Tuesday, 22 May 2012

who are you

the who-are-you question

Last Friday i had a radio interview in the morning. Its theme was about outstanding youth. I was asked to join that one hour interview. Some of you maybe will deliver an objection why i have been allegedly chosen as part of the talk because truly i was wondering what's outstanding about me really. Because apparently there were three other guys who would be interviewed as well. The first guy is the founder of the eco-community that has raised public awareness about environmental issues. The second guy is the founder of the community that moves in helping less fortunate children. The third guy is the founder of the micro-entrepreneurship that help eradicating unemployment in micro scale. The fourth guy is me, the founder of..... well.....a fast-eating community that tries to redeem instant hunger all over the world. Oh, yes it is fake and i totally felt useless. However I  had confirmed yes as it would be interesting for me to meet those people. Even though this is not something new to me, having a radio interview about things but you know, i sometimes couldn't maintain my (duty) image.

Despite those people with abysmal contribution for society, i actually had sensed what were the questions so i wouldn't end up looking stupid. And i was right because the questions were quite similar:

the Announcer: who are you actually?
the first: i am the founder..
the second: i am the founder...
the third: i am the founder...
me: i am just a graduated student that loves to read and i am now recently looking for a nice job that suits me perfectly well. hahaha,
*everybody laughed*

the Announcer: what actually motivates you to do what you have been doing up until now?
the first guy: i see that our society nowadays won't consider environment as an important matter so blablaba.
the second guy: i know that some of our children have been abandoned in the streets yet they need education blablabla
the third guy: i am curious to find a way how to employ jobless people around my residence blablabla
me: i am very fond of Aristotle's concept of Altruism through his Eudaimonia and Autarkia thingy that really suits my personality. And it simply motivates me. *I was really wanting to say that but of course i had to stay insane by not saying what people did not want to hear. But then i was thinking what actually motivates me then these word came out of my mouth:*  "i see many people lost their opportunity to do something they want in their lives because they are underprivileged. i just want to inspire them that they actually can do it without any excuse."

the Announcer: What is your dream, and are you getting it now?
And i was the first to answer. darn.
Me: i always dreamt to be a superhero but a less-great superhero, a sidekick to be exact. I wanted to be Robin who's been next to the Batman fighting injustices. Why sidekick? Because once i fail helping people, i won't take responsibility as big as Batman because i am only his sidekick, right? getting my dream as Robin? i don't think so but i hope i am getting closer helping people. 
*this answer actually was more or less the same that i said when i had had another radio interview before, but still it came clean and thanks to experience, but if you want to see the authentic evidence of me wanting to be a superhero, you'll just have to take a look at this:
i am not sure whether it's a whip or a spider web
after saying that, i saw a doubtful facial expression in the rest of people in the room. the same went for the first, second, and third guy who likewise said they wanted to be a successful environmental activist/agent of change/businessman.

Announcer: what's the greatest mistake in your life? and how do you get over with it?
i didn't quite catch what those guys said but overall they said that they rarely did a big or even great mistake as they life is going like they have planned. Their admitted that their mistake was as tiny as "when i was in school, i did not study hard".
me: at first, i would say the same thing but then i watched Episode Milk of How I Met Your Mother and had courage to repeat Lily's verbatim:
There are certain things in life where you know it's a mistake but you don't really know it's a mistake because the only way to really know it's a mistake is to make a mistake and look back and say, "Yep, that's a mistake." So really, the bigger mistake would be not to make the mistake because then you go your whole life not rally knowing if something is a mistake or not.
Then i think, mistakes are not something shameful or meant to be forgotten. Because we also learn from it. to get over it is to get over it. keep breathing and let's continue our life.

In the end, we concluded that we have the outstanding part in our selves but sometimes it needs a tough effort to make it come up since it's well-hidden in our comfort zone.

that's four top questions that made me sweat. after the interview, i found something in myself that is i might not be useful yet for the society but i am trying to be. i want to share the inspiration that makes me keep moving forward. And yes, if you had me on an interview, i really can't say something cliche. or maybe it is cliche but actually it is deeper than what people might think. Oh ya, one more thing. How i am tantalized by superheroes!



Meraup Partikel!

