menginjak 15 tahun dan sekolah menengah atas saat usia mereka menginjak usia 18 tahun. Banyak juga yang meneruskan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Namun pada akhirnya mereka memiliki tujuan yang sama yaitu untuk memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang lebih baik.

Dalam memperoleh pekerjaan yang layak, pemuda dibayang-bayangi oleh pengangguran. Pada tahun 2010 pengangguran muda secara global mencapai angka 12,6 persen yang secara dramatis melebihi pengangguran dewasa yaitu 4,8 persen. Bahkan pada tahun 2009, pengangguran pemuda mencapai puncaknya yaitu mencapai angka 75.8 juta.[1] Pengangguran muda ini menjadi isu yang lebih krusial di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Terkait dengan hal tersebut, pemuda Indonesia, menurut saya, menghadapi tiga tantangan besar yaitu  1) kompetisi, 2) eksploitasi, dan 3) urbanisasi.

Kompetisi
Bappenas menyatakan bahwa pada tahun 2011 angka pengangguran pemuda di Indonesia mencapai 19,99 persen dengan jumlah sekitar 4,2 juta orang. Angka pengangguran pemuda ini tiga kali lebih besar dibandingkan dengan angka pengangguran nasional yang berkisar 6,32 persen. Pemerintah telah membuat program MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) yang akan menciptakan sebesar  9.437.918 lapangan kerja dengan total investasi Rp 3.775,9 triliun untuk mengatasi hal tersebut. Hal ini seharusnya bisa menjadi kabar gembira tetapi hal ini tetap saja belum bisa menjawab persoalan pengangguran pemuda yang ada.

Permintaan dan penawaran di pasar kerja memiliki ketimpangan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang paling tinggi masih ditempati oleh lulusan SMA (10,34%) dan SMK (9,51%) sedangkan tahun sebelumnya pasar menyerap tenaga kerja dengan dominasi pendidikan lulusan SD ke bawah (49,53%).[2] Lulusan sekolah menengah mengalami kesulitan untuk memasuki dunia kerja karena bursa yang kerja yang sedikit. Hal ini berkaitan erat dengan kualitas pendidikan (kejuruan), kemampuan berwirausaha, kecakapan hidup (lifeskills), dan akses informasi. Lulusan ini jarang mendapatkan masukan –seperti workshop dan seminar– dan bursa kerja yang sesuai dengan kompetensi mereka. Apalagi Indonesia yang pada tahun 2015 akan memasuki Komunitas Masyarakat Asean. Hal ini berarti akan memperketat kompetisi dalam mencari pekerjaan.

Ekspolitasi Terselubung
Hak pemuda dalam bekerja harus menjadi prioritas. Banyak sekali eksploitasi terselubung yang dilakukan perusahaan-perusahaan. Contohnya adalah pemuda yang memiliki gelar sarjana tidak jarang menerima gaji yang tidak sesuai dengan kemampuan mereka. Di Indonesia sendiri hal ini menjadi suatu yang lumrah mengingat perkataan lebih baik bekerja daripada nganggur yang menjadi tekanan sosial. Padahal hal ini secara gradual mengikis kemampuan dan intelektual mereka.

Hal yang lebih mencengangkan harus diterima pemuda angkatan kerja tidak terdidik. Sebagian besar bekerja menjadi buruh industri. Selain upah yang rendah, mereka juga tidak mendapatkan berbagai fasilitas dan akses dari perusahaan. Di Cimahi Selatan misalnya, banyak pemuda yang bekerja sebagai buruh pabrik di daerah Padalarang harus menunggu jemputan yang lamanya bisa mencapai dua jam. Sebagian besar dari mereka menunggu di pinggir jalan saat mendapatkan shift kerja malam. Adanya peningkatan produktivitas pabrik yang mempengaruhi jam istirahat mereka ternyata tidak dikompensasi dengan upah tambahan yang layak.

Sementara itu di Ciamis, pemudi yang telah menyelesaikan SMP dan SMA pergi ke kota Bandung dan Jakarta untuk mencari pekerjaan. Sebagian besar memutuskan untuk bekerja menjadi pengasuh (bayi dan anak) baik melalui agen resmi maupun sanak famili. Bagi mereka yang bekerja melalui agen resmi, beberapa keuntungan bisa mereka dapatkan seperti jaminan pekerjaan dan pelatihan-pelatihan. Namun begitu, yang terjadi saat ini adalah seringkali kita melihat banyak pengasuh di pusat perbelanjaan mengenakan seragam. Mereka sering merasa tidak nyaman mengenakan seragam pengasuh di tempat publik. Hal ini bisa mengganggu psikologis dan perasaan mereka. Tetapi keluarga yang mempekerjakan mereka tidak melihat hal tersebut.

Berbeda dengan pengasuh yang disalurkan melalui agen, pengasuh yang disalurkan melalui sanak saudara terjebak dalam posisi yang dilematis. Di satu sisi mereka beruntung karena keluarga yang mempekerjakan mereka menganggap mereka sebagai titipan saudara jauh sehingga untuk pemenuhan kebutuhan dasar seperti makan dan tempat tinggal lebih terjamin. Selain itu ikatan kekeluargaan yang akrab terjalin di antara mereka. Meskipun demikian mereka tidak sadar bahwa hal tersebut telah menurunkan standar dan kualitas profesionalisme yang harusnya diterapkan oleh keluarga yang mempekerjakan. Dengan basis kekeluargaan, keluarga yang mempekerjakan mereka memiliki tendensi untuk memberikan tugas tidak hanya untuk mengurus anak mereka saja tetapi juga untuk mengurus dapur dan juga rumah sehingga pada akhirnya seorang pengasuh harus merangkap sebagai pembantu tetapi upah yang diberikan tidak sepadan dengan apa yang mereka kerjakan. Mereka juga tidak bisa banyak mengeluh karena merasa enggan dan tidak enakan sehingga dalam kasus ini mereka jarang mendapatkan libur untuk pulang kampung bahkan saat libur nasional atau hari raya besar.

Urbanisasi
Saat lebaran usai, pemuda berbondong-bondong ikut sanak saudara mereka untuk bekerja di sekitar Jabodetabek dan ikut meningkatkan laju urbanisasi. Laju urbanisasi yang setiap tahunnya cenderung meningkat ini bisa menimbulkan masalah sosial semakin marak seperti kriminalitas, kemiskinan, dan kemacetan. Salah satunya bisa kita rasakan sendiri yaitu banyaknya pengamen jalanan hampir di setiap lampu merah jalanan perkotaan.  Tidak hanya di Indonesia, negara-negara lain juga mengalami hal yang serupa khususnya negara di kawasan Asia Pasifik. PBB menyatakan bahwa 45 persen pemuda dunia yang berjumlah 700 juta orang berada di sebelas kota megapolitan kawasan Asia Pasifik dengan penduduk lebih dari 10 juta ini.

