Thursday, 26 April 2012

Moving Forward



where to go Dip?

decision, please?


Subuh tadi tiba-tiba saya inget obrolan saya sama guru BK (Bimbingan dan Konseling) waktu SMA sekitar empat tahun yang lalu. Waktu itu saya masih kelas tiga dan dipersiapkan untuk lulus UAN dan lulus SPMB. Tiap siswa dikasih kesempatan untuk bimbingan lebih intens sama guru BK supaya mereka bisa tahu mau ke mana mereka setelah lulus SMA. Semua siswa kecuali saya. Saat itu saya dua kali dipanggil guru BK untuk konseling minat jurusan kuliah nanti, sebut saja ibu L yang manggil saya. Saya kerap bertanya apakah si ibu itu tahu kalo di antara siswanya ada yang tidak akan meneruskan kuliah. Bisa aja saya juga ga nerusin kuliah kan. Akhirnya setelah melihat teman-teman dekat yang sudah konseling, saya pun terpacu untuk ikutan. Sebenarnya saya agak bosan kalo lagi ngobrol sama teman-teman tiba-tiba satu di antaranya nyeletuk, "Eh Dip, abis lulus kamu mau ke mana? atau "Kamu mau ngambil apaan ntar?" atau "Nanti pengen kuliah di mana?" Dan saya cuma bisa senyum masam. Beneran ga tahu harus jawab apa. Akhirnya suka jawab sekenanya. Hmmm..kedokteran? planologi? itb? unpad? fikom?

Akhirnya saya pergi ke ruang BK untuk ketemu ibu L. 
Nah sesi konseling dengan ibu L pun dimulai.

Saya: assalamualaikum. bu L ada?
bu y: oh lagi keluar dulu, tunggu sebentar.
*basa-basi*
bu L: eh pradip, ada perlu apa?
saya: saya mau konsultasi tentang minat jurusan bu.
bu L oh sok atuh. kamu minat ke mana emang?
saya: ga tau.
bu L: emang cita-cita pradip apa?
saya: ga tau bu.
bu L: *nampak mulai berpikir* kalo dilihat dari jurusan mah, pradip kan kelas IPA mungkin lebih bagus kalo masuk jurusan eksak aja.
saya: tapi saya kan pengen masuk IPS bu.
bu L: kenapa?
saya: lebih nyaman aja bu. oh iya bu, kalau teman-tema yang nanti yang ga nerusin kuliah gimana?
bu L: ya mereka lanjut kerja atau kursus gitu.
saya: kalau saya ikutan kaya gitu gimana bu?
bu L: ya pradip sebenernya cari apa. kalau cari kerja, ya berarti harus ikutan kursus keahlian penunjang kerja. tapi kalau mau tambah ilmu berarti harus lanjut kuliah lagi.
saya: ga tau bu, bingung.
bu L kalau pradip ga tahu apa yang pradip cari berarti ga masalah atuh kalo disodorin pilihan A atau B. tinggal pilih aja, jalani aja apa adanya. apapun pilihannya itu berarti jodohnya.
saya: .... (udah ada bakat-bakat galau sejak SMA *sigh) 


Kebiasaan saya kalo udah mikir, pasti mikirnya ampe serius banget. Entah karena kadar laktosa dalam darah saya lagi tinggi atau karena kemarin abis dari KFC dan sempet shock ketemu mbak kasirnya yang tiba-tiba nyapa, "Apa Kabar?" dan sejenak saya sempat berpikir untuk menjawab, "kabar buruk! ternyata hidup itu capek geuningan. kamu capek ga?" tapi saya urungkan untuk ngjawab pake kalimat tadi karena sesat berikutnya si mbak itu nyambung kalimatnya dengan, "ada yang bisa dibantu? untuk sendiri apa berdua? ada paket kombo berdua? dapat dua free goceng lho kak."

saya kecewa, ternyata saya berhadapan dengan nothingness yang disebut Ritzer sebagai antitesisnya terhadap globalisasi. KFC yang mengubah karakter orang menjadi bukan-orang yang bikin mbak kasir tadi berada di quadran empat dalam gambar hubungan glokal-grobal tanpa tahu bahwa ia sebenernya dijejali false consciusness. Yah tapi apalah guna saya bersimpati doang. toh Marx bilang simpati tanpa aksi itu ga ada gunanya.

Well, back to me, pertanyaan si mbak kasir bikin saya harus merunut pertanyaan-pertanyaan lainnya yang muncul dalam benak saya. kaya "Kamu lagi ngapain sih sebenernya dip?" atau "kamu tahu ga kalo kamu udah tahu apa yang kamu cari?". Lantas hubungannya ama pertanyaan bu L apaan? saya juga ga tau. saya cuma ngrasa ada benang tipis setipis jaring laba-laba yang nyambungin saya, pertanyaan-pertanyaan itu, dan keadaan saat ini. saya sadar kalo ternyata pertanyaan-pertanyaan itu ga bisa jawab dan berarti saja juga memang ga harus jawab pertanyaan-pertanyaan itu.

saya sekarang paham apa yang dulu ibu L bilang. butuh hampir lima tahun buat saya mengerti. Waktu SMP, pola interaksi sosial saya adalah individual. Waktu SMA, pola interaksi saya berubah menjadi komunal yang artinya saya cenderung lebih menghargai (atau termakan dan terbuai?) human companionship. entah itu pacaran atau sahabatan. sistem pendidikan kita membuat saya merasa disuapi terus menerus dengan kenyamanan dalam satu paket pelajaran. kelas 1 smp naik kelas 2 smp lanjut kelas 3 smp naik kelas 1 sma lanjut kelas 2 sma terus naik kelas 3 sma. abis itu beres. berakhir di kelas 3 sma. terus apa? padahal saya kan pengen terus-terusan belajar sambil menikmati indahnya human companionship yang nampak abadi itu. saya pikir harus ada kelas 4 sma kelas 5 sma kelas 6 sma. kenyataannya ga ada. abis kelas 3 sma, kita kuliah, kita kerja. semua orang  tersebar mengikuti jalan hidupnya masing-masing. saya merasa seperti semut kecil yang mengerubungi gula bersama kerumunan kelompok besar saya dan seketika itu juga ada batu yang dilemparkan ke arah kami. kami lari kalang kabut ke segala penjuru. terpisah-pisah.

buat saya yang cukup sensitif dan suka berepistemologi (baca: ngelamun), switch on/off dari interaksi individual ke komunal ke individual adalah lonjakan terekstrem yang pernah saya hadapi. saya ngrasa ga punya paket GPS dalam otak saya setamat SMA. it must be left somewhere else.

tapi pertanyaan dari bu Leni bener-bener bikin saya paham. buat orang kaya saya, yang belum tahu mau ke mana, ngjalani hidup apa adanya adalah jawaban. tempuh apa yang ada di depan mata. saya punya banyak rencana yang berisi banyak cita-cita. i might not have one full life to try one by one which suits me the most. tapi ya dengan pasrah, suatu  saat saya bakal nyampe juga di sana. toh, selama ini juga begitu. 
Moving forward!