Meraup Partikel!


the worth-waiting Partikel
                                                                                   Judul: Supernova 4 Episode Partikel
Pengarang: Dewi Lestari
Penerbit: PT. Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2012
Jumlah Halaman: 493 Halaman
Genre: Fiksi
Harga: Sekitar Rp.60.000,00-an


Akhirnya penantian keberlanjutan Supernova selama delapan tahun telah luntur oleh Supernova 4: Partikel. Seperti biasa, karya Dewi Lestari memang karya yang ditunggu banyak orang. Saya yang kehabisan Partikel di hari lahirnya langsung badmood. Saya memang berharap bisa dapet buku ini saat hari pertama ia keluar karena bisa dapet merchandise-nya. Tapi karena ga dapet, ya mau hari kedua atau ketiga sama aja. Jadi keinginan untuk baca Partikel hilang sekejap mata (what a mood!). Namun, ada seseorang yang ternyata memberikan Partikel sebagai hadiah ulang tahun. Merci beaucoup a vous.  Pertama, saya memang senang Supernova. Kedua, saya senang dihadiahkan buku. 

Tidak mau langsung menelan Partikel dalam sekali lahap, saya mengunyahnya perlahan, membaca kata demi kata. Sayang jika penantian delapan tahun harus hilang oleh gejolak nafsu keingintahuan dalam delapan jam. Seperti seri buku Harry Potter yang selalu saya lahap sekali lihat. Partikel merupakan seri Supernova ke empat setelah Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, Supernova: Akar, dan Supernova: Petir, Partikel juga didaulat jadi seri Supernova paling tebal dibandingkan pendahulunya yaitu 493 halaman. Seminggu sebelum Partikel keluar, saya coba untuk baca ulang Supernova seri sebelumnya untuk me-refresh cerita. Sebelumnya supernova dijadwalkan trilogi namun perkembangan berikutnya, Dee mengumumkan bahwa supernova akan dibuat heksalogi. Hm.

newbie joins the gank
---

Partikel memunculkan Zarah sebagai tokoh utama, setelah Diva, Bodhi, dan Elektra pada seri Supernova sebelumnya. Zarah dibesarkan dengan metode yang tidak biasa oleh ayahnya sendiri, Firas. Di bawah ayahnya, Zarah tidak masuk sekolah seperti anak pada umumnya namun Zarah tetap tumbuh menjadi anak yang cerdas, malah lebih cerdas dibandingkan anak lainnya. Dee membawa saya kepada keluguan seorang anak yang sayang ayahnya. Ketika Firas hilang, Zarah tidak mau menyerah menemukannya, berharap padanya ataupun berhenti mempercayainya. Dee, seperti dalam seri Supernova sebelumnya, sangat apik memainkan tokoh-tokohnya. Karakter dari setiap tokoh seperti manifestasi Dee dalam melihat orang-orang. Hal ini telah menmbuat tokoh-tokohnya kuat berdiri sendiri tanpa memiliki karakter yang beririsan atau saling silang. Penokohan ini terlihat dengan jelas ketika Dee membawa Zarah ke London untuk bertemu Storm yang menjadi kekasih (temporer)-nya. Di sana juga, Zarah bertemu sahabat lamanya, Koso yang sudah terkenal. Saya kira plot akan berjalan seperti kebanyakan novel-novel chicklit lainnya yang berujung pada cinta segitiga. Antara Zarah, Storm, dan Koso. Namun Dee tegas mematikan hal monoton semacam itu dan mengubah plot dengan tegas, Zarah meninggalkan Koso dan Storm. Sebuah proses katarsis dari seorang Zarah, saya kira.

Saya merasakan twist bertebaran dari awal hingga akhir cerita. Saya tidak akan memuji keahlian Dee dalam membuat pembaca terharu dan tersenyum karena itu memang ciri khasnya sejak dulu. Ia juga tidak nyinyir dalam menjelaskan dunia jamur, pentingnya lingkungan, ataupun alien. Yang terakhir merupakan tema yang jarang disukai oleh pembaca namun semuanya ia ramu menjadi bagian cerita yang matang sehingga dengan mudah pembaca bisa mencernanya.

