Wednesday, 25 December 2013

Serangan Panik!!

Suatu malam. Sepi. Hanya suara angin menggebu-gebu mengetuk jendela.

Saya terbangun. Bukan karena suara angin yang menganggu. Tapi dada yang berdebar kencang, napas yang terengah-engah. Saya merasakan kedua keanehan itu. Baru kali ini saya terbangun di tengah malam karena dada berdebar kencang dan napas terengah-engah.

----

Menjelang ujian, yang saya lakukan hanya tidur, makan, nonton, dan internetan. Saya tahu ujian yang saya hadapi adalah mata kuliah yang saya gak suka dan juga sulit. Saya sudah stres duluan. Jadi saya coba banyak refreshing/relaxing. Saking khusyuknya refreshing, saya sampai lupa untuk belajar. Ujungnya, saya hanya belajar dan membaca materi kuliah dengan alokasi 1/10000 dari waktu yang ada untuk belajar. Sisanya, leha-leha. Ya, saya keburu stres.

Dan stres ini menyelinap masuk ke dalam alam bawah sadar saya.





Solitude #20



-- Kasmaran --

Ada kupu-kupu mencumbu bunga Dahlia di taman,
Burung-burung Gelatik berkicau riang penuh harapan,
Orang-orang berpiknik menuai kesenangan,
Hari ini kesedihan pudar diisi kebahagiaan,
Dunia sedang kasmaran.

Sepasang tangan ingin bergandengan,
jarak dan waktu yang berdekatan,
hanya takdir tak mengizinkan..


Memorabilia



--Leeuwarden, 25 Desember 2013--

Solitude #19

Kincir Ria


Mari, aku ajak kau ke pasar malam. Banyak kerlap-kerlip lampu, warna-warni memusingkan. Banyak muda-mudi, tua muda, cekikikan menyebalkan. Banyak makanan dan minuman yang tumpah ke jalanan, menyedihkan. Banyak wahana ini itu, mencengangkan. Aku gandeng tanganmu erat dan tak peduli.

Mari, aku ajak kau ke pasar malam, tempat yang kau suka dengan sederhana. Ada wahana yang ingin kita coba.

Amsterdam, 22 Oktober 2013


Namanya Kincir Ria.

Saturday, 14 December 2013

Blablabla

this building is really nearby but i never get a chance to figure it out


Yesterday i went to grocery to buy stuffs. I didn't expect anything extraordinary during that short journey from my residence. It only took me 15 minutes to wrap what i needed in the grocery and went to the cashier. Because it was really freezing out there and no place had i thought more comfortable and warmer than my room. So i rushed back from grocery after i got what i needed.  While i was walking home, i passed a couple looking at the big church gothic building  at the left side of sidewalk. I didn't know why but my intention to came home fast became weakened as i eavesdropped, accidentally, their conversation.

A: That building is really beautiful.
B: Ya, but you're more beautiful.
A: Ah, thank you for bullshitting me. Let's go there anyway, i wanna explore what's in there with you.

They kissed and then walked on the pavement to the church.

So, apparently i had talent to spy on people. But more importantly, i took a picture where they were standing. The building was, indeed, beautiful. And their conversation was really warm somehow. For five minutes, i tried picturing myself and someone i love just looking around near the building. 

Then I chuckled. 
No thanks.



But then at home, i remembered a picture that i took when i was riding a bike:

Holding hands when riding a bike? really?


You see, those people always find a way to astound me.

Maraton Film Jepang: Mengenang Masa Lalu


Apa yang biasanya kamu lakukan di waktu luang?

Buat saya waktu luang itu penting. Ia adalah saat saya bisa kabur dari rutinitas dan melakukan yang saya senangi. Biasanya saya habiskan dengan jogging, berenang, baca buku, atau sekadar jalan-jalan. Di sini saya tak bisa menghabiskan waktu luang seleluasa seperti di Bandung. Di Bandung, saya bisa berenang di Sabuga minimal satu kali dalam seminggu sementara di sini, apalagi saat musim dingin, sulit. Serupa dengan jogging. Beberapa kali saya jogging di sini tapi mendekati musim dingin suhunya semakin jatuh dan anginnya bertambah kuat. Saya menyerah mengikuti budaya orang Belanda yang suka lari saat (menjelang) malam hari. Satu-satunya yang menyenangkan di sini adalah perpustakaan kota yang hanya lima menit jalan kaki dari tempat tinggal saya. Tapi walaupun saya ke sana, saya jarang membaca buku kuliah. Saya langsung pergi ke rak barisan filsafat atau sastra. Yang lebih jarang lagi adalah menonton film. Biasanya saya bisa pergi menonton film tiga kali dalam seminggu untuk pergi ke bioskop. Tapi di sini tiket bioskop agak mahal  €9 - €12 yang bikin saya harus puas lihat poster film-film terbaru di studio. Padahal saya seorang moviegoer. Menonton menurut saya sama seperti membaca buku atau mendengarkan lagu. Saya bisa menyelami pemikiran, ide, pengalaman, atau pesan yang tertuang di film tersebut. Baru-baru ini saya menonton beberapa film, bukan di bioskop tapi di kamar. Film-film yang saya tonton berasal dari Jepang. 


-------- 1. Ghost in the Shell (1996) 

Film pertama berjudul Ghost in The Shell (1996). Film ini menceritakan tahun 2029 yang digambarkan sebagai dunia yang serba cyber dan robotik dengan saling keterhubungan/keterikatan dalam jaringan yang memuat hampir semua informasi. Major Motoko, seorang polisi cyborg (manusia buatan), harus menginvestigasi kejadian-kejadian yang membuat panik pemerintah karena berhubungan dengan Puppet Master, yang dituduh sebagai biang keladi. Yang menarik dari film ini adalah perkembangan jiwa seorang robot. Setiap robot diceritakan memiliki dua bagian: the shell dan the ghost. Selama ini the shell atau cangkang adalah tubuh buatan yang mengikuti morfologi manusia yang diciptakan melalui bahan-bahan sintetis, tapi bagaimana the ghost atau jiwa yang dimiliki manusia? apakah bisa ditiru juga? Jawabannya adalah ya! Selamat datang di 2029 saat jiwa bisa dibuat dengan Artificial Intelligent atau Kecerdasan Buatan. 

Movie Poster
Film ini juga menengahkan persoalan dualisme yang diusung Descartes. Realitas menurut Descartes terdiri dari tiga bagian yaitu benda material terbatas (seperti meja, handphone, tas, komputer, televisi, tubuh manusia), benda mental-nonmaterial terbatas (ide, pikiran, jiwa), dan benda mental tak terbatas (tuhan). Pemisahan jiwa dan raga yang disebut dualisme ini menjadi bingkai dalam pengkarakteran film ini. Tapi dalam film ini juga saya menemukan beberapa kritik tentangnya, salah satunya interaksi antara jiwa dan raga. Konflik di film ini sangat terasa, yaitu tentang eksistensi kesadaran sendiri (self-consciousness) dan juga living form yang hadir dari arus informasi atau data. Bagaimana bisa benda material terbatas apalagi buatan manusia, cyber pula, bisa memiliki kesadaran dan bentuk kehidupan tersendiri? Saya jadi ingat buku The Selfish Gene (1976) karya Richard Dawkins yang menceritakan meme satuan unit kultur yang serupa dengan gen. Jika gen yang biologis bisa diturunkan, maka meme yang kultural (ide, pikiran) juga bisa beregenerasi dari satu pikiran ke pikiran lainnya. Film yang didukung oleh sinematografi dari Hisao Shirai ini membuat 82 menit perjalanan di tahun 2029 menjadi sangat cepat.  Film ini saya beri lima bintang di rottentomatoes.


Adegan favorit: Makoto menyelam di sela waktu luangnya

-------- 2. 5 Centimeters per Second (2005) 
Berarlih dari film yang metafisis, saya menonton film yang agak melankolis, 5 Centimeters Per Second (2005) atau dalam bahasa Jepangnya Byôsoku 5 Senchimêtoru. Film ini sudah ada di harddisk saya sejak tahun 2011. Sayangnya saya (sok) sibuk dan melupakan film ini. Sampai saya bersih-bersih harddisk dan menemukan film ini. Saya tonton dan merasa menyesal setelah menontonnya. Kenapa tidak dari dulu saya tonton film ini.


Official Movie Poster
Film ini menceritakan Tono Takaki dan Shinohara Akari sebagai dua sahabat sejak kecil yang mesti dipisahkan karena Akari harus pindah ke kota yang agak jauh. Saat jauh dari masing-masing, keduanya menemukan fakta bahwa mereka saling menyukai dan menyayangi. Namun saat email dan telepon genggam adalah hal yang belum umum (dan telepon antarkota masih mahal tampaknya), apakah saling surat menyurat masih bisa menjaga hubungan mereka?

Plot dan penokohan yang sama-sama kuat diilustrasikan melalui animasi yang super duper indah. Serius, film benar-benar indah. Setiap gambarnya pantas untuk dijadikan lukisan atau wallpaper di komputer. Apalagi jika menonton dengan format blueray/HD, setiap detik akan memunculkan perasaan takjub. Selain itu scoring yang memukau telinga juga menjadi kelebihan film ini. Kita tidak akan dijejali cerita yang membingungkan karena dalam film ini dibagi menjadi tiga babak: Cherry Blossom, Cosmonaut, dan babak yang tak berjudul (saya anggap ini epilog).

