Friday, 27 July 2012

Peduli Bully


Bully: Id, Ego, dan Superego

Manusia, menurut Freud, memiliki trinitas dalam dirinya sendiri: id, ego, dan superego. Secara sederhana id merupakan aspek biologis dan merupakan sistem yang asli dalam kepribadian. Id merupakan realita psikis kita yang sebenarnya karena terputus dari dunia luar (dunia objek) tapi terhubung secara lekat dengan dunia batin manusia (dunia subjek). Freud menjelaskan bahwa id ini terdiri dari insting dan unsur-unsur biologis lainnya. Id juga yang pada dasarnya mendorong pergerakan ego dan superego. Pada id juga terletak self-defense mechanism yang alami. Id berfungsi sebagai eliminator atau peredam rasa tidak enak yang disebabkan oleh tegangan yang bertubi-tubi. Misalnya ketika kita kaget, kita secara refleks berteriak. Ketika udara agak kotor, kita secara alamiah bersin. Inilah cara yang dilakukan id agar kita terhindar dari ketidaknyamanan. Selain itu, ada pula proses primer. Contoh proses primer adalah seperti saat kita lapar, kita secara tidak sadar langsung membayangkan makanan untuk mengurangi rasa lapar. Contoh lain yang biasa diambil dari id adalah rasa lapar, haus, dan mengantuk.

Ego merupakan konektor antara dunia subjektif dengan dunia objek, antara dunia dalam diri dengan dunia luar. Ego sebenarnya berarti aku, untuk aku sendiri. Jadi saat orang bilang, “kamu egois banget sih!” Berarti orang itu sebenarnya memuji, “kamu itu ke-aku-an banget sih!”. Alasannya karena ego itu digunakan untuk adaptasi kepribadian kita dengan kepribadian sekitar kita baik itu ego orang lain maupun nilai-nilai kultural sekitar. Jadi saat kita mengikuti ego, sebenarnya kita mengikuti (sebagian) kata hati. Ego ini terdiri dari tiga: prasadar, sadar, dan tak sadar. Ego prasadar adalah ingatan. Contohnya kadang kala kita bisa mengingat seseorang sepanjang pekan hanya karena kita menyukainya atau kadang muka dosen yang galak selalu terbayang-bayang saat kita akan tidur. Itulah ingatan. Ego sadar dapat dicontohkan saat kita melakukan proses-proses intelektual, pemikiran spiritual, ataupun pencerapan lahiriah. Contohnya adalah saat kita belajar berlari, belajar makan, ego menginternalisasi proses yang kita lakukan ini karena kebutuhan jangka panjang. Misalnya saat kita dikejar anjing, kita (sudah) bisa berlari. Yang terakhir adalah ego tak sadar. Ego tak sadar berhubungan dnegan mekanisme pertahanan diri kepribadian kita. Kita tahu bahwa kepribadian adalah inti dari identitas kita dan tidak ada satupun manusia yang ingin kepribadiannya terluka. Kepribadian ini ragamnya sangat luas mulai dari harga diri hingga penilaian baik dan buruk. Nah, saat kepribadian kita terancam oleh disturban eksternal maka ego tak sadar bekerja melalui mekanisme pertahanan diri. Karena tugasnya adalah mempertahankan kepribadian diri kita sendiri dan menyesuaikan dengan dunia sekeliling, ego tak sadar tidak mengenal baik atau buruk. Ego ini tidak menginternalisasi nilai baik atau buruk menjadi bagian darinya. Ingat, ia hanya konektor, jembatan. Ia tidak tahu apa yang ia hubungkan atau jembatani. Sebenarnya ego memiliki fungsi yang mulia yaitu memecahkan pertentangan dengan kenyataan-kenyataan (dunia objek) dan juga mencari jalan keluar akan pertentangan yang terjadi karena ketidaksesuaian tersebut.

Ego tidak bisa dilepas dari pasangannya yaitu supergeo. Dalam superego ada proses internalisasi nilai-nilai sekitar. Kita mendapat pengetahuan mana yang baik dan mana yang buruk. Superego ini bertindak seperti polisi kepribadian. Ia melakukan larangan-larangan atau perintah-perintah yang berasal dari dunia luar melalui internalisasi tersebut. Superego tumbuh menjadi dasar hati nurani atau moral yang selalu bertentangan dengan ego kemudian diekspresikan melalui emosi-emosi. Superego juga biasanya disebut moralitas dan sopan santun. Contoh sederhana yang melibatkan ketiga saudara tersebut adalah seperti ini: Saya lapar (id). Saya ingin kraby patty. Tapi saya tidak punya uang sama sekali (pertentangan). Ah, coba minta mama. Mah, minta uang, sejuta buat beli kraby patty. Yah ternyata ga dikasih (pertentangan). Tapi saya lapar dan ingin sekali krabby patty. Aha, mama lagi keluar dan dompetnya ditinggal (kondisi). Ambil ajanya, sejuta doang kok (ego). Okay, ambil aja. Asik akhirnya bisa makan kraby patty. Eh tapi kok rasanya ga enak ya? Apa gara-gara ini uang hasil mencuri? Aduh gimana ya? Apa ngaku aja? Kasihan mama cari uang susah payah. Duh, nyesel deh (superego). Yaudah ntar bilang aja sama mama.