Laju urbanisasi ini sebenarnya bisa dikurangi dengan memanfaatkan potensi pedesaan. Wilayah pedesaan memiliki lapangan kerja yang subsisten yaitu lapangan kerja yang bisa memenuhi kebutuhan kerja secara optimal secara berkelanjutan. Di Kabupaten Sukabumi, tenaga kerja lulusan SMP dan SMA diserap oleh industri pertanian, peternakan, dan penangkapan ikan yang masih dikelola secara tradisional. Namun sayangnya pemuda masih memiliki paradigma kotasentris. Lagi-lagi kota dianggap dapat satu-satunya tempat yang dapat memberikan penghidupan lebih baik padahal pemuda Indonesia juga bisa mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak dari sumberdaya alam negeri ini yang dulu terkenal agraris dan maritim.  Meskipun demikian permasalahan lain muncul: lulusan SMP yang lebih berhasrat untuk bekerja daripada meneruskan pendidikannya ke SMA. Mereka beranggapan bahwa pekerjaan di sekitar mereka tidak membutuhkan pendidikan tinggi.


Membangun Komunitas
Pemuda Indonesia adalah muda-mudi yang gemar berkumpul dan bertukar informasi. Mereka bisa berkomunitas dan menyebarkan virus solidaritas. Solidaritas ini diarahkan untuk membangun kualitas-kualitas positif yang mampu menghadapi tiga tantangan tersebut. Komunitas ini menjadi solusi dan memajukan pemuda melalui pemberdayaan sendiri (self-empowerment) seperti training kecakapan, kemampuan berwirausaha, dan kesadaran untuk peduli akan hak pemuda sendiri sehingga mereka bisa memperjuangkan hak-haknya secara mandiri. Komunitas juga mengajarkan untuk saling peduli.

Di Bandung terdapat komunitas Warung Imajinasi yang memberikan pelatihan bahasa Inggris (dan asing lainnya) bagi pemuda. Sementara di Cimahi terdapat komunitas BITC (Baros Information Technology Creative) untuk memacu pemuda mau menapaki lapangan pekerjaan di industri kreatif. Berkomunitas seperti itu dapat meningkatkan kualitas pemuda sehingga kita dapat membangun komunitas yang suara  dan hak-hak pemudi seperti di Ciamis atau pemuda di Cimahi Selatan dapat diperjuangkan. Dengan memperjuangkannya, pemuda juga memperjuangkan penghidupan yang layak. Jadi tampaknya pemuda masih harus berjuang menghadapai jalanan terjal dalam pembangunan.

Tenang, tidak usah gentar karena kita bersama dapat mengguncang dunia!






[1] UN World Youth Report Official Outcome by Department of Public Information
[2] Diakses melalui [16/10/2012]

Tuesday, 16 October 2012

Mimpi Lama


Beberapa hari ini pengen banget nulis beberapa essay tentang siklus kemiskinan sama (ketidak)pemerataan pembangunan tapi buku yang jadi materi utama masih dalam proses penceranaan. Selain itu juga pengen banget ngreview novel pemenang sayembara Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2010. Untuk yang pertama, kalau udah buku-bukunya selesai dicerna, nanti segera mungkin saya luangkan waktu untuk nulis hal tersebut. Dan untuk yang kedua berhubungan dengan hobi dan minat saya yang sangat besar terhadap dunia sastra. Sebenernya dari tahun 2006 saya pengen banget ikutan sayembara DKJ. Selain hadiah utamanya dua puluh juta, novel karya kita bisa dipublikasikan tanpa ribet dan belibet. Cuma yang bikin susah adalah saingannya yang bukan main punya keunikan dan kompetensi di bidang sastra. Salah satu pemenangnya adalah Ayu Utami yang jadi pemenang sayembara DKJ tahun 1998 dengan novelnya yang berjudul Saman. Saman kan bagus banget. Yah, jadi yang bisa disimpulin kalo mau menang sayembara DKJ itu ya kurang lebih novelnya harus sekelas novelnya Ayu Utami. *Glek*  

Saya sering banget lupa kalau saya juga pengen banget jadi seorang penulis (baca: novelis). Ah tapi semangat saya untuk nulis novel masih membara. Apalagi dulu teman kakak saya yang satu jurusan waktu kuliah, Dewi Sartika, memenangkan sayembaranya pada tahun 2003 dengan judul Dadaisme. Novelnya emang bagus karena memliki plot dan penokohan yang kompleks pada saat itu. Jadi tambah semangat nulis lho waktu itu tapi ya cuma semangat nulis doang sedangkan halaman novelnya ga nambah-nambah. Jadi miris. Dulu kakak sayang yang sok bijaksana dan mulia pernah bilang kalau satu hari kita harus meluangkan waktu untuk menulis atau membaca karya sastra. Misalkan dua jam saja. Dari SD sampe SMA saya sih masih nurut. Nurut bikin essay, puisi, cerpen, atau sekadar prosa liris. Nurut baca buku-bukunya Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Remy Sylado, Ayu Utami, Dewi Lestari, Djenar, Fira Basuki, atau nama-nama lainnya yang seasing nama unsur-unsur dalam pelajaran kimia. Bedanya saya suka yang asing-asing dalam pelajaran sastra tapi ga dalam pelajaran kimia. Kadang hasil tulisan saya itu dikirim kakak saya ke beberapa media cetak dan dari puluhan yang dikirim akhirnya ada beberapa yang dimuat. Mungkin redakturnya udah iba. Ya tapi selepas dari itu, dulu pasti aja ada waktu yang saya alokasikan untuk nulis. Sekarang sih sok sibuk. Kuliah sambil kerja meres tenaga sama pikiran. Jadi nyampe rumah ya langsung nempel di kasur. Kalopun ada waktu kosong saya pake buat baca buku-buku kuliah plus jurnalnya.

Kalo ditilik, awal Juli kan saya mulai kuliah lagi ditambah kerja part-time yang karena saya udah lama ga kuliah plus kerja (dulu skripsi cuma satu tahun) jadi butuh harmonisasi antara otak, badan, tenaga, pikiran, dan waktu plus aktivitas baru untuk bersinergi. Tapi sih ya lama banget harmonisasinya, udah hampir tiga bulan tapi masih aja keteteran. Dulu masih sempet renang sama jogging seminggu sekali sekarang sebulan sekali aja udah syukur. Alhasil, saya nemuin seribu satu alasan untuk berhenti nulis. Nulis di blog aja udah untung jadi salah satu excuse. 