Adegan favorit: how far should we go?
Bunga sakura yang berguguran



Menonton film ini, siapapun akan dibawa kembali mengingat masa kecilnya. Kebanyakan orang mengalami cinta monyet saat kecil. Saat kita menemukan sosok pertama yang kita sukai dan sayangi namun harus terpisah karena memang tidak ada kesempatan. Jarak bisa memindahkan sekolah, kota, namun apakah jarak bisa memindahkan hati? Geniusnya (atau kampretnya) Makoto Shinkai mengabungkan unsur Jarak dengan Waktu. Sebenarnya film ini biasa saja karena mengangkat kehidupan sehari-hari yang biasa. Namun justru kehidupan biasa yang diangkat itu membuat orang-orang berpikir 'ceritanya gw banget'. Saya tidak termasuk. Serius. Bener. Kita dibawa melihat perkembangan perasaan Akari dan Takaki dari kecil hingga dewasa dalam 63 menit saja. Film ini tidak menjungkirbalikan emosi kita namun meracuni emosi kita pada saat waktu tertentu kita merasa sesak. Jarak dan waktu yang dimainkan Makoto Shinkai menjadi kombinasi yang mematikan bagi pasangan yang sedang menjalani hubungan jarak jauh aka LDR. Judul 5 Centimeters per Second ini merupakan representasi hubungan manusia yang diambil dari kecepatan kelopak bunga sakura saat gugur/jatuh. Dalam satu bunga terdiri dari beberapa kelopak. Saat belum mekar, kelopak tersebut selalu berdekatan sampai akhirnya gugur dan akhirnya berpisah. Inilah yang menjadi analogi hubungan Takaki dan Akira.

Tidak seperti 500 Days of Summer yang menekankan cerita ketidakpastian dalam hubungan yang baru seumur jagung, film ini menyuguhkan hubungan yang dalam karena terjalin sejak kecil. Film ini menyuguhkan pesan tersendiri bagi saya.


-------- 3. Only Yesterday (1991)
Film selanjutnya adalah film klasik Jepang yang berjudul Omohide Poro Poro atau Only Yesterday dalam bahasa Inggrisnya. Film bergenre drama ini menceritakan seorang wanita bernama Takeo yang bekerja di Tokyo dan belum menikah meski sudah saatnya dia menikah karena sudah berusia 27 tahun. Saat musim panas, ia memutuskan keluar dari tempatnya bekerja untuk membantu para petani memetik safflower sekaligus berlibur di sebuah desa di Yamagata.
Official Movie Poster

Film ini sangatlah sederhana. Baik dari segi animasi maupun plot. Hanya saja yang memukau dari film ini adalah penokohannya. Penokohan Taeko sangat kuat di film ini. Konflik yang terjadi pun hanya berkisar pada diri Taeko dan masa lalunya. Namun saking kuatnya penokohan dan konflik internal, saya diseret melihat masa lalu Taeko dan bagaimana masa lalunya mempengaruhi cara pandangnya mengenai kekinian. Kadang kala sebagai orang dewasa kita masih dihantui oleh masa kecil kita. Inilah yang dialami Taeko. Kemanapun ia pergi, masa kecilnya selalu membuntutinya dekat. Sampai suatu hari ia belajar untuk melepaskan semua masa lalu dan bebannya. Taeko berkutat dengan prinsip-prinsip sewaktu kecil. Selain itu juga ia dihadapkan pada suatu pilihan untuk tinggal di kota atau di desa.

Scene favorit 
Meskipun animasinya sederhana dan gambarnya juga ceria, menurut saya film ini cocoknya untuk dewasa. Cerita yang mendalam pada masa lalu Taeko membuat film ini bukan berkisar pada hal kanak-kanak namun pada proses maturasi dirinya. Anak-anak yang menonton film ini aka mengalami kesulitan untuk memahami menjadi dewasa, sebaliknya orang dewasa akan sangat mudah memahaminya karena memiliki masa kecil. Dalam film ini juga dilukiskan budaya Jepang dalam berkeluarga. Seorang ayah atau kepala rumah tangga memiliki kekuasaan yang absoluti. Hal ini tergambar pada saat Taeko mendapat tawaran akting namun tidak mendapatkan izin dari ayahnya karena ayahnya menganggap akting bukanlah sesuatu hal yang menjanjikan.

Taeko Menyanyi

Taeko menyanyi lagi
Keluarga Taeko cukup mencerminkan gambaran umum keluarga di Jepang yang memiliki sistem hirarki yang sangat ketat. Dalam keluarga, seorang anak juga memiliki tanggung jawab tersendiri walau dalam masa pertumbuhan. Seperti adegan Taeko yang ingin mencicip buah nanas dan membuat sekeluarga penasaran. Namun ketika mereka mencobanya, ternyata nanas tidaklah seenak yang ada dalam ekspektasi mereka. Untuk mempertahankan ekspektasi tersebut, Taeko berusaha memakan nanas tersebut walaupun tidak enak. Dari adegan-adegan sederhana inilah saya berpendapat bahwa tidak semua keluarga harus hangat dalam menunjukan kasih sayangnya.

Selain itu gambar pedesaan di Jepang sangat membuat saya ingin pergi ke Jepang khususnya Yamagata. Kadang saya suka pusing dan penat tinggal di kota yang banyak sekali gedung pencakar langitnya. Saya lebih suka berkunjung ke hutan asli dibandingkan hutan beton.

Yamagata
Hal lain yang saya suka adalah lagu dan scoring dalam film ini. Di akhir film ini saya menemukan satu buah lagu yang sangat dalam sekali liriknya. Membuat saya berpikir ternyata orang Jepang memang pandai membuat lirik yang puitis. Judul lagunya adalah Ai Wa Hana, Kimi Wa Sono Shushi (Love is A Flower, You're the Seed).


Some say love, it's a river
that drowns the tender reed
Some say love, it's a razor
that leaves the soul to bleed
Some say love, it's a hunger,
and endless, aching need
I say love, it's a flower
and you, its only seed

 Lagu tersebut sukses bikin saya gak tidur semalaman.


Itu tiga film animasi Jepang yang saya tonton semalaman. Ternyata selain kompleks, orang Jepang juga bisa menjadi sangat puitis. Dan kisah yang mereka tulis tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Hal yang sederhana bisa dimaknai dengan dalam oleh orang Jepang. Ini yang membuat saya jatuh cinta pada budaya pop Jepang. Saya jadi teringat pada salah satu sastrawan Jepang yang bernama Ryunosuke Akutagawa yang menjadi sastrawan Jepang pertama yang novel dan cerpennya saya baca. Semenjak dari situ saya menyimpan perhatian khusus pada sastra dan budaya Jepang.

Monday, 9 December 2013

Jilbab Hitam, SS, dan Akhir Minggu



Sabtu kemarin salju sudah mulai turun tapi tidak seberapa banyak. Angin juga sedang ribut, entah berkeluh kesah apa tentang hidup. Tempat yang paling nyaman: kamar. Spesifiknya kasur. Saya bergumul dengan kasur seharian di bawah selimut yang hangat. Malas berbuat apapun. Tapi badan ini menuntut untuk bergerak. Saya penuhi tuntutannya dengan menulis-nulis ringan. Saya pikirkan apa yang saya lakukan di minggu ini. Tidak ada yang menarik. Apa yang saya lakukan untuk akhir pekan. Tidak ada yang menarik. Apa yang saya pikirkan. Tidak ada yang menarik. Tunggu. Sebenarnya ada yang menarik dan mengganggu pikiran saya kala lengang. 


----
Bulan lalu jurnalistik dunia maya di Indonesia digegerkan oleh fenomena Jilbab Hitam. Jika tidak membuka linimasa twitter, saya pasti tidak akan bisa menduga siapa Jilbab Hitam dan apa yang dilakukannya. Jilbab Hitam adalah akun anonimus yang membuat sebuah tulisan di sebuah situs blog untuk publik yang berisi tuduhan pemerasan Bank Mandiri oleh Tempo dan Katadata. Yang jadi persoalan adalah ketika postingan tersebut menghidangkan informasi yang dianggap tidak benar dan cenderung ofensif. Hal ini terbukti dengan, beberapa jam kemudian, tulisan tersebut hilang dari kanal informasi tersebut. Hal ini berarti dua hal; 1) ada usaha untuk membungkam sebuah kanal informasi; 2) tulisan tersebut dianggap melanggar kebebasan/hak orang lain. Saya juga sempat bingung apakah tulisan tersebut masuk dalam kategori Hate Speech atau Freedom of Speech. Hate Speech karena tulisannya tidak bisa diverifikasi dengan akun anonimusnya. Jika terbukti tidak benar, tulisan ini bisa menyinggung semua orang yang berafiliasi dengan Tempo. Dengan begitu banyak orang yang mengemukakan tulisan Jilbab Hitam yang dianggap didasari asumsi tanpa bukti hanya menjadi fitnah. Tapi hal tersebut juga bisa dikatakan freedom of speech dengan akun anonimus jika hal tersebut bisa menjadi cara untuk mengartikulasikan opininya saat keselamatan narasumber terancam. Maka dari itu, sama seperti akun wikileaks, akun Jilbab Hitam ini menjadi perdebatan apakah ia informasi yang dapat dipercaya ataupun tidak. Terlepas dari itu setiap informasi yang kita dapat memang harus dibuktikan apalagi jika informasi tersebut muncul ke permukaan dengan grasak grusuk. Seperti kata Montaigne, "He who establishes his argument by noise and command, shows that his reason is weak."

Terlepas dari riuh rendahnya opini orang di Twitter, saya kembali flashback ke zaman saya kuliah. Majalah Tempo adalah salah satu majalah yang harus dibaca oleh mahasiswa. Terutama mahasiswa ilmu politik dan sosial. Jangan heran tiap kali majalah itu tiba di etalase tempat fotokopian fakultas, tidak butuh waktu lama mahasiswa silih berdatangan membelinya. Dan tidak jarang pula, badan pers dan jurnalistik di berbagai kampus mengadaptasi struktur organisasi dan metode penulisan Tempo.