Itu contoh sederhana. Contoh lainnya adalah perasaan bersalah saat kita berbohong, menyakiti seseorang, atau selesai masturbasi. Catatan: Yang ngerasa ga bersalah berarti terlalu sering ngelakuinnya.




Ketiganya harus bersinergi agar kepribadian kita selamat dari lingkungan sekitat. Baik itu melalui adaptasi ataupun dengan eliminasi. Dalam kasus bullying yang marak dilakukan oleh senior terhadap junior, baik pelaku maupun korban sebenarnya memiliki peran dalam aktivitas yang dikutuk oleh banyak orang tua itu. Karena itu kita harus bisa melihat dari kedua pihak agar solusi yang efektif dan efisien bisa diterapkan. Jika melihat kerangka berpikir pelaku, mereka pasti berada di lingkungan pergaulan yang permisif, agresif,  dan juga abusif. Lingkungan ini menjadi pengaruh negatif bagi kepribadian pelaku. Karena pengaruh lingkungan pergaulan yang seperti itu terlalu dominan maka nilai-nilai yang diinternalisasi oleh pelaku menjadi berkurang. Superego yang bertindak seperti polisi moral mulai melemah. Hal ini bisa juga ditelisik dari pengaruh keluarga dan kerabat utamanya orang tua. Satu poin, ternyata ini bukan kesalahan pelaku semata. Ada andil orang tua juga di sini. Sebenarnya id yang dibutuhkan oleh kita selain makan dan minum adalah kasih sayang, rasa aman, dan pengakuan (coba googling Abraham Maslow, hierarchy of needs), terlebih anak yang dalam proses pembelajaran membutuhkan dukungan yang membangun. Saat lingkungan terdekat tidak bisa memberikan ketiga hal tersebut, pelaku akan mencoba mencari kekurangan psikologis yang didertianya. Hal ini berujung pada bergabungnya mereka dengan komunitas yang menerima mereka. 


Di sini ego mereka menonjol. Pelaku tidak menginternalisasi baik atau buruk, selama ia mendapatkan apa yang ia cari, itu menjadi lebih dari cukup. Belum lagi jika pelaku adalah mantan korban. Setidaknya ia pernah mengalami pembullyan juga. Nah gawatnya, hal ini bisa berujung pada dendam dan pelampiasan yang destruktif baik bagi kepribadian pelaku maupun korban. Pelaku yang merupakan mantan korban setelah menjadi senior merasa memegang kekuasaan dan bisa menikmati apa yang ia selama ini tidak bisa lakukan, menjadi pembully. Hal ini bisa menjadi siklikal. Siklus yang berulang tiada henti. Yang saya prihatinkan adalah ketika pendidikan kita yang katanya didasari pancasila tidak bisa menyoroti hal bullying ini. Guru hanya mengutamakan nilai material. Dapat seratus, kamu pintar. Begitu juga dengan pelajaran agama atau akhlak. Semuanya terlalu teoritis. Hapal 14 surat pendek, maka dapat 100. Tapi melihat teman sendiri diolok-olok (verbal abuse) , ia malah diam. Sebenarnya penghayatan dari nilai-nilai tersebut menjadi inti yang membuat kita (baca: siswa) humanis dan toleran. Supergo juga melemah di sini karena tidak ada nilai-nilai baik dan buruk yang nyata dan bisa diinternalisasi. Kemudian siswa yang tidak hebat dalam menghapal akan merasa jenuh dan jengah dengan hal-hal tersebut yang sifatnya definitif dan teoritis. Dengan begitu nilainya akan turun bahkan menjadi jelek. Saat itu terjadi, ia akan mendapat tekanan dari orang tua. Pokoknya mamah ga mau tau, nilai kamu harus di atas 80. Sedangkan orang tua sendiri tidak pernah mengikuti proses dan memahami belajar anak mereka. Mereka menginginkan hasil instan. Yah, Indonesia. Mengapa kebanyakan orang tua berpikir instan seperti itu? Karena saat mereka sekolah dulu, mereka juga mengalami hal yang sama. Mereka dipaksa juga untuk mendapatkan nilai yang bagus dengan sistem pendidikan yang mengutamakan nilai material bukan nilai moral. Alhasil mereka melimpahkan kekesalan (kegagalan) mereka pada anaknya. Niatnya sih baik, supaya tidak menyia-nyiakan kesempatan layaknya mereka namun sayangnya hal ini hanya menimbulkan tekanan yang mendorong anak ke jurang depresi dan stres. Mengerikan. Hal yang lebih mengerikan saat siswa tersebut mengalami pembullyan dan tidak tahu harus kepada siapa mengadu atau bercerita kemudian ia menemukan rekognisi dan eksistensinya di komunitas yang salah. Sebut geng motor atau geng vandalis lainnya.

