Wednesday, 29 August 2012

Lebaran Kali Ini

Bagi banyak orang Ramadhan memang menuai banyak kenangan dan kebahagiaan. Ramadhan yang dari tahun ke tahun secara kultural diasosiasikan dengan barang-barang baru seperti baju dan sepatu ini memberikan cerita yang berbeda bagi saya tahun ini.

Saya mengalami cerita yang berbeda pada bulan puasa kali ini, Ramadhan 1433. Tiap umur bertambah (atau malah berkurang) saya sadar suasana bulan puasa pun berubah. Karena saya sekolah di semacam madrasah, saya terlibat dalam banyak kegiatan religi di sekolah sejak kecil. Bulan puasa pun digenjot dengan mengintensifikasikan kegiatan-kegiatan pesantren kilat, pengajian bersama, lomba adzan, lomba baca al-qur'an dan lomba menghapal surat pendek/hadits. Saya senang dengan kegiatan tersebut karena selain menambah pahala (dulu diimingi-imingin berlipat sampai tujuh kali), puasa pun jadi tidak terasa aka ngabuburit. Dan kegembiraan tersebut berlangsung hingga malam: tetap meriah. Dengan adanya buku kegiatan Ramadhan, saya dan teman-teman merasa bertanggung jawab untuk mendokumentasikan ceramah tarawih dan kuliah subuh. Setelah tarawih kami sering kali jajan baso atau cilok dekat mesjid sambil main petasan. Dan ketika nuzulul qur'an, saya dan teman-teman berbondong-bondong datang ke mesjid. Baik untuk sholat malam maupun itikaf. Hal seperti itu yang melekat dalam ingatan saya. Perasaan menyenangkan seperti itu hinggap hingga saya duduk di bangku SMA. 

Dan saat kuliah, perasaan tersebut berangsur memudar. Tidak ada lagi buku agenda Ramadhan yang harus diisi, ini kali pertama saya merasa terbebaskan dari aturan seperti itu. Di sisi lain saya juga merasa ada keprihatinan terhadap diri saya sendiri karena tidak ada 'buku' yang harus saya isi. Beberapa hari pertama puasa, saya masih sempat sholat tarawih di mesjid namun hari-hari berikutnya sangat sulit untuk sholat tarawih di mesjid. Hal itu tersita oleh pengerjaan tugas kuliah yang menumpuk. Saya harus pulang malam karena kegiatan kampus ditambah karena kampus saya di Jatinangor yang lumayan memakan waktu. Setelah itu, itikaf pun berkurang dan tergantikan oleh buka bareng (bukbar) dengan teman-teman kuliah (ada teman-teman BEM, HIMA, UKM), teman-teman SMA (ada teman-teman OSIS, Teater, Kelas IPA), teman-teman SMP dan SD, teman main, teman komunitas, dan sahabat-sahabat tercinta. Fuh
  
Kesibukan itu tidak berkurang saat saya dan keluarga pindah ke Cimahi pada akhir tahun 2009 sehingga saat bulan puasa tiba, tidak ada lagi atmosfir masa kecil saya yang menaungi saya. Tapi tenang, saya masih merasa tenteram karena ada sahabat-sahabat saya yang masih bisa diajak buka bareng. Hal yang seperti itu benar-benar memengaruhi kondisi psikologi saya dalam menjalani bulan puasa. Saya sering mengalami momen "loh ini udah hari ke dua puluh ya?" padahal saya masih merasa hari dua puasa.