----
Beberapa minggu setelah isu Jilbab Hitam reda karena terbongkarnya siapa di balik akun tersebut dan juga klarifikasi dari pihak yang dituduh (Bank Mandiri, Tempo, Katadata), twitter sudah mulai ramai lagi. Saat saya membuka Twitter ternyata ada kasus yang menjerat Sitok Srengenge (SS), salah seorang budayawan dan penyair Indonesia. Setelah saya telusuri dari berbagai media, saya mendapatkan sebuah kronologi kasar yang menyimpulkan bahwa ia terlibat kasus 'perbuatan tidak menyenangkan' yaitu menghamili seorang mahasiswi. Lagi-lagi kasus ini menuai banyak asumsi. Yang membela SS tidaklah sedikit. Yang membela korbannya juga tidak sedikit. Percekcokan tentang hal yang jauh dari esensi juga terjadi di twitter seperti mengapa korban baru melapor setelah tujuh bulan hamil atau usia korban kan sudah cakap hukum, apa kalau tidak hamil akan tetap melapor, kenapa harus merasa dirugikan, sampai jawaban lucu terhadap pertanyaan kenapa memakai argumen budaya patriarki untuk melihat bahwa laki-laki bisa mengintimidasi wanita. Saya sendiri yang awam dan jauh dari pusaran informasi akan perkembangan kasus tersebut memilin asumsi-asumsi dari informasi yang didapatkan. Respon tersebut sebagian ada yang menguatkan korban dan sebagian justru mencela, yang membuat saya tertawa miris, sedih.

Mungkin tujuh bulan adalah lamanya ia untuk mengumpulkan keberanian memberitahu dunia akan hal yang terjadi padanya, mungkin perlu tujuh bulan baginya untuk mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang untuk menuntut keadilan. Dan tidak perlu di bawah umur untuk melaporkan tindakan-tindakan asusila atau tidak menyenangkan apalagi sampai menghamili. Terlepas dari kemungkinan itu, faktanya adalah ada seorang mahasiswa yang hamil tujuh bulan yang pasti dibanjiri air mata dan diliputi kebingungan. Ada seseorang yang butuh dikuatkan. 

Saya berusaha adil dalam pikiran. 

SS adalah penyair yang karyanya saya sukai. Setidaknya saya harus menemukan sudut pandang dia. Dari yang saya baca, ia melontarkan kalimat suka sama suka sebagai bagian dari pembelaannya. Dan pembelaannya yang lain adalah usahanya untuk menemui korban dibatasi atau setidaknya tidak dimediasi. Ia juga menuduh bahwa usahanya untuk bertemu dengan korban seolah dihalangi oleh mediatornya padahal dari jauh hari dia siap bertanggung jawab. Dalam melihat kasus seperti ini, saya ingin bersikap netral. Mungkin ada hal yang tidak saya ketahui, namun diketahui kedua pihak tersebut (atau kepolisian). Jadi buat apa saya membela salah satu pihak? Saya juga toh tidak mengenal keduanya. 

Tapi di sini saya harus mengambil sikap. Mengapa? Pertama, saya tumbuh bersama sastra. Sejak kecil sastra sudah menjadi sebuah dunia tempat saya mengasingkan diri. Saya menemukan kebebasan sekaligus pemberontakan dalam puisi. Termasuk puisi-puisi SS yang pernah saya bacakan di depan kelas sewaktu SMP dulu. Buku-bukunya juga saya miliki di rumah. Saya merasa dekat dengan sastra, salah satunya ya karena karya SS. Namun begitu, ada hal yang lebih besar dari sekadar tumpukan buku tersebut. Ada seseorang wanita yang telah 'dicederai'. Saya tak habis pikir bagaimana jika wanita tersebut adalah orang yang saya kenal. Saya berdoa semoga korban mendapatkan keadilan yang dicarinya. Lucunya, ada media yang secara khusus menggunakan eufimisme yang menurut saya berlebihan dalam membingkai berita-berita tentang SS. Beritanya menjadi lunak dan 'enak' dibaca. Well, saya tidak akan membahas itu lebih dalam.

---------

Hari Minggu yang tenang.

Setelah beres kuliah penuh satu minggu dan juga ujian, saya berhak untuk bermalas-malasan.

Sambil berleha-leha, saya berpikir bahwa tentu saja banyak yang berubah seiring berjalannya waktu. Persepsi kita terhadap sesuatu berubah. Mentalitas kita juga berubah. Dulu, saya ingin sekali terjun di dunia jurnalistik sebagai wartawan. Menonton peran wartawan di film The Hunting Party (2007), Balibo (2009), Good Luck, and Good Night (2005) dan The Killing Fields (1984) memicu keinginan saya untuk menjadi wartawan. Namun mendengar beberapa teman yang mengeluh bahwa beberapa berita-berita yang didapat harus sesuai dengan framing tempat dia bekerja membuat saya berpikir ulang. Hal tersebut memang wajar, apalagi wartawan juga memiliki perspektif tersendiri dalam menangkap realitas yang ada (subjective realism). Dulu, saya beranggapan bahwa sastrawan memiliki idealismenya sendiri.  Entah ia memotret kehidupan pada zamannya melalui prosa ataupun lari dari zamannya melalui proses, menjadi penyair dan menulis adalah bagian dari diri saya yang tak mungkin dihilangkan. Agak naif jika kejadian akhir-akhir ini menjadi generalisasi tentang apa yang ingin saya menjadi. Namun contoh adalah contoh. Masyarakat merekam itu semua.

Jadi apa saya tetap ingin menjadi seorang jurnalis atau sastrawan? Saya sendiri belum tahu. Setidaknya saya masih punya waktu berpikir hingga saya selesai kuliah. Terlepas keprofesian, saya masih menyukai kedua dunia tersebut.

Tuesday, 3 December 2013

Tersesat di Paris (1)

Berada di Eropa adalah sebuah mimpi untuk anak kampung seperti saya. Mimpi yang dirajut oleh konstruksi tentang negeri-negeri yang sama sekali berbeda itu hanya terangkum melalui film-film seperti Paris Je t'aime, Run Lola Run, The Baader Meinhof Complex, Amelie, Amour, Before Sunset, The Diving Bell and Butterfly, When in Rome, dan semacamnya yang kebanyakan berlatar di Perancis. Ditambah waktu kuliah sarjana dulu, ada mata kuliah khusus yang saya ambil: HI Eropa dan ekskursi bahasa Perancis di luar kampus. Selain itu, saya tertarik dengan para pemikir dan penulis dari Perancis. Sebut saja Descartes, Rodin, Sartre, dan Beauvoir. Jadilah saya seorang francophille. Otomatis Perancis adalah negara Eropa yang ingin paling saya kunjungi.

Dengan adanya kesempatan studi di Belanda, saya mencoba backpack ke Paris dengan titik awal keberangkatan dari Amsterdam. Sebelumnya saya sudah booking hotel di www.hostelbookers.com dan tiket megabus di www.megabus.uk. Kedua websites ini merupakan penyedia akomodasi yang paling murah yang saya temukan. Megabus adalah penyedia bus yang paling murah. Dengan tiket seharga £12, saya sudah bisa berangkat ke Paris dalam enam jam. Padahal jika menggunakan kereta langsung dari stasiun hanya memakan waktu tiga jam dengan tarif yang lebih mahal. Kami memutuskan untuk mengambil keberangkatan pukul 23.00. Megabus ini hanya memiliki dua jadwal keberangkatan Amsterdam - Paris dalam sehari. Sedangkan untuk hostelbookers.com, banyak sekali hostel dan juga apartemen yang murah di sekitar Paris. Teman saya menemukan sebuah apartemen dengan dapur seharga €23/hari. Saya memilih apartemen karena lebih hemat saat pergi bergerombol. Saya juga dapat menghemat pengeluaran dengan masak sendiri. Perlu diingat bahwa pembayaran hostelbookers dan Megabus akan lebih mudah jika menggunakan kartu kredit. 

Rencana saya untuk pergi ke Paris ini ternyata mendapat respon yang lumayan bagus dari teman-teman kampus saya. Setelah pergantian personil siapa yang ikut dan siapa yang tidak, ada 12 orang yang memutuskan backpack dengan saya. Semuanya orang Indonesia. Hal ini justru lebih menyenangkan untuk saya. Perjalanan akan menjadi lebih mudah dan menyenangkan jika kita bepergian bersama teman setanah air. Satu lagi, biaya perjalanan pun akan menjadi jauh lebih murah jika dibagi oleh banyak orang. Tanggung jawabpun menjadi lebih merata. Satu orang bertugas masak, satu mengurusi hotel, satu mengurusi tiket, dan satu mengurusi itinerary. 

Setelah semua urusan booking selesai, Rabu siang kami kumpul di Amsterdam. Sebelumnya kami jalan-jalan di sana untuk membeli bekal, atau sekadar mengunjungi toko-toko di sekitar. Saya sendiri penasaran masuk ke dalam Sex Museum dekat Stasiun Amsterdam Centraal. Teman-teman yang lain agak terkejut saya masuk ke museum tersebut. Tanpa susah payah menjelaskan saya hanya menjawab penasaran. Sebenarnya selain penasaran, saya ingin tahu bagaimana sejarah membentuk kontruksi seksualitas di Eropa ini. Ini bukan zaman ratu Victoria, yang mengekang para libertad. Dan lagi, saat kuliah sarjana, ada mata kuliah yang benar-benar wajib diikuti: Gender dan Seksualitas dan membuat saya penasaran dan tertarik dengan seksualitas. Pada akhirnya, saya masuk ke museum ini (Bakal ada di postingan berikutnya).

Pukul 20.00 saya bergegas menuju tempat pertemuan dekat hotel Krasnapolsky. Beberapa menit menunggu teman-teman yang lain, kami pun berangkat menuju port keberangkatan Megabus yang berada di Zeeburg P&R Coach Park di Zuiderzeeweg. Karena saya (dan kawan-kawan) melihat lokasi coach park ini hanya berada 3 Km dari stasiun, kami memutuskan jalan kaki. Setelah 30 menit jalan, kami tidak menemukan lokasi tersebut. Setelah tanya sana-sini dan juga mengandalkan google maps, kamipun mengetahui kenyataan bahwa lokasi Megabus tersebut berjarak 8 Km dari stasiun. Karena yang ada hanya jalan ke depan, kami menempuh jarak 8 Km dengan sukarela (mungkin beberapa ada yang terpaksa). Saya haturkan kekaguman saya kepada teman-teman senior dalam perjalanan kaki ini. Walaupun mengeluh capek dan membawa ransel yang sangat berat. Hal ini berkat google maps dan juga keberanian kami dalam bertanya sana-sini. Jika teman-teman tidak suka jalan, lebih baik menggunakan bis. Cukup merogoh kocek 2 Euro dapat menghemat energi yang dikeluarkan selama 2 jam, sejauh 8 Km. Namun, saya menemukan hal unik pada orang-orang Indonesia alias kawan-kawan saya ini. Saya pikir mereka pasti akan menolak jika mereka tahu bahwa jarak antara stasiun dan coach park ini ternyata 8 Km. Karena 8 Km dicicil menjadi beberapa tahap mereka tidak ngeh kalau mereka sudah berjalan sejauh itu.

