Friday, 19 October 2012

Membangun Komunitas, Meningkatkan Kualitas

Membangun Komunitas, Meningkatkan Kualitas


Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia!” ~ Soekarno

Siapa tidak merinding membaca kalimat yang dilontarkan presiden pertama negara kita? Tidak ada yang bisa menyangkalnya terutama saat pemuda berperan penting dalam merebut kemerdekaan dari para penjajah. Namun enam puluh tujuh tahun setelah Indonesia merdeka, bagaimanakah potret pemuda kini? Apakah perjuangan mereka sudah berakhir?

Saat ini pemuda aktif dalam berbagai kegiatan pembangunan. Salah satunya dengan bekerja yang membutuhkan keahlian dan pendidikan. Di antara mereka ada yang langsung mencari pekerjaan setelah menyelesaikan sekolah menengah pertama saat usia mereka menginjak 15 tahun dan sekolah menengah atas saat usia mereka menginjak usia 18 tahun. Banyak juga yang meneruskan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Namun pada akhirnya mereka memiliki tujuan yang sama yaitu untuk memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang lebih baik.

Dalam memperoleh pekerjaan yang layak, pemuda dibayang-bayangi oleh pengangguran. Pada tahun 2010 pengangguran muda secara global mencapai angka 12,6 persen yang secara dramatis melebihi pengangguran dewasa yaitu 4,8 persen. Bahkan pada tahun 2009, pengangguran pemuda mencapai puncaknya yaitu mencapai angka 75.8 juta.[1] Pengangguran muda ini menjadi isu yang lebih krusial di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Terkait dengan hal tersebut, pemuda Indonesia, menurut saya, menghadapi tiga tantangan besar yaitu  1) kompetisi, 2) eksploitasi, dan 3) urbanisasi.

Kompetisi
Bappenas menyatakan bahwa pada tahun 2011 angka pengangguran pemuda di Indonesia mencapai 19,99 persen dengan jumlah sekitar 4,2 juta orang. Angka pengangguran pemuda ini tiga kali lebih besar dibandingkan dengan angka pengangguran nasional yang berkisar 6,32 persen. Pemerintah telah membuat program MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) yang akan menciptakan sebesar  9.437.918 lapangan kerja dengan total investasi Rp 3.775,9 triliun untuk mengatasi hal tersebut. Hal ini seharusnya bisa menjadi kabar gembira tetapi hal ini tetap saja belum bisa menjawab persoalan pengangguran pemuda yang ada.

Permintaan dan penawaran di pasar kerja memiliki ketimpangan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang paling tinggi masih ditempati oleh lulusan SMA (10,34%) dan SMK (9,51%) sedangkan tahun sebelumnya pasar menyerap tenaga kerja dengan dominasi pendidikan lulusan SD ke bawah (49,53%).[2] Lulusan sekolah menengah mengalami kesulitan untuk memasuki dunia kerja karena bursa yang kerja yang sedikit. Hal ini berkaitan erat dengan kualitas pendidikan (kejuruan), kemampuan berwirausaha, kecakapan hidup (lifeskills), dan akses informasi. Lulusan ini jarang mendapatkan masukan –seperti workshop dan seminar– dan bursa kerja yang sesuai dengan kompetensi mereka. Apalagi Indonesia yang pada tahun 2015 akan memasuki Komunitas Masyarakat Asean. Hal ini berarti akan memperketat kompetisi dalam mencari pekerjaan.

Ekspolitasi Terselubung
Hak pemuda dalam bekerja harus menjadi prioritas. Banyak sekali eksploitasi terselubung yang dilakukan perusahaan-perusahaan. Contohnya adalah pemuda yang memiliki gelar sarjana tidak jarang menerima gaji yang tidak sesuai dengan kemampuan mereka. Di Indonesia sendiri hal ini menjadi suatu yang lumrah mengingat perkataan lebih baik bekerja daripada nganggur yang menjadi tekanan sosial. Padahal hal ini secara gradual mengikis kemampuan dan intelektual mereka.

