Thursday, 7 June 2012

Snow White that Stabs


When Snow White is not with the Seven Dwarfs



Snow White is a legendary fairy tale that i like since i was a kid. Who doesn't know Snow White anyway? along with her seven dwarfs friends?


movie i just watched, good


Back at that time, i only imagined Snow White as a princess with a very pale and white skin, so white that makes her appear covered in snow because i acknowledged her from a fairy tale book without the illustration. And based on every fairy tale book, Snow White's described as a good-hearted, compassionate, and pristine princess who suffered from a mental-problem yet narcissistic step mother. Then the Disney made her alive in firstly animation film in 1937 titled Snow White and the Seven Dwarfs. Previously, there are many countries that embrace Snow White as its fairy tale but the most popular and fancy version came from Germany collected by Brothers Grimm. The story was featured with poisoned apple, a shiny glassy coffin, and the cute seven dwarfs.

My first encounter with the Snow White:
First Snow White i saw


At first, at least for about first thirty minutes, i was in the dark about what idea was the movie trying to imply. The setting is too focus on medieval attribute that is shocking me yet boring for me. I started to lose the visualization of my childhood as the picture above. From the title, anyone can see that Snow White is not with seven dwarfs anymore whereas she might prefer a huntsman than them. He is definitely more eye candy than them. Even so the Huntsman doesn't ring the bell in my childhood Snow White. 

But as the story goes Snow White and the Huntsman brings me a new spectacle to look at old Snow White in my childhood which is only made for children and babies. This Snow White is preferably watched by adults. I have just watched it and i have three points that attracted me the most:

1. The Real Snow White
who wants Snow White?

This is the main factor why i keep on watching Snow White and The Huntsman with the great expectation. Kristin Stewart is an expert of playing an evasive woman whose characters is not only in need of men's protection but also able to instill great independence. Maybe the image of a weak woman in her vampire-world protected by two men -vampire and werewolf- lingers a bit but it fortunately helps her to consume the character of the new version of Snow White. In the medieval age, we often potray princesses as relentless women who can only hide on their man's back but after watching this, Snow White proves that eventually some princess got claws. It means Snow White has to defend her kingdom and dignity using her sole power not begging her man to do her revenge. Then this movie becomes more interesting when she decides to take her stepmother down bluntly. She asks her people to be with her. And the arousal she is making among her men in Hammond Place shows that impertinence doesn't only belong to men. I sense there's a feminist norm in this movie which was obviously not existed in the Disney version. I was familiar with the weak Snow White that depends on her man. But this Snow White declares war and finally stabs dagger at her step mother. It's mother-daughter time! 

In this matter, Kristin succeeds playing this character. 

2. The Plot
The movie has its own interpretation without making the old story falls into oblivion. I still can sense the originality of the old story but otherwise the Snow White and the Hauntsman makes the fairytale even merrier. The more, the merrier, they said. From the title, anyone can see that snow white is paired with seven dwarfs. On this movie, she is accompanied by a huntsman, handsome one. I had to wait seven dwarfs, the prince, and the shiny glassy coffin to come out. The latter one did not come out at all whereas the seven dwarfs and the prince is a uniquely different from the old version. There's one forest where seven dwarfs live in and the visualization of living being in there is simply beautiful. The fairy, the turtles, the magical deer, they are amazing to be put in one scene with White Snow. In addition, Snow White and the Huntsman meet a group of women that scar their faces to save themselves from Queen's narcissistic jealousy. This is deep enough to correlate why the Queen actually wants to knock every beautiful girl in the world out. Not mentioned the trolled that flatters with Snow White. I said it earlier, the more the merrier.

Albeit i miss the shiny glassy coffin, i think the rest is fine.