A: "Berapa jarak dari sini ke kandang Megabus?"
P: "Cuma 3 Km."

---setelah jalan 3 Km-----

B: "Dip, kok belum nyampe?"
P: "Itu, satu kilo lagi."

---setelah jalan 4 Km-----

C: "Gimana tadi tanya orang? Berapa jauh lagi?"
P: "Katanya sekilo lagi."

-----Setelah jalan 5 Km dan energi mulai terkuras-----

D: "Dip, kok kagak nyampe-nyampe?"
P: "Jalan 30 menit lagi pasti nyampe."
A, B, C, D, dll: "serius!!!!"

-----Setelah jalan 7 Km dan harapan sudah mulai pupus-----

P: "Udah deket kok. Tuh lihat, bisnya!!"


Tekad untuk mengejar keberangkatan bis yang pukul 23.00 ini ternyata bisa menjadi bensin bagi kami untuk menggerakan kaki di tengah malam yang sudah larut dan juga dingin. Kami tiba di Zeeburg P&R Coach Park di Zuiderzeeweg pukul 22.00 lewat sedikit. Ternyata P&R Coach Park ini adalah taman untuk parkir bis dan mobil (Park & Ride). Banyak bis dan mobil yang berjajar entah itu menunggu penumpang ataupun hanya sekadar parkir. Letak Coach Park ini berdekatan dengan tempat kemping dan juga aktivitas outdoor. Hati-hati jika ada yang kebelet ke toilet. Karena toilet umum yang ada di sana sering kali tutup pada malam hari. Jangan bayangkan pool Megabus seperti pool travel Cipaganti atau X-Trans yang dilengkapi sofa, kafetaria, dan juga mushola plus toilet. P&R Coach Park benar-benar taman yang luas. Pilihan saya hanya dua saat itu: menahan sampai bis berangkat atau pipis di semak-semak. Akhirnya saya memilih yang paling logis dan nyaman. Kami harus menunggu di taman terbuka yang dingin. Karena kedinginan dan juga kelaparan, kami membuka bekal yang telah kami siapkan sebelumnya sambil menunggu keberangkatan.

Pukul 23.00 sopir Megabus mendekati para penumpang yang sedang duduk-duduk kedinginan. Ia berteriak dengan aksen Britishnya, "Tujuan Brussels dan Paris, merapat sini!" Saya dan beberapa teman sempat nyengir karena sopirnya mirip Hagrid di film Harry Potter. "Hagrid, take us to Paris, would ya?" bisik saya sambil ketawa. Kayaknya sih dia denger. Soalnya abis itu saya disuruh simpan tas di bagasi. Padahal ukuran tas saya tidak terlalu besar, hanya tas dailypack biasa. Hagridpun memeriksa tiket online yang sudah diprint dan mempersilakan kami menaiki Buckbeak, Megabus. Di dalam, interior busnya tidak terlalu mewah namun juga tidak jelek. Sangat standar dan ergonomis. Kami harus menunggu setengah jam karena ada penumpang yang datangnya telat. Saat dia datang, semua penumpang langsung lempar tomat, dia meminta maaf karena telat dan akhirnya perjalanan pun dimulai.

Enam jam tidak terasa di dalam bus karena pukul 05.30 saya sudah tiba di P+R Porte Maillot Paris. Perjalanan tidak terasa karena dilakukan malam hari dan untung karena saya tukang tidur. Saya hanya bangun saat transit di Brussels setelah itu tidur lagi. Sebelum turun dari bus, pastikan sudah berkunjung ke toilet yang ada di bus. Ini yang paling penting. Karena lima menit saya turun dari bis dan menjauhinya, sesaat itu pula busnya sudah hilang. Jangan..jangan?? Ya karena harus kejar setoran. Jadi saya harus menahan ritual pagi-pagi itu. Di sana saya ketemu teman sekelas saya dari Kolombia yang baru akan pulang. Dia bilang di Porte Maillot tidak ada toilet. Memang benar apa yang dia bilang. Karena Porte Maillot suasananya serupa dengan Zeeburg P&R Coach Park. Toiletless.

Kami memutuskan untuk mencari toilet terdekat terlebih dahulu. Eforia Paris mesti tertunda karena persoalan ini. Saya menemukan subway atau yang lebih akrab dengan sebutan Metro dekat Porte Maillot. Masuk ke stasiun bawah tanah, loket masih tutup. Dan kami tidak menemukan toilet sama sekali. Ada teman dalam rombongan yang pernah ke Paris tapi dia juga lupa seluk beluk Paris. Sambil menyadarkan diri di sana -beberapa foto map Paris dan Subway, beberapa cari makan-minum- saya mencari toilet. Karena untuk masuk ke dalam stasiun harus menggunakan karcis, saya harus berpikir dahulu. Karena sebelumnya saya baca di http://www.ratp.fr/ (berguna untuk memahami sistem transportasi di Paris, map juga tersedia) bahwa harga tiketnya bervariasi dan paling murah €1.7 untuk zona tertentu dalam satu hari. Sayang jika menggunakan tiket hanya untuk mampir ke toilet. Saat saya sedang berpikir keras untuk beli tiket 'toilet' atau tidak, tiba-tiba beberapa orang berkulit hitam melompati mesin tiket. Beberapa temannya malah masuk melalui pintu keluar. Saya bengong. Di saat saya bengong, ada orang Cina yang menggunakan satu tiket untuk dua orang. Mereka masuk berdempetan. Di saat saya sedang bengong, tiba-tiba seorang teman saya sudah berada di dalam. Dia masuk melalui pintu keluar. "Dip, mau cari toilet kagak?"

Dengan mengumpulkan keberanian, saya masuk melalui pintu keluar. Mudah-mudah tidak terekam CCTV dan tidak dilaporkan ke kedutaan RI. Saya mengajak teman lain yang ingin pergi ke toilet. Di dalam stasiun metro memang serupa dengan kereta bawah tanah yang selalui dipotret di film-film dengan setting kota besar. Lorong agak gelap yang panjang dan juga mencekam. Mungkin karena asing jadi persepsinya didramatisasi. Tapi setelah 15 menit muter-muter lorong subway (sempat nongkrong lihat kereta bawah tanahnya dulu), ternyata tidak ada toilet di dalam stasiun! GAWAT!! Untuk memastikan, saya tanya seorang bapak dengan bahasa Perancis.

P: "Pak, di sini ada toilet gak sih?"
Bapak: "Kagak ada di sini mah."
P: "Terus adanya di mana?"
Bapak: "Di kafe-kafe."
P: "Tengs, Pak."
Bapak: "Yoi"

Ternyata setipe dengan Amsterdam. Gak ada toilet umum kecuali di stasiun besar atau kafe-kafe. Nasib berarti harus menahan ritual pagi-pagi. Kamipun balik lagi ke depan loket stasiun di mana teman-teman kami menunggu. Tujuan pertama kami adalah Arc de Triomphe yang ada di Charles de Gaulle Étoile. Kalau di peta, tinggal lurus dari Porte Maillot. Tapi kenyataannya banyak jalan bercabang dan papan nama jalannya sulit ditemukan. Google maps tidak bisa diandalkan karena roaming. Teman saya berinisiatif bertanya pada seorang warga menggunakan bahasa Inggris:

A: "Pak, tau Charles de Gaulle Étoile gak?"
Bapak: "Maaf, gak tau." -- Sambil melengos dan buru-buru pergi.

Semua jadi panik. Teman-temanpun mendorong saya untuk bertanya kepada warga menggunakan bahasa Perancis. Salah seorang teman malah mencegat warga sambil berkata, "Dip tanya dia aja! Cepet!" Otomatis warga tersebut kaget dan merasa terancam, akhirnya saya buru-buru ngomong:

P: "Maaf mas, mau tanya. kalo jalan ke Arc de Triomphe lewat mana ya?"
Mas: "Maksud lo, Charles de Gaulle Étoile."
P: "Iya, itu!"
Mas:" Lu lihat gedung tinggi yang ada lampu warna merah itu? Dari situ jalan terus aja."
P: "Jauh gak?"
Mas: "Ya, lumayan lah. Satu kilo."
P: "Oh deket itu mah. Thanks bgt mas."
Mas: "Sama-sama."

Berangkatlah kami menuju Arc de Triomphe. Beberapa meter kami melewati jalan bawah tanah yang bau pesing, kami menemukan taman. Di sana kami memutuskan untuk sholat subuh terlebih dahulu. Termasuk cuci muka dan gosok gigi. Tamannya besar dan untungnya gelap. Sayapun dihadapkan pada pilihan yang sulit lagi. Pipis di semak-semak atau tahan sampai menemukan toilet yang entah kapan. Setelah bersih-bersih dan berdoa agar tidak dilaporkan warga, kami melanjutkan perjalanan. Sepuluh menit berjalan, saya tiba di destinasi pertama: Charles de Gaulle Étoile.


Tempat ini merupakan salah satu tempat historis di Paris. Wajib dikunjungi bagi saya karena monumen ini dibangun atas perintah Napoleon Bonaparte. Arc de Triomphe sendiri berarti Gerbang Kemenangan. Sesuai namanya, monumen ini sebagai simbol kemenangan tentara Perancis yang kala itu dipimpin Napoleon melawan tentara Austria. Kalau baca di wikipedia, tempat ini juga jadi tempat untuk mengenang tentara yang gugur. Karena itu banyak karangan bunga di simpan di sekitarnya pada hari-hari tertentu. Sayang hari itu saya tidak melihat karangan bunga apapun. Setelah selesai foto-foto dan istirahat, kami lanjut menuju destinasi kedua: Menara Eiffel. Sebenarnya Arc de Triumph ini dekat dengan kawasan Champs Elysees yang terkenal dengan toko-toko modis dan trendi. Tapi karena saya gak punya ketertarikan sama fashion, saya melewatkan jalan-jalan di sana. Selain itu, saya juga yakin kalau toko semacam Louis Vitton di Jakarta lebih besar daripada di sana.