Latar waktu dan tempat yang diset Dee menunjukan kepiawaiannya dalam berimajinasi. Bukit Jambul di Bogor merupakan salah satu latar yang saya sukai. Selain itu Dee juga membawa saya ke London, Kalimantan, dan juga Afrika. Imajinasi latar itu terjaga oleh diksi dan rima yang luwes sepanjang cerita. Cerkas, sudah melekat erat dalam cara Dee menulis. Tidak heran Goenawan Muhammad menyebutnya begitu.

Berbeda dengan seri sebelumnya yang pasti dibuka oleh kepingan yang tidak terhubung secara langsung ke dalam inti cerita, Partikel langsung dibuka oleh plot awal (present) yang disusul oleh flashback tokoh Zarah tanpa adanya kepingan cerita sebelumnya. Pada Partikel, bagian itu disisipkan di akhir cerita di mana Bodhi dan Elektra akhirnya dipertemukan. Sesuatu yang saya tunggu-tunggu.

Jikalau saya harus menuliskan kekurangan Partikel, ialah dalam penokohannya. Karena sudah Dee banget, saya menemukan beberapa serpihan karakter Elektra ataupun Kugy dalam Perahu Kertas pada Zarah. Namun begitu, kepingannya tidak terlalu kentara. Selain itu saya tidak terlalu terkejut dengan pembentukan ceritanya mengingat (lagi-lagi) ya itu gaya menulis Dee yang saya temukan di Supernova sebelumnya. Saya ingat bagaimana Diva, Bodhi, dan Elektra memiliki karakter yang dinamis, berseberangan, dan berbeda. Namun Zarah, saya merasakan karakter yang lebih mainstream.  Suatu kelebihan atau kekurangan. Tapi yang jelas, itu tidak mengurangi keunikan karakter Zarah.

Hal tersebut akan menjadi saru jika kita membacanya sekilas tanpa membaca Supernova sebelumnya dalam waktu dekat. Dan terlepas Supernova 4: Partikel memang layak baca dan saya suka selayaknya seri Supernova sebelumnya. 

Thursday, 17 May 2012

Globalisasi dan Mereka

Minggu ini orang ramai sekali membicarakan Irshad Manji, setelahnya ada FPI yang menolak Lady Gaga yang akan berkonser di Indonesia, sebelumnya ada kecelakaan Sukhoi yang merenggut banyak nyawa di Gunung Salak. Saya melihat arus informasi yang begitu deras dari televisi, twitter, facebook, koran, dan radio. Untuk ketiganya, seringkali ada teman saya yang bertanya, "Eh menurut lu gimana benturan kebudayaan FPI vs Lady Gaga? Lady Gaga kan blablablabla jadi kan seharusnya blablablabla?" atau "sebenernya kan JIL itu giniginigini jadi Irshad gitugitugitu dong?" Yang pertama, teman saya itu bukan seorang fanatik Lady Gaga. Waktu saya tanya, buku kebudayaan apa yang pernah kamu baca dia jawab belum pernah baca sih. Saya tanya lagi, Koentjaraningrat pun? dia bilang, siapa tuh? Saya bergeming.

Globalization

Jujur, waktu kuliah saya bisa lempar pisau analisis pluralisme Cobweb Model atau teori hegemoni Gramsci dalam satu fenomena dan diskusi sama teman-teman. Sekarang, beberapa kali diskusi, teman saya cuma menggantungkan pemikirannya sama rasionalitas banal yang ia pegang. Ketika saya mendedah suatu hal dari sudut pandang lain, saya dikecam terlalu teoritis. Saya paham jika sedikit teman (saya) yang tertarik dengan teori-teori sosial. Terlebih lagi mereka yang berkecimpung hanya dengan cawan petri atau mikroskop sehari-harinya. Mereka cuma melihat masalah sosial dari sudut pandang das sein. Dan sayangnya, mereka juga rigid terhadap parameter-parameter yang mereka atur sendiri sehingga mereka cenderung berpikir tendensius. Saat melihat diskusi Irshad Manji yang dibatalkan, teman-teman saya mayoritas menilai dengan parameter salah atau benar. Saat melihat isu penolakan FPI terhadap Lady Gaga, lagi-lagi cuma salah atau benar yang mereka nilai. Lantas siapa yang males berdiskusi dengan orang-orang yang memang puas hanya dengan mengecap salah dan benar saja?