3. Threesome Trend
The plot fortunately is not falling into a triangle love as in Eclipse series. When Snow White eats an poisoned apple, she needs to be kissed by her prince, William. But no effect, maybe he is not kissing her strong enough. Later on, when the Huntsman kisses her, she happens to conscious. First, whose kiss actually makes her awake? Second, why is it to be them both kissing her? Maybe the scriptwriter leaves it to us or simply wants it to remain a mystery. But it was brave enough to deliver a triangle love without falling into its cliche. It is also shown in the end of the movie, Snow White doesn't have to choose one of them.. But as its title, the movie actually focuses on the Huntsman rather on the Prince. 

Conclusion, to have a new perspective in old fairy tale, Snowman and the Huntsman is worth your attention. With the new version and interpretation you will be able to find why beauty is actually pain. 

Tuesday, 5 June 2012

Kita Manusia Indonesia, Bukan?



Judul: Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungan Jawab)
Pengarang: Mochtar Lubis
Penerbit: Idayu Press
Tempat dan tahun terbit: Jakarta, 1977
Jumlah halaman: 95 Hal
Genre: Motivasional - Non Fiksi
Harga: -
--------------------------------------------------------------

Wajah lama sudah tak keruan di kaca, sedang wajah baru belum jua jelas 
Siapa itu orang atau manusia Indonesia ? 
Apa dia memang ada? 
Di mana dia? 
Seperti apa gerangan tampangnya?


Berawal dari mekanisme self-loathing yang akhir-akhir ini mengganas, saya akhirnya bolak balik halaman buku yang jadi hadiah waktu saya SMP. Waktu itu guru bahasa Indonesia saya ngasih buku ini sebagai hadiah ulangan. Judul bukunya: Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungan Jawab) karya Mochtar Lubis, Idayu Pess, 1977. Bukunya udah lecek tapi isinya tetep membahana. Dari situ pula saya awal ngfans sama Mochtar Lubis dan karya-karyanya.

Buku ini ngejelasin karakter manusia Indonesia sesuai dengan judulnya. Buku ini sangat provokatif dan menurut saya setiap mahasiswa harus baca dulu buku ini sebelum cuap-cuap di depan kantor DPRD atau gedung sate. Lubis mendeskripsikan ada enam karakter utama manusia Indonesia dari zaman dulu sampe saat ini. Ciri-ciri manusia Indonesia menurutnya adalah sebagai berikut:

1. Ciri pertama manusia indonesia yang cukup menonjol adalah hipokrit alias munafik
Berpura-pura, lain di muka, lain di belakang, merupakan sebuah ciri utama manusia Indonesia sudah sejak lama. Manusia Indonesia menjadi munafik karena mereka dipaksa oleh keuatan-kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya atau dipikirkannya ataupun yang sebenarnya dikehendakinya. Hal ini disebabkan oleh ketakutan dalam dirinya akan mendapat ganjaran yang bisa membawa becana bagi dirinya sendiri.