Jalan lima belas menit dari Arc de Triumph melalui Trocadero dan Passy, menara Eiffel sudah terjangkau oleh jarak pandang.

Saat melewati jalan Trocadero, saya sempat melihat beberapa pengemis. Saya duga sih migran dari Aljazair atau Timur Tengah. Mereka duduk di kursi kecil dan menyodorkan kaleng atau tangannya. Saya juga sempat melihat seorang ibu yang mengepak barang bawaannya di trotoar. Ternyata semalam dia tidur di sana. Selain itu saya berpapasan dengan beberapa wanita muda yang menggeret koper. Pemandangan yang tampaknya sudah biasa. Sambil mengamati sekeliling, saya tiba di ujung jalan Trocadero dan Passy. Simpang lima di mana saya bisa melihat menara Eiffel dari atas jalanan.

Dari jalanan, ada beberapa orang yang menawarkan suvenir gantungan kunci dan replika menara Eiffel. Mereka mendekati dan menyapa dalam bahasa Indonesia. Dan menyapa kita dengan nama-nama yang umum semisal Ahmed atau Anto. Ya, trik lama. Tapi yang menggiurkan adalah harga yang bisa kita tawar. Misalnya lima gantungan kunci yang dihargai €1. Kita bisa menawar lebih murah lagi terlebih jika membeli banyak. Namun mesti berhati-hati dalam bertransaksi karena mereka sering main kucing-kucingan dengan polisi. Iya, mereka penjual ilegal. Makanya saya tidak berani membeli barang yang terbilang mahal saat mereka menawarkan jam tangan murah tapi bermerek asli. Belum tentu asli juga. Tapi teman saya mendapatkan untung karena hal ini. Saat bertransaksi, ada polisi yang mendekati. Kemudian penjual tersebut lari tanpa sempat mengambil barang yang sudah ada di tangan teman saya. Sedangkan teman saya belum membayar barang tersebut. Karena polisi yang patroli semakin banyak dan intens, para penjual enggan mendekati. Akhirnya teman saya mendapatkan gratis!


Saya tak henti mengucap syukur bisa melihat menara Eiffel. Karena apa yang saya alami sebelumnya baik dan buruk, senang dan sedih, pertemuan dan perpisahan, telah membawa langkah saya ke sini. Saya tidak pernah menuntut orang tua untuk mendukung saya pergi ke sini. Saya juga tidak pernah menuntut Tuhan agar saya bisa ke sini. Saya hanya berdoa dan berharap jika memang saya memang digariskan untuk bisa pergi ke Paris, saya akan berusaha. Ya, saya terus berusaha. Mengingat setahun sebelum lulus, saya mencoba mengirim surat korespondensi dengan profesor dan dosen di Paris. Meminta surat rekomendasi dan LOA. Saya pernah mendapat salah satunya. Mendapat keduanya juga pernah namun tidak mendapatkan beasiswa penuh. Meski mendapat beasiswa tuition fee saja atau biaya hidup saja, tetap sulit untuk memenuhi komponen salah satunya yang membutuhkan biaya banyak. Akhirnya saya membulatkan tekad untuk mencari beasiswa penuh. Oh ya, kalau mau berkoresponden dengan profesor di Perancis lebih baik menggunakan bahasa Perancis karena mereka sangat menghargai orang asing yang menggunakan bahasa Perancis. Tiga puluh menit sudah saya habiskan untuk berkontemplasi sambil melihat menara Eiffel yang masih ditutupi kabut. Saya berharap bisa kembali melihat menara Eiffel ini dengan orang yang saya sayangi. Saya masih ingat dari film Paris, Je t'aime bahwa Paris is city of romance. Kalau kita menghabiskan wktu di kota ini sendiri, alangkah ruginya :)


Beres foto dan kontemplasi, kami akan piknik di taman di depan menara Eiffel. Dalam foto di atas, kita tinggal menuruni beberapa tangga. Saya bersama beberapa kawab duduk di sebuah bangku tamn sambil menyantap bekal kami. Sesekali ada penjual suvenir yang bersikeras menawarkan dagangannya. Cuaca hari itu juga agak mendung. Sangat syahdu untuk menikmati suasana di taman. Tiba-tiba beberapa perempuan mendekati saya. Mereka membawa surat dan dengan bahasa Inggris yang pas-pasan berkata bahwa surat itu adalah sebuah petisi. Mereka meminta saya dan teman-teman untuk menandatangani. Saya sudah tahu gelagat mereka. Saya lihat isi petisinya untuk orang-orang homeless dan tunanetra-tunarungu.

M: "Mas. Kami minta dukungannya untuk petisi sosial."
P: "Petisi sosial apaan?"
M: "Ya untuk kegiatan sosial. Mas cuma harus tandatangan doang untuk memberikan dukungan."
P: "Bener, tanda tangan doang?"
M: "Iya."


Sebelumnya, saya sudah mencari tahu seluk beluk kota Paris di Internet dan mendapatkan informasi dari berbagai blog untuk berhati-hati terhadap penipuan semacam itu. Saya juga sudah memperingati kawan-kawan saya mengenai hal ini. Karena setelah menandatangani petisi tersebut kita dipaksa untuk menyumbangkan sejumlah uang. Kenapa saya bilang ini penipuan? Pertama, petisi itu berupa dukungan persetujuan terhadap satu aksi. Tanda tangan saja sudah cukup. Kedua, jika memang membutuhkan dana, mereka seharusnya bilang dari awal bahwa ini adalah sumbangan. Sayangnya satu teman saya, entah simpati atau khilaf, membubuhkan tanda tangan. Setelah itu dia dipaksa untuk menyumbang. Dia bilang ogah tapi si perempuan tetap minta. Karena kesal teman saya memberi alakadarnya. Yang mengejutkan, si perempuan tadi memaksa lagi. Dia bilang minimal sumbangan € 10. Buset. Akhirnya dengan kekuatan Indonesia bersatu kami berduabelas mendekati perempuan yang sedang memaksa teman saya itu. Melihat kami bergerombol, dia bergegas pergi sambil menggerutu.

Saya berpikir. Uang 10 bagi mahasiswa seperti kami sangatlah berarti. Dengan jumlah tersebut, kami bisa membeli 30 butir telur, 1 kg Ayam, dan 5 kg beras. Teman saya yang memberi secara sukarela juga akhirnya menggerutu. Tapi ya semoga saja dia ikhlas dan rezekinya ditambahkan. Insiden menyebalkan tersebut tidak membuat mood kami rusak. Kami lanjut mendekati menara Eiffel. Di dekat menara Eiffel, beberapa teman saya membeli oleh-oleh. Menurut saya harganya agak mahal. Jelas karena lokasinya strategis di daerah wisatawan. Selagi teman-teman membeli oleh-oleh. Saya mengantri untuk membeli tiket masuk ke dalam menara Eiffel. Antrian pag-pagi tidak begitu panjang, sebaiknya datang sebelum jam 11 siang. Tiket untuk masuk dan naik ke menara Eiffel terbagi dua. Yang pertama €9 hanya sampai level satu menara Eiffel. Yang kedua €12 sampai level kedua. Hal yang harus diperhatikan saat memutuskan naik atau tidak adalah cuaca. Karena saat itu cuaca sedang tidak begitu cerah, pemandangan dari menara Eiffelpun tidak begitu jelas dan indah. Selesai menara Eiffel, kami lanjut menuju destinasi ketiga: museum Louvre. Sebelumnya, saya melakukan ritual dulu di toilet dekat menara Eiffel. Mengingat susah sekali menemukan toilet umum, saya ajak badan saya bekerja sama untuk membuang muatan-muatan yang tidak perlu di sana.


Beres urusan di toilet. Ada perubahan. Kami harus segera check-in di hostel tempat kami akan menginap. Ternyata teman saya keliru melihat lokasi. Chelles, hostel yang saya book, ternyata berada di paling tenggara kota Paris. Dekat metro terakhir di rute E yaitu Chlles Gournay. Jalan tidak memungkinkan karena jarak dari Eiffel ke Chelles sekitar 30 Km. Maasalahnya kami tidak familiar dengan sistem metro di Paris. Biasanya turis yang jalan-jalan di pusat kota Paris hanya memerulkan tiket t+ yang berlaku untuk zona 1-3 karena jarak yang ditempuh berdekatan. Harga tiket t+ 1.7 per lembar namun menjadi €13.3 untuk satu carnet (baca: karnaey) yang isinya 10 lembar. Sedangkan untuk pergi ke daerah yang agak jauh, diperlukan tiket RER yang harganya tergantung jarak atau zona. Chelles berada di zona 4 oleh karena itu kami harus membeli tiket zona 3-5 seharga €4.47. Hal ini kami ketahui nanti. Di stasiun dekat menara Eiffel, saya membeli tiket 13 tiket t+ (1 Carnet, 3 single). Awalnya saya tidak tahu bahwa Chelles harus ditempuh dengan tiket yang berbeda karena berada di zona 4. Setelah membeli dari loket, kami berangkat ke Chelles. Kami harus ganti kereta di dua stasiun untuk mencapai Chelles. Saya tidak terlalu suka kereta bawah tanah. Pengap dan panas. Dibandingkan sistem kereta di Belanda, Perancis kalah dari segi kebersihan dan keteraturan. Sedangkan dari segi cakupan area, Perancis jauh di atas Belanda. Hanya saja, sama seperti kota-kota besar lainnya, di stasiun Paris dapat kita temukan banyak orang mabuk di pagi-malam hari. Meminta-minta. Atau jualan mainan. Dan jangan sangka di dalam kereta tidak ada pengamen. Nyatanya ada walaupun lebih elegan dan juga merdu suaranya dibandingkan pengamen di Indonesia. Itulah mengapa mereka menyebut diri mereka sendiri seniman jalanan.