Sekarang? Ya gitu. Masih sih nulis. Nulis di dirty notes tentang teknik liputan, belanjaan bulanan, to-do list, sama tulisan-tulisan kalo lagi bosen. Yang seriusan dikit juga ada: nulis salinan catatan kuliah. Yang lebih serius lagi juga ada: nulis di blog sambil curhat ngalor ngidul.

Tapi tenang, kalo kata bang John Perkins
life is composed of a series of coincidences. How we react to these—how we exercise what some refer to as free will — is everything; the choices we make within the boundaries of the twists of fate determine who we are .


Saya yakin setiap apa yang sedang terjadi sama kita merupakan bagian kecil atas sesuatu yang lebih besar yang akan terjadi. Ada semangat dan niat yang disertai usaha akan meretas jalan pada suatu muara. Ya cuma waktu dan keyakinan yang bisa menuntunnya. 

Apakah ide atau inspirasi yang ada itu masih bersemayam dan mengkristal di benak kita kemudian pada suatu waktu akan cair dan bermuara menjadi sebuah karya?

Amin. semoga Tuhan mengabulkan doa kita.



*Buka-buka file novel...........liat jam....hoaaahm.....nulisnya entar aja deh*
*shut down komputer*

Wednesday, 3 October 2012

Tiga Tahun Batik

Masyarakat Indonesia perlu bangga mengenakan batik setiap hari terutama pada tanggal 2 Oktober karena tiga tahun yang lalu pada tanggal yang sama UNESCO telah menetapkan batik sebagai intangible world heritage dari Indonesia. Nah tahun ini Yayasan Batik Jawa Barat sebagai yayasan nonprofit yang berusaha memajukan batik Jawa Barat mengadakan acara Tribute to Batik di TSM Bandung. Acara ini terdiri dari fashion show batik, pameran koleksi batik, dan pameran batik.

Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan batik? Menurut kamus Oxford, batik adalah,
A method (orifinally used in Java) of producing colored designs on textiles by dyeing them, having first applied wax to the parts to be left undyed.

Batik, tidak seperti yang seringkali orang sangka, merupakan sebuah metode untuk menghasilkan sebuah kain berwarna dengan mencelupnya ke dalam pewarna kain namun sebelumnyaa menggunakan lilin sebagai perintangnya. Hal yang ditekankan di sini adalah metode. Jadi jika kita mengenakan batik namun tidak menggunakan metode ini maka patut dipertanyakan orisinalitas batik yang kita miliki. Bisa saja kain kita berupa tekstil bermotif batik atau yang biasa disebut batik printing. Batik printing, tidak seperti namanya, bukanlah batik. Namun karena produksinya yang masif dan mneggunakan mesin yang tidak serumit menggunakan lilin harga batik printing menjadi murah. Di sisi lain merebaknya batik printing secara perlahan akan mematikan UKM yang digerakan oleh pengrajin batik. Selain itu, nilai filosofis yang terkandung dalam batik akan memudar karena tidak bisa bersaing dengan batik printing.

Batik Indramayu dan Batik printing
Perbedaan batik dan batik printing bisa terlihat pada gambar di atas. Motif Batik Indramayu (Biru) memiliki warna yang lebih tegas dan tembus sampai ke belakang kain sedangkan batik printing (coklat) tidak tembus sampai ke belakang kain. Kita sebagai konsumen batik harus protektif dan apresiatif terhadap batik dan para pengrajin batik. Salah satunya adalah dengan membeli kain batik (asli). Nah di pameran Tribute to Batik yang diselenggarakan dari tanggal 1 sampai tanggal 7 Oktober ini kita bisa melihat dan membeli beragam kain batik dari 26 kota dan kabupaten yang ada di Jawa Barat. Setiap kota/kabupaten memiliki batik dengan keunikan tersendiri. Batik Indramayu misalnya mengutamakan motif ikan, udang, dan flora laut karena berada di pesisiran. Kain batik yang dijual harganya berkisar antara 50k - 4000k (baju jadi). Selain itu kita juga bisa mendapatkan buku saku batik Jilid I dan II secara cuma-cuma, biasanya di jual 50k/eksemplar. Jadi stigma batik itu kolot dan konvensional sekarang udah ga berlaku lagi. Banyak yang bangga pakai batik untuk acara kasual atau jalan-jalan kaya hang out ke mal. Persoalannya, kamu cukup berani (baca:bangga) gak pergi ke mal pake batik?

Apalagi kita sebagai generasi muda, kalau bukan kita yang nerusin bangga pake batik, siapa lagi? negara tetangga?

Foto-fotonya:
Buku Saku Batik jilid I dan II


Acara juga diiringi oleh Kroncong Merah Putih.

tot bag batik

sepatu batik
sepatu batik


Batik motif Anak dari Garut
Kita juga bisa melihat koleksi batik klasik seperti:
Motif Bango Rawa (1980) dari Tasikmalaya

Akar Terang Bulan (1950) dari Tasikmalaya

Atau bisa juga kenalan sama Duta Batiknya (@dutabatikjabar)  :
Yudha, Feggy, Saya


Solitude #15


Langit dan Airmata

Bergerak


Kemarin kusaksikan langit luber air mata namun enggan meluruhkannya. Aku jadi teringat airmatamu yang membeku menjadi nestapa dan menegaskan duka dan luka yang menganga tanpa rupa. Kau memikul beban itu sendirian dan tetap bergeming memisahkan derita yang fana layaknya semedi seorang petapa. Kau sembunyikan kotak kecil yang kau namai masa lalu di relung hatimu yang tak terjangkau. Saat itulah kau merasakan rindu pada momen kita berjumpa.

Kau menyadari bahwa waktu berjalan tanpa ragu. Bersama awan yang bergerak ringan, kau coba menghentikannya. Saat itulah kau merasakan rindu pada kenangan perlahan memudar. Tak ada lagi senyuman dalam ingatan yang samar. Tak ada lagi kita yang salah atau kita yang benar. Kuperhatikan, yang ada hanyalah nestapa yang memenuhi bular.

Lantas,




Kita duduk berhadapan tanpa rasa.
Memupuskan segala prasangka dan tersenyum lega.



Bandung, 23 September 2012

Wednesday, 29 August 2012

Lebaran Kali Ini

Bagi banyak orang Ramadhan memang menuai banyak kenangan dan kebahagiaan. Ramadhan yang dari tahun ke tahun secara kultural diasosiasikan dengan barang-barang baru seperti baju dan sepatu ini memberikan cerita yang berbeda bagi saya tahun ini.