Sayangnya, orang tua korban bully tidak melihat dampak yang mereka akibatkan hanya dengan menuntut pelaku untuk dijebloskan ke penjara atau dikeluarkan dari sekolah. Hal ini mungkin saja baik dan efektif untuk korban namun bagi pelaku tidak akan efisien. Pelaku tidak akan mendapatkan efek jera. Di Jawa Barat sekarang tidak ada pusat rehabilitasi anak-anak. Hanya ada di Tangerang. Itupun sudah penuh (tahun 2011). Maka anak-anak yang harus dimasukan ke pusat rehabilitasi digabung dengan penjara bagi dewasa. Mereka disetarakan dengan orang yang membunuh atau mencuri. Saat keluar dari penjara seperti, saya yakin anak-anak itu tidak akan jera. Yang ada mereka akan mencari komunitas lama yang sudah jelas menerima mereka apa adanya. Hal itu tidak jarang disebabkan oleh orang tua yang tidak acuh  dan kecewa. Sedih ya

Kelakuan mereka setelah tertangkap basah pun hanya cengengesan, tertawa, berbohong, berdalih ataupun mesem-mesem saja. Itu juga karena pihak sekolah ataupun orang tua menginterogasi mereka dengan setumpuk tuduhan dan pernyataan yang menyudutkan. Kamu ngbully anak saya, kamu harus masuk penjara, kamu harus keluar dari sekolah ini! Padahal masa depan yang lebih suram akan dimulai saat mereka masuk penjara. Maka dari itu self-defense mechanism mereka menyeruak dan menyuruh mereka berbuat seperti itu. Salah satunya adalah rasionalisasi. Ia akan berusaha membenarkan perlakuannya dengan berkata, "dulu juga saya dibully makanya saya ikut-ikutan ngbully."

Jika melihat posisi korban bully, selain luka fisik ia juga akan mendapat luka psikologis berupa trauma. Ketidakpercayaan diri, merasa rendah diri, tidak ada semangat, dan merasa lemah akan menjadi papan besar yang bertuliskan, “hey, aku lemah. Kalau dibully ga akan melawan.” Sikap keterbukaan dari orang tua dan kerabat dekat harus diterapkan kepada anak-anak khususnya menjadi korban bully. Jika tidak dideteksi secara dini, trauma ini akan mengendap dan menjadi persoalan yang lebih masif. Baik itu menjadi krisis identitas ataupun timbulnya dendan dan akhirnya menjadi psikopat. Terlebih jika korban berhasil direkrut dan naik tahta menjadi pelaku.

Apa yang bisa didapat dari celoteh saya ini? Bully terjadi bukan karena satu individu saja tapi karena sistem yang di dalamnya ada kita terlibat. Kita juga bisa berperan untuk mengurangi bully ataupun membiarkannya terjadi, tidak acuh


Peningkatan superego pada siswa bisa dilakukan dnegan memberikan nutrisi moral seperti keterbukaan, kedekatan, dan pemberian kasih sayang yang menjadi sangat penting bagi pertumbuhan psikologis siswa, dari sekolah dasar sekolah hingga menengah atas. Dalam diri mereka (dan kita) berlaku fase idolasasi. Mereka membutuhkan figur. Bukan yang ada di sinetron ataupun berita kriminal, korupsi, atau politik yang isinya membuat telinga panas. Figur ini bisa didapat dari orang tua dan guru. Oleh karena itu orang tua dan guru harus melimpahi mereka dengan ketulusan dan kasih sayang.

Kasih sayang ini bisa diberikan oleh keluarga, teman, ataupun guru dalam bentuk yang sederhana seperti perhatian. Guru juga harus benar-benar menanamkan nilai kasih sayang dan toleransi sehingga tidak mengutamakan nilai material saja. Guru bisa mulai dengan meningkatkan kesabaran pada siswa yang perangainya berbeda. Mengajarkan bahwa kekerasaan tidak akan menyelesaikan masalah. (Kecuali dalam perang, itu pun diatur dalam hukum humaniter dan konvensi Jenewa). Untuk persoalan yang terjadi antara pelaku dan korban dan menyeret pihak keluarga dan sekolah, harus ada pihak ketiga yang bisa memberikan mediasi. Mediasi ini diharapkan bisa mengaktivasi kembali hubungan pertemanan mereka, dengan saling memaafkan. Memang dibutuhkan jiwa yang ksatrian dan hati yang lapang dari korban. Pelaku juga harus meminta maaf dengan setulus hati. Jika mereka bisa saling memaafkan maka mereka bisa berdamai dengan masa lalu dan apa yang akan terjadi nanti.

Ingat, ego bertindak karena id. Id inilah yang harus kita identifikasi. Apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh anak-anak tersebut sehingga bertindak seperti itu. Bukan solusi temporer semata seperti masuk penjara, keluar dari sekolah, pengucilan, dan sebagainya. Kita identifikasi apa yang menjadi penyebab dia menjadi pelaku bully. Untuk tiap kasus, harus kita babat sampai akar supaya siklus yang sudah dijelaskan sebelumnya tidak terus bereinkarnasi dalam berbagai wujud siswa.

