Monday, 23 January 2012

Sidanglag


Ini hari keduableas saya mengalami sidang-lag atau mabuk sidang. Mabuk sidang enggak sama dengan mabuk cinta. Mabuk cinta terasa saat kita sedang mengalami. Mabuk sidang terasa setelah kita sidang, lebih fokus sama efek yang terjdi sesaat kita telah tahan terhadap years of suffering di kampus. Ibaratnya, dua jam nahan pipis, terus akhirnya nemu toilet kosong. Ahh~~ legaaaa. Yah lebay. Eh, saya lebih pilih kata dramatis. Yah, dramatis. Gimana ga, sidang salah satu momen paling fundamental dalam kehidupan duniawi saya.

 Sebelum sidang, aktivitas saya yang utama adalah penyelesaian skripsi. Kemudian diselingi oleh aktivitas-aktivitas lainnya seperti kerja paruh waktu, freelance, quality-time atau hanya sekedar mampir ke perpus kampus cuma sekedar mencari referensi. Sibuk. Setiap hari pasti ada yang dikerjain. Nah saya kangen sama kesibukan itu. Ini kronologis perasaan saya :

H-1 : Deg-degan, otak komat kamit, mulut udah ga tahu mau ngomong apa lagi
Hari penentuan: ------- blank ---------
H+1: *pusing* *kurang tidur* *hibernasi*
H+2: bangun pagi baru sadar udah lulus dan jadi sarjana, alhamdulillah
H+3: Ya Allah, baru ngerasa lega banget. Beneran ini teh bukan mimpi ? alhamdulillah lagi.
H+4: Asyik bisa lenyeh-lenyeh seharian. Asyik bisa begadang nonton dvd. 
H+5: Astagfirullah bangun telat ? Kuliah pagi ?  oh ya, kan udah lulus. alhamdulillah.
H+6: Mulai ngepack skripsi dan buku-buku kuliah.
H+7: Pergi melihat dunia luar, mengunjungi peradaban seperti mal, kafe, & tempat gaul lainnya.
H+8: hmmmm ngapain ya, baca novel aja deh. terus ? hmmm renang aja deh. terus ?
H+9: kok berasa hampa gini ya ? oh kalau udah kerja nanti ga ketemu si dia lagi dong ? hmm, eh emang kerja apa ya enaknya ? rencana gw apaan ya ? mau jadi apa gw ?  *mulai galau*
H+10: *BBM temen2*: "jalan nyok!" jawaban: "masih skripsi cuy. Ntar ajalah" *hening*
H+11: ...................................................................................................................
H+12: ... bring my skripsi back....please.....kangen...*ngeblog*

-skripsi oh skripsi, WHY U NO WITH ME ??-

Jadi seminggu lebih, revisi skripsi belum dipikirin (apalagi dikerjain). Yang ada beneran santai: tiduran, jalan, nonton dvd, baca novel, gunting kuku (saya jarang bgt gunting kuku kalau sibuk).
Skripsi, dikerjain ga dikerjain serba salah. Jangan mau buru-buru, jangan juga dilama-lamain. Yang penting pas waktunya. Nikmatin aja prosesnya, dimarah-marahin dosennya, ngejar tanda-tangan dosennya, galaunya, ngetiknya, ah.. skripsi. Kamu selalu di hati.

Empat Setengah Tahun (2)

Motivasi

Baik sebelum maupun setelah diterima di Unpad, saya tetap dengan tegas berpendapat bahwa kuliah itu mewah. Bagi saya kuliah itu benar-benar sesuatu yang wah. Pada tahun 2007, saya masuk Unpad dengan mengeluarkan uang dengan rincian sebagai berikut:
1. Biaya Pembangunan Rp. 3.750.000,00

2. Biaya Semester 1 Rp. 1.200.000,00
3. Biaya ospek dkk Rp. 1.000.000,00

Total yang dikeluarkan sudah bisa dipastikan sebesar Rp.5.750.000,00 saat pertama kali masuk. Orang tua dan nenek saya mengeluarkan kocek sebesar itu demi anaknya yang sering memberontak dan tak tahu diri seperti saya. Perasaan malu
lantas melumerkan ego saya. Terharu juga sih sebenarnya. Bagi sebagian orang uang segitu benar-benar murah karena jika dibandingkan PTN apalagi PTS lainnya, jumlah segitu mungkin hanya seperempatnya saja. Tapi untuk saya personal, uang tersebut sangatlah besar. Muncul pemikiran bahwa untuk semester selanjutnya saya tidak boleh menggunakan uang orang tua untuk kuliah.