Sampai di stasiun Chelles de Gournay, kami agak cemas karena takut turun di stasiun yang salah. Setelah memastikan benar, kamipun lega. Namun tidak lama, masalah lainnya muncul. Di setiap stasiun, entah itu mau masuk atau keluar atau ganti zona, kita harus memasukan tiket yang kita beli sehingga palang pintu tiket otomatis terbuka. Nah, di stasiun ini mesin tidak mau menerima tiket kami. Beberapa kali terdengar bunyi TEEEEEEt saat kami memasukan tiket ke dalam mesin. Kami pikir mesinnya yang rusak, tapi kami melihat orang-orang memasukan tiket dan palangnya terbuka secara otomatis. Kami mulai panik. Karena tidak seperti di stasiun-stasiun sebelumnya, stasiun Chelles de Gournay ini tampak teratur, bersih, dan dijaga oleh satpam stasiun. Agak sulit jika kami ingin berbuat 'kreatif'. Saya berpikir dan mengatakan pada teman-teman bahwa ini pasti karena tiket kita tidak mengakomodasi sampai Chelles. Tadinya saya ingin bertanya pada satpam yang melewati kami tapi saya ragu karena tidak tahu alasannya. Tapi karena terdesak keadaan, saya akhirnya kejar satpam tadi. Waktu saya mau mengejar satpam tadi, ternyata seorang teman sudah memanggil petugas di loket dengan mengetuk pintu loket tersebut. Muka petugas tersebut agak terganggu dan marah. Saya berlari ke arahnya, dan cepat berkata:

P: "Maaf mengganggu pak. Saya mengalami masalah kecil."
Bapak: "Masalah apa?"
P: "Begini, saya dan teman-teman tidak bisa menggunakan kartu ini untuk keluar stasiun."
Bapak:"Coba lihat kartunya. Hmm. Kamu abis dari pusat kota ya?"
P: "Iya Pak."
Bapak: "Tiket ini gak bisa dipakai sampai Chelles. Kamu harus membeli tiket lagi untuk sampai sini."
P: "Oh gitu. Saya tidak tahu. Jadi tiketnya beda-beda ya pak?" --Pura-pura polos dan (beneran) gak tau
Bapak: "Iya. Kamu dari mana?"
P: "saya warga negara Indonesia tapi tinggal di Belanda pak."
Bapak: "saya kir kamu orang Spanyol. Banyak yang ngaku Spanyol dan gak tau masalah ini."

----mungkin si bapak curiga kalo saya -nurutin orang Spanyol itu- pura-pura gak tahu. Wuih, kudu lebih kreatif nih-----

P: "Yaaaah pak, jadi saya harus balik lagi ke pusat kota untuk beli tiket lagi yang ke sini pak?"
Bapak: "Harusnya sih gitu. Ada berapa orang kamu sama teman-teman kamu?"
P: "Sama saya jadi 13 orang pak."
Bapak: "Waddduhh.. Yaudah, kali ini saya izinkan kamu dan teman-teman kamu lewat. Tapi lain kali jangan lagi ya."
P: "wah makasih banyak pak."

Teman-teman saya langsung ngikutin saya ngomong mersi boku monsyeur...Dan melelahkan juga sih ngomong dan mendengarkan bahasa Perancis sepanjang itu. Tapi kalau gak pake bahasa Perancis malah dibuat susah. Teman saya sudah coba tanya pake bahasa Inggris tapi malah dicuekin.

Kata adik saya sih, warga Perancis bangga sama bahasanya dan ogah pake bahasa Inggris karena dulu mereka pernah hampir dijajah Inggris. Yah, yang penting bisa keluar.

Berhasil keluar dari stasiun kami langsung menuju hostel karena sudah kelelahan. Jalan 15 menit lagi benar-benar menguras enegri kami. Sesampainya di hostel, kami tidak bisa masuk. karena respsionis berada di dalam gedung jauh dari pintu masuk. Sedangkan untuk masuk, kita harus memiliki kartu akses. Jadi gedung hostel yang kami tinggali ini seperti semi apartemen yang disewakan lebih murah jika menginap dalam waktu yang lama. Satu lagi, resepsionisnya cuma stand by sampai jam 5 sore. Itu alasan kami harus buru-buru check-in. Sebetulnya saya sudah menyarankan hotel lain yang lebih dekat di pusat kota namun teman saya keukeuh bahwa hostel ini dekat pusat kota. Untuk hal teknis semacam ini, tidak ada yang tahu. Saya sempat baca sekilas tentang review hostel ini. Jadi saya bisa menduga-duga apa yang harus saya lakukan. Akhirnya saya bertanya pada seorang lelaki tua yang tampaknya penghuni lama di sana dan menjelaskan situasi kami. Dia baik karena mau mengantarkan saya ke resepsionis sementara teman-teman saya menunggu di luar. Resepsionisnya sangat baik. Karena urusan hotel, teman saya yang ngurus, saya bilang ke resepsionisnya kalau teman saya gak bisa bahasa Perancis. Dan dia langsung mengerti dan ganti menggunakan bahasa Inggris. Sebenarnya kalau ngobrol pake bahasa Perancis bahas hal-hal yang ringan dan santai sih menyenangkan tapi kalo situasi mendesak terus suka capek. Tapi untung juga bisa bahasa Perancis dikit-dikit walau salah sini salah sana, ternyata berguna banget.

Ya, karena capek akhirnya dari sore sampai malam saya tidur nyenyak diselingi bathtub malam hari membuat saya tidur lebih nyenyak. Untung kamarnya bagus kalau gak....ya gak bakal gimana-gimana juga sih, Udah untung bisa tidur.

Review saya tentang hostel ini bisa dilihat di sini.


What a first day in Paris :)

Bersambung

Friday, 1 November 2013

Today's Conversation

Having many friends from different countries may benefit us in many ways. The more, the merrier, isn't it? Along with it, cultural interaction and also friendship grow as we communicate on a daily basis. No matter what the difference is - age, sex, gender, religion, or beliefs  - interpersonal interaction is inevitable. Conversation may vary and bring us into wider life perspective and as a result, we will have more open minded personality. We will become more tolerant towards diversity. In a country where i come from, unity in diversity is the founding father's principle which has become less applicable in practice recently. You know, [some] people. When minor difference on skin, belief, and social status can be major issue in your country, you will know that some people are trying to coerce the homogenization of ideas and identity. It's politization also playing behind the curtain. Yeah, it's so sensitive i won't go any deeper.

Aside of it, i love interfaith dialogue which seeks no absolute truth but rather harmonizing values that can bring more significant understandings within the self. I think it can mediate the different norms existing that perpetuate harmony and tolerance in society. This morning in the class, i had very interesting conversation with my friend. Not actually interfaith dialogue but in a way, we understood that each of us has value that coexist with each other. She is a Bhutanese and very friendly. She sat next to me for lunch and i started small talk:

me: Anyway, do you understand our last lecture? I am really confused back there but you seem understand very well in the front.
her: No, i actually don't. You know, academic is not my first priority.
me: So why are you even here?
her: I need to sustain my life.
me: You believe in carnation, and i think i must be done many sins in previous life since i feel so stupid in present life.
her: Maybe. But nobody knows what we have done in previous life. You will be born and reborn in the next life as the consequence of your deeds in present life.
me It's quite scary. I'm thinking Journey to The West which brings in this Pig character whose karma is really bad and he must live thousand life cycle to free himself from love and desire. Have you ever heard about it? [now, i know why i like Patkay more than Go Kong anyway]
her: i think i have. It's quite true somehow. In life we know we have desire, lust, obsession, and so many emotions that keep us from being liberated.
me: yeah, we are attached to the world and we love it. How do we liberate ourselves anyway?
her: that's why love and other emotions can halt us. Once you have one. You want more. And once you have more, you want more more. Many friends want have PhD after completing this course, but not me. I just wanna go home and have a very nice life with my family. To liberate ourselves, meditation is one way.
me: like going to the mountain or somewhere placid and calming? you know, some of my family are Buddhists. And i read novels with Buddhist values inside of it, i am finding that the locus is on the balance of life. Anyway i don't have any obsession at least yet to purse PhD after this. I wanna go work and start my own life back home.
her: Meditation is not always done in mountain or even temple. It can also be done here, in the class. Everywhere, everytime. Even if when we talk, we can meditate. Surely, it requires a very high skill of meditation level. And i'm not capable of doing it. Actually what you read about those values are not the essence of Buddhist, surely it is Buddhist value but to really know about it, you can't only by read. Even my master needs to whisper to let me know about it because it is secret and sacred.
me: How do we even meditate in such a noisy place?
her: Every person has different meditation. Buddhism is not always being a vegan and meditating in a faraway places. Some may need to do it, but some may need do meditate in their noisy room, crowded place, and when talking and interacting with people.
Do you know what you're gonna do after this course?
me: what a question! Ha. Well, i don't actually know what i'm gonna do but i wanna be useful for others.
her: you should know the intention of what you are gonna do. Is that because you just wanna be useful or your soul needs it.

*thinking deeply*

I know when she mentioned meditation in noisy and crowded place, we were talking the way to have inner peace. Everybody needs it and must deal it in a different way. In Islam, there is a sufism that points out the schooling of life and detaching ourselves from worldish matter.






Talking about interfaith, i have watched one good independent movie that depicts the reality of having differences. Cin(t)a. It's introducing us that tolerance begins with understanding each other's differences. It's not everyone's fave but surely it is mine. 




Having tolerance towards difference is not easy to do, it takes time and also contemplating. Not about people's values but also their traditions, cultures, and also personality. It seems we shred a thick wall inside of our brain in order to gain complete knowledge about ourselves. Because when we understand each other, we are being brave to understand ourselves. There're scattered pieces of us spread in people and we need to have that by interacting with them, by experiencing.


Anyway, me and her needed to break the conversation because the class was starting in minutes and i needed to sholat beforehand. Yes, she is friendly and open minded. I like to talk with her about life and philosophy. She reminds me the purpose of me being here. I know it's not a mere academic study. I'm feeling like i'm here for something greater. Some times, things that appear to be the purpose are not the only purposes that are visible. I am like having vibes and directions to meet people, to experience many things. Happiness and sorrow. Laughter and tear.