Ini menjadi krusial karena menyangkut kepribadian siswa yang terstrukturisasi oleh lembaga atau institusi pendidikan yang artinya kejadian seperti ini bisa terjadi di mana saja secara kontinu. Jika terjadi secara masif maka mental generasi penerus bangsa akan semakin mengalami dekandensi. Generasi penerus yang agresif, brutal, dan abusif? Mungkin kelemahan kita yang harus diakui adalah kurangnya cinta yang bisa dibagi, termasuk juga kesabaran dalam menghadapi dan memahami perasaan orang lain, eh, maksudnya perasaan pelaku dan korban bully.


Saturday, 21 July 2012

Pentingnya Tanggal Penting

"Sekarang tanggal berapa sih?"

Pertanyaan sederhana itu acapkali terlontar dari mulut saya, mungkin mulut kamu juga. Entah menderita hipomnesia atau sekedar lupa, entah sibuknya nyata atau mengklaim banyak urusan semata. Tapi sungguh saya tidak berhubungan baik dengan tanggal kecuali tanggal lahir sendiri.

Ibu saya suka iseng nanya, "de, ulang tahun iyang (adik pertama) itu kapan?" saya jawab dalam hati, gak tau.

Terus, sahabat saya suka nanya, "Eh si Alti (sahabat) ulang tahun tuh, udah ngucapin belum?" saya jawab lagi dalam hati, belum. Seakan bisa baca hati, sahabat saya itu ngrespon, "parah banget lu! Ulang tahun sahabat sendiri aja lupa."

Pertama digituin agak jleb. Kedua, udah mulai biasa. Ketiga udah biasa, dan selanjutnya udah imun aja. Tapi akhir-akhir ini saya mikir lagi, sebenarnya kenapa saya ga bisa hapal tanggal yang berhubungan dengan orang-orang penting dalam hidup saya. Saya lupa tanggal lahir orang tua, saudara, sahabat, pacar, mantan pacar, dan kadang hari lahir sendiri. Masih mending kalau lupa tanggal atau bulan atau tahunnya aja tapi -ya emang parah sih- saya lupa ketiganya.

Demn, i might suffer Dementia, no!!

Dan kalau ditanya kenapa ga bisa ingat, saya cuma mesem-mesem aja. Toh kalau saya jelasin juga mereka pasti ngira saya alasan doang. Jadi biar saya berargumen di sini mengapa saya susah hapal tanggal penting.

Pertama, saya sebenarnya ga mau nginget tanggal karena saya suka tersesat dalam jelajah waktu diri saya dan orang lain. Misal, saat saya hapal tanggal ulang tahun sahabat saya 10 Juli 1990 (entah ulang tahun siapa itu), saya dipaksa untuk mengingat tanggal 10 dan secara alamiah, alam bawah sadar saya akan terus mengelu-elukan namanya saat tanggal sepuluh tiba di setiap orangnya. Dan bakal ada pergolakan batin di otak saya. Bayangkan jika ada sepuluh orang di tanggal yang sama selama tigapuluh. Ah, pain in the ass!

Kedua, saya alergi seafood. Saya juga alergi tanggal. Kalau ada tanggal ulang tahun yang berhasil saya hapal berarti saya lagi kena alergi. Sistem imun tubuh saya lagi rusak jadi saya bisa nginget that person's particular (birth) date. Tapi bukan berarti saya ga nghargain semua orang yang penting dalam hidup saya. Saya siap siaga 24 jam 7 hari kalau ada sahabat yang butuh saya. Tapi ya itulah manusia, rekognisi dan selebrasi hari lahir lebih penting dari pemaknaan eksistensi diri.



Published with Blogger-droid v2.0.1

Monday, 2 July 2012

Inggit dan Happy Salma: Sama-sama 'Menggigit'

Mengenal Inggit Ganarsih melalui Monolog Inggit



"Kalau Kusno berani mengatakan 'tidak' pada kolonialisme, mengapa aku mesti tidak berani mengucapkan kata yang sama padanya ketika dia ingin menjadikan perempuan sebagai koloni lelaki? Seperti tanah air yang dibelanya, aku bukanlah koloni."


Siapa tak kenal Soekarno? Seorang pria yang paling berwibawa di Indonesia. Seorang bapak Proklamator. Seorang Pejuang Kemerdekaan. 

Siapa yang mengenal Inggit? Seorang wanita yang tersia-siakan. Seorang wanita yang ikhlas menerima jalan takdirnya. Seorang wanita yang pernah menjadi tulang punggung hidup Seokarno, dilupakan dunia dan menepi dari sejarah..