Dengan biaya segitu, perjalanan Jatinangor-Bandung yang biasa saya tempuh menggunakan Bis Damri dengan waktu tempuh kurang lebih dua jam menjadi tidak terasa. Jujur, saya seperti memikul beban yang sangat berat saat pergi kuliah, lantas beban itu bisa sedikit berkurang dengan hadir di kelas tepat waktu, duduk paling depan, dan mem

erhatikan dosen yang sedang menguliahi.

Seperti mahasiswa biasa lainnya, rasa kantuk sering berayun di kelopak mata apalagi saat kuliah pagi. Tapi saya sendiri punya trik supaya kantuk itu hilang beberapa di antaranya adalah makan potongan cabe rawit, makan permen (ini sih andalan setiap mahasiswa), atau cabut bulu kaki. Tapi yang paling efektif buat saya, alangkah terkutuknya saya jika saya menyia-nyiakan pengorbanan orang tua saya. itu yang saya refleksikan di otak saya kalau kuliah mulai bikin ngantuk. Masa jauh-jauh dari Bandung, nyampe kampus ngantu
k ? belum lagi nanti si mamah ama si papah marah-marah kalau ipk jelek, pikir saya.

Poin terakhir memang bikin saya jadi lebih sosialis. Tiap kali saya ngantuk di kelas, otak saya langsung memutar tayangan ulang pengamen dan pengemis yang tiap pagi berkoar di Damri. Dan spontan nurani saya berkomentar lu bakal jadi orang terkutuk banget dip kalau nyia-nyiain kesempatan duduk di ruangan berAC, tinggal dengerin doang, nyatet, nanya kalau ga ngerti. Dari kejadian-kejadian sepele seperti itu saya benar-benar mendapat spirit untuk terus belajar.




damri, apa jadinya kuliah tanpa si dia ? :)

Empat tahun setengah saya berpegang teguh pada niat dan prinsip itu. Saya harus berterima kasih kepada para pengamen yang selalu membangunkan saya kala pagi hari mau ujian saya terkantuk membaca materi di bis. Atau saking panas dan penuhnya, saya jadi ga bisa tidur di Damri. Berdesak-desakan bagai gerombolan pergi demo.


Coba kita pikir lagi, seberapa beruntung kita bisa melakukan sesuatu yang orang lain belum bisa lakukan ?

Saya capek aja kalau mikirin kenapa harus begini kenapa harus begitu. Jalani aja. Sekali dua kali ngeluh juga oge, jangan keseringan. Nanti yang capek malah kita sendiri.

Selain itu saya senang jika orang berekspektasi tinggi terhadap saya. Itu artinya saya dipercaya dan juga diapresiasi. Entah hasilnya seperti apa, tapi usahanya harus setinggi ekspektasi orang-orang. Dalam kehidupan saya, ekspektasi orang tua yang menjadi pecut buat saya agar terus maju.

Jadi, pecut kamu apa ?

Wednesday, 18 January 2012

Nama Kamu ?


Saya: Perkenalkan, nama saya Pradipta Dirgantara. Panggil aja Pradip. Kamu ?
Dia: Panggil aku sesukamu. Nama bukanlah hal yang utama.


Benarkah nama bukanlah hal yang utama ?
Shakespear berkata, "What's in a name? That which we call a rose, by any other name would smell as sweet."
Yang jika diartikan, bunga mawar akan tetap harum mewangi meskipun namanya diganti menjadi tahi.
Sebaliknya, tahi juga akan tetap bau jika namanya diganti menjadi mawar. .

Saya dengan keras menyanggah Shakespeare. Nama sangatlah penting. Nama menjadi personifier sesorang/sesuatu. Okay, jika mawar akan tetap indah jika diganti namanya namun kombinasi m-a-w-a-r menjadi sesuatu yang membayangi keindahan entitas mawar tersebut. Memang terdengar konstruktif, tapi bayangkan jika nama bukan sesuatu yang utama. Kita akan kesulitan mengenali seseorang/sesuatu. Khususnya dalam kehidupan sehari yang bersifat sangat teknis dan operasional seperti dalam ujian, melamar pekerjaan, atau pun melamar seseorang (curcol).