Hal yang lebih mencengangkan harus diterima pemuda angkatan kerja tidak terdidik. Sebagian besar bekerja menjadi buruh industri. Selain upah yang rendah, mereka juga tidak mendapatkan berbagai fasilitas dan akses dari perusahaan. Di Cimahi Selatan misalnya, banyak pemuda yang bekerja sebagai buruh pabrik di daerah Padalarang harus menunggu jemputan yang lamanya bisa mencapai dua jam. Sebagian besar dari mereka menunggu di pinggir jalan saat mendapatkan shift kerja malam. Adanya peningkatan produktivitas pabrik yang mempengaruhi jam istirahat mereka ternyata tidak dikompensasi dengan upah tambahan yang layak.

Sementara itu di Ciamis, pemudi yang telah menyelesaikan SMP dan SMA pergi ke kota Bandung dan Jakarta untuk mencari pekerjaan. Sebagian besar memutuskan untuk bekerja menjadi pengasuh (bayi dan anak) baik melalui agen resmi maupun sanak famili. Bagi mereka yang bekerja melalui agen resmi, beberapa keuntungan bisa mereka dapatkan seperti jaminan pekerjaan dan pelatihan-pelatihan. Namun begitu, yang terjadi saat ini adalah seringkali kita melihat banyak pengasuh di pusat perbelanjaan mengenakan seragam. Mereka sering merasa tidak nyaman mengenakan seragam pengasuh di tempat publik. Hal ini bisa mengganggu psikologis dan perasaan mereka. Tetapi keluarga yang mempekerjakan mereka tidak melihat hal tersebut.

Berbeda dengan pengasuh yang disalurkan melalui agen, pengasuh yang disalurkan melalui sanak saudara terjebak dalam posisi yang dilematis. Di satu sisi mereka beruntung karena keluarga yang mempekerjakan mereka menganggap mereka sebagai titipan saudara jauh sehingga untuk pemenuhan kebutuhan dasar seperti makan dan tempat tinggal lebih terjamin. Selain itu ikatan kekeluargaan yang akrab terjalin di antara mereka. Meskipun demikian mereka tidak sadar bahwa hal tersebut telah menurunkan standar dan kualitas profesionalisme yang harusnya diterapkan oleh keluarga yang mempekerjakan. Dengan basis kekeluargaan, keluarga yang mempekerjakan mereka memiliki tendensi untuk memberikan tugas tidak hanya untuk mengurus anak mereka saja tetapi juga untuk mengurus dapur dan juga rumah sehingga pada akhirnya seorang pengasuh harus merangkap sebagai pembantu tetapi upah yang diberikan tidak sepadan dengan apa yang mereka kerjakan. Mereka juga tidak bisa banyak mengeluh karena merasa enggan dan tidak enakan sehingga dalam kasus ini mereka jarang mendapatkan libur untuk pulang kampung bahkan saat libur nasional atau hari raya besar.

Urbanisasi
Saat lebaran usai, pemuda berbondong-bondong ikut sanak saudara mereka untuk bekerja di sekitar Jabodetabek dan ikut meningkatkan laju urbanisasi. Laju urbanisasi yang setiap tahunnya cenderung meningkat ini bisa menimbulkan masalah sosial semakin marak seperti kriminalitas, kemiskinan, dan kemacetan. Salah satunya bisa kita rasakan sendiri yaitu banyaknya pengamen jalanan hampir di setiap lampu merah jalanan perkotaan.  Tidak hanya di Indonesia, negara-negara lain juga mengalami hal yang serupa khususnya negara di kawasan Asia Pasifik. PBB menyatakan bahwa 45 persen pemuda dunia yang berjumlah 700 juta orang berada di sebelas kota megapolitan kawasan Asia Pasifik dengan penduduk lebih dari 10 juta ini.