Pada tahun 2010 hal yang benar-benar membuat saya sedih terjadi. Nenek saya meninggal. Saat itu seminggu sebelum puasa, beliau sudah tidak bisa bergerak lagi dari kasur. Makan dan mandipun harus dilbantu oleh alat dan orang lain. Sebelum memasuki bulan puasa, nenek masih sehat bugar dan berniat untuk ikut puasa. Puasa tahun lalu, nenek juga berpuasa dan berhasil tamat. Karena itu beliau terdorong untuk melakukannya lagi. Namun sayang, beberapa hari pertama puasa nenek terpeleset di kamar mandi. Kepalanya mengalami memar ringan. Karena itulah kesehatannya mulai menurun drastis. Awalnya tidak bisa bergerak, disusul oleh tidak bisa bicara. Ia hanya bisa mengangguk dan menggeleng. Saya merasa sedih melihat kondisinya seperti itu. Seminggu sebelum lebaran, nenek sudah tidak mau makan ataupun minum. Ia juga tidak mau dibawa ke rumah sakit. Akhirnya ia dirawat jalan, menggunakan infus. Bapak meminta kami sekeluarga untuk minta maaf kepada nenek dan menjaganya bergantian. Iapun mengabari adik-adiknya. Adik-adik bapak bergegas datang ke Bandung. Yang satu tinggal di Tegal, satunya lagi di Malang. Sehari setelahnya, adik papa yang pertama dan keluarganya datang untuk menjenguk.  Satu hari sebelum lebaran, si bungsu dan keluarganya belum juga datang. Mereka terjebak macet. Kondisi nenek pun tidak menunjukan perubahan apapun. Hanya desah napasnya yang terdengar. Akhirnya adik papa itu datang saat fajar tiba menjelang sholat Id. Mereka agak kelelahan jadi hanya menengok nenek dari belakang pintu kemudian bergegas mandi untuk sholat Id di mesjid. Setelah sholat id, si bungsu dan keluarganya memohon maaf kepada nenek yang sedang berbaring tak berdaya. Kemudian mereka bergabung bersama kami di ruang tamu. Saat sedang bercengkrama di ruang tamu, ibu mengecek keadaan nenek. Dan saat itu mama menjerit sambil menangis, sontak saya pun bergegas ke kamar. Ternyata nenek sudah mengembuskan napas terakhirnya setelah bertemu ketiga anaknya. 

Beliau adalah sosok yang dekat dengan saya. Perannya seperti ibu. Dari kecil, beliau yang mengasuh saya ketika ibu dan bapak sedang kerja. Saya senang berada di dekat beliau. Saya ingat sebelum tidur, beliau senang menceritakan kampung halamannya dulu, Panjalu. Betapa senang ia pernah tinggal di sana. Saya juga senang tertidur di sampingnya sambil mendengarkannya membaca al-qur'an atau sekadar wirid. Menjelang dewasa tidak heran saya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan nenek. Kepergian nenek saat lebaran membuat perasaan saya bercampur aduk. Di hari yang fitri itu, saya bersyukur nenek bisa kembali ke pangkuan-Nya dengan tenang. Namun ada duka yang mendalam buat saya. Saya kehilangan salah satu booster dalam hidup saya. Setiap lebaran tiba, pasti ada selapis tipis perasaan sedih di mata saya. Ada perasaan kesal dan sesal yang membuat dada saya sesak. 

Saya belum bisa membanggakan nenek saya. Saya belum sempat wisuda dan foto studio dengan beliau. Saya belum bisa .......

Sebelum sidang sarjana pada 12 Januari 2012, saya sudah berniat untuk mengunjungi makam nenek di Panjalu. Namun karena berbagai macam kendala, akhirnya baru kesampaian setelah lebaran tahun ini tepatnya H+2 setelah lebaran.  Saat tiba di makam, air mata tak sanggup saya bendung dan berjatuhan di nisan beliau. Seraya menghaturkan doa dan membaca yassin, saya bercerita banyak tentang apa yang beliau lewatkan. Bercerita bagaimana saya bertemu banyak orang yang menyayangi saya, bagaimana saya terjatuh berulang kali dan mencoba berdiri lagi. Saya juga menceritakan bagaimana momen Ramadhan tahun ini tidak bisa saya genggam. Iya, saya kuliah, kadang sambil kerja. Padahal sebenarnya saya bisa mencuri waktu untuk tetap tarawih dan itikaf. Meski samar, muncul ingatan saat nenek pulang dari mesjid selesai tarawih dan memarahi saya yang waktu kecil sering berisik di mesjid. 



Semoga saya menjadi anak (cucu) yang soleh yang memberikan manfaat bagi orang banyak dan menjadi pahala yang tak putus bagi mu. Amin. 

Al-fatihah.