Beberapa hari lalu, saya menemukan teman baru yang asyik diajak diskusi. Sebut saja namanya Shia, usianya belum genap sepuluh tahun. Dia duduk di kelas empat sekolah dasar di salah satu sekolah internasional di Bandung. Orang tuanya yang ekspatriat ingin saya mengajarkan dia bahasa Indonesia dan Indonesian Studies. Dua pelajaran nilainya selalu di bawah batas minimum. Saat saya membaca modul Indonesian Studies tentang keanekaragaman dan toleransi, ada sebuah teks yang tertulis, "Di Indonesia ada berbagai macam kepercayaan dan agama. Banyak masyarakat yang masih mengatus dinamisme dan animisme. Selain itu, agama yang ada juga bermacam-macam termasuk Islam, Hindu, Budha, Kristen, Shinto, Konghucu dan lain-lainnya. Bahkan banyak pula yang tidak memeluk agama. Namun kita semua pada dasarnya adalah manusia, sama"

Doeng. Anak kelas empat sudah disusupi konsep dasar ateisme/agnostisme dalam perspektif pluralis yang begitu luas. Saya tidak menyangka bahwa ada materi semacam itu dalam kurikulum sekolah internasional. Teks semacam itu menjadi lalapan pelajaran sehari-hari bagi Shia. Shia hanya mengerti sebatas kalimat saja, dalam konteksnya saja. Shia anak yang polos dan juga cerdas dibandingkan anak kelas empat sd lainnya. Pengaruh sekolah internasional saya kira telah membentuk kepribadiannya menjadi lebih global dibandingkan anak pribumi. Ketika saya bertanya, "Shia, tempat bertemu pembeli dan penjual itu disebut apa ya?" Dengan polos dia menjawab, "Superindo!" atau ketika saya memintanya membuat kalimat menggunakan kata "pergi", dia bakal jawab, "Optimus Prime pergi ke Cybertron untuk melawan Decepticon." Saya juga penggemar transformers, jadi hapal siapa itu Optimus Prime atau apa itu Cybertron. Tapi coba jika guru sekolahnya menghadapi imajinasinya yang seperti ini setiap hari?

Saya menemukan bahwa baik itu pemikiran yang melingkupi teman-teman saya dan juga Shia, digenjot oleh globalisasi. Melalui media, globalisasi telah mempenetrasi arus informasi menjadi demikian dahsyatnya di media massa atau media sosial. Sayangnya kebanyakan orang hanya paham bentuk globalisasi yang menjelma menjadi  sisi negatif dan positif dalam modernisasi atau liberalisasi. Tanpa menengahkan bahwa ada unsur-unsur budaya lokal yang juga ikut diubah melalui globalisasi.George Ritzer menguti perkataan Douglas Goodman yang mengatakan bahwa ada kontradiksi-kontradiksi yang memerankan diri mereka sendiri pada semua level baik itu lokal maupun global dalam banyak hal. Globalisasi ini juga seringkali menimbulkan kehampaan yang menyebabkan hilangnya nilai-nilai lokal.

Jawaban Superindo atau kuriositas teman-teman saya yang hanya terseret oleh "ikut-ikutan" membahas recent issues menjadi sebuah keharusan untuk bergabung dalam globalisasi yang orang rasakan semakin penting. Tanpa menjadi bagian dari hal yang global, orang mulai merasakan kehampaan yang luar biasa. Awalnya konsumsi yang berlebih dan fetishisme komoditi (mendewakan sebuah brand barang tertentu) menjadi penanda, tapi saya tidak menyangka bahwa globalisasi telah menyusup ke tingkah laku dan pemikiran kita, bahkan seorang anak kecil. Saya yakin Shia hanya memiliki teman di sekolah saja. Di rumah ia hanya bermain dengan mainan dan pembantunya. Benar-benar tipikal kebudayaan barat. Berbeda dengan budaya timur atau Indonesia pada umumnya di mana anak-anaknya berinteraksi pada kehidupan sehari-hari baik di lingkungan rumah ataupun sekolah.

Dan ketika orang-orang ingin membahas semua itu dengan alasan implisit untuk bagian dari hegemoni global, saya beneran cuma diam. Melepas diri dari rangkulan mereka dalam diam.