Tiga minggu lalu tepatnya 1 Juni 2012 lalu saya menonton monolog Inggit yang dilakoni oleh Happy Salma di Selasar Sunaryo Bandung. Sebelumnya saya hanya mengenal Inggit Ganarsih melalui cerita sejarah Soekarno. Ia adalah istri Soekarno. Kebanyakan dari kita pasti pada awalnya mengenal Inggit sebatas itu karena buku-buku sejarah umum tidak banyak mengungkapkan eksistensi Inggit.Suatu pengalaman dan penghormatan besar bagi saya diundang menonton monolog tersebut sehingga saya sendiri bisa mengapresiasi Inggit lebih tinggi lagi. Sebelum mereview monolognya, saya ingin bercerita sekelumit tentang Inggit.

Inggit Ganarsih adalah mojang kabupaten Bandung yang lahir di Desa Kamasan Banjaran pada 17 Februari 1888. Ia dibesarkan di Bandung karena saat kecil ia dan keluarganya pindah ke Bandung. Inggit tumbuh menjadi gadis berparas cantik. Banyak lelaki yang terpesona oleh kecantikannya dan membuat mereka menyayanginya. Mereka seringkali menunjukan perasaannya dengan memberikan berbagai hadiah dan uang sehingga Inggit mendapat julukan 'Saringgit' atau seringgit yang sehomonim dengan namanya, Inggit. Sebelum menikahi Soekarno, Inggit pernah dua kali menikah yaitu pertama dengan Kopral Residen Nataatmadja dan kedua dengan H. Sanusi. Setelah menikahi Soekarno, Inggit menjadi istri yang mengabdi kepada suaminya. Namun begitu, pengabdian itu belumlah cukup bagi Soekarno. Pada 1982 Inggit dan Soekarno bercerai. Inggit memilih perceraian daripada dimadu karena Soekarno ingin sekali memiliki keturunan sedangkan Inggit tidak bisa memberikannya. Kemudian pada 13 April 1984, Inggit meninggal di Bandung dan dimakamkan di pemakaman umum Babakan Ciparay.

Ada monolog Inggit yang berdurasi lebih dari dua jam ini, Happy Salma melakoni Inggit dengan stamina yang luar biasa. Ia tidak beristirahat ataupun melihat teks. Penghayatannya terhadap karakter Inggit bisa saya rasakan dari intonasi, gesture, mimik, atau interpretasi kalimat-kalimat monolognya sendiri. Naskahnya ditulis oleh Ahda Imran yang diinterpretasikan dari Kuantar Kau ke Gerbang karya Ramadhan K. H.  Monolog ini disutradarai oleh sutradara terkenal Wawan Sofwan. Dalam dua jam lebih itu, Happy Salma menarik saya dan penonton ke dalam kesenyapan seorang pejuang wanita di ranah domestik. Ditambah dengan backsound yang sederhana namun tetap pas dengan emosi yang dikeluarkan oleh Happy Salma. Ada suara kecapi dan Sinden yang sesekali bernyanyi. Setting yang dibuat secara minimalis namun didukung dengan pencahayaan yang tepat mengoptimalkan penampilan Happy Salma dan tetap menjadi pusat perhatian sampai acara selesai. Sayang saat itu ada beberapa penonton yang telat datang sehingga mengganggu penampilan Happy Salma. Selain itu, mereka yang telat juga beberapa kali menimbulkan kebisingan, handphone mereka beberapa kali bunyi dan satu di antara mereka menerima telepon di tengah-tengah acara. Hal itu sangat menganggu kekhidmatan acara. Dan lebih disayangkan lagi, saat panitia berkata kepada saya bahwa mereka adalah keluarga (keturunan anak angkat) dari Inggit Ganarsih. Secara kesuluruhan monolog ini saya nilai sembilan dari sepuluh.

Dari segi konten, saya benar-benar takjub. Inggit Ganarsih yang sebelumnya saya kenal hanyalah seorang istri biasa namun dalam monolog ini terungkapkan bahwa ia adalah wanita luar biasa. Saat Soekarno dipenjara di Suka Miskin, Inggit rela berjalan kaki menempuh lima kilometer untuk menegok Soekarno. Soekarno, yang kerap disebut Engkus oleh Inggit, pun meminta Inggit untuk memberi uang kepada penjaga di penjara. Selain itu, Soekarno pun kerap meminta Inggit untuk menyelundupkan buku-buku bacaan ke dalam selnya. Untuk melakukan hal itu, Inggit harus puasa dahulu beberapa hari sebelumnya sehingga perutnya cukup kecil untuk menyelipkan satu atau dua buah buku di dalam sampingnya. Saya juga baru tahu bahwa selama menikah dengan Soekarno, Inggitlah yang banyak mengeluarkan uang untuk biaya hidup mereka berdua terlebih untuk keperluan Soekarno. Inggit tidak protes saat Soekarno berpidato dari satu mimbar ke mimbar lainnya. Soekarno hampir menyerah dengan meminta maaf pada pemerintah kolonial jika tidak dilarang dan dikuatkan oleh Inggit dengan berkata tidak. Saat Soekarno yang dipanggil Inggit dengan panggilan sayang 'Engkus' diasingkan ke Ende Flores, Inggit tetap setia menemani. Ia menjual rumah dan harta bendanya. Di Ende, Soekarno pun bosan dengan kegiatan yang hanya bercocok tanam saja. Ia kemudian meminjam uang kepada Inggit untuk mengadakan pagelaran teater dengan pemain dari penduduk lokal. Setelah pagelaran teater itu usai, Inggit menyadari bahwa Soekarno lagi-lagi bosan. Bahkan Soekarno sempat jatuh sakit. Inggit tahu bahwa gairah Soekarno berada di dalam ranah politik. Ia mengetahui bahwa Soekarno adalah macan mimbar yang pidatonya selalu dielu-elukan oleh rakyat. Oleh karena itu Inggit berusaha mendorong Soekarno agar tetap membaca buku-buku politik atau agama. Iapun tetap memberikan harapan kepada Soekarno bahwa mereka pasti akan pulang ke pulau Jawa. 