Saya mengalami cerita yang berbeda pada bulan puasa kali ini, Ramadhan 1433. Tiap umur bertambah (atau malah berkurang) saya sadar suasana bulan puasa pun berubah. Karena saya sekolah di semacam madrasah, saya terlibat dalam banyak kegiatan religi di sekolah sejak kecil. Bulan puasa pun digenjot dengan mengintensifikasikan kegiatan-kegiatan pesantren kilat, pengajian bersama, lomba adzan, lomba baca al-qur'an dan lomba menghapal surat pendek/hadits. Saya senang dengan kegiatan tersebut karena selain menambah pahala (dulu diimingi-imingin berlipat sampai tujuh kali), puasa pun jadi tidak terasa aka ngabuburit. Dan kegembiraan tersebut berlangsung hingga malam: tetap meriah. Dengan adanya buku kegiatan Ramadhan, saya dan teman-teman merasa bertanggung jawab untuk mendokumentasikan ceramah tarawih dan kuliah subuh. Setelah tarawih kami sering kali jajan baso atau cilok dekat mesjid sambil main petasan. Dan ketika nuzulul qur'an, saya dan teman-teman berbondong-bondong datang ke mesjid. Baik untuk sholat malam maupun itikaf. Hal seperti itu yang melekat dalam ingatan saya. Perasaan menyenangkan seperti itu hinggap hingga saya duduk di bangku SMA. 

Dan saat kuliah, perasaan tersebut berangsur memudar. Tidak ada lagi buku agenda Ramadhan yang harus diisi, ini kali pertama saya merasa terbebaskan dari aturan seperti itu. Di sisi lain saya juga merasa ada keprihatinan terhadap diri saya sendiri karena tidak ada 'buku' yang harus saya isi. Beberapa hari pertama puasa, saya masih sempat sholat tarawih di mesjid namun hari-hari berikutnya sangat sulit untuk sholat tarawih di mesjid. Hal itu tersita oleh pengerjaan tugas kuliah yang menumpuk. Saya harus pulang malam karena kegiatan kampus ditambah karena kampus saya di Jatinangor yang lumayan memakan waktu. Setelah itu, itikaf pun berkurang dan tergantikan oleh buka bareng (bukbar) dengan teman-teman kuliah (ada teman-teman BEM, HIMA, UKM), teman-teman SMA (ada teman-teman OSIS, Teater, Kelas IPA), teman-teman SMP dan SD, teman main, teman komunitas, dan sahabat-sahabat tercinta. Fuh
  
Kesibukan itu tidak berkurang saat saya dan keluarga pindah ke Cimahi pada akhir tahun 2009 sehingga saat bulan puasa tiba, tidak ada lagi atmosfir masa kecil saya yang menaungi saya. Tapi tenang, saya masih merasa tenteram karena ada sahabat-sahabat saya yang masih bisa diajak buka bareng. Hal yang seperti itu benar-benar memengaruhi kondisi psikologi saya dalam menjalani bulan puasa. Saya sering mengalami momen "loh ini udah hari ke dua puluh ya?" padahal saya masih merasa hari dua puasa.

Pada tahun 2010 hal yang benar-benar membuat saya sedih terjadi. Nenek saya meninggal. Saat itu seminggu sebelum puasa, beliau sudah tidak bisa bergerak lagi dari kasur. Makan dan mandipun harus dilbantu oleh alat dan orang lain. Sebelum memasuki bulan puasa, nenek masih sehat bugar dan berniat untuk ikut puasa. Puasa tahun lalu, nenek juga berpuasa dan berhasil tamat. Karena itu beliau terdorong untuk melakukannya lagi. Namun sayang, beberapa hari pertama puasa nenek terpeleset di kamar mandi. Kepalanya mengalami memar ringan. Karena itulah kesehatannya mulai menurun drastis. Awalnya tidak bisa bergerak, disusul oleh tidak bisa bicara. Ia hanya bisa mengangguk dan menggeleng. Saya merasa sedih melihat kondisinya seperti itu. Seminggu sebelum lebaran, nenek sudah tidak mau makan ataupun minum. Ia juga tidak mau dibawa ke rumah sakit. Akhirnya ia dirawat jalan, menggunakan infus. Bapak meminta kami sekeluarga untuk minta maaf kepada nenek dan menjaganya bergantian. Iapun mengabari adik-adiknya. Adik-adik bapak bergegas datang ke Bandung. Yang satu tinggal di Tegal, satunya lagi di Malang. Sehari setelahnya, adik papa yang pertama dan keluarganya datang untuk menjenguk.  Satu hari sebelum lebaran, si bungsu dan keluarganya belum juga datang. Mereka terjebak macet. Kondisi nenek pun tidak menunjukan perubahan apapun. Hanya desah napasnya yang terdengar. Akhirnya adik papa itu datang saat fajar tiba menjelang sholat Id. Mereka agak kelelahan jadi hanya menengok nenek dari belakang pintu kemudian bergegas mandi untuk sholat Id di mesjid. Setelah sholat id, si bungsu dan keluarganya memohon maaf kepada nenek yang sedang berbaring tak berdaya. Kemudian mereka bergabung bersama kami di ruang tamu. Saat sedang bercengkrama di ruang tamu, ibu mengecek keadaan nenek. Dan saat itu mama menjerit sambil menangis, sontak saya pun bergegas ke kamar. Ternyata nenek sudah mengembuskan napas terakhirnya setelah bertemu ketiga anaknya. 

Beliau adalah sosok yang dekat dengan saya. Perannya seperti ibu. Dari kecil, beliau yang mengasuh saya ketika ibu dan bapak sedang kerja. Saya senang berada di dekat beliau. Saya ingat sebelum tidur, beliau senang menceritakan kampung halamannya dulu, Panjalu. Betapa senang ia pernah tinggal di sana. Saya juga senang tertidur di sampingnya sambil mendengarkannya membaca al-qur'an atau sekadar wirid. Menjelang dewasa tidak heran saya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan nenek. Kepergian nenek saat lebaran membuat perasaan saya bercampur aduk. Di hari yang fitri itu, saya bersyukur nenek bisa kembali ke pangkuan-Nya dengan tenang. Namun ada duka yang mendalam buat saya. Saya kehilangan salah satu booster dalam hidup saya. Setiap lebaran tiba, pasti ada selapis tipis perasaan sedih di mata saya. Ada perasaan kesal dan sesal yang membuat dada saya sesak. 

Saya belum bisa membanggakan nenek saya. Saya belum sempat wisuda dan foto studio dengan beliau. Saya belum bisa .......

Sebelum sidang sarjana pada 12 Januari 2012, saya sudah berniat untuk mengunjungi makam nenek di Panjalu. Namun karena berbagai macam kendala, akhirnya baru kesampaian setelah lebaran tahun ini tepatnya H+2 setelah lebaran.  Saat tiba di makam, air mata tak sanggup saya bendung dan berjatuhan di nisan beliau. Seraya menghaturkan doa dan membaca yassin, saya bercerita banyak tentang apa yang beliau lewatkan. Bercerita bagaimana saya bertemu banyak orang yang menyayangi saya, bagaimana saya terjatuh berulang kali dan mencoba berdiri lagi. Saya juga menceritakan bagaimana momen Ramadhan tahun ini tidak bisa saya genggam. Iya, saya kuliah, kadang sambil kerja. Padahal sebenarnya saya bisa mencuri waktu untuk tetap tarawih dan itikaf. Meski samar, muncul ingatan saat nenek pulang dari mesjid selesai tarawih dan memarahi saya yang waktu kecil sering berisik di mesjid. 