Monday, 20 August 2012

Kita (Manusia) dan Lingkungan

Ternyata postingan terakhir saya menuai respon dari seorang teman yang ia ejawantahkan ke dalam sebuah tulisan yang berjudul Korelasi antara Praktek Kanibalisme terhadap Langkanya Jumlah Pohon di Dunia. Penulis menjawab pertanyaan yang saya posting sebelumnya melalui kerangka berpikirnya sendiri. Judul postingannya  mungkin agak vulgar tapi santai, tidak ada deskripsi gore atau horror di dalamnya. Ia mendeskripsikan proses kanibalisme yang mungkin terjadi akibat degradasi lingkungan. Di akhir tulisannya ia menyajikan pertanyaan yang menggelitik untuk dijawab. Pertanyaan tersebut adalah:

Apakah dalam situasi seperti ini 7 miliar manusia kemudian akan berdoa berharap suatu keajaiban? Atau berusaha realistis, dengan menjadi kanibal untuk dapat bertahan?

Berpijak dari permasalahan lingkungan yang terjadi, intervensi manusia sangat memengaruhi kualitas lingkungan dan daya dukung lingkungan. Intervensi itu menjadi salah satu faktor yang kadang muncul dalam permasalahan lingkungan. Contoh sederhana adalah pengolahan minyak bumi (SDA) menjadi bbm yang kemudian menimbulkan polusi. Di sisi lain kita berusaha keras untuk mewujudkan daya dukung lingkungan yang berkelanjutan sehingga anak cucu kita nanti masih bisa hidup meskipun pembangunan tetap digenjot. Dengan pembangunan yang begitu mengedepankan modernisasi dan pasar bukan mustahil apa yang dibayangkan oleh teman saya menjadi kenyataan di masa yang akan datang, manusia saling makan-memakan untuk bertahan hidup. Tidak usah menunggu lama karena banyak penelitian  lingkungan telah menunjukan tanda-tanda bahwa bumi memang dalam keadaan krisis. Ada lebih dari tujuh milyar orang yang ada di bumi, berdesak-desakan mencari penghidupan. Hal ini menimbulkan lonjakan footprint. Dan hal ini merupakan salah satu faktor penyebab iklim suhu di bumi meningkat empat derajat celcius. Hal ini beriringan dengan ancaman kepunahan satu juta spesies pada penghujun tahun 2050 karena perubahan iklim. Apakah isu lingkungan ini baru terjadi sehingga masyarakat mengampanyekan slogan go green ? Kita bisa mundur sepuluh tahun untuk melihat bahwa hanya sepertiga lahan yang tersisa yang bisa dijadikan habitat makhluk hidup lainnya selain manusia akibat konversi lahan yang terjadi karena revolusi. Atau kita bisa mundur lebih jauh, pada tahun 1872 Robert Angus Smith mengemukakan fenomena hujan asam dan bahayanya namun baru ditanggapi seratus tahun kemudian. Yak, sama seperti pembersihan nama Sokrates oleh pengadilan Yunani (saat itu Sokrates dihukum mati karena dituduh telah mencemari masyarakat dengan ide dan etikanya), Smith harus merasakan diabaikan oleh masyarakat meskipun ia tidak disuruh minum racun karenanya. Apa yang bisa kita ambil dari pengalaman kedua orang penting itu? bahwa kita, manusia, adalah makhluk yang bebal dan abai. Bumi telah memberikan tanda melalui mekanisme alamiahnya agar kita sadar. Namun butuh tamparan yang sangat perih bagi kita untuk mahfum bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi. Masyarakat kita saat ini sangat konsumtif. Gaya hidup kita yang juga ignorant malah menjadi prioritas. Contoh yang konkret adalah pandangan kita yang cenderung merendahkan pemulung sampah. Kita merasa superior karena sampah bekas kita saja menjadi sumber penghidupan mereka. Padahal dalam siklus daur ulang masyarakat mereka adalah termasuk elemen yang penting. Bayangkan jika sampah yang kita buang (sembarangan) tidak dipilah, dikumpulkan, dan disetor untuk didaur ulang oleh mereka. Bandung, misalnya, akan menjadi lautan sampah. Dan kenyamanan kita akan sangat terganggu. Namun pemulung sampah itu tidak sadar bahwa mereka adalah bagian dari siklus daur ulang. Keinginan sederhana mereka hanyalah bagaimana untuk hidup hari ini. Kita jarang mengapresiasi mereka sebagaimana layaknya. Dari sini sebenarnya kita dapat mengetahui buat apa kita membuang sampah sesuai jenisnya. Untuk mempermudah mereka dan kita dalam menjaga lingkungan. Ah tapi untuk hal yang mudah itu saja kita susah. Kita sendirilah yang menyebabkan ecocrisis senada dengan perkataan Erazim Kohak, "we are too numerous, demanding, and powerful." Dalam tiga puluh tahuh ke depan sekitar dua belas persen spesies burung dan dua puluh lima persen mamalia diprediksi punah. Hal ini karena kita yang mengganggap diri kita paling utama di antara spesies lainnya. Ya, ternyata bukan hiu putih atau harimau afrika yang menjadi top predator di bumi, tapi kita, manusia.