Laju urbanisasi ini sebenarnya bisa dikurangi dengan memanfaatkan potensi pedesaan. Wilayah pedesaan memiliki lapangan kerja yang subsisten yaitu lapangan kerja yang bisa memenuhi kebutuhan kerja secara optimal secara berkelanjutan. Di Kabupaten Sukabumi, tenaga kerja lulusan SMP dan SMA diserap oleh industri pertanian, peternakan, dan penangkapan ikan yang masih dikelola secara tradisional. Namun sayangnya pemuda masih memiliki paradigma kotasentris. Lagi-lagi kota dianggap dapat satu-satunya tempat yang dapat memberikan penghidupan lebih baik padahal pemuda Indonesia juga bisa mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak dari sumberdaya alam negeri ini yang dulu terkenal agraris dan maritim.  Meskipun demikian permasalahan lain muncul: lulusan SMP yang lebih berhasrat untuk bekerja daripada meneruskan pendidikannya ke SMA. Mereka beranggapan bahwa pekerjaan di sekitar mereka tidak membutuhkan pendidikan tinggi.


Membangun Komunitas
Pemuda Indonesia adalah muda-mudi yang gemar berkumpul dan bertukar informasi. Mereka bisa berkomunitas dan menyebarkan virus solidaritas. Solidaritas ini diarahkan untuk membangun kualitas-kualitas positif yang mampu menghadapi tiga tantangan tersebut. Komunitas ini menjadi solusi dan memajukan pemuda melalui pemberdayaan sendiri (self-empowerment) seperti training kecakapan, kemampuan berwirausaha, dan kesadaran untuk peduli akan hak pemuda sendiri sehingga mereka bisa memperjuangkan hak-haknya secara mandiri. Komunitas juga mengajarkan untuk saling peduli.

Di Bandung terdapat komunitas Warung Imajinasi yang memberikan pelatihan bahasa Inggris (dan asing lainnya) bagi pemuda. Sementara di Cimahi terdapat komunitas BITC (Baros Information Technology Creative) untuk memacu pemuda mau menapaki lapangan pekerjaan di industri kreatif. Berkomunitas seperti itu dapat meningkatkan kualitas pemuda sehingga kita dapat membangun komunitas yang suara  dan hak-hak pemudi seperti di Ciamis atau pemuda di Cimahi Selatan dapat diperjuangkan. Dengan memperjuangkannya, pemuda juga memperjuangkan penghidupan yang layak. Jadi tampaknya pemuda masih harus berjuang menghadapai jalanan terjal dalam pembangunan.

Tenang, tidak usah gentar karena kita bersama dapat mengguncang dunia!






[1] UN World Youth Report Official Outcome by Department of Public Information
[2] Diakses melalui [16/10/2012]

Tuesday, 16 October 2012

Mimpi Lama


Beberapa hari ini pengen banget nulis beberapa essay tentang siklus kemiskinan sama (ketidak)pemerataan pembangunan tapi buku yang jadi materi utama masih dalam proses penceranaan. Selain itu juga pengen banget ngreview novel pemenang sayembara Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2010. Untuk yang pertama, kalau udah buku-bukunya selesai dicerna, nanti segera mungkin saya luangkan waktu untuk nulis hal tersebut. Dan untuk yang kedua berhubungan dengan hobi dan minat saya yang sangat besar terhadap dunia sastra. Sebenernya dari tahun 2006 saya pengen banget ikutan sayembara DKJ. Selain hadiah utamanya dua puluh juta, novel karya kita bisa dipublikasikan tanpa ribet dan belibet. Cuma yang bikin susah adalah saingannya yang bukan main punya keunikan dan kompetensi di bidang sastra. Salah satu pemenangnya adalah Ayu Utami yang jadi pemenang sayembara DKJ tahun 1998 dengan novelnya yang berjudul Saman. Saman kan bagus banget. Yah, jadi yang bisa disimpulin kalo mau menang sayembara DKJ itu ya kurang lebih novelnya harus sekelas novelnya Ayu Utami. *Glek*  