Semoga saya menjadi anak (cucu) yang soleh yang memberikan manfaat bagi orang banyak dan menjadi pahala yang tak putus bagi mu. Amin. 

Al-fatihah.

Monday, 20 August 2012

Kita (Manusia) dan Lingkungan

Ternyata postingan terakhir saya menuai respon dari seorang teman yang ia ejawantahkan ke dalam sebuah tulisan yang berjudul Korelasi antara Praktek Kanibalisme terhadap Langkanya Jumlah Pohon di Dunia. Penulis menjawab pertanyaan yang saya posting sebelumnya melalui kerangka berpikirnya sendiri. Judul postingannya  mungkin agak vulgar tapi santai, tidak ada deskripsi gore atau horror di dalamnya. Ia mendeskripsikan proses kanibalisme yang mungkin terjadi akibat degradasi lingkungan. Di akhir tulisannya ia menyajikan pertanyaan yang menggelitik untuk dijawab. Pertanyaan tersebut adalah:

Apakah dalam situasi seperti ini 7 miliar manusia kemudian akan berdoa berharap suatu keajaiban? Atau berusaha realistis, dengan menjadi kanibal untuk dapat bertahan?

Berpijak dari permasalahan lingkungan yang terjadi, intervensi manusia sangat memengaruhi kualitas lingkungan dan daya dukung lingkungan. Intervensi itu menjadi salah satu faktor yang kadang muncul dalam permasalahan lingkungan. Contoh sederhana adalah pengolahan minyak bumi (SDA) menjadi bbm yang kemudian menimbulkan polusi. Di sisi lain kita berusaha keras untuk mewujudkan daya dukung lingkungan yang berkelanjutan sehingga anak cucu kita nanti masih bisa hidup meskipun pembangunan tetap digenjot. Dengan pembangunan yang begitu mengedepankan modernisasi dan pasar bukan mustahil apa yang dibayangkan oleh teman saya menjadi kenyataan di masa yang akan datang, manusia saling makan-memakan untuk bertahan hidup. Tidak usah menunggu lama karena banyak penelitian  lingkungan telah menunjukan tanda-tanda bahwa bumi memang dalam keadaan krisis. Ada lebih dari tujuh milyar orang yang ada di bumi, berdesak-desakan mencari penghidupan. Hal ini menimbulkan lonjakan footprint. Dan hal ini merupakan salah satu faktor penyebab iklim suhu di bumi meningkat empat derajat celcius. Hal ini beriringan dengan ancaman kepunahan satu juta spesies pada penghujun tahun 2050 karena perubahan iklim. Apakah isu lingkungan ini baru terjadi sehingga masyarakat mengampanyekan slogan go green ? Kita bisa mundur sepuluh tahun untuk melihat bahwa hanya sepertiga lahan yang tersisa yang bisa dijadikan habitat makhluk hidup lainnya selain manusia akibat konversi lahan yang terjadi karena revolusi. Atau kita bisa mundur lebih jauh, pada tahun 1872 Robert Angus Smith mengemukakan fenomena hujan asam dan bahayanya namun baru ditanggapi seratus tahun kemudian. Yak, sama seperti pembersihan nama Sokrates oleh pengadilan Yunani (saat itu Sokrates dihukum mati karena dituduh telah mencemari masyarakat dengan ide dan etikanya), Smith harus merasakan diabaikan oleh masyarakat meskipun ia tidak disuruh minum racun karenanya. Apa yang bisa kita ambil dari pengalaman kedua orang penting itu? bahwa kita, manusia, adalah makhluk yang bebal dan abai. Bumi telah memberikan tanda melalui mekanisme alamiahnya agar kita sadar. Namun butuh tamparan yang sangat perih bagi kita untuk mahfum bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi. Masyarakat kita saat ini sangat konsumtif. Gaya hidup kita yang juga ignorant malah menjadi prioritas. Contoh yang konkret adalah pandangan kita yang cenderung merendahkan pemulung sampah. Kita merasa superior karena sampah bekas kita saja menjadi sumber penghidupan mereka. Padahal dalam siklus daur ulang masyarakat mereka adalah termasuk elemen yang penting. Bayangkan jika sampah yang kita buang (sembarangan) tidak dipilah, dikumpulkan, dan disetor untuk didaur ulang oleh mereka. Bandung, misalnya, akan menjadi lautan sampah. Dan kenyamanan kita akan sangat terganggu. Namun pemulung sampah itu tidak sadar bahwa mereka adalah bagian dari siklus daur ulang. Keinginan sederhana mereka hanyalah bagaimana untuk hidup hari ini. Kita jarang mengapresiasi mereka sebagaimana layaknya. Dari sini sebenarnya kita dapat mengetahui buat apa kita membuang sampah sesuai jenisnya. Untuk mempermudah mereka dan kita dalam menjaga lingkungan. Ah tapi untuk hal yang mudah itu saja kita susah. Kita sendirilah yang menyebabkan ecocrisis senada dengan perkataan Erazim Kohak, "we are too numerous, demanding, and powerful." Dalam tiga puluh tahuh ke depan sekitar dua belas persen spesies burung dan dua puluh lima persen mamalia diprediksi punah. Hal ini karena kita yang mengganggap diri kita paling utama di antara spesies lainnya. Ya, ternyata bukan hiu putih atau harimau afrika yang menjadi top predator di bumi, tapi kita, manusia.

Ini satu lagi contoh bahwa kita tidak terbiasa berpikir jauh ke depan. Mental dan wawasan lingkungan kita hanya dipatri untuk berpikir sekarang. Tanpa pikir panjang, beli sekarang, setelah rusak ya buang. Tanpa memikirkan tentang layanan purnajual atau tanggung jawab kita sebagai konsumen yang ramah lingkungan. Hal seperti itu terus terjadi hingga akhirnya tanpa kita sadari karena ada tuntutan akan kebutuhan kita yang tak terkendali, sumber daya akan semakin menipis. 

Lantas apa kita sudah memanjatkan 'semoga biodiversity kita tetap terjaga dan pembangunan berkelanjutan segera terwujud' dalam doa? saya yakin pasti jarang. Jangankan pertanyaan itu, pertanyaan yang lebih sederhana yang perlu kita ajukan adalah, apakah kita berdoa? 