Monday, 23 April 2012

Elegi Penyendiri

Elegi Seorang Penyendiri


solitude


Siang dan malam silih berganti. Kekasih datang dan pergi. Sahabat enggan lagi berbagi. Keluarga tidak peduli lagi. Hidup mengatur itu semua, mencoba mensinkronisasikan segala bentuk anakronisme dengan terpaan perasaan sendiri. Tanpa daya, aku hanya mengangguk sesuai irama.

Einstein berkata bahwa waktu diciptakan agar semuanya tidak terjadi sekaligus. Waktu yang berjalan linier dengan satu pilihan yang berujung konsekuensi logis yang cenderung tidak logis. Logis adalah saat ku pikir eksekusi rencana travelling berjalan dengan baik tanpa adanya rencana dadakan. Cenderung tidak logis adalah saat rencana itu harus batal karena cucuran air mata sahabat yang sedang patah hati. Logis adalah waktu berjalan konsisten saat aku bekerja. Cenderung tidak logis adalah waktu menjadi lumer saat aku membaca. Logis adalah ketika aku menolakmu karena ragu. Cenderung tidak logis adalah aku menerimamu meskipun ragu. Kini aku yakin, jikalau semesta pararel itu ada, aku adalah seorang lelaki sombong yang dingin dan tak kenal perasaan. Dengan kekuatan telekinetik dan telepati tentunya. Aku tentunya berkeberatan jika kau mengulang ucapan Descartes, "Akal sehat adalah komoditas yang distribusinya paling merata di dunia sebab setiap orang yakin sudah mendapatkan pasokan yang cukup." Kau tahu betul jika logikaku tajam setajam perkataanku namun kau lebih paham betul mengapa keduanya selalu terpendam dalam bilur-bilur kesedihanku. Aku mungkin buta tapi bukan berarti aku tidak tahu. Dalam cinta, aku tak mengenal logika.

Aku tenggelam dalam simfoni kerentanan waktu. Waktu yang terus bergulir membuatku sesak. Tak bisa ku pinta berhenti. Tak kuasa ku coba kembali. Tak bisa ku lompati. Waktu yang terus menggerogoti kesengsaraan umat manusia termasuk aku di dalamnya. Voltaire sempat berkata dalam Les Delices bahwa obat kesengsaraan dan penghibur lara adalah bekerja, bertindak. Aku setuju dengannya tapi satu hal yang harus Voltaire tahu bahwa kepingan kerja tidak bisa mengeliminasi kepingan perasaan yang bisa datang kapan saja mencekam di alam bawah sadarku. Bekerja setengah mati bukan garansi akan berhenti mencintaimu. 

Lantas waktu terus menghasilkan kenangan sebagai residu. Kenangan yang hinggap dan bersemayam dalam kenangan seseorang termasuk diriku. Aku memiliki kenangan muram yang sengaja kujadikan temaram di sudut kotak memoriku. Agar aku lupa bahwa ia tersimpan rapi di sana. Di sana juga aku memiliki kenangan bahagia yang sengaja terus bergelora melupakan duka. Orang bijak yang selalu berkata bahwa waktu adalah obat yang paling mujarab. Deal. Sebagian waktu mencatat sejarah orang-orang besar. Tidak setiap orang mengenal sejarah orang lain namun tiap orang memiliki sejarah. Aku tidak peduli dengan sejarah orang-orang itu. Aku hanya peduli pada sejarahmu yang akhirnya mendefinisikan keberadaan sejarah kita.

Jika Voltaire merasukiku dengan pesimisme yang membangun dan menyuruhku untuk terus bekerja dan mabuk dalam ketidaksadaran akan derita ini, maka aku terbuai oleh perkataan Aristoteles bahwa puisi lebih filosofis dan lebih layak diperhatikan secara serius daripada sejarah. Kupandangi segenap matamu dan kusisipkan puisi indah Sapardi Djoko Damono tentang cinta. Kubelai halus rambutmu dan kurapal mantra Sutardji Calzoum Bachri. Aku berandai apakah bisa puisi itu menggantikan kita yang telah menjadi sejarah? begitukah Aristoteles? Tapi kau tidak mengenal puisi.

Aku dan kamu telah melihat dunia dengan beragam paradigma. Pengetahuan yang kita dapat baik dari penalaran maupun pengalaman telah memerangkap kita dalam kerangka ilmiah yang kita sendiripun tidak paham. Tanpa tahu bahwa Nietzsche menunjuk intuisi sebagai sumber intelektualitas tertinggi, salah satu sumber pengetahuan. Meski kau kerap bertanya bagaimana intuisi bekerja, kau tak pernah sadar bahwa cinta bekerja di bawah intuisi. Kau pun tak pernah sadar mengucap percaya cinta namun mempertanyakan intuisi. Kau ragu.

Aku adalah budak romantisisme yang percaya omongan Horace bahwa dunia ini komedi bagi mereka yang berpikir, tragedi bagi mereka yang berperasaan, dan jawaban tentang mengapa Demokritos tertawa dan Herakleitos menangis. Aku berpikir, berperasaan, dan juga menangis. Hidupku sudah jelas satu paket komplit komedi, tragedi, dan air mata. Tapi kau tidak peduli pada tragedi. Kau coba sipitkan matamu hanya pada komedi. Dan entah kau mahfum artinya airmata. Yang jelas, kau lupa bahwa aku adalah manusia yang bertanya. Itu berarti sebenarnya kau tidak pernah peduli apa yang ada di relung terdalam pikiranku. Kau cukup mengenal aku dalam romantisisme tanpa bertanya apa itu romantisisme. Tanpa berusaha berepistemologi. Kau hanya berkelit menggunakan ambivalensi yang ada pada dirimu. Kau hanya berusaha menutupi kenanaranmu dengan keengganan untuk menyelam lebih dalam. Di saat itulah kau berkicau tentang aksioma.

Tak perlu kau paparkan jauh-jauh tentang eksistensi ilmu dan moral apalagi tanggung jawab sosial. Meski Sokrates tahu bahwa ia tidak tahu apa-apa, aku sedikit mengerti mengenai aksioma. Jika kau anggap aku mengalami post-coital tristesse, kau harusnya tahu aku yang paling paham mengenai aksioma yang bertengger di benakku selama kita bersama. Aku tahu apa yang aku inginkan. Jika saja kau tidak selalu membuatnya saru dan kelabu, kau pasti punya banyak waktu untuk memahamiku. Jika cinta memang kau anggap sebagai aksioma dan keterlibatanku di dalamnya hanya sebatas ilusi, aku menolak mentah-mentah dan menyesal telah mengenalmu. Di situlah kau berairmata dan menderas selaras argumentasiku yang kian memanas. Aku yang ternyata berperasaan ini, a surprise for you, memahami bagaimana air mata diproduksi. Kau juga nyinyir pura-pura tidak tahu mengapa airmata bisa luber. Aku tak mau menjelaskan sesuatu yang kau tahu. Air mata yang diprduksi oleh kelenjar Lakrimalis yang secara konstan memberikan air untuk membasahi permukaan mata yang kemudian masuk ke dalam saluran kecil di kelopak mata bagian ujung tengah yang pada akhirnya akan disalurkan keluar melalui hidung dan ujung mata bila airmata tersebut sudah kumpul berlebih. Kau paham bagaimana airmata diproduksi secara biologis. Tapi tak pernah kau tanyakan bagaimana airmata dirangsang oleh solar plexus, tempat bersarangnya perasaan kita, emosi. Kau tak pernah bertanya sejauh itu, tentang perasaan. 