Saya sering banget lupa kalau saya juga pengen banget jadi seorang penulis (baca: novelis). Ah tapi semangat saya untuk nulis novel masih membara. Apalagi dulu teman kakak saya yang satu jurusan waktu kuliah, Dewi Sartika, memenangkan sayembaranya pada tahun 2003 dengan judul Dadaisme. Novelnya emang bagus karena memliki plot dan penokohan yang kompleks pada saat itu. Jadi tambah semangat nulis lho waktu itu tapi ya cuma semangat nulis doang sedangkan halaman novelnya ga nambah-nambah. Jadi miris. Dulu kakak sayang yang sok bijaksana dan mulia pernah bilang kalau satu hari kita harus meluangkan waktu untuk menulis atau membaca karya sastra. Misalkan dua jam saja. Dari SD sampe SMA saya sih masih nurut. Nurut bikin essay, puisi, cerpen, atau sekadar prosa liris. Nurut baca buku-bukunya Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Remy Sylado, Ayu Utami, Dewi Lestari, Djenar, Fira Basuki, atau nama-nama lainnya yang seasing nama unsur-unsur dalam pelajaran kimia. Bedanya saya suka yang asing-asing dalam pelajaran sastra tapi ga dalam pelajaran kimia. Kadang hasil tulisan saya itu dikirim kakak saya ke beberapa media cetak dan dari puluhan yang dikirim akhirnya ada beberapa yang dimuat. Mungkin redakturnya udah iba. Ya tapi selepas dari itu, dulu pasti aja ada waktu yang saya alokasikan untuk nulis. Sekarang sih sok sibuk. Kuliah sambil kerja meres tenaga sama pikiran. Jadi nyampe rumah ya langsung nempel di kasur. Kalopun ada waktu kosong saya pake buat baca buku-buku kuliah plus jurnalnya.

Kalo ditilik, awal Juli kan saya mulai kuliah lagi ditambah kerja part-time yang karena saya udah lama ga kuliah plus kerja (dulu skripsi cuma satu tahun) jadi butuh harmonisasi antara otak, badan, tenaga, pikiran, dan waktu plus aktivitas baru untuk bersinergi. Tapi sih ya lama banget harmonisasinya, udah hampir tiga bulan tapi masih aja keteteran. Dulu masih sempet renang sama jogging seminggu sekali sekarang sebulan sekali aja udah syukur. Alhasil, saya nemuin seribu satu alasan untuk berhenti nulis. Nulis di blog aja udah untung jadi salah satu excuse. 

Sekarang? Ya gitu. Masih sih nulis. Nulis di dirty notes tentang teknik liputan, belanjaan bulanan, to-do list, sama tulisan-tulisan kalo lagi bosen. Yang seriusan dikit juga ada: nulis salinan catatan kuliah. Yang lebih serius lagi juga ada: nulis di blog sambil curhat ngalor ngidul.

Tapi tenang, kalo kata bang John Perkins
life is composed of a series of coincidences. How we react to these—how we exercise what some refer to as free will — is everything; the choices we make within the boundaries of the twists of fate determine who we are .


Saya yakin setiap apa yang sedang terjadi sama kita merupakan bagian kecil atas sesuatu yang lebih besar yang akan terjadi. Ada semangat dan niat yang disertai usaha akan meretas jalan pada suatu muara. Ya cuma waktu dan keyakinan yang bisa menuntunnya. 

Apakah ide atau inspirasi yang ada itu masih bersemayam dan mengkristal di benak kita kemudian pada suatu waktu akan cair dan bermuara menjadi sebuah karya?

Amin. semoga Tuhan mengabulkan doa kita.



*Buka-buka file novel...........liat jam....hoaaahm.....nulisnya entar aja deh*
*shut down komputer*

Wednesday, 3 October 2012

Tiga Tahun Batik

Masyarakat Indonesia perlu bangga mengenakan batik setiap hari terutama pada tanggal 2 Oktober karena tiga tahun yang lalu pada tanggal yang sama UNESCO telah menetapkan batik sebagai intangible world heritage dari Indonesia. Nah tahun ini Yayasan Batik Jawa Barat sebagai yayasan nonprofit yang berusaha memajukan batik Jawa Barat mengadakan acara Tribute to Batik di TSM Bandung. Acara ini terdiri dari fashion show batik, pameran koleksi batik, dan pameran batik.

Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan batik? Menurut kamus Oxford, batik adalah,
A method (orifinally used in Java) of producing colored designs on textiles by dyeing them, having first applied wax to the parts to be left undyed.