Well, berbicara tentang keyakinan sudah di luar konteks, mari kita lanjutkan bicara yang ringan-ringan saja.
Kita pasti ingin memperoleh keajaiban. Meski banyak orang ragu hal tersebut eksis. Manusia tidak percaya bahwa mereka bisa terbang. Wright bersaudara kemudian membuktikan bahwa manusia bisa terbang. Manusia. Kita akan terus mencari jalan untuk bertahan hidup. Dari dulu sampai sekarang, kita memiliki kemampuan adaptasi yang sangat tinggi. Entah itu secara morfologis, fisiologis, ataupun tingkkah laku (kultural). Kita beradaptasi melawan perubahan cuaca, kondisi geografis yang tidak menguntungkan, dan juga konflik sosial yang ada. Sepintas adaptasi merupakan cara yang paling hebat bagi kita untuk melanjutkan kehidupan. Unfortunately, adaptation can goes wrong too. Maladaptasi. Maladaptasi adalah cara manusia untuk bertahan hidup namun dengan menurunkan kualitas penghidupan. Contohnya adalah masyarakat yang tinggal di tepi sungai *********ng yang kotor terbiasa mencuci baju di sana. Bahkan menggunakan airnya yang bewarna kecoklatan itu untuk mandi. Awalnya mereka terserang penyakit kulit namun lama kelamaan mereka menjadi imun. Bagus? Hm. coba googling mutan di film X-Men (komik favorit saya  semacam nightcrawler atau beast. Tanpa kekuatan super, mereka adalah contoh maladaptasi ekstrem (banget). Beberapa gambar mereka:
beast X-Men
Nightcrawler X-Men


Kita boleh bangga mengakui bahwa kita adalah ras yang hebat. Kita bertahan. Dan akan terus menemukan sebuah cara untuk bertahan. Namun apakah suatu saat nanti kanibalisme itu akan menjadi salah satu cara kita untuk bertahan? Kanibalisme merupakan kondisi di mana manusia saling memakan untuk bertahan hidup tentunya dengan cara yang sadis dan kejam dan melawan hak asasi manusia dan juga norma yang berlaku. Jika kita sependapat dengan definisi itu, bukankah perang merebutkan kekuasaan, minyak, tanah, merupakan hal yang sama? yaitu mencoba 'memakan' bagian dari manusia lain untuk bertahan hidup. Perang menuai korban jiwa dan erusakan lingkungan yang hebat. Selain itu, kita juga saling 'memakan' secara moral melalui senjata runcing rasisme, vandalisme, diskriminasi, dan korupsi. Atau bahkan kita membiarkan orang lain untuk 'dimakan' oleh orang lain dengan pura-pura tidak melihat atau tidak tahu, dengan menutup nurani kita sendiri agar kita selamat. Jadi sebenarnya bibit-bibit kanibalisme memang sudah tertanam dalam diri kita. Serem!

Kalau begitu apakah kita yang memiliki bibit kanibalisme dan berperilaku destruktif terhadap bumi ini layak untuk diperjuangkan?



Dan tiba-tiba pengen nonton Resident Evil: Retribution. 

Wednesday, 15 August 2012

Pilihan dan Tanggung Jawab


Buanglah janji pada tempatnya


Banyak yang bilang hidup ini adalah pilihan tapi saya belum pernah mendengar bahwa hidup ini adalah tanggung jawab. Apa dengan memilih lantas kita sudah bisa dicap bertanggung jawab? apa sebuah pilihan sudah pasti memuat tanggung jawab? 

Pertanyaan itu saya pikirkan berulang-ulang beberapa hari lalu. Saat itu jam menunjukan pukul empat sore dan saya bergegas pulang sehabis kuliah. Saya memilih tidak membawa motor hari itu karena destinasi saya hari itu hanya di wilayah Dipatiukur. Selain itu menghemat footprint, juga dengan menggunakan angkot saya bisa tiba di rumah bertepatan dengan waktu berbuka puasa. Lumayan, ngabuburit di jalan. 

Sambil menunggu angkot di halte Dipatiukur, saya merenungkan kembali omongan Prof. Oekan saat kuliah terakhir. Ia mengajar mata kuliah Ekologi Manusia dan menurut saya beliau adalah orang yang benar-benar hebat. Ia adalah lulusan University of Berkeley dan pernah bekerja di beberapa organisasi  internasional. Saya senang bisa mendapatkan ilmu dari orang sekaliber beliau. Lanjut, beliau mengatakan bahwa Indonesia tidak pernah benar-benar diuntungkan dengan adanya rezim lingkungan. Produk seperti UNFCCC, UNCBD, atau REDD + hanya mengeksploitasi kita secara tidak langsung. Misalnya UNFCCC berbicara mengenai penuruan emisi dari 12% menjadi 6% dan negara-negara maju harus memberikan dana kepada negara berkembang yang memiliki hutan hujan tropis melalui carbon trade. Namun jumlah yang jelas mengenai dana yang harus diberikan belum mencapai detil yang jelas. Seolah Indonesia hanya menginginkan hibah dari negara maju. Sampai sekarang implementasi dari UNFCCC itu belum juga jelas. Indonesia juga meratifikasi UNCBD yang menyoroti pentingnya kekayaan biodiversitas namun konversi lahan telah menyebabkan hutan beralih fungsi atau bahkan terdegradasi. Binatang-binatang mulai kehilangan habitat dan ekosistem mulai terganggu. Tidak usah mengupas REDD + yang seolah menyaratkan Indonesia untuk meningkatkan kualitas produk ekspornya melalui ecolabelling. Indonesia jelas kalah saing. Kayu meranti kita berkualitas prima untuk diekspor dalam bentuk bahan jadi seperti mebel. Namun Uni Eropa berkilah bahwa produk tersebut belum ramah lingkungan dan mendapat ecolabelling sehingga banyak pengusaha ekspor mebel kita lari ke Singapura yang bisa memberikan ecolabelling dengan mudah. Yah, kita sudah memilih terjerumus dalam kerangkeng permaninan politik internasional.

Sambil masih menunggu angkot Ciroyom-Ciburial yang selangka orang yang buang sampah pada tempatnya, saya lantas mengilas balik saat saya menjadi tutor mata kuliah Enviromentalisme dalam Hubungan Internasional. Saat itu saya dengan teman-teman junior berdiskusi mengenai etika lingkungan hidup. Saya memberi introduksi filosofi etika lingkungan hidup mulai dari antroposentrisme sampai ekosentrisme diakhiri dengan pertanyaan, "Jika di bumi ini cuma tersisa lima pohon dengan pertumbuhan penduduk yang konstan, apa yang akan kita lakukan?"