Ini satu lagi contoh bahwa kita tidak terbiasa berpikir jauh ke depan. Mental dan wawasan lingkungan kita hanya dipatri untuk berpikir sekarang. Tanpa pikir panjang, beli sekarang, setelah rusak ya buang. Tanpa memikirkan tentang layanan purnajual atau tanggung jawab kita sebagai konsumen yang ramah lingkungan. Hal seperti itu terus terjadi hingga akhirnya tanpa kita sadari karena ada tuntutan akan kebutuhan kita yang tak terkendali, sumber daya akan semakin menipis. 

Lantas apa kita sudah memanjatkan 'semoga biodiversity kita tetap terjaga dan pembangunan berkelanjutan segera terwujud' dalam doa? saya yakin pasti jarang. Jangankan pertanyaan itu, pertanyaan yang lebih sederhana yang perlu kita ajukan adalah, apakah kita berdoa? 

Well, berbicara tentang keyakinan sudah di luar konteks, mari kita lanjutkan bicara yang ringan-ringan saja.
Kita pasti ingin memperoleh keajaiban. Meski banyak orang ragu hal tersebut eksis. Manusia tidak percaya bahwa mereka bisa terbang. Wright bersaudara kemudian membuktikan bahwa manusia bisa terbang. Manusia. Kita akan terus mencari jalan untuk bertahan hidup. Dari dulu sampai sekarang, kita memiliki kemampuan adaptasi yang sangat tinggi. Entah itu secara morfologis, fisiologis, ataupun tingkkah laku (kultural). Kita beradaptasi melawan perubahan cuaca, kondisi geografis yang tidak menguntungkan, dan juga konflik sosial yang ada. Sepintas adaptasi merupakan cara yang paling hebat bagi kita untuk melanjutkan kehidupan. Unfortunately, adaptation can goes wrong too. Maladaptasi. Maladaptasi adalah cara manusia untuk bertahan hidup namun dengan menurunkan kualitas penghidupan. Contohnya adalah masyarakat yang tinggal di tepi sungai *********ng yang kotor terbiasa mencuci baju di sana. Bahkan menggunakan airnya yang bewarna kecoklatan itu untuk mandi. Awalnya mereka terserang penyakit kulit namun lama kelamaan mereka menjadi imun. Bagus? Hm. coba googling mutan di film X-Men (komik favorit saya  semacam nightcrawler atau beast. Tanpa kekuatan super, mereka adalah contoh maladaptasi ekstrem (banget). Beberapa gambar mereka:
beast X-Men
Nightcrawler X-Men


Kita boleh bangga mengakui bahwa kita adalah ras yang hebat. Kita bertahan. Dan akan terus menemukan sebuah cara untuk bertahan. Namun apakah suatu saat nanti kanibalisme itu akan menjadi salah satu cara kita untuk bertahan? Kanibalisme merupakan kondisi di mana manusia saling memakan untuk bertahan hidup tentunya dengan cara yang sadis dan kejam dan melawan hak asasi manusia dan juga norma yang berlaku. Jika kita sependapat dengan definisi itu, bukankah perang merebutkan kekuasaan, minyak, tanah, merupakan hal yang sama? yaitu mencoba 'memakan' bagian dari manusia lain untuk bertahan hidup. Perang menuai korban jiwa dan erusakan lingkungan yang hebat. Selain itu, kita juga saling 'memakan' secara moral melalui senjata runcing rasisme, vandalisme, diskriminasi, dan korupsi. Atau bahkan kita membiarkan orang lain untuk 'dimakan' oleh orang lain dengan pura-pura tidak melihat atau tidak tahu, dengan menutup nurani kita sendiri agar kita selamat. Jadi sebenarnya bibit-bibit kanibalisme memang sudah tertanam dalam diri kita. Serem!

Kalau begitu apakah kita yang memiliki bibit kanibalisme dan berperilaku destruktif terhadap bumi ini layak untuk diperjuangkan?