Menurut saya nama begitu berarti. Hal yang saya hindari sedari kecil adalah menghina nama seseorang. Ada yang bilang nama itu doa. Ada yang bilang nama itu kenangan. Ada yang bilang nama itu derita. Terkait dengan yang terakhir, saya teringat guru SMP saya yang bernama Bahh (nama asli disamarkan, esensi tetap sama). Empat huruf saja. BE A BA HA HA. Bahh. Tentu ia menuai banyak ejekan dan hinaan saat kecil,. Tidak berhenti disitu, saat ia beranjak dewasapun ia menerima banyak rasa penasaran. Akhirnya, ia mengaku, ia mengganti namanya  saat kuliah. Ia rela mengurus segala macam tetek bengeknya. Awalnya ia lega karena bisa menghapus sedikit rasa sedih dari masa lalunya. Tapi ia lantas berkata, “Ternyata tidak semudah membalikan telapak tangan. Nama itu pemberian orang tua. Punya arti tersendiri. Aku tidak merasa lebih bahagia dengan nama baru ini.”


Ucapan guru SMP saya menjadi renungan yang luar biasa dalam dan masih menggedor-gedor kualitas identitas saya sampai saat ini. Mungkin ia merasa begitu karena nama awalnya menjadi keunikan tersendiri. Jika ia mampu mencairkan rasa malunya dan kekakuan di antara teman-temannya, saya yakin namanya akan menjadi nama yang menonjol sendiri di antara teman-temannya. Maksud saya, tidak semua orang mendapat pujian. “ih namanya bagus ya.” Tapi semua orang ingin mendapat pujian bahwa nama mereka bagus. Nama yang bagus bukannya nama yang memiliki kenangan, makna, dan juga eksistensi bagi orang lain. Saat guru saya mengganti namanya, lenyaplah sudah kenangan dan keunikan dalam dirinya. Memang betul, kita tidak bisa menyalahkan sikap seseorang yang mengganti nama karena beban yang ditanggung akibat namanya. Kita juga tidak bisa menyalahkan orang yang menamai kita. Saya pernah membaca suatu artikel yang berisi seorang anak dinamai dengan situs internet oleh orang tuanya dengan imbalan lima ribu dolar dari situs tersebut. Saya tidak bisa membayangkan beban dan kesedihan si anak dengan nama tersebut. Ia menjadi iklan berjalan.

Maka dari itu, bapak Shakespear, nama itu sangat penting. Yang ngasih nama juga penting. Jika bukan sebuah doa, biarlah nama itu menjadi sebuah kenangan. 

Untuk itu, janganlah sekali-kali memanggil seseorang dengan bego, jahanam (siapa pula yg sadis pake kata ini buat manggil orang), dan tolol. Selain itu, menurut saya jangan juga kita menghamburkan kata sayang dan cinta kepada orang lain. Sayang dan cinta merupakan kata yang maknanya dalam dan juga sakral. Semakin sering dipakai, maknanya akan semakin dangkal. Maka dari itu saya tidak sembarang menggunakan kedua kata itu, bahkan saat becanda sekalipun. Dua kata itu adalah contoh yang tidak bisa mengalami perluasan makna, secara personal ya. Tapi, kalau mau tetep flirting atau becanda sih sok aja. Kalau kata Joker, "why so serious ?".  Kalau kata Ludwig Wittgeinstein, "Arti sebuah kata adalah kegunaannya dalam bahasa."






Tuesday, 17 January 2012

Empat Setengah Tahun (1)

Lima hari yang lalu, tepatnya tanggal 12 januarik 2012, akhirnya saya telah menempuh ujian sidang sarjana dan dinyatakan lulus dengan  predikat Cum Laude. Alhamdulillah. Sebenarnya saya agak sedih saat mengetahui saya akan sidang sebelumnya. Bukan sedih karena pengujinya killer, bukan sedih karena skripsi saya hanya 100 halaman, tapi sedih karena saya akan meninggalkan dunia kuliah. Sebuah dunia yang sangat sulit untuk saya jejaki. Sebuah dunia yang terlalu mahal untuk dibungkus dalam mimpi.