Sebagian besar dari mereka berkata tentang proteksi dan limitasi. Proteksi sumber daya yang ada dan limitasi penggunaannya. Satu orang berkata, "Ya, ga usah digimana-gimanain toh pada akhirnya lima pohon itu juga bakal layu." Perdebatan dan diskusi muncul sendiri di antara mereka dari pernyataan tersebut.

Saya kemudian mengakhiri dengan pertanyaan, "Kita bisa memilih untuk hidup, apakah sebuah pohon bisa memilih untuk hidup?"

Ya, cuma manusia yang bisa mengolah informasi kemudia membuat pilihan. Kita seringkali menimbang sejumlah pilihan yang ada dengan konsekuensi logis yang bisa kita pikul. Tidak jarang juga dari kita yang memilih tanpa menimbang.  Sebuah pohon bisa hidup lebih lama jika kita memilih untuk membantunya. Sayangnya kita selalu dihadapkan dengan sejumlah tradeoff yang memaksa kita untuk harus (bisa) memilih. Lebih memilih tanam pohon atau bangun apartemen?

Tuhan selalu memberikan kita pilihan karena kita memiliki akal dan dianugerahi free will. Jarang kita memaknai kemampuan memilih itu sebagai tanggung jawab untuk memilih. Saat Pemilu, kita diberikan pilihan golput namun cara kita mempertanggung jawabkan hal tersebutlah yang sebenarnya nanti menjadi persoalan personal bagi kita sendiri, horizontal dengan masyarakat kini, dan vertikal dengan Dia Yang Maha Mengetahui.

Kemudian saya berpikir lagi jika secara idealis seseorang bisa berkontribusi dengan yang ia miliki maka ia sudah memilih untuk bertanggung jawab. Misalnya teman saya seorang sarjana astronomi ingin bekerja di badan meteorologi dan geofisika karena hal itu bisa menuntaskan kewajibannya sebagai seorang akademisi yang memiliki hasrat di bidang yang ia geluti. Tapi sayang kenyataannya berbeda, ia bekerja di sebuah bank di Jerman dengan bidang yang sangat jauh berbeda dengan yang ia geluti selama ini karena gaji di sana berlipat-lipat dibandingkan di sini. Awalnya saya berpikir ia tidak bertanggung jawab terhadap apa yang sebelumnya ia geluti. Namun setelah mengemukakan alasannya yaitu, "Gw milih kerja di bank sana karena realistis. Gw ingin ngbantu orang tua gw dan sebagai anak sulung gw punya kewajiban untuk ngebiayain empat orang adik-adik gw. Lagian gw ama cewe gw juga udah ngrencanain untuk nikah dalam waktu dekat."

Bagai ditimpuk batu bata, saya tersadar. Ternyata meskipun dia tidak memilih untuk bertanggung jawab sesuai dengan koridor akademik yang pernah ia lalui, ia telah memilih bertanggung jawab terhadap orang tua, adik-adik, dan pacarnya. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa itu memang sebuah tanggung jawab.

Saya pernah menegur orang membuang cup soft-drink ukuran besar di jalan, ia merespon, "sewot amat. Ntar juga dibersihin petugas kebersihan." Saya tidak memperpanjangnya karena saya juga malu. Bukan karena saya menegurnya tapi karena saya tidak memungut sampah yang ia buang. Jadi kalau sampah cuma perlu ditangani oleh departemen kebersihan? masalah kemiskinan cuma perlu ditangani oleh departemen sosial? 
Kemudian apakah apa yang terjadi dengan Indonesia itu hanya menjadi tanggung jawab seorang presiden saja?


Dulu, menjelang sidang, saya galau bukan main. Penyebab utamanya adalah karena saya tidak tahu mau apa setelah lulus. Saya ingin bekerja di BUMN agar mapan. Tapi saya memiliki hasrat di bidang jurnalistik dan ingin sekali bekerja di LSM yang bergerak di bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Tapi saya juga ingin sekali bekerja di pemerintahan dan mencoba memperbaiki sistem yang ada bersama Arian Empire demi Indonesia yang lebih banyak (bisa dibaca di blognya aros). Saya ingin kerja di bidang pelestarian lingkungan tapi juga ingin masuk ke ranah birokrasi. 


Ah, ternyata saya seorang pribadi yang loba kahayang. Saat saya melihat jam, sudah sejam saya menunggu angkot sambil melamun ngaler ngidul. Saya mencoba menyimpulan renungan saya sore itu, ternyata tanggung jawab terhadap diri sendiri adalah hal yang penting. Kalau saya memilih untuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan apa yang kita pilih, saya yakin tanggung jawab terhadap orang lain pun berangsur-angsur akan terpenuhi.

Saat masih asyik melamun, angkot Ciroyom-Ciburial yang sudah lama ditunggu-tunggu itu melintas di depan mata saya begitu saja.

Yah, nasib.

Monday, 13 August 2012

solitude #5


Mampukah kau bertahan dengan hidupku yang malang?

Dalam diam, manusia mengaduh. Dalam hiruk pikuk, manusia mengeluh. Entah sampai kapan aku bisa mengayuh jika batas horizon imajimu sudah tidak lagi dapat ku rengkuh.

Atlas bermuram durja menopang bumi. Sisifus terjebak dengan bola penderitaan tak bertepi. Mereka terus terluka namun tidak berhenti bermimpi. Aku yang kerap kali bermimpi  kala bulan utuh berseri mewujud luka saat matahari mulai menjemput pagi.  Tapi tak pernah aku bosan untuk susupkan hati yang menganga agar kau tetap di sini.

Maybe now you have gone with the wind, burying all great memories.

We all are changing. Heraclitus even said nothing is constant.  He got the point and he’s the first who realized. I think he was one of those wise men mentioned in songs, movies, or book. He pampered us with his delicate thought so we don’t have to experience the pain that goes very deep in every ‘change-themed conversation’ but yeah thank you modernization, we forgot about him and his notion. We are sinking in the abundance of a lavished life. We are voraciously feeding ourselves with such a drama. Well, at least it gives me one shot to find out myself why we change. Why change is our nature. Oh, that’s so human. To find it out, I have tried to use my logic at my best. Sometimes I trust logic far more for feeling is deceiving. Maybe because it is changing too. When logic works accordingly, feeling says lots of hopefully. I guess feeling is like a hand-wash person. It says, “just do it, follow your heart” and when our heart goes wrong, it says, “no I don’t event ask you to do that, it’s your heart recommendation”.

So what should we do if feeling is not a thing we can count on?  No, that’s not our question. Why we change it is.

I grow mustaches and my hair is whitened. I see tenous wrinkles in your forehead too. But we never ask why. We haved loved each other and now we started to hurt each other. We ask why. The emotion we have been holding on is slowly leaking. It bursts into tears and anger emphasizing the feeling that we are not ready to separate again. Because we are not ready to start over again and trapped in such a long exhausting same story, again. Or because we have filled the missing piece in each other’s heart and now we are completely fine by ourselves.