Aku berhenti dan mengusap air matamu dan kau bertanya apa fungsi air mata sambil tertawa kecil. Pertanyaan retorismu berubah menjadi sebuah kalimat yang tidak asing di telingaku: airmata itu tidak ada gunanya, hanya simbol inferiortias, melankolis, dan yang membuat suasana menjadi lebih dramatis. Aku lupa bahwa kau tidak mau berbagi perasaan terdalammu. Meski itu yang aku tunggu, bagai seorang pengemis yang menunggu sebuah gerbang kerajaan terbuka atau seorang musafir yang menunggu hujan di gurun panas yang membakar kerongkongan, atau aku yang menunggu pintu hatimu, mengetuk dan menyapa. Tanpa ada jawaban dan sahut balasan. Tapi biar aku yang naif ini mengingatkan kau bahwa semua yang ada di dunia ini pasti diciptakan berguna. Termasuk aku. Termasuk airmata. Bukankah airmata mengandung lisozom yang dapat membunuh bakteri-bakteri? bahwa airmata itu ternyata proses detoksifikasi yang selalu kita sempitkan dalam artian menangis? bukankah airmata karena menangis itu ternyata mengandung 24% protein albumin untuk meregulasi sistem metabolisme tubuh? bukankah airmata ini mengeluarkan endorphin leucine-enkaphalin dan prolactic sebagai hormon stres dalam tubuh? Aku hanya berkata itu dalam hati. Yang keluar hanyalah sepotong kalimat, "Karena kita manusia, kita berperasaan. Manusia menangis dan itu wajar."

Lantas kita sama-sama diam, melupakan perbedaan. Aku luluh dalam lelehan airmatamu. Aku sendiri tidak pernah berhenti menangis saat menyadari bahwa apa yang telah kita torehkan bersama sebagian adalah manipulasi perasaanmu atau dan dengan bantuan perasaanku. Aku terjebak dalam kenaifan dalam mencintaimu, probabilitas yang ada saat mencintai seorang kamu. Aku berpegang teguh pada prinsip Diderot bahwa langkah awal menuju filsafat adalah keengganan untuk percaya begitu saja. Aku manut pada Fichte yang berseru, "Aku makhluk hidup yang hidup." Namun saat bersamamu, itu semua runtuh. Kau berikan kontrak sosial berupa komitmen yang bernama cinta dan ku tukar semuanya demi itu semata. Harusnya aku legalkan dalam hitam di atas putih. Karena pada awalnya ku kira itu sepadan. Kau melanggar kontrak itu.

Aku senang dan takjub kepada Arthur Schopenhauer dengan etika belas kasihnya: Karena kita satu, kita memiliki kemampuan untuk menyamakan diri dengan orang lain, kemampuan untuk menghayati kesatuan dengan yang lain, kemampuan untuk berbagi suka dan duka. Kemampuan yang hanya dimiliki manusia, menurutku. Schopenhauer juga berkata bahwa selama kita tunduk pada hawa nafsu, dengan segala hasrat dan kecemasannya yang tidak ada habisnya...tak akan pernahlah kita bahagia dan tentram. Aku sangat setuju dengan perkataanya. Menggenapi seseorang dengan cinta plantonis adalah sesuatu yang benar-benar sakral melepaskan diri dari coitus, sesuatu yang tidak pernah dimiliki oleh hewan.

Tapi aku kalah dan salah. Kau bukanlah eksludasi. Kau juga seperti mereka yang rentan terkena virus mendua. Bereplikasi memenuhi tubuhku, meninggalkanku lunglai tanpa penawar. Lantas kau hinggap pada orang lain. Aku bukan satu-satunya. Aku hanyalah yang lain. Kau tidak menyahut dan membalas aku yang mengetuk pintu hatimu karena di dalamnya sudah ada orang lain. Namun kau memilih diam agar aku berasumsi bahwa kau tidak ada di sana, bahwa mungkin ini bukan saat yang tepat sehingga aku harus terus kembali untuk mencoba. Dan benar, aku terus kembali dan mencoba tanpa tahu sebenarnya kau tidak akan pernah membuka pintu itu. Kau keji. Membiarkanku menunggu dalam kesia-siaan.

Kau memanipulasi semuanya dengan perkataan-perkataan aksiomatis dan membungkamku dengan kesederhanaan dalam mencinta. Aku kehilangan kompleksitas dalam diriku di mana aku sangat nyaman berada di dalamnya. Aku terjerembab dalam ecological fallacy. Aku termenung dan bingung. Entah konsep apa lagi yang harus kuuraikan untuk mengertimu. Entah berapa lama lagi perasaan ini harus kukorbankan untuk mencintaimu tanpa pamrih dan tanpa balas. 

Kau hanya melihatku sebagai sosok kekasih yang banal dan dangkal. Dengan segala romansamu, aku menjadi bodoh dan percaya bahwa cintamu padaku adalah satu-satunya tongkat aku bertumpu. Dengan tololnya aku menganggap kau adalah satu-satunya semesta miliku. Tak satu setanpun tahu bahkan Faustpun menyengir jika tahu kisahku. Aku mendambakan Abelard dan Helloise, Laila dan Majnun, Romeo dan Juliet, sebuah percintaan yang mendalam. Aku sekarang linglung. Entah aku harus menutup mata lantas lanjut menggenggam tanganmu atau kutinggalkan dirimu dengan kedangkalan perasaanmu yang tidak mengerti artinya aku yang mencinta. Jika seorang ilmuwan harus berbicara jujur mengenai kebenaran, maka ia akan tamat jika harus berbicara jujur mengenai cinta.

Entah kapan, aku tidak yakin. Suatu saat aku bisa menyadari arti semua kejadian ini. Dikhianati olehmu setelah mencintai sepenuh hati adalah kesalahanku. Mengkhianatiku setengah hati adalah kesalahanmu yang terbesar. 

Saturday, 21 April 2012

Menemukan Rumah


Menemukan Rumah

Kali ini saya akan membahas mengenai film terakhir yang saya tonton. Sebenarnya film ini udah saya tonton satu tahun ke belakang namun saat itu [thanks to my ignorance] saya sering neken tombol fast forward cari scenes yang bagusnya aja. Alhasil makna dan pesan dari filmnya pun ga nguap seketika selesai menonton. Tapi tadi saya tonton lagi film ini dengan atensi penuh memenuhi keisengan saya sebelum tidur. Judul filmnya adalah The Homeless Student atau HĂ´muresu ChĂ»gakusei. Yap, ini adalah film  Jepang besutan sutradara Tomoyuki Furumaya.