One thing you have to remember as i keep in my own mind is that, you're there for something, you're doing something for some purpose. Maybe you haven't found it yet or maybe you have to fetch the purpose itself, but not matter what, your existence is way bigger that what you might think :)

Thursday, 31 October 2013

Herfst

Entah mengapa beberapa hari ini saya selalu ingin menulis sesuatu yang melankolis. Belum ada gairah untuk menulis sesuatu yang ringan, menyenangkan, dan mood boosting. Kalaupun ada satu tetes dua tetes mood seperti itu, pasti saya kerahkan semuanya untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang tidak saya sukai dan pahami karena berhubungan dengan banyak rumus dan angka. Saya selalu tidak beruntung dalam matematika dan teman-temannya. Mungkin karena otak saya sudah terbiasa menyelami kata-kata dan ilmu sosial.

Perasaan melankolis ini entah karena rindu tanah air atau rindu suasana di tanah air atau rindu orang-orang di tanah air. Yang jelas, beradaptasi dengan orang-orang dan lingkungan baru bukanlah salah satu keahlian saya. Saya lebih memilih menghabiskan waktu sendiri. Beberapa minggu ini saat ada waktu luang, saya habiskan dengan mengintip awan yang bergerak bebas dan leluasa di langit melalui jendela kamar sambil tidur telentang. Atau jika mata belum bisa lelah memandang, saya perintahkan mereka untuk membaca buku. Bukan buku kuliah tapi novel dan buku filsafat. Entahlah, perasaan ini seperti ingin benar-benar hanyut dalam irama angin Herfst yang tak tentu meniup guguran daun maple. Saya salut terhadap orang Eropa yang mampu mempertahankan produktivitasnya dalam suasana seperti ini.

Selain itu, saya juga ingin malam segera tiba. Berbincang dengan malam yang dingin, bermonolog dengan tetesan hujan yang menari-nari di luar atap rumah. Kadang kisau suaranya begitu menyayat hati dan menyeramkan. Beberapa kali Ssaya pergi ke luar untuk sekadar menyapa gigil dingin yang ditebar angin malam. Begitu dingin hingga saya tidak peduli keadaan sekitar. Benar-benar tidak peduli. Dan jika malam sudah larut, saya akan kembali masuk ke dalam kamar untuk tidur. Melupakan sejenak segala kerinduan yang terakumulasi dalam bilur-bilur air mata.


Melototin lampu hias yang bertengger intim di pohon maple. 

Jika sudah begini saya jadi ingat perkataan nenek saya bahwa setiap waktu akan datang dan silih berganti. Meski hari dan tanggal berganti, namun detik dan jam yang kita lalui akan selalu sama. Malam, siang, dan pagi hanyalah etalase waktu yang disodorkan untuk kita maknai. Jika saat ini saya adalah penyuka malam, ada kalanya saya menjadi pencinta pagi atau pecandu senja. Dan akan terus berputar. Saya menyadari bahwa hidup adalah semata siklus. Ada kebahagiaan yang silih berganti dengan kesedihan. Ada air mata yang berbuah tawa. Apapun itu, menikmatinya adalah harus. Karena jika kita enggan menikmati kesedihan, kita tidak akan tahu apa itu kebahgiaan. Nenek saya memang keren.

Jadi, untuk sementara waktu, silakan menikmati sisi melankolis saya [beberapa sahabat bertestimoni bahwa saya memang melankolis hopeless romantic sepanjang waktu]. Mungkin karena ini adalah Herfst, saya terbawa suasana kesedihan pohon maple yang kehilangan dedaunannya. Anggap saja ini sebagai bentuk toleransi antarmakhluk hidup. Tapi tenang, ada kalanya saya menulis hal yang menyenangkan. Tunggu saja! :)

*Kondisi seperti ini memang kondusif untuk menulis puisi dan prosa. Beberapa puisi akan saya post setelah ini.


Monday, 28 October 2013

solitude #18


It is said that one photograph can hold so many words and emotions. I completely agree. This modern days have brought us to the digital era where people love smartphones attached to their hand. And surely, it must be embedded with megapixels camera so they can capture moments flawlessly. Or their own faces. However pictures have dramatically turned our brain to love interpretation. I myself sometimes get bored with textual discourses as Barthes proudly says on the Death of the Author that might free us from the limitation and constriction of ways of interpreting. The messages are up to the reader. Things are getting funnier lately when I thought i know what i read. Because it turns out i am not getting closer to the substantial meaning that the author has sent through his writing. I'm lost. But thanks to Barthes, it's not a big deal for me, right? It is because he says that the direct intent of the author may be muddled due to the translation from author to text to reader, the text ending up more of an “immense dictionary” than anything else (Barthes, Roland. “The Death of the Author.” Art and Interpretation: An Anthology of Readings in Aesthetics and the Philosophy of Art. You should read it by the way if going to barbershop is the least important thing you should do).

Anyway, back to the digital things which most people really like, i am not sure if one photograph can be less confusing than one paragraph or vice versa. It has to be said that if one picture can contain thousands words, then what about words? is the meaning multiplied? Because, you know, words can be interpreted freely. The Death of the Author, right?. So if a photo means thousand words and a word means thousand meaning combined with another words, what would it be?

If i have one piece photograph of someone having an illicit sexual relationship, would i say that someone is having an affair? No, what does it mean? Oh maybe, they're just practicing biology. So much for optimism. But you got to hold that optimism high if you wanted to date somebody this day. In particular case, if your dating target has obsession with their social accounts they keep posting many words and pictures here and there: FB, twitter, instagram, path, blogspot, foursquare, vine, and many more. Knowing deep through their personal pictures and thoughts are tempting but I personally wouldn't date someone who are digitally open.I just can't take the heat. It just feels nicer if we find out the true personality of whom we love by some personal encounters. It makes one or two accounts is still accepted but it doesn't reduce the ambiance of personal encounters.

Are you a paragraphs or photographs person?

Anyway, words are adorable for me. They can shift letters and spaces become one meaningful sentence that drives us crazy or one useless utterance that drives us crazier. So, i might prefer reading a book to staring a painting. How words can shape my imagination and memories that taunt me to another past events and reliving those. And sometimes it brings me to peek of my future through hopes and dreams crafted by words.

Thing is different with you. I like words very much while you like picture so much. And having your writing and your picture is something that i am grateful for. When what we feel intersects those two, no pictures or words can describe it. Only us. You make the photographs, i make the captions. The meaning is still the same.




[ Knowing your words means knowing yourself. I'm just happy knowing your words are still flowing out of your hands, that i like to hold. So i can peek the little  restless self of you in the midst of your writings :) ]

Sunday, 8 September 2013

Surat


                                                                                                   Amsterdam, 7 September 2013

Kepada kebetulan
di mana pun kamu berada

Halo kebetulan, apa kabar?

Akhir-akhir ini kamu ramai dipikirkan banyak orang. Entah karena memang kamu hadir sebagai sosok kebetulan atau mereka hanya menangkap potretmu saja dan mengklaim telah bertemu denganmu. Yang jelas kamu sedang naik daun. Tapi aku masih ragu. Menurutmu apa kita pernah bertemu?

Waktu aku masih duduk di bangku sekolah dasar, aku pernah bertanya kepada guru kelasku, "Kenapa setiap kali aku memakai sepatu kiri terlebih dahulu, hujan selalu datang?". Mendengar pertanyaan yang bodoh dan konyol tersebut, tentu saja guruku dongkol dan terdiam beberapa detik. Tapi tidak seperti anak-anak sekolah dasar beruntung lainnya yang pertanyaannya masih dijawab dengan mitos dan fantasi, aku mendapatkan jawaban seperti ini, "Ya karena kebetulan aja." Padahal jawaban yang aku harapkan adalah semacam "Sepatu kamu itu sepatu ajaib yang yang bisa mendatangkan hujan" atau "Kamu itu anggota X-Men, Ibu kamu si Storm!". Jawaban fantastis dan fantasi seperti itu memang bukan jatahku karena guru tersebut di akhir kalimat berkata bahwa aku harus mendahulukan kaki kanan ketika bersepatu. Biar sopan.

"Terus yang kidal gimana bu?" tanyaku. Aku tak ingat jawaban apa yang aku dapatkan. Atau memang beliau tidak menjawab. "Jadi hujan gak akan datang kalau aku pake sepatu yang kiri dulu?" tanyaku lagi. Tentu saja guru yang sabar dan baik hati itu menjawab dengan sabar, "Tidak." Kemudian ia melepas sepatuku dan memasangkannya kembali. Kaki kiri terlebih dahulu. Saat itu hujan tidak datang walau aku terjaga semalaman. Sejak saat itu hujan tidak datang karena kaki kiriku lagi.


Bukankah (masa kecil) itu lucu?

Kamu tahu bahwa jawaban sesingkat itu tidak pernah memuaskanku. Jawaban semacam itu malah meninggalkan jejak kuriositas yang aku coba susuri. Aku coba mengikuti intuisiku hingga aku tahu bahwa memang ada yang kamu tinggalkan untukku. Sejak saat itu aku sering mendengar banyak orang menggunakan kata kebetulan untuk menjelaskan hal-hal semcam itu. Aku yang saat itu masih kecil tidak bisa mendefinisikan kebetulan, tapi aku tahu penggunaan kata itu.

--
"Eh, dompet aku ketinggalan di kelas. Untung tadi ada si Irma di kelas. Kebetulan dia lagi piket sama yang lainnya." -- Kebetulan.

"Gw tadi bangun siang. Untung dosennya gak masuk. Kebetulan banget." -- Kebetulan.

"Eh temen aku gak jadi datang. Kebetulan tiketnya udah aku beli. Kamu mau gak?" -- Kebetulan.

"Tadi damrinya mogok, eh kebetulan si Andri lewat pake mobilnya. Aku kan jadi bisa nebeng."


Dan kebetulan-kebetulan lainnya. Apa memang itu kau, kebetulan?