Monday, 14 May 2012

Potret Monolog

Minggu ini beneran minggu yang hectic buat saya. Bukannya saya ga terbiasa dengan kesibukan tapi saya enggak suka spontanitas-an. Being spontaneous is not me. Meski pada dasarnya saya impulsif, tapi menyangkut profesionalisme menurut saya preparasi adalah sesuatu yang penting. 

Enough with the complaints, Selasa lalu sepulang dari kampus menuju kantor, saya menemukan kejadian yang menarik di bis. Bis damri yang beroperasi di Bandung dan sekitarnya pasti ramai oleh pengamen, pedagang kaki lima, penjual kroan, atau peminta-minta. Nah kali ini saya ga ngeliat kesemuanya itu tapi saya negliat seseorang sedang bermonolog. Sebelumnya saya pernah liat ada orang baca al-qur'an dengan artikulasi dipaksakan dan tajwid yang berantakan di dalam bis yang pada akhirnya dia minta receh sebagaimana pengamen beres nyanyi. Yah, we live in a messed up world. Nah monolog yang dibawa orang itu agak mencuri perhatian saya. Monolognya berisi. Kaya orasi. Ngomongin BBM, incumbent, potret kemiskinan, ketidakadilan, ketimpangan sosial  dan sebagainya. Ada kalimat yang menyentuh, "Oh....Ibu pertiwi dilukai oleh anaknya sendiri. Korupsi di birokrasi." 

pake topi, rambutnya gondrong
Saya pikir sebagian besar penumpang gak merhatiin isi monolognya. Bisa dilihat dari segelintir orang yang ngasih recehannya. Mungkin lebih asik buat mereka denger lagu-lagu picisan daripada denger monolog yang malah asing ditelinga mereka. Actually, it has been twice. Pertama, dulu banget waktu tahun pertama kuliah, saya lihat orang yang berbeda baca puisi di dalam bis. Bacain puisinya Chairil Anwar sama Rendra, lupa judulnya apa. Tapi menurut saya, kedua orang tersebut put all his heart into it jadi monolog dan puisinya ga kosong sekosong lagu-lagu yang dibawain pengamen. Dilihat dari situ, entah idealisme ataupun kebutuhan sehari-hari, sedikit apresiasi ga begitu mahal untuk nunjukin begitu pedulinya kita sama mereka. Di Belanda sama Perancis, orang baca puisi di tengah jalan, malah ditontonin sama banyak orang terus dikasih uang juga. Di Wina, ada orang yang kerjaannya bikin puisi/syair buat wisatawan, on the spot. Di Indonesia? yah, Ibu pertiwi yang dilukai oleh anaknya sendiri. Oh ya, i found out later that the one with monologue is part of Komunitas Sastra Jalanan. Pantes.


Monday, 7 May 2012

Kedaluwarsa



do you still remember when we were just strangers ?
silly little thoughts that make us laugh
having noodle and drowning all the troubles

you hid your past like you always did
in the end i know
those times will pass
and your love can't last


adakah sebuah memori yang terus melekat erat
di dalam solar plexus mu ?
seorang aku yang terus menyalak
apalah arti seorang aku

Solitude #4


gone with the loner

Duta Bahasa Jabar 2012

Yesterday, i went to Car Free Day Dago to perform one of my duty as Duta Bahasa Jabar (Language Ambassador). Car Free Day (CFD) is a day when in certain areas no motored vehicles are allowed to pass. In Bandung there are two areas: Dago and Buah Batu. But it is not a full CFD because it is only regularly happened at 06 am - 10 am. CFD held in Dago, or anywhere in this matter, has triggered one big question that has been exasperating me: what is the point of having a Car Free Day if people still use motored vehicles to go there and park nearby? Yes, people still use their cars and motorcycles to go to CFD and park nearby. So the essence of spreading the knowledge of green issues has been less useful and not efficient. People also still throw away the beverage cans, plastics, and their food dumps everywhere. It is no wonder then when CFD time is over, the street will be dirtier and the traffic will be over crowding for a short period. But hey, that is not my point. CFD is where people spend their morning in Sunday, jogging, cycling, rollerblading, whatever it is doing healthy exercises. And there are various communities performing or simply inviting to join. It is fun. It also means there are a lot of people that we can embrace to know more about our own language both traditional and national. 