Official Poster
Film yang berdurasi hampir dua jam tepatnya 116 menit ini benar-benar membuat mata saya berair dalam beberapa adegannya. Ceritanya sendiri mengisahkan seorang anak SMP berusia empatbelas tahun bernama Hiroshi (diperankan Teppei Koike) bersama kedua kakaknya, Kenichi (Akihiro Nishino) dan Yukiko (diperankan Chizuru Ikewaki) yang harus berjuang sendiri untuk membangun kembali cita-cita, mimpi, dan masa depan mereka. Suatu hari setelah hari terakhir sekolah menyambut liburan musim panas, Hiroshi pulang dengan mata membelalak melihat perabotan rumahnya sudah ada di luar dengan pintu rumah (rumah susun) yang sudah disegel dan dikunci. Hiroshi mencoba masuk ke dalam rumah namun usahanya sia-sia karena kuncinya telah diganti. Saat Hiroshi kebingungan, Yukiko datang dengan muka yang tak kalah bingung. Yukiko lebih ekspresif, tertawa sambil berkata, "What's wrong with our house?"  Tapi melihat raut wajah Hiroshi, Yukiko sadar bahwa ia tidak dalam situasi bercanda. Ketika mereka menunggu sebuah penjelasan apa yang sebenarnya terjadi, kakak mereka, Kenichi datang dan juga kebingungan melihat yang terjadi. Mereka bertiga bergabung dalam kebingungan dan menunggu sang ayah untuk datang menjelaskan. Tak lama setelah itu ayah mereka datang, menjelaskan bahwa rumah mereka telah dijual dan kini mereka harus hidup masing-masing. Ayah berkata, "I know it's gonna be hard but let each work hard and live our lives. Now, dismissed!" Ia pun lantas mengayuh sepeda dan pergi begitu saja meninggalkan mereka setelah berkata dengan dingin dan datar.

Kenichi, Yikoko, dan Hiroshi tercengang dan bergeming. Mereka tahu bahwa kini mereka sudah tidak memiliki rumah untuk tinggal, rumah dalam artian harfiah. Namun yang membingungkan mereka adalah mereka tidak tahu harus tinggal di mana karena ayah telah berhutang banyak kepada semua saudara dan relatif sehingga sulit untuk mereka meminta tingga bersama salah satunyal. Saat Kenichi meyakinkan kedua adiknya untuk tetap tinggal bersama, Hiroshi tiba-tiba memutuskan untuk tinggal sendiri. Ia berlari sambil berkata bahwa ia akan tinggal bersama temannya. Ia meminta Kenichi dan Yukiko untuk tidak khawatir.

Saat itulah perjuangan mereka khususnya Hiroshi dimulai. 

Film yang berdasarkan novel autobiografi Hiroshi Tamura ini secara serius telah membawa saya kepada simpati yang begitu besar. Film yang bergenre Drama ini benar-benar cocok ditonton bersama keluarga. Perjuangan Hiroshi yang buang air besar di pojok taman, makan rerumputan dan kardus, serta mandi di tengah guyuran hujan membuat hati saya berdegup kencang dan membuat saya belajar untuk tidak menyerah. Betapa tidak, banyak dari kita yang menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberi namun menyerah pada kemegahan dan kemewahan modernisasi. Klise memang.

Dari segi cerita, plot film ini tidak gampang ditebak. Ditambah lagi pembawaan karakter Hiroshi yang  kuat sebagai seorang siswa dan juga anak yang rindu pada ibunya membuat mata saya berkaca-kaca berulang-ulang. Seperti saat Hiroshi yang harus tinggal di sebuah perosotan di taman dekat rumahnya dan harus mengalami penolakan dari anak-anak di sekitarnya. Dengan plot campuran, saya juga merasuk ke dalam perasaan Hiroshi. Flashback yang Hiroshi alami saat ibunya meninggal dan kenangan yang meninggalkan luka dan kesedihan yang mendalam baginya merupakan salah satu alasan mengapa Hiroshi tidak mau menyusahkan kedua kakaknya. So he thought he had better off alone. Selain itu tokoh Yukiko dan Kenichi digambarkan sebagai kakak yang bertanggungjawab dan juga mengayomi. Meski mereka sadar bahwa mereka tidak bisa membahagiakan satu sama lain namun mereka berusaha untuk bahagia bersama.

Film yang diproduksi pada tahun 2008 ini berhasil membawa saya melihat realita yang terjadi di Jepang mengenai homelessness. Terlebih lagi potret seorang pelajar yang masih belia harus menghadapi kenyataan bahwa i am surviving this world alone. Film ini merupakan refleksi keadaan ekonomi masyarakat Jepang saat itu yang terkena dampak krisis ekonomi global yang menyebabkan banyak keluarga harus kehilangan rumah mereka dan berdampak sangat buruk bagi anak-anak mereka. Dalam film ini digambarkan jelas proses kedewasaan Hiroshi yang menghadapi kenyataan dengan melanjutkan hidup. Pemuda Jepang seperti yang direpresentasikan oleh Hiroshi menjadi personifikasi bahwa sebenarnya pemuda (Jepang) memang harus bisa mandiri menghadapi segala keadaan. Saya pernah membaca sebuah artikel kebudayaan masyarakat Jepang yang menyatakan bahwa anak lelaki berusia 17 tahun di Jepang memang sudah harus meninggalkan rumah dan hidup mandiri. Nah di Indonesia? Yang nikah aja masih banyak  diayomi orang tua. Tekanan sosial dan ekonomi di Jepang memang tinggi namun hal itu dibarengi dengan mental achievement mereka yang juga tinggi disertai karakter yang kuat. Tak heran juga jika kasus bunuh diri juga merebak tiap tahun di sana, harakiri. Selain itu tidak seperti apa yang selama ini saya pikirkan bahwa masyarakat Jepang itu individualis sekali, dalam film ini digambarkan bahwa masyarakat atau komunitas sosial di Jepang berperan penting untuk merekatkan kepekaan sosial dan kesadaran akan menolong sesama.

Film ini juga tidak menggurui kita dengan jadilah ayah yang bertanggung jawab sebagai jawaban dari mengapa ayah pergi begitu saja. Selain itu tidak diceritakan juga anak-anaknya memiliki dendam kesumat terhadap ayahnya yang telah menelantarkan mereka. Inilah yang saya sukai. Mereka ikhlas menerima takdir mereka namun mereka masih merasa bahagia seperti saat Yukiko berkata bahwa, "All these things, happened to us, make me happy."  

Hiroshi juga menampilkan karakter pemuda yang rapuh dan juga putus asa. Hal ini tergambar jelas di dalam sebuah dialog antara Hiroshi dengan gurunya Kudo Sensei  yang saya sukai:


Hiroshi: Somehow, i feel tired.
Kudo Sensei: About what?
Hiroshi: Everything is too tiresome even living.



Kudo Sensei: Me too. I also feel tired. When i go to sleep, i think it's fine if my eyes remain closed then i dont have to open them again. This year, i'm 28 years old. I already feel so at my age. So i think i can understand Tamura's Kun tiredness. I really like Tamura Kun. Aren't you the one who alwyas makes everyone smile?

Hiroshi: That's not big deal
Kudo Sensei: Maybe you haven't noticed but everyone has received lots of power from you. Then about the rest by yourself.