It’s time to go dear. There’s a hello and there’s a goodbye. Your feeling fades away and I see everyone is jaded. They give up on their hopes and dreams. But I don’t. Change is inevitable. And why do we change? Because we always want something better. We want us to be better.  

Nevertheless, I am afraid to change, so thrilled.
So please, hold my hands tight when everything’s not the same.


Bila kau tak di sampingku

Kini, kau pandangi kesedihan menjulang dalam mataku. Ku pandangi keputusasaan luber dari matamu. Keduanya bersilangan menjadi embun saat fajar tiba. Kemudian kau selimuti aku dengan rajutan kepercayaan agar hangat meresap dalam pori-pori keniscayaanku. Jemariku mengisi ruang kosong di antara jemarimu agar kita semakin dekat. Ku dekap kau erat, agar hati kita semakin lekat.

Kau dan aku tak pernah lelah mencari.


"together is home, dear."


sangat terinspirasi oleh lagu Sheila On 7 yang berjudul Seberapa Pantas

Saturday, 11 August 2012

Estafet

Several days ago, i attended a ceremony of new students orientation in my previous faculty, faculty of social and political sciences. One of the agendas  was awarding the contributing students. They invited me because i was one of the awardee. I was quite surprised because they still counted me in. I thought because i have recently graduated, whatever award i should take became void for i am no longer a student there. However i  decided to come a second i got the notification because last year i got a chance to be on the list but i missed it due to last-minute notification. Now i want to feel the ambiance of the ceremony, not as a new students but as their elder brother who just sit from a far.

The execution of the ceremony got much better every year. The content was significantly nourishing. They summoned Mayor of Kota Bandung Dada Rosada and  Deputy Chief of Police of the Republic of Indonesia Nanan Soekarno to give open lectures. They also ran the agenda very well: neat, straight, and punctual. And i felt the student's enthusiasm too through their strong yell whenever asked. It's rarely happened moreover because it happened on a fasting month, Ramadhan. I thought they had been extremely tired, sleepy, or bored but i was all wrong.


an icebreaking


Some seniors yelling had shattered me from recalling my memories. And also some students who looked pale and tired and some who were yawning and fooling around with their friends. No, they were not yelling because of anger. They just wanted to entertain. They were the committee assigned to break the ice. Their yell got students' attention. Mine also. They periodically threw a game to melt the ice. And it was quite simple and classic. They randomly picked out three students and then they played interviewing like in a show. I took a look seriously. These conversation i already sum up:

First student, 
committee: what's your name? 
Budi: (let's call him) Budi. 
Committee: where do you come from?
Budi: Kuningan.
commitee: what major are you going to study?
Budi: Business Administration.
commitee: why did you choose that?
Budi: Because i wanted to succeed.
Then everybody laughed. I did not understand why they laughed. Everybody wants to succeed, right?
but it is almost impossible to attain. Yeah, maybe it is an irony.
committee: what succeed?
Budi: Well, i wanted to have an early pension time.
Everybody laughed again. But i still don't get it why everyone laughed as if they mocked him.

Second student,
commitee: what's your name?
Popmi: (let's call her) Popmi (because her name is really rhymed with popmie)
Committee: what an unique name. Where do you come from popmi?
Popmi: South East Sulawesi.
Commitee: what department are you in?
Popmi: International relations.
Committee: why?
Popmi: I want to become a diplomat to strengthen Indonesia's position in the eye of international society.
Then everybody applauded and her friends shouted yes at her.

Last student,
Commitee: what's your name?
Andi: (let's call him) Andi. 
Committee: where do you come from?
Andi: Jakarta
Committee: you are student of ?
Andi: Social Welfare
Committee: why did you choose that?
Andi: I want to be the agent of change.
Everybody applauded and hailed his name.

I shivered. I suddenly remembered some friends that uttered same kind of hopes and dreams but ended working in cigar company and a sugar multinational corporation. Previously, one told me that he wanted to sit in DPR and the other one told me wanted to work in some INGOs. Then, i began to remember my purpose to came here five years ago. I had no purposes at all. I went to college because my parents told me so. But hey, i don't ever regret going to college.

The situation had given me time to remember what it feels to sit there five years ago, more or less. To be honest, i don't have so much to remember because i had no intention to go to college at the very first place. That's why the memory of the ceremony got kinda blurry in my head. I was not excited. Then, i was asking myself, at that time, do i feel that my choice is right? because when i entered this building five years ago, i was cursing all along. I felt misplaced to take part in department of International Relations which is apparently located in Jatinangor, a so far away suburban that broke me up from my friends who made my days far from exhausting and strangling. I can see the same feeling curved in some students' faces. I don't belong here. Don't worry we are in the same boat.

Somehow at our first day in college, we bring dreams and hopes. We are devoted to pursue our noble objectives. We are fed up with those bullshits on tv and trying to fix it up like Budi, Popmi, and Andi. They have instilled themselves with great values. Or maybe they just did some lip service trick? i don't really know but let's assume they were saying the truth. But for someone who was purposeless, i came out with a message.

I just wanted to say to them that your struggle starts when you stepped in this college building. The structure or the system will test your will. Either it's only whim or a strong trim. You'll experience that everyone, who call themselves educators, is not all real educators. They will let you down. They will destroy your dreams. They will not let you win. Most of them will teach you how to deal with deadlines rather than how to make yourself shine. But don't worry, wisemen say that experience is the best teacher. You can stick to that. Don't be trapped by those strangling rules, go find a great adventure while you're on college. Your life is not a mere academic vessel. It's also consisting of empirical experiments. Travel, backpack, go somewhere distant to attain it. The things you can't get on the textual books.

You'll learn that grade is important and sometimes some people get it good in some unfair way. No one cares how you get it. And if you keep standing up your idealism, you'll be put aside and your jealousy will start creaking. Don't give up. Study harder. Those who only go to school just to get a bachelor scroll don't deserve your jealousy. Even though grade is undeniably required but you have to notice that the process is the most important thing. Do some mistakes and learn from them so that in the future you'll know that it is indeed a mistake and you will avoid making it again.

Sometimes, you'll feel a great solitude since everyone's jaded. Friendship doesn't taste sweet any longer and you probably feel suffocated. But don't give up. Don't let take you down. You'll one day find those who really care about you that's why you have to keep yourself open to people, to let you know who is sincere and who is not. You will feel fallen so endlessly but it guides you to the people who appreciate who you truly are.

So, make your day easy, be happy, think out of the box, and keep your faith. If your dreams are actually unbroken, you will materialize your dreams once you graduate.

All these words i have been trying to say can be concluded into one word:


Carpe Diem