I woke up at six thirty and came a bit tardy. I saw my friends preparing when i came. We previously had dealt to meet up in front of Borromeus Hospital. Well, the whole morning we mostly campaigned about our culinary Glosarium ( a list of words with its literal meaning for a specific theme). We brought "seafood" translated as "boga bahari/hidangan laut" or "steakhouse" translated as "rumah makan bistik". So people can actually acknowledge another words they don't know yet. And in the end we just hope people will use it daily. (why am i using English anyway :p) 
Besides campaigning Glosarium, we invited people to join our community, Komunitas Duta Bahasa Jawa Barat. How to join? it is simple and easy. The selection will be held in early June. So you just have to sign up for yourself if you meet the requirements, here it is:




I am myself the selected Duta Bahasa Jawa Barat for the 2011-2012 period, with my partner Yesi Haerunisa. We both have brought the second runner-up at the National Competition. Yes, if you are chosen as the selected Duta Bahasa Jawa Barat, you will go to the national. You will be able to meet the other Duta Bahasa from 33 Provinces. How cool is that? I have gained a lot of things in this community. Friendship and valuable experiences are two things i feel the most. Btw, this year there is no fee registration (compared to last year, 75k-100k rupiahs)

Back to the CFD, Yesi came tardier than me. She just checked in after we almost ran out of brochures. So we had to explain the program to people that ran into us. 

me and my partner Yesi explaining the program


After the CFD was over, we went to Papyrus Studio to take some pictures of us. Both professionally and amateurishly. Amateurishly taken pictures:
@ papyrus

with Duta Bahasa Pelajar

Oh well, i forgot to introduce Duta Bahasa Pelajar to you guys, my bad. So before i close this article, there is Duta Bahasa (for) Pelajar. It is Duta Bahasa for senior high school students. The aim is the same, to promote the proportional use of languages but specifically to students and teenagers. The first Duta Bahasa Pelajar was held in 2011. 

So would you mind joining us? 
:)



































Sunday, 6 May 2012

Jakarta

after spending three days in Jakarta, i finally met my bed again. I have a story with Jakarta that makes me fragile and vulnerable (oh, drama!) while being in there! I most certainly do not get along with Jakarta. Well maybe when i was a kid, someone almost kidnapped me for real. Or maybe when i was in junior high school, there's someone who suspiciously offered me to be a teenage star. Or maybe it is because  jakarta has 9.607.787 people in it. Or maybe Jakarta is the most polluted city in Indonesia. Or maybe, Jakarta is the setting that a lot of low quality delusional sinetron took place. Or maybe i saw it on TV, Jakarta is much meaner than a step mom. Or maybe, people just easily get lost in that big city. Or maybe, there's too much skyscrapers blocked my sight. Or maybe, the people are not as nice as people in Bandung. Or maybe because it is simply superhot. Or maybe it is the social construction that has infected my mind. Or maybe it's my crazy mind. I don't know for sure but in my mind Jakarta is detestable. It's enough to be the ultimate reason i can't go to Jakarta alone.

But as wise men say, life goes on. It means, someday sooner or later i have to be friended with that malevolent smirking Metropolitan town. But Amstrong said one step from a man, one giant leap for humanity. I took it to the heart. I must step out! So i took my first serious errand to go there.

It happened in October. I had to collect some data and interview my informants to finish up my skripsi about corruption. I had to come to Jakarta. Like it or not. Ready or not. Happy or not. But at that time, the only choice i got was "going to Jakarta to get it all so that i can have final examination sooner in January" or "changing the object of my skripsi and starting it all over, by that time, i could have final examination in the next 8 months approximately". Due all respect to my ancestor and the nature, i will be damned if i chose the latter. So i came to Jakarta, i collected data and interviewed people at Foreign Ministry Department, KPK, Transparency International Indonesia, ICW. I made it one day and came back alive. I did it! They should make a trophy for this achievement. But truly, i finished my business in one day and came back with happiness and warm-feeling filled up my chest. If i had throw a speech for this success, I would thank God of course for giving me such a bravery. The awkward moment is i took a train to go there and i took travel shuttle car to go back to Bandung. And you know what? i almost threw up on the way back! in the travel car! when i told this story to my mum, she said, "Kamu mah kampungan. Jakarta kayaknya terlalu gede buat kamu." Well yeah, i am proud to be a village boy   \m/