Friday, 29 March 2013

Harga Sebuah Ijazah Sarjana


Sebenernya sudah lama saya ingin bikin iseng-isengan ini: ngitung biaya yang dikeluarkan saya dan orang tua selama S1 dulu. Atau kasarnya, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan gelar S.IP? Menurut saya iseng ini penting untuk dilakukan.

Kenapa penting? Karena hal ini berkaitan dengan hal yang sangat prinsipil dam juga personal dalam hidup saya.

Saya pernah berpikir bahwa pendidikan tinggi tidak sepenting yang orang-orang bilang. Bisa membaca dan menulis sudah cukup buat saya. Lantas ya tidak usah tinggi-tinggi, SMA juga sudah cukup buat saya. Kamu mungkin bertanya, “kamu gak punya cita-cita dong? Mimpi?” saya akan menjawab: tentu saya punya mimpi dan cita-cita. Tapi tidak perlu pendidikan tinggi untuk menggapainya. Cita-cita saya saat itu bisa hidup bahagia, berkecukupan, berguna bagi orang lain tanpa harus menjadi beban bagi siapapun. Hidup dengan sederhana tanpa harus begelimang harta menjadi cita-cita saya. Ya, cita-cita saya bukan menjadi polisi, insinyur, atau dokter. Maka dari itu saya sering bingung saat guru atau rekan saya menanyakan cita-cita saya. Saya hanya butuh satu kata yang bisa membungkam pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Karena jika saya jelaskan panjang lebar cita-cita saya maka mereka akan terus menyudutkan saya dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih ganas. Saya berpikir lagi ternyata yang mereka maksud dengan cita-cita adalah pekerjaan. Yah, pekerjaan sih saya apapun yang penting halal. Tapi tidak mungkin saya menjawab dengan seenteng itu. Karena saya suka sekali membaca dan menulis, akhirnya jika orang memaksa saya bertanya apa cita-cita saya, saya akan menjawab menjadi penulis. Penulis sehebat Mochtar Lubis. Atau bahkan menjadi sastrawan sehebat Chairil Anwar dan W.S Rendra. Ya, saya tetapkan ingin menjadi penulis saat saya menginjak kelas dua SMP. Tidak ada lagi kening yang mengkerut jika ada pertanyaan apa cita-cita saya sebenarnya. Karena saya punya satu kata yang menjadi jawaban yang tampaknya disetujui semua orang: penulis.

Waktu bergulir dan kita berubah. Persepsi kita dipengaruhi oleh persepsi masyarakat. Lingkungan sekitar saya mengatakan bahwa menjadi sastrawan atau penulis bukanlah satu cita-cita yang dapat diterima oleh keluarga yang konservatif. Padahal menginjak SMA saya benar-benar sedang asyik tenggelam di dalam dunia sastra. Saya belajar menulis puisi, cerpen, dan esay kemudian saya coba mengirimkannya ke media massa. Saya juga mulai membaca buku-buku ringan tentang humanisme, filsafat, dan kesusateraan. Saya tidak mengindahkan kritik di lingkungan sekitar tentang saya yang ingin menjadi penulis atau sastrawan. Kritik seperti: menjadi penulis itu bisa jadi sampingan, jadi sastrawan itu tidak menghasilkan. ‘Tidak’ selalu saya katakan dalam hati walaupun saya terpaksa mengangguk mengiyakan.

Semua harus benar-benar berubah saat keluarga saya kolaps secara finansial. Sebenarnya hal ini sudah berawal sejak krisis moneter tahun 2000an. Tanpa saya duga, efeknya sangat dalam dan juga krusial bagi finansial keluarga saya. Di tahun-tahun berikutnya orang tua berusaha bangkit namun ternyata sulit. Saya mengetahui itu saat saya sedang duduk di bangku kelas 2 SMA. Sebagai seorang yang sangat benci menyusahkan orang lain, saya lantas tahu apa yang harus saya lakukan: bekerja. Saya mulai bekerja paruh waktu di sebuah restoran cepat saji, warnet, warung playstation, apapun itu saya lakukan sampai menjadi pengambil piring kotor di pernikahan orang. Saya sudah biasa bekerja berlebihan. Pukul lima pagi selesai shift jaga warnet, saya bisa langsung pergi sekolah walau nanti di kelas saya tertidur pulas.