Akhirnya penantian film ini yang diam duduk manis menunggu dimainkan di mediaplayer telah usai. Saya telah menginternalisasi makna film ini. Semoga anda juga bisa memahami dan juga menyesapi apa sebenarnya kebahagiaan itu. Saya juga menangkap apa sebenarnya home itu. Film ini menunjukan bahwa menyerah bukanlah bentuk pasrah. Setiap masalah didesain dengan alat pemecahnya. Masalah  juga membuat kita bisa menjadi dekat dengan keluarga kita.

Penilaian saya empat bintang dari lima!

Sunday, 15 April 2012

Kuliah Sambil

dari: http://krjogja.com/news_image/img/123727

Saat masih menjabat mahasiswa saya selalu menginginkan terciptanya harmonisasi antara kehidupan akademik dan nonakademik. IPK tinggi yang dicapai, beasiswa yang diraih, dan berbagai kompetisi yang dimenangkan adalah beberapa di antaranya. Terlebih dari itu, gak sedikit juga mahasiswa yang (ingin) bisa kuliah sambil bekerja (parttime, nyambi, paruh waktu). Suatu hal yang dianggap sulit oleh kebanyakan orang. Memang sulit pada kenyataanya. Kuliah sambil bekerja ibarat dua sisi koin yang hanya bisa kita lihat pada satu sisi namun sebenarnya bisa kita genggam kedua sisinya.  

Yah, awal kuliah saya diserang membabi buta oleh banyak sekali tugas dan juga adaptasi mata kuliah dan sosial yang bikin saya keteteran. Tapi kalau nyerah gitu aja bukan saya namanya. Kali ini saya ingin berbagi pengalam kerja paruh waktu yang nyatanya tidak (begitu) mengganggu kuliah saya. Dan mudah-mudahan bermanfaat bagi mahasiswa yang memang butuh kerjaan. Trust me, i've been there, and a bit information would be very useful.

1. McD
Sekitar awal 2007 saya pernah paruh waktu di salah satu McD di Bandung. Saat itu saya masih SMA dan saya benar-benar butuh pekerjaan. Mengingat saya hanya punya ijazah SMP, sulit mendapatkan pekerjaan yang  bergaji besar juga fleksibel dengan waktu saya sekolah yang rutin dari Senin sampai Jum'at. Suatu hari saya pernah menjadi delegasi sekolah untuk mengikuti lomba debat di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Seperti kebanyakan acara mahasiswa, ada juga festival band dan perlombaan lainnya. Nah di sana juga banyak foodcounter bagi para pengunjung. Sebagai salah satu peserta, saya dan tim mendapatkan kupon konsumsi dari counter McD. Di sanalah saya mendapatkan informasi bahwa mereka sedang membutuhkan pekerja paruh waktu sebagai dishwasher atau cleaning service. Untung saat itu karyawan McD yang ngobrol dengan saya sangat berkawan dan pengertian. Akhirnya saya kasih CV saya seadanya dan saya sudah mulai kerja shift hari Sabtu dan Minggu. Buat temen-temen yang ingin kerja paruh waktu bisa coba masukin aplikasi lamarannya ke McD terdekat. Perlu diingat bahwa tiap Mc'D memiliki kebijakan yang berbeda (mengingat bentuk waralaba). Jadi bisa aja kita ditolak untuk kerja paruh waktu di McD simpang dago tapi bisa juga malah diterima di McD BIP misalnya. Feenya waktu itu masih 30k untuk 8 jam kerja (1 shift) tapi dari temen yang masih kerja di sana tahun lalu sudah nyampe angka 60k untuk satu shift.

2. Starbucks
Akhir tahun 2007/Awal tahun 2008, setelah dari Mc'D, saya nyambi sebagai waiter di Starbucks salah satu mal di Bandung. Di sini saya betah banget soalnya daily manajer-nya baik banget. Beliau pengertian kalau saya kuliah. Yang harusnya saya lima hari kerja jadi cuma empat hari kerja dengan dua hari kerja di akhir minggu. Feenya waktu itu 35k untuk 8 jam kerja (1 shift) tapi menurut narasumber terpercaya tahun ini sudah mencapai hampir 50k untuk 1 shift.

3. SPB/SPG
Ini kerjaan paruh waktu yang paling saya suka. Kerjanya cuma per-event dan bayarannya juga harian. Tapi ya capeknya itu, ga ketulungan (kalo ga cape ya ga kerja, ya ga?). Untuk SPB event saya pernah dapet 200k/hari dari jam 8 pagi sampai 10 malam. Untuk SPB reguler saya pernah dapet 50k untuk 7 jam kerja (1 shift). Coba main-main ke Surfinc Trunojoyo, Ouval Sultan Agung atau Screamous di Sultan Agung. Terus tebar CV ke sana tau distro lain di jalan Sultan Agung/Trunojoyo/Martadinata (Riau). Dari 10 distro pasti ada satu yang bakal nelpon kita (mudah-mudahan diterima).

4. Interpreter/Translator/Guru Privat
Ini kerjaan yang paling paling saya suka. Jadi interpreter di acara kebudayaan atau pameran pendidikan luar negeri bisa ngasih kita uang jajan antara 150k - 200k. IME, jam kerjanya rata-rata dari jam 2 siang sampa 7 malam. Tugasnya lebih menantang dibandingin jadi SPB. Nah kalau jadi translator, ini kerjaan yang paling ngbosenin sebenarnya. Saya pernah nerima job translasi 30 halaman bahasa Inggris sampai 10 halaman doang tapi bahasa Perancis. Lumayan satu halamannya 10k-20k (tergantung kebutuhan) kalau bahasa Perancis malah bisa nyampe 30k tiap halamannya. Lain lagi jadi guru privat. Meski sama-sama mengandalkan kemampuan bahasa, jadi guru privat agak mengekang. Kadang peserta didik kita menuntut jam yang fleksibel (sesuai dengan jadwal mereka) yang seringkali berubah mendadak. Saya pernah jadi guru privat di salah satu lembaga sekitar Ciateul. Untuk dua jam pengajaran, saya diupahan 50k. Bahkan di tempat lain saya pernah dapat 100k tiap datang.

5. Dadakan
Dadakan ini mirip sambel, tersedia kalau dibutuhin. Saya pernah ng-cover temen saya jaga shift malam di Circle-K atau juga jadi SPB dadakan selama dua hari gantiin shift temen saya. Kalau udah punya banyak jejarng temen-temen yang suka nyambi, pasti pengalaman kaya gini juga bisa kita rasain. Pernah juga saya jadi pager bagus di kawinan orang yang ga saya kenal. Pernah jadi surveyor, pernah juga jadi tukang ngambil-ngambilin piring di acara gathering. Fee dan waktu kerjanya ga tentu tapi bukan berarti ga gede juga.