Menurut saya, kemunafikan ini menjadi salah satu sifat yang dihasilkan dari represi oleh sistem feodal pada masa lalu. Inspirasi dan kreativitas ditindas hingga kandas. Lubis menjelaskan bahwa meskipun ada beragam agama yang membawa nilai-nilai yang memperkaya kehidupan jiwa manusia Indonesia namun agama tidak menjadi sepenuhnya dijadikankekuatan pembebasan manusia Indonesia karena di berbagai daerah caranya datang menggunakan kekerasan. Memaksakan nilai-nilai agama melalui kekerasan sama saja dengan kampanye damai melalui peperangan. Tidak perlu menunjuk, tapi saya yakin kita semua tahu siapa yang bisa dijadikan contoh. Selain itu, kemunafikan juga terlihat dalam sehar-hari. Misalnya, saat kita mengutuk atau mengecam seks tapi kita sendiri tidak sadar menyetujuinya dengan cara melegalisasi prostitusi. Atau menggunakan jasanya diam-diam. Berteriak koruptor terhadap orang lain namun dirinya sendiri terlibat. Menolak gratifikasi namun menerima uang jasa dan imbalan. Kadang kemunafikan itu terjadi tanpa kita sadari terutama saat kita berucap. Benar, kita harus berhati-hati dengan ucapan kita. Kemunafikan ini menjadi salah satu hal yang mengakar dan permisif di negeri kita. Di lingkungan keluarga saya yangcukup religius, sebagai contoh terdekat dan terkecil, masih berpedoman bahwa kenalan bisa membantu kita dalam urusan pekerjaan atau akademik. Saya sering mendapat saran dari keluarga, "Mau kerja di situ? nanti biar saya yang bilang ke dia jadi lebih gampang." atau "kamu masukin aja cv kamu sekarang, nanti saya yang terusin sama kenalan saya." Dari zaman saya masih bau kencur dan cuma paham corat-coret lingkaran besar di TK hingga saya masih bau kencur tapi sudah lulus sarjana, saya emang tidak pernah mengemis nilai. Dan jujur, mendapat pernyataan seperti itu dari keluarga (besar) menjadi pukulan yang agak nyeredet hate. Saya seperti tidak mampu berusaha sendiri. Contoh lainnya adalah, dosen yang sering mengelu-elukan demokrasi dan sikap kritis kepada mahasiswa. Mereka menganggap manusia adalah setara. Dosen dan mahasiswa adalah serupa. Namun toilet dosen dan mahasiswa saja dipisah dan biasanya toilet dosen lebih layak guna dibandingkan toilet mahasiswa. Dosen menginginkan kedisiplinan namun apa maksudnya dosen boleh telat masuk kelas, mahasiswa ga boleh telat masuk kelas?Egaliter sebelah mananya?

Saya sependapat dengan omongan Lubis, "Sikap ini juga telah mendorong terjadinya pengkhianatan intelektual di negeri kita." Terlepas dari itu semua, Lubis saya kira lupa pada satu hal bahwa di dunia ini semuanya tersusun berdasarkan hierarki dan saya setuju dengan adanya hierarki tersebut. Tentu saja hierarki ini harus dibuat seadil mungkin tanpa ada kesewenang-sewenang penguasa. Misalnya, saya senang dosen menerapkan disiplin kepada mahasiswa meskipun ia sering datang telat ke kelas. Hal ini harusnya dibarengi dengan penjelasan bahwa dosen pernah menjadi mahasiswa dan mahasiswa pernah menjadi dosen. Dosen memiliki hak yang lebih banyak karena status akademiknya yang lebih matang dan juga superior. Saya mengakui hal itu dan bisa memaafkan jika memang dosen tersebut mengemukakan alasannya kurang lebih seperti itu. Namun, dosen datang telat dengan berbagai excuse yang sangat klise bisa mengundang disrespect dari mahasiswanya.Untuk sifat pertama ini, saya berpendapat bahwa lebih baik kita berkaca terlebih dahulu, melihat diri kita sendiri dalam jarak yang sangat dekat sebelum meneriakan aib orang lain. Coba kapan terakhir kali kamu ketemu cerminan kamu? 

2. Ciri kedua utama manusia Indonesia masa kini adalah segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, putusannya, kelakuannya, pikirannya, dan sebagainya.
Ketika kita membuat kesalahan, sering kali kalimat "bukan saya" terlontar. Orang yang menduduki hierarki teratas -sebut saja atasan- menggeser tanggung jawab tentang kesalahannya pada bawahannya lagi dan bawahannya menggeser lagi kesalahannya pada bawahannya lagi. Atasan yang memiliki tanggung jawab lebih tinggi daripada bawahan jelas ingin cuci tangan. Dalam sejarah kita dapat menghitung dengan jari pemimpin-pemimpin yang memiliki keberanian dan moral untuk tampil ke depan memikul tanggung jawab terhadap sesuatu keburukan yang terjadi di dalam lingkungan tanggung jawabnya.