Dan tiba-tiba pengen nonton Resident Evil: Retribution. 

Wednesday, 15 August 2012

Pilihan dan Tanggung Jawab


Buanglah janji pada tempatnya


Banyak yang bilang hidup ini adalah pilihan tapi saya belum pernah mendengar bahwa hidup ini adalah tanggung jawab. Apa dengan memilih lantas kita sudah bisa dicap bertanggung jawab? apa sebuah pilihan sudah pasti memuat tanggung jawab? 

Pertanyaan itu saya pikirkan berulang-ulang beberapa hari lalu. Saat itu jam menunjukan pukul empat sore dan saya bergegas pulang sehabis kuliah. Saya memilih tidak membawa motor hari itu karena destinasi saya hari itu hanya di wilayah Dipatiukur. Selain itu menghemat footprint, juga dengan menggunakan angkot saya bisa tiba di rumah bertepatan dengan waktu berbuka puasa. Lumayan, ngabuburit di jalan. 

Sambil menunggu angkot di halte Dipatiukur, saya merenungkan kembali omongan Prof. Oekan saat kuliah terakhir. Ia mengajar mata kuliah Ekologi Manusia dan menurut saya beliau adalah orang yang benar-benar hebat. Ia adalah lulusan University of Berkeley dan pernah bekerja di beberapa organisasi  internasional. Saya senang bisa mendapatkan ilmu dari orang sekaliber beliau. Lanjut, beliau mengatakan bahwa Indonesia tidak pernah benar-benar diuntungkan dengan adanya rezim lingkungan. Produk seperti UNFCCC, UNCBD, atau REDD + hanya mengeksploitasi kita secara tidak langsung. Misalnya UNFCCC berbicara mengenai penuruan emisi dari 12% menjadi 6% dan negara-negara maju harus memberikan dana kepada negara berkembang yang memiliki hutan hujan tropis melalui carbon trade. Namun jumlah yang jelas mengenai dana yang harus diberikan belum mencapai detil yang jelas. Seolah Indonesia hanya menginginkan hibah dari negara maju. Sampai sekarang implementasi dari UNFCCC itu belum juga jelas. Indonesia juga meratifikasi UNCBD yang menyoroti pentingnya kekayaan biodiversitas namun konversi lahan telah menyebabkan hutan beralih fungsi atau bahkan terdegradasi. Binatang-binatang mulai kehilangan habitat dan ekosistem mulai terganggu. Tidak usah mengupas REDD + yang seolah menyaratkan Indonesia untuk meningkatkan kualitas produk ekspornya melalui ecolabelling. Indonesia jelas kalah saing. Kayu meranti kita berkualitas prima untuk diekspor dalam bentuk bahan jadi seperti mebel. Namun Uni Eropa berkilah bahwa produk tersebut belum ramah lingkungan dan mendapat ecolabelling sehingga banyak pengusaha ekspor mebel kita lari ke Singapura yang bisa memberikan ecolabelling dengan mudah. Yah, kita sudah memilih terjerumus dalam kerangkeng permaninan politik internasional.

Sambil masih menunggu angkot Ciroyom-Ciburial yang selangka orang yang buang sampah pada tempatnya, saya lantas mengilas balik saat saya menjadi tutor mata kuliah Enviromentalisme dalam Hubungan Internasional. Saat itu saya dengan teman-teman junior berdiskusi mengenai etika lingkungan hidup. Saya memberi introduksi filosofi etika lingkungan hidup mulai dari antroposentrisme sampai ekosentrisme diakhiri dengan pertanyaan, "Jika di bumi ini cuma tersisa lima pohon dengan pertumbuhan penduduk yang konstan, apa yang akan kita lakukan?"

Sebagian besar dari mereka berkata tentang proteksi dan limitasi. Proteksi sumber daya yang ada dan limitasi penggunaannya. Satu orang berkata, "Ya, ga usah digimana-gimanain toh pada akhirnya lima pohon itu juga bakal layu." Perdebatan dan diskusi muncul sendiri di antara mereka dari pernyataan tersebut.

Saya kemudian mengakhiri dengan pertanyaan, "Kita bisa memilih untuk hidup, apakah sebuah pohon bisa memilih untuk hidup?"