Tanpa sadar aku mengucap kata kebetulan dan mengulangnya berkali-kali seakan kebetulan adalah sebuah fenomena yang terjadi secara empiris. Kamu tahu bahwa fenomena menurut Kant adalah citra atau bayangan atau refleksi dari noumena. Noumena sendiri adalah sesuatu yang ada di dalam dirinya sendiri, sesuatu yang menjadi sesuatu. Noumena ini tidak akan pernah kita ketahui. Kant menyebut noumena memiliki hubungan kausalitas dengan fenomena. Tapi aku selalu bilang bahwa Schopenhauer berpikir lebih jauh lagi. Ia menambahkan bahwa noumena tidak menyebakan fenomena, tapi will (kehendak) yang mengejawantahkan dirinya sendiri menjadi fenomena. Sehingga walau fenomena inilah yang ditangkap secara empiris oleh ilmu pengetahuan karena memiliki dimensi ruang, waktu, jarak, ataupun benda, mereka tetap bagian dari fenomena. Dengan kata lain banyak orang memahami kebetulan seperti memahami benda. Padahal kebetulan sendiri merupakan kondisi abstrak yang tidak bisa ditangkap secara empiris. Yang kita tangkap adalah fenomena itu sendiri.


Einstein pernah berkata, "Coincidence is God's way of remaining anonymous." Aku tidak tahu kalau kamu kenal Einstein tapi aku yakin kamu pernah bertemu dengannya. Apa kamu memang sebuah cara agar aku dan dia - kami - tetap percaya. Di benakku, kau hadir dalam bentuk yang lain, sebuah seri kejadian yang entah kenapa aku harapkan untuk tidak aku harapkan. Jika kehidupan ini memiliki bentuk ketidaksadaran, aku ingin sekali larut di dalamnya.

Tapi aku tidak bisa larut di dalamnya dan tidak sadar.

Kesadaran diawali oleh keraguan, ucapnya. Kamu ingat bahwa menginjak umur lima belas tahun, aku mulai menjadi peragu. Tidak bisa dikatakan skeptis apalagi apatis tapi memang aku sering meragu. Namun berulang kali aku dikelilingi oleh orang-orang yang percaya. Mereka religius tapi nampaknya belum paham apa itu spritiualis. Aku merasa sendiri. Aku terpaksa menelan pertanyaan-pertanyaan yang tidak cocok untuk mereka dengar seperti apakah ada entitas yang lebih besar dari alam semesta itu sendiri. Aku akan dialienasi jika membawa topik semacam itu kepada mereka. Lantas aku diam-diam berkenalan dengan karya-karya Achdiat Mihardja, Nietzsche, Copernicus, dan Voltaire. Meskipun tampak matematis, logis, dan juga empiris, dari mereka aku tahu bahwa, hidup tidaklah selalu linier. Kita masih bisa puitis. Bukankah dia percaya bahwa intuisi adalah salah satu sumber pengetahuan kita? Yang menuntun kita sampai saat ini. Percaya atau tidak percaya, tahu atau tidak tahu memang perlu dikunci rapat-rapat dalam benteng rahasia kita yang paling tersembunyi. Dan jika saatnya dia percaya padaku, dia boleh membaginya sedikit denganku. Agar aku tahu apa yang ada di benaknya saat itu. Karena apapun yang  dia negasikan, aku percaya dan tahu bahwa dia menaruh hati padaku.

Oh ya, apakah saat itu kau hadir?

Jika kehidupanku adalah rangkaian kebetulan-kebetulan yang membentuk dan menuju pada sebuah gambar yang lebih besar untuk aku maknai, bukankah itu bukan kau? Setiap kejadian baik dan buruk, gembira dan sedih, harapan dan putus asa, apakah terjadi begitu saja dalam hidup bagai lembaran buku yang sudah penuh lantas dilalui begitu saja? Karena kau tahu, kau yang menuntunku untuk bertemu dengannya. Melalui banyak ribuan momen keraguan lainnya untuk bisa disingkap sebagai suatu kalimat utuh yang akan selalu aku  yakini.


Aku tidak tahu jika ternyata kau hadir dalam ranah lainnya. Betul, banyak orang ingin mengertimu. Tidak seperti dalam ingatanku yang kabur. Aku tidak ingin mengertimu karena kau begitu kompleks. Aku, seperti lainnya, pasti memiliki blindspot yang tidak ingin orang ketahui. Tapi mereka tahu bahwa kau berteman dekat dengan peluang. Dan menggunakan blindspot ini untuk menyusuri jejakmu. Jika kau adalah sebuah eksekusi lemah dari pengetahuan tanpa adanya argumentasi ilmiah maka fenomenologi dan kosmologi memperkuatmu untuk menuntun kita kepada scientific discovery. Orang-orang mengatakan kita harus mengambil peluang. Tapi aku tidak mau mengambilnya. Lantas apakah kau yang berdekatan dengan peluang ini mampu melihat kausalitas? Jika tidak, maka aku tidak ingin lagi bertemu denganmu. Rantai sebab-akibat yang terus berulang membuatku merasa seperti dalam film Butterfly Effect, mencoba membuat akibat yang tepat tanpa bisa mengatur ulang penyebabnya. Tapi apalah daya, ini adalah realita di mana aku hanya bisa satu kali mengatur sebab dan menerima akibatnya.

Menurutmu apakah mau ia kuajak ikut kuliah fenomenologi dan kosmologi?  Menurutku juga tidak. Tapi tak ada salahnya untuk mengajak, bukan?


Dan lagi jangan tanya kenapa ia tidak tertarik padamu. Aku sampai memperbesar jarak dengannya karena ia tidak tertarik kepadamu. Akibatnya, kami sering tampak asing. Membisu dalam gigil-gigil dingin dan membiarkan mimpi kami yang berbicara melalui genggaman tangan. Karena sebab dan akibat hanyalah sebuah hubungan belaka dalam dunianya, bukan sesuatu yang penting. Baginya yang penting adalah aku. Bagiku yang penting adalah dia. Namun di sisi lain, aku merasa lebih dekat dengannya dengan memperlebar jarak. Aku tidak mengerti paradoks semacam ini. Selalu saja ada sesuatu yang sulit untuk aku jelaskan menjelma menjadi sebuah pertanyaan yang tidak perlu aku temukan jawabannya. Karena beberapa pertanyaan memang sudah cukup menjadi misteri toh. Sama seperti pertanyaan ku padanya, why do you love ME? yang jawabannya selalu menjadi misteri. Tapi aku merasa berbahagia dengan perasaannya padaku tanpa harus mengilhami alasannya. Tanpa harus mengerti alasannya.

Yang aku mengerti kau dan dirinya memiliki sesuatu yang aku kagumi sejak dulu: kalian adalah petualang. Benarkan?

Berpetualang adalah kegemaran kalian dan semoga kalian tahu jalan pulang. Dan semoga kalian tidak telat pulang. Karena aku tidak ingin telat mengajak kalian melihat Halley melintasi langit gelap kita. Iya, suatu saat nanti. Dan kau paham bahwa ia tidak lewat begitu saja sebanyak tiga kali hanya untuk diabaikan. Dengan kalkulasi astronomi dan Newton's Mathematicia Principa, Halley bisa diprediksi. Aku tidak tahu apa kalian suka melihat bintang dan benda langit pada malam hari tapi aku bisa menjamin kegiatan itu akan seru. Ku kira itulah maknanya kita bersama. Bisa memanfaatkan waktu yang ada sekaligus menerka-nerka makna yang tersembunyi di balik layar dunia. Walau makna yang kita dapatkan berbeda, kebersamaan kita sudahlah lebih dari cukup.

Ternyata banyak juga apa yang aku tulis ya. Tapi lebih banyak lagi apa yang belum aku tulis. Aku akan menyempatkan diri untuk menulis beberapa cerita lagi untukmu. Semoga, cerita ini bisa membuatmu senang. Aku dengan senang hati akan menunggu balasanmu. Sampaikan salam hangatku untuknya.


Sincerely yours,






PS: Oh ya, aku menulis surat ini saat di luar (kebetulan) sedang hujan :)



Sunday, 28 July 2013

Solitude #17


Malam kali ini temaram tak seperti biasanya. Bulan berselimut awan tanda setuju. Seolah lelah, lampu jalan sudah beberapa kali ikut saru dalam gelap karena tak ada lagi pengguna jalan untuk ditemani. Udara pun ikut berkontemplasi menyebarkan gigil. Beberapa sudut kota sudah terlelap dalam gelap. Anak-anak sedang menyulam mimpi dan pasangan sedang memeluk erat harapan mereka. Kota ini begitu sepi. 

Aku mencoba melangkah tanpa bersuara. Menelusuri jejakmu yang menyatu dengan debu. Memburu napasmu yang bercampur dengan angin pilu. Menggamit kenangan bersamamu yang kian semu. Tapi aku masih ada di sini. Mencarimu. Tak ingin aku membuat gaduh kemudian bertanya kepada seisi kota akan kehadiranmu. Aku percaya kau masih ada di sini. Seperti aku yakin saat ini kau hadir di sela-sela pandanganku.

Siapa yang sangka malam di kota ini bisa begitu dingin. Mungkin karena angin yang mondar-mandir gelisah mencari tempat singgah. Kota ini juga menjadi begitu sepi. Entah karena hiruk pikuk sudah menjelma menjadi bunga tidur. Atau mungkin tak ada lagi yang terjaga. Sesekali ada harmoni binatang malam yang kadang menangis sesenggukan bersahutan dengan suara angin. Mungkin tidak sesepi yang aku kira. Tapi sekarang aku merasa sendu dan pilu.

Kususuri jalan setapak yang melintang di tengah kota. Kusadari ada embun sisa hujan yang bertengger di setiap daun telinga orang-orang yang sedang tidur. Aku perhatikan dengan saksama. Aku tahu kadang kau bersikeras hadir dalam keping-keping harapan atau kepercayaan yang sudah terkoyak-koyak.

Aku berjalan semakin jauh. Menjauhi kota yang kuyakini ada kehadiranmu di sana. Aku terus berjalan mencarimu. Meninggalkan gemerlap lampu yang menuai banyak pujian.