Inggit tidak pernah bisa menjadi seorang ibu. Soekarno dan Inggit mengadopsi dua orang anak bernama Ratna Djuami dan Kartika. Namun begitu, Soekarno tidak puas. Ia menginginkan keturunan darah dagingnya dari seorang gadis bernama Fathima. Saat Soekarno meminta Inggit untuk dimadu, Inggit dengan tegas menjawab tidak. Dari situlah hubungan keduanya mulai dingin sampai akhirnya mereka memutuskan untuk bercerai. Saat pulang ke pulau Jawa, Soekarno dikisahkan kembali membakar semangat rakyat melalui pidatonya sedangkan Inggit menjadi ketua paguyuban istri. Setelah perceraiannya, Inggit tinggal bersama kedua anak angkatnya dan kembali meracik dan menjual jamu dan bedak. Ia tidak pernah menyimpan dendam kesumat ataupun sakit hati kepada Soekarno. Ia berlapang dada dan menerima jalan takdirnya. 

Sesuai dengan peribahasa, behind every great man there is a great woman.

Dari sudut pandang feminisme, Inggit  memiliki kesadaran akan hak-haknya sebagai perempuan. Ia memiliki kekuatan dalam ranah domestik dan juga publik. Dalam ranah domestik ia tidak berperan sebagai ibu namun juga tulang punggung keluarga sebagaimana diakui oleh Soekarno. Dalam ranah publik, ia berperan sebagai motivator Soekarno yang tangguh dan tegar. Kedua ini merupakan kualitas-kualitas yang seharusnya dimiliki oleh seorang maskulin. Inggit mungkin tidak mengenal apa itu feminisme namun dengan mengatakan tidak terhadap permintaan Soekarno untuk dimadu, Inggit telah berhasil meloloskan diri dari jerat sistem patriarkal. Inggit menolak untuk dijadikan perempuan yang dianggap memiliki kualitas seperti mudah diatur, manut, dan juga lemah. Meskipun ia harus berpisah dari Soekarno, ia masih bisa berdiri sendiri. Tidak terkungkung oleh kalimat-kalimat manis yang terlontar dari mulut Soekarno. Perjuangan seperti ini yang menurut saya harus diteladani oleh  perempuan sekarang. Ketergantungan mereka terhadap lelaki (suaminya) menjadikan mereka semakin rapuh. Dengan adanya sistem patriarki, semakin perempuan bergantung pada lelaki maka semakin mudah lelaki untuk mengontrol mereka. 


 Beberapa cuplikan adegannya:

Happy Salma menjiwai Inggit




"Engkus..."

Inggit yang patah hati karena dimadu Soekarno


"Tidak, ceraikan aku dulu jika kau mau menikahi Fathima"

berhasil foto bareng :D



Sebenarnya asumsi saya adalah bahwa kesedihan Inggit yang terbesar tidak bisa memberikan Soekarno keturunan telah digantikan dengan usahanya untuk mendukung Soekarno dengan segala daya dan upaya yang Inggit bisa lakukan. Di Bandung, nama Inggit diabadikabn menjadi nama jalan (sebelumnya jalan Ciateul). Di Jalan Ciateul no. 8 berdiri sebuah rumah yang pernah ditempati Inggit Ganarsih dan Soekarno yang masih kuliah di Technische Hoogeschool (ITB). Kita diperboleh masuk dan berkunjung ke sana.


Tentunya generasi putri bangsa ini akan menjadi lebih tangguh jika mereka menginsafi nilai-nilai dalam perjuangan Inggit, daripada mereka mengelu-elukan artis-artis Korea. Inggit, ia benar-benar mundur dari gemerlap panggung sejarah sebagai wanita kuat yang menopang seorang Soekarno.


Sekilas Info





"Lama tidak jumpa bukan berarti aku lupa."





Apa kabar dunia? tetep asyik. tetep eksis. tetep gaul. semoga kalian semua dillimpahi keasyikan, keeksisan, dan kegaulan. saya? alhamdulillah dalam keadaan sehat walafiat cuma lagi males aja.
kamu?
semoga lebih baik. 