Ya, cuma manusia yang bisa mengolah informasi kemudia membuat pilihan. Kita seringkali menimbang sejumlah pilihan yang ada dengan konsekuensi logis yang bisa kita pikul. Tidak jarang juga dari kita yang memilih tanpa menimbang.  Sebuah pohon bisa hidup lebih lama jika kita memilih untuk membantunya. Sayangnya kita selalu dihadapkan dengan sejumlah tradeoff yang memaksa kita untuk harus (bisa) memilih. Lebih memilih tanam pohon atau bangun apartemen?

Tuhan selalu memberikan kita pilihan karena kita memiliki akal dan dianugerahi free will. Jarang kita memaknai kemampuan memilih itu sebagai tanggung jawab untuk memilih. Saat Pemilu, kita diberikan pilihan golput namun cara kita mempertanggung jawabkan hal tersebutlah yang sebenarnya nanti menjadi persoalan personal bagi kita sendiri, horizontal dengan masyarakat kini, dan vertikal dengan Dia Yang Maha Mengetahui.

Kemudian saya berpikir lagi jika secara idealis seseorang bisa berkontribusi dengan yang ia miliki maka ia sudah memilih untuk bertanggung jawab. Misalnya teman saya seorang sarjana astronomi ingin bekerja di badan meteorologi dan geofisika karena hal itu bisa menuntaskan kewajibannya sebagai seorang akademisi yang memiliki hasrat di bidang yang ia geluti. Tapi sayang kenyataannya berbeda, ia bekerja di sebuah bank di Jerman dengan bidang yang sangat jauh berbeda dengan yang ia geluti selama ini karena gaji di sana berlipat-lipat dibandingkan di sini. Awalnya saya berpikir ia tidak bertanggung jawab terhadap apa yang sebelumnya ia geluti. Namun setelah mengemukakan alasannya yaitu, "Gw milih kerja di bank sana karena realistis. Gw ingin ngbantu orang tua gw dan sebagai anak sulung gw punya kewajiban untuk ngebiayain empat orang adik-adik gw. Lagian gw ama cewe gw juga udah ngrencanain untuk nikah dalam waktu dekat."

Bagai ditimpuk batu bata, saya tersadar. Ternyata meskipun dia tidak memilih untuk bertanggung jawab sesuai dengan koridor akademik yang pernah ia lalui, ia telah memilih bertanggung jawab terhadap orang tua, adik-adik, dan pacarnya. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa itu memang sebuah tanggung jawab.

Saya pernah menegur orang membuang cup soft-drink ukuran besar di jalan, ia merespon, "sewot amat. Ntar juga dibersihin petugas kebersihan." Saya tidak memperpanjangnya karena saya juga malu. Bukan karena saya menegurnya tapi karena saya tidak memungut sampah yang ia buang. Jadi kalau sampah cuma perlu ditangani oleh departemen kebersihan? masalah kemiskinan cuma perlu ditangani oleh departemen sosial? 
Kemudian apakah apa yang terjadi dengan Indonesia itu hanya menjadi tanggung jawab seorang presiden saja?


Dulu, menjelang sidang, saya galau bukan main. Penyebab utamanya adalah karena saya tidak tahu mau apa setelah lulus. Saya ingin bekerja di BUMN agar mapan. Tapi saya memiliki hasrat di bidang jurnalistik dan ingin sekali bekerja di LSM yang bergerak di bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Tapi saya juga ingin sekali bekerja di pemerintahan dan mencoba memperbaiki sistem yang ada bersama Arian Empire demi Indonesia yang lebih banyak (bisa dibaca di blognya aros). Saya ingin kerja di bidang pelestarian lingkungan tapi juga ingin masuk ke ranah birokrasi. 


Ah, ternyata saya seorang pribadi yang loba kahayang. Saat saya melihat jam, sudah sejam saya menunggu angkot sambil melamun ngaler ngidul. Saya mencoba menyimpulan renungan saya sore itu, ternyata tanggung jawab terhadap diri sendiri adalah hal yang penting. Kalau saya memilih untuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan apa yang kita pilih, saya yakin tanggung jawab terhadap orang lain pun berangsur-angsur akan terpenuhi.

Saat masih asyik melamun, angkot Ciroyom-Ciburial yang sudah lama ditunggu-tunggu itu melintas di depan mata saya begitu saja.

Yah, nasib.

Monday, 13 August 2012

solitude #5


Mampukah kau bertahan dengan hidupku yang malang?