Sebenarnya banyak pengalaman paruh waktu yang pernah saya jalani cuma kebanyakan detil pasti malah bikin bosen. Cuma ada beberapa saran yang boleh diingat sebelum nyambi:

1. Kuliah harus tetep nomor satu. Kita kan nyambi juga buat kuliah, sayang kalau kuliah kita keteteran, berantakan apalagi berhenti.
2. Jangan malu nanya atau ngobrol. Inisiatif dan proaktif, nanya atau ngobrol sama SPB/SPG yang lagi kerja di BEC misalnya. Lumayan dapat info kerja sekaligus temen kerja.
3. Ada beberapa distro/waralaba yang ga mau nerima mahasiswa untuk kerjaan mereka. Nah untuk menyiasatinya saya sering nyantumin sampai SMA di CV saya. Jadi saya nyantumin status mahasiswa saya.
4. be open-minded. Kalau dilihat dari feenya, hasil nyambi cuma cukup buat beli novel di palasari atau fotokopi dua atu modul/ satu buku kuliahan. Tapi jangan cuma dilihat dari situ, lihat dari sisi lainnya. Yang pertama jejaring. Semakin banyak nyambi, teman juga semakin banyak. Teman-teman ini pasti suatu saat bakal ngasih informasi atau membutuhkan jasa kita untuk nyambi di tempat mereka. Jadi silaturahim juga mesti dijaga. Selain itu juga, secara personal saya dapet pengalaman yang banyak banget yang ga bisa dikuantifikasi dari materi doang. Saya pernah nyambi ke banyak kota. Mulai dari Jakarta, Yogyakarta, sampai Semarang. Pernah ada yang ngajak jadi SPB di Bali tapi kejauhan, sayang kuliah. Jadi kalau kita nikmatin, kerjaan apapun juga bakal terasa nyenengin. 
5. Tingkatin kemampuan. Baik itu marekting, sales, lobbying ataupun public speaking. Anggap aja ini salah satu persiapan kita sebaga mahasiswa untuk masuk ke dunia kerjaan yang nanti bakal lebih sulit lagi. Semakin banyak pengalaman, kemampuan kita juga bakal semakin terasah. Jangan lihat mereka yang kuliahnya ga bener terus kerjaanya cuma ngabis-ngabisin duit ga jelas di mal.
6. Keep eyes wide open. Sekali lagi, informasi bisa didapet dari mana aja. Dari temen kuliah, temen baru ketemu, kenalan, atau bahkan stranger. Sekarang di twitter, facebook, linkdln, atau jejaring sosial lainnya sudah banyak nyediain informasi mengenai kerjaan sambilan. Tanggap teknologi juga jadi salah satu kebutuhan sekarang ini.
7. Nah saran terakhir ini paling penting! Kalau bisa dapet beasiswa, ngapain harus capek-capek kerja paruh waktu ?

Segitu sekelumit pengalaman kerja saya.
Semoga bermanfaat.

23rd

It's me and 23 years worth of living

21st, eh, 23rd i mean

Sepuluh April lalu tepat menggenapkan saya 23 tahun. Ya, saya baru saja berulang tahun. Hari lahir yang bagi sebagian orang layak untuk dirayakan tapi tidak bagi saya. Sebelumnya saya memang bukan a birthday-person dan saya memang ga sebegitunya terikat dalam sebuah perayaan. Bagi saya umur berkurang tiap harinya dan ketika tanggal lahir saya terulang tiap tahunnya, saya hanya bernapas lega karena saya berhasil melewati hari-hari sebelumnya, fyuh i have survived. Thomas Hobbes mungkin mengangguk setuju. Namun seseorang secara berbeda berkata dengan sederhana, "You have to celebrate your own birthday. But celebrating birthday doesn't have to be extravagant."  Saya langsung mengangguk setuju. Ritual ulang tahun, tahun baru, dan momen publik dan personal yang membutuhkan perayaan selalu saya isi dengan merenung, introspeksi, evaluasi, melamun, bermimpi, yah ga tau kenapa. Mungkin karena itu satu-satunya keahlian saya yang punya.

Gambar di atas adalah foto selamat ulang tahun yang menjadi bagian kado ulang tahun dari teman-teman terbaik saya. Tapi seperti yang bisa dicermati dari foto tersebut, itu bukanlah saat saya berulang tahun tanggal sepuluh April tahun ini tapi dua tahun lalu. Saat saya genap berusia 21 tahun. Yes yes, you might find me pathetic editing the numbers, but that's all i've got with me and birthday: friends.. Dan saya sangat menghargai mereka. Mereka yang mengingatkan saya saat usia saya berkurang satu, dua, atau tiga tahun. Mereka seperti reminder handphone yang bergetar berulangulang dan berteriak keras-keras: You made it a year! Yah, betapa mengerikannya memiliki teman yang bersorak sorai menyelamati kita saat umur kita berkurang. That's a joke, if you don't know.

Anyway, saya bukan a birthday person bukan berarti saya juga bukan a wishful person. Tiap kali saya bertemu sepuluh April, saya selalu berdoa dan memuji Tuhan yang selama ini sungguh baik terhadap saya, masih memberikan saya kesempatan untuk banyak belajar dan terus belajar melalui banyak hal: keluarga, teman, kekasih, dan pengalaman-pengalaman pahit lainnya. Saya ingat ketika saya berusia empat belas tahun dan saat itu saya sedang menghatamkan buku Sang Alkemis-nya Paulo Coelho di kelas, guru saya sempat melihat saya sendirian di dalam kelas ketika teman-teman asik bercanda dan jajan saat istirahat. Kemudian beliau memanggil saya ke ruang guru. Beliau terhenyak melihat bacaan yang saya bawa lalu ia menawarkan saya untuk membaca beberapa buku novel yang ada di ruang guru. Saya senang bukan kepalang karena buku yang mejeng di rak ruang guru lebih menarik daripada di perpustakaan. Seminggu setelahnya, waktu istirahat saya gunakan untuk bolak-balik kelas-ruang guru untuk membaca. Minggu bertambah minggu menjadi bulan. Kurang lebih satu bulan saya berhasil menamatkan tiga buku. Dua buah novel dan satu buah kumpulan cerpen. Suatu hari ketika saya ingin meminjam lagi, guru saya berkata, "Ternyata dugaan ibu bener ya. Kamu kalo dikasih buku jadi lupa sama yang lain." Jelas saya ga ngerti apa yang beliau maksud. "Temen-temen kamu sebenernya ngeluh kalo kamu nolak terus diajak jajan ke kantin atau main bola." Dalam hati saya berkata Lah, terus? Beliau meneruskan,"Kalau kamu tahu, temen-temen kamu juga sama nyenenginnya kaya buku, mereka sama-sama bisa jadi temen." Kurang lebih seperti itu percakapannya. Nah setelah hari itu, beliau selalu menugaskan belajar kelompok atau tugas kelompok untuk menghindari saya dari asyik sendiri. Saya ga lantas ngerti apa tujuan beliau memberikan tugas resensi novel secara berkelompok yang menurut saya akan jauh lebih mudah mengerjakannya sendiri.