Terakhir kali ada hasrat ngblog itu sekitar tiga minggu lalu waktu saya pengen banget nulis review tentang monolog Inggit yang dilakoni Happy Salma tapi keburu males dan akhirnya ga jadi. Setelah postingan ini, saya pasti tulis tentang review itu. Sekarang saya pengen mereview hidup saya selama tiga minggu ke belakang. Saya baru sadar kalau sekarang tanggal 1 Juli. Sudah bulan baru tapi saya belum juga nulis apapun. Sudah bulan ke tujuh dan saya belum juga mengevaluasi tengah tahun resolusi 2012. Serius, sebelumnya saya susah payah untuk nulis (baca: curhat) tapi ga keluar apapun. Sekarang malah ada stamina untuk nulis. Emang semuanya itu ada waktunya. Ga mungkin juga kita pup kalo belum waktunya, contoh.


Okay, saya awali dengan karir. Setelah berbulan-bulan lalu, yang terasa berabad, saya akhirnya mendapat dua buah pekerjaan Yang satu menjadi asisten manajer humas di salah satu hotel bintang lima di Denpasar dan satunya lagi menjadi staf ODP di salah satu bank dengan total aset terbesar di Indonesia. Pekerjaan pertama gugur karena saya gak dapat restu dari orang tua. Pekerjaan kedua yang benar-benar diharapkan oleh saya dan orang tua. Tahap demi tahap saya lalu hingga tahap terakhir yaitu wawancara direksi. Kebingungan muncul ketika saya diberitahukan lolos seleksi beasiswa magister. Orang tua sih pengennya saya kerja dan bantu mereka dan adik-adik. Tapi saya sendiri lebih pengen sekolah lagi. Saya seneng kuliah, seneng banget neliti sesuatu, ngerjain tugas ampe subuh, presentasi sampe mulut berbusa, tidur di perpustakaan, diskusi sampe tengah malam, atau ngelamun di akhir pekan. Oke, yang terakhir curcol. Ya intinya saya ngerasa untuk menggapai cita-cita saya, saya masih harus memperdalam ilmu saya. Oh ya cita-cita saya menyebarkan perdamaian ke seantero galaksi bima sakti. Oke, itu ngarang. Orang tua saya agak ragu dengan keputusan saya. Mereka sering ngomong, "kamu ga capek apa kuliah terus?" atau "dari dulu kamu belajar terus, kapan nuai hasilnya?". Saya diem aja sih soalnya itu pertanyaan retoris buat mereka sendiri. Mudah-mudahan mereka sadar. 

Kalau ditanya capek, ya hidup itu emang capek. Kalo ga mau capek, ya jangan hidup. Pertimbangan orang tua sih lebih ke gimana saya bakal menghidupi keseharian saya nanti. Beasiswa saya ini beasiswa dual degree. Satu tahun di Indonesia, satu tahun berikutnya di Belanda. Untuk di Indonesia, saya gak dikasih living cost yang besar jadi perlu pekerjaan sampingan karena orang tua emang udah ga bantu banyak lagi dari saya kuliah dulu. Saya sih ga masalah. Dulu waktu kuliah aja saya sering banget kuliah sambil kerja. Tinggal tawakal semoga Tuhan ngasih saya kekuatan yang lebih dahsyat untuk ngadepin semuanya. Akhirnya dengan segala risiko dan konsekuensinya, saya memilih untuk sekolah lagi. Mudah-mudahan bisa terus berkarya dan berguna. Semoga orang tua saya juga bisa ikhlas dan sabar. Aaaamiin

Selanjutnya kesehatan. Kalau kesehatan jasmani sih sehat-sehat aja tapi kalau kesehatan rohani, hem, butuh pemeriksaan lanjutan kayaknya eh iya, mata kanan saya nambah minusnya. Dulu mata kanan minus satu, mata kiri minus setengah. Tapi merasa masih bisa melihat dengan jelas tanpa kacamata akhirnya saya jarang pake kacamata. Malah waktu medical check-up kerja mata saya dibilang ada silindrisnya. Dulu sih sering pake lensa kontak tapi ribet. Yah efeknya sih ni minus malah nambah. Ngefek ke kelakuan juga kayaknya. Pftttt!

Terus percintaan. Skip aja deh, daripada malah bikin kamu iri . 

Nah terus yang berikutnya tentang evaluasi tengah tahun resolusi 2012. Seperti yang sudah-sudah, saya emang hobi bikin resolusi di tiap tahun. Meskipun enggak terwujud semua, saya ga sedih. Sebenernya resolusi itu penting ga ? menurut saya sih penting karena resolusi ibarat doa yang kita pinta melalui usaha. Resolusi bikin kita gak lupa apa yang sebenernya kita pengen. Resolusi menurut KBBI edisi 4 adalah pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan ttg suatu hal. Om wikipedia bilang, 


Resolution is a commitment that a person makes to one or more personal goals, projects, or the reforming of a habit. A key element to a New Year's Resolution that sets it apart from other resolutions is that it is made in anticipation of the New Year and new beginnings.