Saat saya kelas tiga, saya dihadapkan pada apa yang setiap siswa kelas tiga SMA hadapi: UAN dan SPMB. UAN adalah satu kewajiban jika ingin lulus SMA. Sedangkan SPMB adalah satu kewajiban jika ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Yang kedua saya tidak terlalu peduli. Saya fokus pada UAN. Setelah saya bertanya pada guru, tutor, teman, dan keluarga, ternyata kuliah di perguruan tinggi itu sangat mahal. Termasuk perguruan tinggi negeri. Saya tidak muluk-muluk atau menuntut untuk ikut kuliah. Bapak sudah tidak bekerja, pengangguran. Ibu hanya bertugas rumah tangga. Seringkali merangkap buruh. Saya tidak mau menyusahkan kakak yang baru saja lulus kuliah ataupun orang lain.  Beberapa orang menyarankan beasiswa. Tapi saya sadar diri, saya bukanlah murid yang cerdas dan berprestasi. I wasn’t an outstanding student. Saya memutuskan untuk tidak kuliah. Terlebih ketika saya kerja paruh waktu, saya bertemu dengan orang-orang yang humble. Mereka yang saya temui bekerja di pabrik atau kerja di restoran selalu tampak ceria.  Menikmati hidup mereka. Mereka pasti menginginkan hidup yang lebih baik namun bukan berarti hidup yang mereka miliki sekarang tidak baik. Mereka sudah bisa gembira jika bisa menghasilkan uang sendiri dan memiliki teman, mengingatkan bahwa mereka tidak sendiri. Saya terharu. Saya tahu mereka ingin kuliah ataupun mendapatkan penghidupan yang lebih layak. Tapi mereka tidak egois. Mereka bisa saja mengabaikan tanggung jawab mereka terhadap keluarga dan diri mereka sendiri tapi mereka sadar bahwa keluarga mereka hanya bisa membantu mereka sampai situ. Sampai SMA. Dari situ mereka harus berjuang sendiri.  Masih basah di ingatan saya saat saya selesai membersihkan meja restoran pagi buta pada akhir pekan, seorang senior saya mengajak saya dan teman-teman lainnya untuk merokok. Saya terbatuk-batuk, tidak terbiasa dan mereka tertawa. Salah satu dari mereka berceloteh, “kalau memang gak bisa merokok, jangan dipaksa merokok. Kalau memang gak mau merokok, jangan dipaksa merokok.” Akhirnya dia memberikan air minum pada saya yang terbatuk-batuk. Kebersamaan seperti itu yang menurut saya solid. Kebersamaan yang tidak bisa saya dapatkan dalam keseharian pejabat pemerintah ataupun korporasi. Lantas saya berpikir lagi. Buat apa saya meneruskan kuliah kalau saya tidak mampu? Kalau saya tidak mau? Cita-cita saya menjadi penulis. Yang bisa diwujudkan tanpa harus kuliah. Mimpi saya hidup bahagia tanpa menyusahkan orang lain. Yang bisa dilaksanakan tanpa harus kuliah. Keputusan saya bulat. Setelah pengumuman nilai UAN dan UAS yang disampaikan pada wisuda, saya mengutarakan keputusan saya.


Kelas yang menyenangkan. persahabatan yang juga mengesankan. Apa kabar kalian? :)

Saat saya mengutarakan niat itu kepada orang tua. Mereka sedikit sedih dan banyak tercengang. Mereka tidak menyangka bahwa saya tidak mau kuliah.  Awalnya mereka menerima. Namun keputusan mereka berubah drastis di hari-hari berikutya. Mereka mengharapkan saya untuk kuliah. Mereka bilang kuliah dapat meningkatkan taraf hidup. Meningkatkan derajat sosial seseorang. Saya pikir itu lucu. Karena taraf hidup dan derajat sosial seseorang tidak ditentukan oleh orang itu kuliah ataupun tidak. Banyak orang saya tahu kuliah tidak mencerminkan bahwa mereka adalah intelektual muda. Foya-foya dan mental konsumerisme. Tapi harus ada argumen logis yang dilontarkan supaya mereka percaya. Sayapun melontarkan biaya yang mahal sebagai argumen yang bagus untuk menghancurkan harapan mereka. Tapi mereka tetap meyakinkan saya bahwa saya harus kuliah, urusan biaya, urusan dana, itu semua bisa diurus belakangan. Setelah berdebat akhirnya kami sepakat bahwa saya akan kuliah jika diterima di perguruan tinggi negeri. Ada niat untuk menyabotase ujian SPMB saya sendiri yaitu dengan hanya mengisi satu nomor saja. Tapi niat itu ditemukan oleh ibu yang tidak akan ikhlas sampai mati jika saya melakukannya. Sayapun berpikir jika saya berjuang dan tidak masuk, itupun tampaknya cukup fair bagi mereka. Akhirnya saya belajar dengan sangat sangat keras. Saya cuti bekerja untuk sementara. Hasil SPMBpun keluar setelah beberapa bulan menunggu. Saya masuk ptn.