Setamat saya SMP saya masih belum dapat esensi tugas kelompok jika pekerjaan itu sebenarnya bisa dikerjakan sendiri. Sampai saya duduk di bangku SMA. Tugas kelompok terus menerus menghantam saya dan interaksi sosialpun tidak bisa saya hindari. Saya selalu ingin mendapat nilai bagus untuk semua mata pelajaran namun agak sulit jika harus mendapatkannya secara berkelompok. Yang juga menghantam saya adalah saat saya menyadari ternyata bukan saya yang satu-satunya mengamati saat belajar kelompok. Tepatnya saat mereka belajar kelompok di rumah saya dan melihat novel-novel saya. Beberapa di antara mereka meminjamnya dan seringkali buku tersebut kembali dengan komentar, "Kamu kok bacaannya tua semua ya? Aku ga ngerti buku ini [Kahlil Gibran: Sayap-sayap Patah]." atau  "Aku baru baca lima lembar tapi banyak istilah yang bikin aku pusing [Dewi Lestari: Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh]" atau "Buku ini [Dan Brown: the Da Vinci Code] punya kamu? Kok berat banget ya?" Saya malah mengganggap bacaan saya sangat ringan.Teman saya di kelas sebelah saat itu malah sudah ada yang mendalami buku fisika teori kuantum atau algortima tingkat lanjut. Saya hanya berpikir membaca adalah hobi yang dilakukan oleh kebanyakan siswa saat itu.

Beberapa teman SMA yang kemudian menjadi sahabat saya pada awalnya ga suka sama saya yang selalu serius menghadapi persoalan atau mungkin sok serius. They awlways think i was born twenty. [But trust me, i believe that i am over 80s]. Nah, entah muka saya yang boros atau hidup saya yang jauh dari hemat, tapi saya memang selalu berpikir saya ini sudah tua yang diterjemahkan teman-teman menjadi dewasa sebelum waktunya. Tapi kami selalu tertawa jika sudah berdebat mengenai umur saya. [ah, how i miss you and those moments]. But true, i am an old soul.

Dari situ, saya menyadari maksud guru SMP saya waktu itu. Ternyata memang benar, teman-teman [manusia] itu juga sama menyenangkannya dan lebih kompleks malah. Saya menemukan unsur instrinsik dan ekstrinsik pada mereka seperti saat saya membaca buku.

Terus hubungannya dengan ulang tahun saya yang ke 23?
Yah, saya benar-benar bersyukur memiliki teman-teman [manusia]. Perbedaanya dengan bacaan adalah bahwa mereka merespon saya. Saya yang penyendiri, kadang kompleks, mostly introverted, argumentatif, keras kepala, frequently annoying, dan banyak sisi negatif-negatif lainnya yang saya sendiri susah menerima tapi teman-teman saya dengan kebaikan dan kerendahan hati mereka [semoga terus] mau menerima saya apa adanya. 

Jadi kalau saya boleh minta permohonan ulang tahun, saya bakal minta yang sederhana aja kok: semoga bisa saya nikah sama Julie Estel dan punya kastil di Inggris, sebelahan sama punyanya J.K. Rowling. Oh terlalu sederhana? Yaudah deh ini aja: 

I simply wished that my friends don't give up easily on me as i never give up on them. 

Wednesday, 4 April 2012

Bintang

Bintang, Dia

Bintang, lama tidak bertemu menjadikanku resah
Ku kira kau masih mencari tempat bersembunyi untuk berserah.
Namun bukankah kita akrab, saling bertukar cerita tanpa jengah?
Kau biasa sisipkan sekelumit cerita lara kala malam menjamah

Malam ini, Bulan memandikanku dengan cahayanya yang ramah
Aku menunggumu muncul di awan yang bergoyang tanpa lelah
Menikmati kebersamaan kita yang pernah satu arah
Dan aku tak pergi dengan gegabah

Bintang, apakah cahayamu mulai melemah?
Berceritalah.

Di setiap lumatan angin yang membekukan aliran darah
Di setiap gigil hujan yang memacu gairah
Di setiap  hujatan alam yang di luar akliah
Aku mendengarkanmu dalam nyanyian sunyi yang berbisik melalui celah-celah rumah

Bintang, berceritalah


Bandung, 16-12-2004
*Tugas Puisi waktu SMP*

Monday, 2 April 2012

10 things

Okay, there are 10 people i can't deal with, at all (even though i put a very rough effort to feel them):

1. people who always talk about their appearance and keep comparing their partial, perseptual, and insignificant perfection with another people who they think less perfect than them. 
2. people who hate read and write.
3. people who have no brain.
4. people who never learn.
5. people who like to blabber all the time without knowing the essential existance of their blabbering mouth
6. people who squander
7. people who are whiny about their sorry life
8. people who disrespect their elders, relationship, friendship and any other commitment.
9. people who are superficial and fake.
10.  people who dress like a Korean boy/girl band, come on guys!!

The Sugarush

Sabtu minggu lalu, saya janjian ketemu sama the GBers. Temen-temen yang udah dua tahun satu kelas waktu SMA. Meskipun satu kota karena merasa tiap dirinya itu orang sibuk kami jadi jarang sekali berkumpul. Namun begitulah sahabat, sekalinya ketemu banyak cerita terderai dari mulut masing-masing. Saya bersama founding fathers GBers memutuskan untuk bertemu di Sugarush Braga pukul dua siang. Saya ngsms mereka kalau saya datang telat karena ada beberapa hal yang mesti saya kerjakan. Pukul tiga lebih saya bertemu mereka di meja empat belas dengan piring dan gelas yang sudah hampir kosong.

Sebelumnya, saya lagi ga mood buat keluar rumah. Akhir minggu kemarin emang saya rencanain untuk beermalas-malas ria. Tiduran di ruang keluarga sambil nonton sinetron yang ga mutu ditemani secangkir hot milked green tea atau selonjoran di kamar sambil beresin novel diiringi alunan lagu-lagu klasik bisa jadi sebuah repose ringan di akhir minggu. Dan sorenya saya tutup dengan jogging atau renang sampai setengah pingsan. That will be simply great. Tapi sjakan GBers untuk bertemu sebenarnya sulit ditepis. Betapa saya rindu mereka. Teman sedari SMA yang sudah melalui suka dan duka bersama dan saya, salah satu sahabat mereka, menolak untuk bertemu karena saya sedang dalam my sorry mood? Ah, betapa jahatnya saya.

Setelah beres urusan, saya langsung cabut ke Braga. Di Sugarush, Fitri, Reza, dan Gita udah menghabiskan sepiring appetizer dan dessert. Saya nampak bersalah membuat mereka menunggu lama tapi ya mereka ngerti kenapa saya (sering) datang telat. Dan karena saya juga tidak terlalu lapar, saya hanya memesan Raisin Choco (Rp. 16K). Setelah ngobrol epilog lima belas menit, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Waffel yang kering dan renyah bener-bener pas digabung sama es krim coklat ditambah saos coklat dan taburan kismisnya. Waffelnya tidak terlalu manis jadi pencocolan potongan waffel ke dalam lelehan es krim coklat memberikan manis yang ga giung.

Delicious Raisin Choco

Setelah beres melumat Raisin Choco, Gitapun tertarik mesen Rainbow Cakee yang terkenal itu (lupa berapa harganya):

tempting Rainbow Cake

The Sugarush emang enak dijadiin tempat ngobrol sama temen-temen tapi kurang cocok kalo dipake buat ngafe sendiri karena ruangannya agak ribut. Eksterior dan interior plus pencahayaan lampunya memang didesain untuk bersosialisasi tanpa harus berkontemplasi yang berat-berat.