Untuk mewujud atau ga, itu urusan Tuhan. Nah sayangnya resolusi yang ga kewujud akhirnya jadi utang di tahun berikutnya. Utang-utang ini numpuk dan mendesak minta diwujudkan. Biasanya saya bikin resolusi dengan jumlah sepengennya aja tapi di tahun 2011 saya ga sadar kalau ternyata saya bikin sebelas resolusi baru. Tapi sayangnya untuk tahun 2012 saya udah terlanjur nulis enam belas poin resolusi, tanpa saya sadari.



Resolusi 2012

Untuk tahun ini, baru dua poin yang saya wujudin. Wah masih harus kejar setoran. Belum lagi utang-utang dari tahun-tahun sebelumnya. Yeah, i am so challenged! Fokus utama sih semoga bisa beresin novel taun ini. Aamiiin. Oh ya, jangan tanya itu apa yang naik sapu terbang. Oh ya, jangan tanya juga kenapa udah ngelamun sampe tahun 2020. Alam bawah sadar yang nulis, jadi tanya tangan dan spidol aja yang bikin goresan-goresan futuristik itu.


Nah kalau mau liat resolusi 2010 dan 2011, ini ada di bawah: 



Resolusi 2010 dan 2011


Bisa diliat, banyak banget yang belum terwujud dari tahun-tahun sebelumnya. Tapi gapapa, yang penting udah berusaha. Sebenernya hobi bikin  resolusi ada bagusnya juga: bikin kita termotivasi dan terbiasa bekerja dengan target. Jadi kalo suatu saat diwawancara soal pekerjaan, udah bisa jawab kan ? "saya terbiasa bekerja dengan target. (karena saya suka bikin resolusi yang nargetin saya untuk ngwujudin satu poin dari seratus poin, ha!). Selain itu keuntungan bikin resolusi adalah kita dilatih jadi orang yang bertanggung jawab, reflektif, dan evaluatif. Kita juga dilatih jadi orang yang teratur dan terarah. Eh tapi bikin resolusi juga ada jeleknya. Orang yang gampang stres bakal ngamuk-ngamuk kalau resolusinya kagak kewujud. Ada beberapa saran yang bakal berguna banget buat kamu yang pengen mengubah hidup menjadi lebih menarik (baca:ribet) dengan menulis resolusi:


1. Bikin resolusi dengan poin-poin yang sederhana tapi bermakna. Tahun 2007, saya pernah nulis resolusi 'ngdate sama Aishwarya Ray' dan sampe sekarang belum terwujud. Bikin nyesek dan makan ati. Jangan bikin resolusi semisal 'mensejahterakan rakyat Indonesia'. Terdengar mulia tapi bakal sia-sia. Resolusi itu perubahan dari dan untuk diri sendiri. Jadi mending bikin yang gampang diraih aja semacam, 'makan baso seminggu sekali' atau yang agak menantang, 'turun berat badan lima kilo'.

2. Bikin resolusi di awal tahun. Hal ini untuk memotivasi kita dalam berkarya. Resolusi dibuat dengan perhitungan tahun syamsiah/masehi. Awalnya satu Januari akhirnya tigapuluh satu Januari. Intinya kita harus punya waktu satu tahun untuk mewujudkan resolusi kita, kalo dibuat tengah tahun waktu kita untuk ngewujudinnya bakal sedikit.
3. Jangan banyak-banyak bikin poin, lima sampai tujuh udah cukup. Mending sedikit tapi terwujud tapi jangan cuma satu doang sih.
4. Hobi bikin resolusi ini lebih bagus lagi kalo digabung dengan hobi bikin mading atau gambar-gambaran. Semakin atraktif, semakin kita termotivasi untuk mewujudkannya. Jadi yang waktu SMA-nya anak mading banget pasti kreasi resolusinya lebih bagus dari selembar kertas ha'pi'es.
5. Evaluasi per enam bulan dan 12 bulan. Evaluasi untuk melihat sejauh mana kita udah konsisten. Atau seberapa banyak poin resolusi yang udah kita wujudkan. Terus di evaluasi akhir saat malam pergantian tahun, resolusinya boleh dibawa untuk bikin malam taun baru mood lebih gloomy dan galau.
6. Ga boleh koreksi resolusi! saat udah nulis resolusi, baca berulang-ulang, setelah dirasa cocok baru bulatkan tekad. Ga boleh, misalnya, bulan kedua nulis 'berat badan turun lima kilo' tapi bulan ke delapan diganti jadi  'berat badan turu 0,5 kilo'.  There's no turning back.
7. Terakhir, kesuksesan resolusi bakal dipengaruhi juga dengan orang-orang sekitar yang terlibat. Seperti quotenya Frank Ra, penulis buku terkenal A Course in Happines, 
"Resolutions are more sustainable when shared, both in terms of with whom you share the benefits of your resolution, and with whom you share the path of maintaining your resolution. Peer-support makes a difference in success rate with new year's resolutions."



Nah, jadi konklusi dari postingan saya kali ini adalah:



Semua itu ada waktunya. Bahkan kita ga bisa pup sebelum waktunya.