Batik, tidak seperti yang seringkali orang sangka, merupakan sebuah metode untuk menghasilkan sebuah kain berwarna dengan mencelupnya ke dalam pewarna kain namun sebelumnyaa menggunakan lilin sebagai perintangnya. Hal yang ditekankan di sini adalah metode. Jadi jika kita mengenakan batik namun tidak menggunakan metode ini maka patut dipertanyakan orisinalitas batik yang kita miliki. Bisa saja kain kita berupa tekstil bermotif batik atau yang biasa disebut batik printing. Batik printing, tidak seperti namanya, bukanlah batik. Namun karena produksinya yang masif dan mneggunakan mesin yang tidak serumit menggunakan lilin harga batik printing menjadi murah. Di sisi lain merebaknya batik printing secara perlahan akan mematikan UKM yang digerakan oleh pengrajin batik. Selain itu, nilai filosofis yang terkandung dalam batik akan memudar karena tidak bisa bersaing dengan batik printing.

Batik Indramayu dan Batik printing
Perbedaan batik dan batik printing bisa terlihat pada gambar di atas. Motif Batik Indramayu (Biru) memiliki warna yang lebih tegas dan tembus sampai ke belakang kain sedangkan batik printing (coklat) tidak tembus sampai ke belakang kain. Kita sebagai konsumen batik harus protektif dan apresiatif terhadap batik dan para pengrajin batik. Salah satunya adalah dengan membeli kain batik (asli). Nah di pameran Tribute to Batik yang diselenggarakan dari tanggal 1 sampai tanggal 7 Oktober ini kita bisa melihat dan membeli beragam kain batik dari 26 kota dan kabupaten yang ada di Jawa Barat. Setiap kota/kabupaten memiliki batik dengan keunikan tersendiri. Batik Indramayu misalnya mengutamakan motif ikan, udang, dan flora laut karena berada di pesisiran. Kain batik yang dijual harganya berkisar antara 50k - 4000k (baju jadi). Selain itu kita juga bisa mendapatkan buku saku batik Jilid I dan II secara cuma-cuma, biasanya di jual 50k/eksemplar. Jadi stigma batik itu kolot dan konvensional sekarang udah ga berlaku lagi. Banyak yang bangga pakai batik untuk acara kasual atau jalan-jalan kaya hang out ke mal. Persoalannya, kamu cukup berani (baca:bangga) gak pergi ke mal pake batik?

Apalagi kita sebagai generasi muda, kalau bukan kita yang nerusin bangga pake batik, siapa lagi? negara tetangga?

Foto-fotonya:
Buku Saku Batik jilid I dan II


Acara juga diiringi oleh Kroncong Merah Putih.

tot bag batik

sepatu batik
sepatu batik


Batik motif Anak dari Garut
Kita juga bisa melihat koleksi batik klasik seperti:
Motif Bango Rawa (1980) dari Tasikmalaya

Akar Terang Bulan (1950) dari Tasikmalaya

Atau bisa juga kenalan sama Duta Batiknya (@dutabatikjabar)  :
Yudha, Feggy, Saya


Solitude #15


Langit dan Airmata

Bergerak


Kemarin kusaksikan langit luber air mata namun enggan meluruhkannya. Aku jadi teringat airmatamu yang membeku menjadi nestapa dan menegaskan duka dan luka yang menganga tanpa rupa. Kau memikul beban itu sendirian dan tetap bergeming memisahkan derita yang fana layaknya semedi seorang petapa. Kau sembunyikan kotak kecil yang kau namai masa lalu di relung hatimu yang tak terjangkau. Saat itulah kau merasakan rindu pada momen kita berjumpa.

Kau menyadari bahwa waktu berjalan tanpa ragu. Bersama awan yang bergerak ringan, kau coba menghentikannya. Saat itulah kau merasakan rindu pada kenangan perlahan memudar. Tak ada lagi senyuman dalam ingatan yang samar. Tak ada lagi kita yang salah atau kita yang benar. Kuperhatikan, yang ada hanyalah nestapa yang memenuhi bular.

Lantas,




Kita duduk berhadapan tanpa rasa.
Memupuskan segala prasangka dan tersenyum lega.



Bandung, 23 September 2012