Sambil makan, kami pun ngobrol. Kami banyak ngobrol sana sini tentang hidup yang begitu berbeda dari masa-masa SMA. Si A yang sudah menikah, diikuti si B dan si C. Cerita patah hati, jatuh cinta, the in-between, dan kami benar-benar menikmati malam minggu itu. Setelah dari Braga, kami memutuskan untuk nongkrong sambil makan okonomiyaki di kedang Ling-Ling Sultan Agung tapi sebelumnya Gita dan Fitri nongkrong dulu di Wendy's menunggu saya dan Reza yang pergi sholat. Selesai sholat, kamipun menemui mereka yang sedang nongkorng di Wendy's dan akhirnya melahap eskrim dan mashed potato

Saya suka heran, kami jarang ketemuan namun tetep seperti sahabat yang masih satu kelas satu sekolah.
Dan menyadari hal itu, seperti itulah kami, sahabat kontemporer yang bertemu kilat tanpa karat.

The Wedding

The Wedding
till mouth do us part


Pernikahan adalah sesuatu yang sakral menurut kebanyakan orang termasuk saya. Untuk yang satu ini, kejujuran dan komitmen seumur hidup harus menjadi dasar untuk memulai kehidupan bersama. Dua menjadi Satu. Pernikahan selalu memiliki daya tarik sendiri. Entah akadnya, resepsinya, atmosfirnya, atau para tamu dan pengisi acaranya. Tidak terkecuali pernikahan yang baru saja saya hadiri. 

Kemarin sepupu saya menikah dan karena sepupu ini dekat dengan keluarga maka orang tua saya tak bisa menghindari menjadi panitia pernikahannya. Pernikahannya cukup megah karena diadakan di gedung yang cukup bergengsi. Saya dan keluarga hadir sejak pagi dari dimulainya akad nikah, sampai acara selesai yaitu pukul tiga sore. Bagi saya pernikahan ini memberikan persepktif lain. Saya bertemu keluarga besar saya dari pihak mama ataupun papa. Teman-teman mama dan papa yang ternyata juga temannya ua (kakak mama yang anaknya melangsungkan pernikahan). Perspektif yang saya dapatkan adalah saya menemukan sebuah kacamata dalam mengamati orang-orang di sebuah pernikahan, pernikahan sepupu saya ini. Mungkin karena orang tua saya sibuk menjadi panitia, adik-adik saya menjadi pagar bagus jaga pintu tamu di depan gedung, kakak saya terus berduaan dengan istrinya, saya jadi merasa sendiri. Memang bukan secara literal namun selama ini jika saya pergi ke kondangan, pasti saya tidak benar-benar sendiri. Entah itu bersama teman, keluarga, orang tua, atau bahkan pacar. Jadi kali ini, foodstall dimsum-chicken katsu-batagor-mie kocok-empal genthong-dan-cingcau tidak bisa meredam perspektif saya ini. Saya comot banyak makanan, pergi ke bagian belakang ruangan dan mulai mengamati orang-orang. Ada beberapa katagori orang yang saya temui di sebuah pernikahan dan bisa jadi kamu termasuk di dalamnya:

1. The Privy Bride/Groom
Pengantin perempuan dan laki-laki yang seringkali kita temui di pernikahan adalah mereka yang berbahagia karena telah menemukan pasangan hidupnya masing-masing. Namun tidak jarang kita menemui pengantin perempuan dan pria yang memiliki banyak rahasia penting yang mereka simpan dan enggan mereka bagi kepada masing-masing karena niscaya ketika rahasia itu lumer dan masuk ke kuping pasangannya, pernikahan tidak akan terjadi. Pasangan seperti itu pandai menyembunyikan perasaan mereka dengan senyuman saat kerabat mendekat atau kamera menjepret. Naumn kita bisa perhatikan saat mereka sujud sungkem kepada orang tua mereka. Mereka yang menganggap pernikahan ini sebagai sebagai sebuah unjuk sosial dan gengsi, air matannya membeku di kaki kedua orang tua mereka.

2. The Shareholders
Tidak bisa dipungkiri, satu pernikahan (masih) dibiaya oleh kedua orang tua/wali dari masing-masing pihak. Itu hal yang wajar. Namun yang tidak wajar adalah ketika masing-masing penyangga dana malah memikirkan mudah-mudahan uang amplopnya nutup setengah biaya pernikahan ini saat pernikahan terjadi. Biasanya kekhawatiran semacam ini tersembunyi di sudut senyuman namun air mukanya dari kejauhan pasti terlihat berbeda. Mereka terlanjur mengeluarkan sejumlah uang yang cukup besar dan belum bisa ikhlas menjadikannya sebagai mediasi dari suatu proses yang sakral.

3. The Social Butterfly
Mereka yang hinggap dari satu kerumunan ke kerumunan lainnya bisa disebut social butterfly. "Eh jeng, gimana kabarnya? Blahblahblahblah. Jeng, aku ke sana dulu ya.". "Eh, jeng Ani apa kabar? suami udah berapa sekarang? blahblahblahblahblah. Eh di sana ada jeng Susi, aku ke sana dulu ya." Kalimat semacam itu pasti keluar dari seorang social butterfly.


4. The Howling Wolves
Baju gw udah keren dong? kok orang-orang malah ngeliatin dia sih? bajunya kan norak? Duh, mana nih cewe-cewe cantik? pokoknya gw harus dapet buket bunganya! kayaknya dia masih single deh, serbu! plis dong Tuhan, temuin aku sama jodohku di pernikahan ini. Kalimat semacam itu bida kita dapat dari ekspresi muka, pandangan mata, dan gerakan tubuh mereka. Percaya deh, para serigala-serigala ini ingin sekali jadi pusat perhatian di sebuah acara apalagi acara pernikahan. Kadang mereka juga sering mempertontontan pasangan mereka atau anak mereka atau kehidupan mereka dengan berkata, "Eh iya, pacar aku sekarang udah kerja di Priport loh, gajinya 20 juta." Namun kadang juga ada beberapa di antara mereka yang terus menerus berharap menemukan seseorang yang cocok dengan kepribadian mereka dengan berkata dalam hati, "Aku udah saling pandang-pandangan sama dia, deketin jangan ya? jodoh bukan ya? yaa??"

5. The Ignorant
The Ignorant adalah keluarga, kerabat, teman, temannya teman atau siapapun itu yang tidak peduli pada jalannya acara. Tidak (mau) tahu siapa yang menikah dan mereka datang karena orang terdekat atau orang tua mereka memaksa mereka datang ke kondangan. Mereka selalu dekat dengan foodstall karena cuma itu satu-satunya yang bisa mereka nikmati sepenuh hati. Mereka juga cuma mengenakan baju yang pas-pasan dengan muka kadang kebingungan ingin segera pulang.

6. The Wedding Crashers
Tahu filmnya kan? yang dimaikan oleh Owen Wilson dan Vince Vaughn. Dan mereka benar-benar ada! Para Wedding Crashers ini adalah mereka yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pernikahan namun datang karena mereka ingin makan gratis, kenalan dengan perempuan (biasanya titel ini disandang kaum pria saja namun seiiring dengan modernitas kaum perempuan pun sudah ada yang menjadi pioneer dengan menjadi seorang wedding crusher), atau sekadar menghabiskan waktu. 


Itulah enam katagori yang menjadi pengamatan saya di pernikahan sebelumnya. Nah kamu termasuk yang mana?