Dalam diam, manusia mengaduh. Dalam hiruk pikuk, manusia mengeluh. Entah sampai kapan aku bisa mengayuh jika batas horizon imajimu sudah tidak lagi dapat ku rengkuh.

Atlas bermuram durja menopang bumi. Sisifus terjebak dengan bola penderitaan tak bertepi. Mereka terus terluka namun tidak berhenti bermimpi. Aku yang kerap kali bermimpi  kala bulan utuh berseri mewujud luka saat matahari mulai menjemput pagi.  Tapi tak pernah aku bosan untuk susupkan hati yang menganga agar kau tetap di sini.

Maybe now you have gone with the wind, burying all great memories.

We all are changing. Heraclitus even said nothing is constant.  He got the point and he’s the first who realized. I think he was one of those wise men mentioned in songs, movies, or book. He pampered us with his delicate thought so we don’t have to experience the pain that goes very deep in every ‘change-themed conversation’ but yeah thank you modernization, we forgot about him and his notion. We are sinking in the abundance of a lavished life. We are voraciously feeding ourselves with such a drama. Well, at least it gives me one shot to find out myself why we change. Why change is our nature. Oh, that’s so human. To find it out, I have tried to use my logic at my best. Sometimes I trust logic far more for feeling is deceiving. Maybe because it is changing too. When logic works accordingly, feeling says lots of hopefully. I guess feeling is like a hand-wash person. It says, “just do it, follow your heart” and when our heart goes wrong, it says, “no I don’t event ask you to do that, it’s your heart recommendation”.

So what should we do if feeling is not a thing we can count on?  No, that’s not our question. Why we change it is.

I grow mustaches and my hair is whitened. I see tenous wrinkles in your forehead too. But we never ask why. We haved loved each other and now we started to hurt each other. We ask why. The emotion we have been holding on is slowly leaking. It bursts into tears and anger emphasizing the feeling that we are not ready to separate again. Because we are not ready to start over again and trapped in such a long exhausting same story, again. Or because we have filled the missing piece in each other’s heart and now we are completely fine by ourselves.

It’s time to go dear. There’s a hello and there’s a goodbye. Your feeling fades away and I see everyone is jaded. They give up on their hopes and dreams. But I don’t. Change is inevitable. And why do we change? Because we always want something better. We want us to be better.  

Nevertheless, I am afraid to change, so thrilled.
So please, hold my hands tight when everything’s not the same.


Bila kau tak di sampingku

Kini, kau pandangi kesedihan menjulang dalam mataku. Ku pandangi keputusasaan luber dari matamu. Keduanya bersilangan menjadi embun saat fajar tiba. Kemudian kau selimuti aku dengan rajutan kepercayaan agar hangat meresap dalam pori-pori keniscayaanku. Jemariku mengisi ruang kosong di antara jemarimu agar kita semakin dekat. Ku dekap kau erat, agar hati kita semakin lekat.

Kau dan aku tak pernah lelah mencari.


"together is home, dear."


sangat terinspirasi oleh lagu Sheila On 7 yang berjudul Seberapa Pantas

Saturday, 11 August 2012

Estafet

Several days ago, i attended a ceremony of new students orientation in my previous faculty, faculty of social and political sciences. One of the agendas  was awarding the contributing students. They invited me because i was one of the awardee. I was quite surprised because they still counted me in. I thought because i have recently graduated, whatever award i should take became void for i am no longer a student there. However i  decided to come a second i got the notification because last year i got a chance to be on the list but i missed it due to last-minute notification. Now i want to feel the ambiance of the ceremony, not as a new students but as their elder brother who just sit from a far.

The execution of the ceremony got much better every year. The content was significantly nourishing. They summoned Mayor of Kota Bandung Dada Rosada and  Deputy Chief of Police of the Republic of Indonesia Nanan Soekarno to give open lectures. They also ran the agenda very well: neat, straight, and punctual. And i felt the student's enthusiasm too through their strong yell whenever asked. It's rarely happened moreover because it happened on a fasting month, Ramadhan. I thought they had been extremely tired, sleepy, or bored but i was all wrong.


an icebreaking


Some seniors yelling had shattered me from recalling my memories. And also some students who looked pale and tired and some who were yawning and fooling around with their friends. No, they were not yelling because of anger. They just wanted to entertain. They were the committee assigned to break the ice. Their yell got students' attention. Mine also. They periodically threw a game to melt the ice. And it was quite simple and classic. They randomly picked out three students and then they played interviewing like in a show. I took a look seriously. These conversation i already sum up:

First student, 
committee: what's your name? 
Budi: (let's call him) Budi. 
Committee: where do you come from?
Budi: Kuningan.
commitee: what major are you going to study?
Budi: Business Administration.
commitee: why did you choose that?
Budi: Because i wanted to succeed.
Then everybody laughed. I did not understand why they laughed. Everybody wants to succeed, right?
but it is almost impossible to attain. Yeah, maybe it is an irony.
committee: what succeed?
Budi: Well, i wanted to have an early pension time.
Everybody laughed again. But i still don't get it why everyone laughed as if they mocked him.

Second student,
commitee: what's your name?
Popmi: (let's call her) Popmi (because her name is really rhymed with popmie)
Committee: what an unique name. Where do you come from popmi?
Popmi: South East Sulawesi.
Commitee: what department are you in?
Popmi: International relations.
Committee: why?
Popmi: I want to become a diplomat to strengthen Indonesia's position in the eye of international society.
Then everybody applauded and her friends shouted yes at her.

Last student,
Commitee: what's your name?
Andi: (let's call him) Andi. 
Committee: where do you come from?
Andi: Jakarta
Committee: you are student of ?
Andi: Social Welfare
Committee: why did you choose that?
Andi: I want to be the agent of change.
Everybody applauded and hailed his name.

I shivered. I suddenly remembered some friends that uttered same kind of hopes and dreams but ended working in cigar company and a sugar multinational corporation. Previously, one told me that he wanted to sit in DPR and the other one told me wanted to work in some INGOs. Then, i began to remember my purpose to came here five years ago. I had no purposes at all. I went to college because my parents told me so. But hey, i don't ever regret going to college.

The situation had given me time to remember what it feels to sit there five years ago, more or less. To be honest, i don't have so much to remember because i had no intention to go to college at the very first place. That's why the memory of the ceremony got kinda blurry in my head. I was not excited. Then, i was asking myself, at that time, do i feel that my choice is right? because when i entered this building five years ago, i was cursing all along. I felt misplaced to take part in department of International Relations which is apparently located in Jatinangor, a so far away suburban that broke me up from my friends who made my days far from exhausting and strangling. I can see the same feeling curved in some students' faces. I don't belong here. Don't worry we are in the same boat.

Somehow at our first day in college, we bring dreams and hopes. We are devoted to pursue our noble objectives. We are fed up with those bullshits on tv and trying to fix it up like Budi, Popmi, and Andi. They have instilled themselves with great values. Or maybe they just did some lip service trick? i don't really know but let's assume they were saying the truth. But for someone who was purposeless, i came out with a message.

I just wanted to say to them that your struggle starts when you stepped in this college building. The structure or the system will test your will. Either it's only whim or a strong trim. You'll experience that everyone, who call themselves educators, is not all real educators. They will let you down. They will destroy your dreams. They will not let you win. Most of them will teach you how to deal with deadlines rather than how to make yourself shine. But don't worry, wisemen say that experience is the best teacher. You can stick to that. Don't be trapped by those strangling rules, go find a great adventure while you're on college. Your life is not a mere academic vessel. It's also consisting of empirical experiments. Travel, backpack, go somewhere distant to attain it. The things you can't get on the textual books.

You'll learn that grade is important and sometimes some people get it good in some unfair way. No one cares how you get it. And if you keep standing up your idealism, you'll be put aside and your jealousy will start creaking. Don't give up. Study harder. Those who only go to school just to get a bachelor scroll don't deserve your jealousy. Even though grade is undeniably required but you have to notice that the process is the most important thing. Do some mistakes and learn from them so that in the future you'll know that it is indeed a mistake and you will avoid making it again.

Sometimes, you'll feel a great solitude since everyone's jaded. Friendship doesn't taste sweet any longer and you probably feel suffocated. But don't give up. Don't let take you down. You'll one day find those who really care about you that's why you have to keep yourself open to people, to let you know who is sincere and who is not. You will feel fallen so endlessly but it guides you to the people who appreciate who you truly are.

So, make your day easy, be happy, think out of the box, and keep your faith. If your dreams are actually unbroken, you will materialize your dreams once you graduate.

All these words i have been trying to say can be concluded into one word:


Carpe Diem