Menurut saya, enggan dan segan bertanggung jawab sudah terpatri dalam kebudayaan sehari-hari sejak kecil. Saat SD, murid-murid ditanya, "Siapa yang mau jadi Ketua Murid?" banyak siswa mengacungkan telunjuknya. Saat SMP, murid-murid ditanya, "Siapa yang berani jadi pemimpin upacara?" sedikit yang mengacungkan telunjuknya namun banyak yang mengelu-elukan atau berbisik nama teman-temannya bukan namanya sendiri. Akhirnya siswa tersebut menerima tanggung jawab itu dengan terpaksa sebagai tumbal (pengalaman pribadi :D). Semakin besar, kita semakin sadar ternyata tanggung jawab yang kita pikul semakin berat. Selain itu kegagalan dan kesalahan tidak bisa ditoleransi di negeri ini. Orang tua memarahi anaknya jika nilai ulangannya jelek tanpa melihat proses belajar anak tersebut. Tidak heran sebagian besar dari kita hanya berorientasi pada nilai dan hasil. Padahal proses adalah bagian yang lebih penting dari hasil. Sebaliknya ketika seseorang berhasil, orang-orang senang mengaitkan kesuksesan orang tersebut dengan usahanya. Pada pengalaman saya, setelah berhasil jadi pemimpin upacara, dia nyeletuk, "Tuh kan, kalo ga aku teriakin nama kamu, kamu ga bisa jadi pemimpin upacara." ~Beneran, pengen nyumpe mulut tuh anak pake seragam upacara.http://www.emocutez.com


3. Ciri ketiga utama manusia Indonesia adalah jiwa feodalnya.
Meskipun salah satu tujuan revolusi kemerdekaan Indonesia ialah untuk membebaskan manusia Indonesia dari feodalisme, tetapi feodalisme dalam bentuk-bentuk baru semakin berkembang dalam diri dan masyarakat manusia Indonesia. Sikap-sikap feodalisme ini dpat kita lihat dalam tatacara upacara resmi kenegaraan. dalam hubungan organisasi kepegawaian, seperti istri menteri/walikota/bupati yang otomatis menjadi ketua dalam organisasi ini dan itu. bukan berdasarkan kecakapan dan bakat kepemimpinnya atau pengetahuan dan pengalamannya maupun perhatian dan pengabdiannya.

Saya tidak bisa tidak setuju dengan sifat ini. Hal ini terpatri jelas saat rejim Soeharto dan masih meninggalkan  sisa-sisa feodalisme saat ini. Feodalisme menurut KBBI adalah: (1) sistem sosial atau politik yg memberikan kekuasaan yg besar kpd golongan bangsawan; (2) sistem sosial yg mengagung-agungkan jabatan atau pangkat dan bukan mengagung-agungkan prestasi kerja; Banyak contohnya yang bisa kita sebutin satu-satu. Tapi saya masih punya malu untuk ga ngomongin itu di sini.

4. Ciri keempat utama manusia Indonesia adalah manusia Indonesia masih percaya takhayul. Dulu, dan sekarang juga.

Ini yang ga bisa kita pungkiri. Berawal dari animisme dan dinamisme yang berakulturasi dengan kepercayaan dan agama yang datang, sampai saat ini orang masih percaya takhayul. Takhayul didefinisikan sebagai (1) (sesuatu yg) hanya ada dl khayal belaka: banyak orang kampung yg masih percaya kpd --; (2) kepercayaan kpd sesuatu yg dianggap ada atau sakti, tetapi sebenarnya tidak ada atau tidak sakti Inget Ponari? Yang dulu dipuja sama penduduk setempat dan diekspos gila-gilaan sama media masa. itu salah satu contohnya. Yang lagi santer saat ini adalah berbagai film horor banal yang beneran bikin ketawa daripada bikin buku kuduk merinding. Yah film-film seperti itu malah bikin takhayul baru bagi sebagian masyarakat Indonesia yang emang dari sananya mememndam potensi untuk percaya pada takhayul

5. Kalau ciri yang sebelumnya merupakan sifat buruk semua, ciri kelima utama manusia Indonesia ini agak menyanjung dan bagusan dikit: manusia Indonesia adalah artistik.