Setelah sidang bersama sahabat: (kiri) Yanresa, saya, Thioretta, Solpamili




Pradipta Dirgantara, S, IP 

Kurang lebih empat setengah tahun lalu.,saat lulus bangku SMA, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan. Alasan utama adalah karena ekonomi. Saat itu keadaan finansial keluarga sedang kolaps. Sungguh keterlaluan kalau saya menuntut hal yang mahal seperti kuliah. Lulus SMA saja sudah syukur alhamdulillah. Mengetahui keputusan saya, orang tua lantang tidak setuju. Ditambah nenek saya yang mengharuskan saya kuliah. Alasannya sederhana, orang kuliah tingkat kesejahteraannya akan meningkat dibandingkan orang yang tamat SMA. Itu kata orang tua saya, realistis memang. Nenek saya berkata lain, menurutnya dengan kuliah, pikiran saya akan menjadilebih terbuka terhadap hal-hal yang tidak saya tahu sebelumnya. Saya sebenarnya tidak sependapat dengan mereka. Pertama, banyak orang yang tidak kuliah namun sukses sejahtera dan tajir tujuh turunan, Bill Gates contohnya. Kedua, menurut saya pengetahuan seseorang tidak diukur oleh tingkap pendidikan yang mereka enyam. Belum tentu orang kuliah itu lebih berpengetahuan dari lulusan SMA. Yang saya tahu saat itu, banyak juga orang kuliah yang kerjanya hanya clubbing, bolos kuliah, drop out, dan hanya menginginkan titel instan. Cih, cuma kata itu yang saya pikirkan awalnya.

Hanya saja, kekeraskepalaan saya akhirnya runtuh dengan dukungan orang tua.Setiap saya berkelit kenapa harus kuliah, mereka pasti menjawab ada jalannya. Saya sebenarnya takut suatu saat putus kuliah karena biaya yang mahal. Tapi orang tua saya tetap optimis, kalau memang saya kuliah di PTN pasti ada jalannya. Lahaula aja. Mereka berdoa supaya saya masuk PTN dan diberikan jalan sama Allah. Saya pun mengaminkan doa mereka.

Saya bukan orang yang bright. Tapi orang tua saya percaya saya berkemauan keras. Like old saying, there's a will there's a way.

Hap! saya tetapkan untuk belajar demi masuk PTN, ga ada gunanya juga terus-terusan ragu dan mengkhawatirkan hal yang belum terjadi. Untuk jurusan, orang tua saya ingin sekali saya masuk Fakultas Kedokteran (FK) karena di keluarga besar baru hanya ada tiga orang dokter jadi kalaupun saya nanti menjadi dokter akan bisa berguna. Saya pun sebenarnya ingin sekali masuk FK, jadi dokter ilmunya aplikatif dan secara langsung bisa membantu masyarakat banyak. Pilihan kedua akhirnya jatuh pada Hubungan Internasional (HI). Ini atas rekomendasi saya sendiri. Saya mengambil Ilmu Pengetahuan Campuran (IPC) yang memungkinkan saya mengambil pilihan jurusan IPA dan IPS. Saya memilih HI karena saat itu saya kira lulusan HI akan bergelar diplomat, sama seperti FK yang akan bergelar dokter. Sungguh naif. Pilihan ketiga adalah Planologi ITB. Saat itu Planologi merupakan jurusan dengan passing grade terendah yang ada di ITB. Jadi pilihan pertama adalah FK UNPAD, kedua HI UNPAD, dan ketiga Planologi ITB.

Singkat cerita, hari penentuan tiba dan saya berhasil lolos pilihan kedua, Jurusan Hubungan Internasional UNPAD. Perasaan saya campur aduk. Antara senang dan juga kecewa. Kecewa tidak bisa jadi dokter tapi juga senang karena saya bisa juga mencicipi bangku kuliah.

bersambung....

Sunday, 8 January 2012

soltiude #11



Apa artinya kenangan ? waktu yang terekam dengan bias dan blur di kepala kita atau sekeping kejadian yang dibingkai khusyuk dan dipajang di sudut hati ?

Setiap manusia merekam kejadian dan menyimpannya dalam kotak kenangan yang mereka miliki. Kenangan yang baik atau buruk, menyenangkan atau menyebalkan, biasa saja atau luar biasa, dan jatuh cinta atau patah hati semua dimasukan ke dalam satu kotak kenangan. Kotak kenangan ini memiliki bilik-bilik yang terbagi lagi yaitu yang ingin disimpan dan ingin dibuang. Pada dasarnya kenangan tidak bisa kita buang begitu saja, yang terpahit sekalipun harus masuk ke dalam kotak kenangan dan kita ingat suatu saat.

Apa yang tertinggal dari seseorang ?
kebaikan ? keburukan ? warisan ?

bagi saya, satu detil yang ada pada seseorang menjadi atribut kenangan tersendiri.
kamu menyibakan rambut kala senja. kamu tertawa renyah kala suka. air mata yang menetes lembut di pipimu. kamu yang tersenyum menawan.

setiap kamu merekat erat dalam diri saya.
jangan takut hilang.
saya di sini.

tidak ada satu hal pun yang saya coba untuk kubur. 
trauma pasti ada, tapi saya tidak mencoba kabur.







apa yang kamu ingat dari seseorang ?