Ini yang bikin saya bangga sebagai bagian dari Indonesia hingga kini. Batik yang sempat diklaim oleh Malaysia, Tari Pendet yang muncul dalam video komersil Malaysia, merupakan beberapa contoh bahwa Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat artistik. Tak heran jika Lubis menulis musik, seni tari, folkorenya menunjukan daya imaginasi yang sangat kaya dan subur, daya cipta yang amat besar. Proud to be Indonesian/

6. Ciri keenam manusia Indonesia adalah memiliki watak yang lemah. Karakter kurang kuat. Manusia Inonesia kurang kuat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah, apalagi jika dipaksa, dan demi untuk survive bersedia mengubah keyakinannya. Makanya kita dapat melihat gejala pelacuran intelektual amat mudah terjadi denga nmanusia Indonesia.

Hal ini menjadi perhatian utama bagi saya. Manusia Indonesia khususnya generasi muda sangat mudah menyerah terhadap penetrasi globalisasi. Hal ini membentuk kita menjadi generasi yang serba instan dan berorientasi pada hasil. Identitas kita sebagai manusia Indonesia bisa mulai digerus oleh kebudayaan barat dan k-pop yang sedang menjamur. Kita cenderung menangkap unsur pelemahan karakter dari kebudayaan luar. Misalnya, orang barat sangat berdedikasi pada pekerjaan dan berorientasi pada semangat pantang menyerah. Sebaliknya, kita hanya mencatut gaya hidup mereka. Pakaian. Makanan. Pergaulan. Saya juga pernah mendapat ceramah dari dosen tamu ibu Anni Iwasaki yang mengutarakan bahwa kelemahan bangsa Indonesia adalah mental achievement-nya yang begitu rendah. Orang Jepang senang menghabiskan akhir pekan di taman sambil membaca atau sekadar berjalan kaki untuk melepas penat. Di kita, akhir pekan jadi sarana hura-hura menggunakan kendaraan pribadi yang seringkali menyebabkan macet yang akhirnya malah bikin stres juga. Contoh lain, remaja di kita lebih senang pergi ke mal daripada ke perpustakaan. Contoh lain, kita malu dan malas menggunakan kendaraan umum untuk bepergian walau jarak yang ditempuh sangatlah dekat. Saya ingat punya seorang teman yang kos dekat kampus namun memilih menggunakan mobil untuk pergi ke kampus yang akhitnya malah memakan waktu yang lebih lama. Alasannya karena panas! padahal jalan kaki dari kosannya ke kampus hanya memakan waktu lima menit! http://www.emocutez.com

Keenam ciri Manusia Indonesia tersebut merupakan yang utama namun Lubis juga memberikan ciri-ciri lainnya seperti:
1. Manusia Indonesia tidak hemat
2. Manusia Indonesia menjadi kurang sabar
3. Manusia Indonesia juga cepat cemburu dan dengki terhadap orang lain yang dilihatnya lebih dari dia.
4. Manusia Indonesia juga dikatak manusia-sok
5. Manusia Indonesia juga manusia tukang tiru.
6. Manusia Indonesia cenderung bermalas-malas
7. Manusia Indonesia sebenarnya cukup logis
8. Manusia Indonesia memiliki kasih ibu dan kasih bapak pada anak-anaknya dan pula sebaliknya (ikatan keluarga yang mesra)
9. Manusia Indonesia pada dasarnya juga berhati lembut dan suka damai
10. Manusia Indonesia punya rasa humor yang cukup baik

Banyak lagi yang Lubis kemukakan mengenai ciri manusia Indonesia. Saya suka meneteskan air mata saat membaca bukunya. Dengan segala kekuarangan saya sebagai manusia Indonesia, saya tetap bangga. Mari kita bergegas berinterospeksi dan menjadi manusia Indonesia yang lebih bertanggungjawab. Buku yang sangat inspiratif!! nyesel kalo belum baca.