Awal masuk kuliah tidak semulus yang saya kira. Biaya yang diusahakan oleh orang tua ternyata tidak cukup. Memang mereka menyediakan uang bangunan yang harus diawal sebesar enam juta rupiah. Namun biaya ospek, biaya untuk peralatan ospek, ongkos, dan sebagainya mereka memberikan dengan jumlah yang sangat terbatas. Sayapun akhirnya kembali bekerja paruh waktu. Satu tahun sebagai seorang freshman lebih saya habiskan di luar kampus untuk mencari tambahan uang saku. Uang untuk membeli modul, buku, fotokopi, warnet, cetak tugas, dan hal-hal yang tidak ingin orang tua ketahui. Saya berusaha keras untuk menyeimbangkan keduanya. Lagi-lagi sulit. Saya ingat benar untuk UAS antropologi, saya datang 15 menit sebelum ujian selesai. Saat itu saya sedang shift pagi di salah satu minimarket dan ternyata UAS yang dijadwalkan siang dipindah pagi karena kepentingan dosen. Jadi IPK tahun pertama tidak sebagus yang saya harapkan. Saya yakin hal ini karena saya kerja paruh waktu empat hari dalam seminggu. Saya mulai menguranginya. Saya tidak mau meninggalkan kuliah dengan fokus pada bekerja karena ada harapan besar di dalam 6 juta rupiah yang didapat dari mengutang ke sana-kemari. Saya tidak mau menyia-nyiakan sesuatu. Saya tidak mau disia-siakan. Karena jumlah uang yang dikeluarkan selama saya kuliah tidaklah sedikit.

Jumlah biaya selama kuliah

Total biaya yang dikeluarkan saya dan orang tua adalah Rp. 17.700k dengan jumlah awal Rp. 48.100k. Sayamendapatkan beasiswa pada tahun kedua hingga keempat dengan tiga jenis beasiswa. Pada tahun kedua saya mendapatkan beasiswa PPA selama 2008-2010, KSE (Karya Salemba Empat) 2009-2010, dan BCA Finance selama 2010-2011. Jika orang tua saya sedang ada uang lebih, saya mendapat uang Rp.25k/hari dan jumlah itu menjadi patokan sebagai jumlah uang yang dibutuhkan setiap hari. Asumsikan selama 3 tahun saya ke kampus 5 kali seminggunya. Dan selama satu tahun setengah saya hanya ke kampus 2 kali seminggu. Saya tidak kos jadi tidak ada uang yang digunakan untuk kos.  Saya juga bekerja part-time seminggu dua kali dan anggap saya hanya bekerja dalam waktu dua tahun saja. Ya itulah jumlah total yang dikeluarkan. Saya cukup tercengang. 17 juta 700ribu rupiah bukanlah jumlah yang sedikit untuk saya dan keluarga. Apalagi 40juta sekian. Tapi melalui waktu dan ketekunan, kami berhasil membuat saya menjadi seorang sarjana. Saya bangga saya bisa membayar kuliah itu lebih sedikit dari orang-orang kebanyakan itu.

Bagi kebanyakan orang menempuh sarjana merupakan hal yang sangat biasa: tetes air di lautan atau titik kecil dalam sebuah garis. Tapi saya menangis seharian saat saya selesai sidang karena ini bukan kerja keras saya semata. Saya menjadi bagian dari satu tetes dan satu titik itu. Ada doa dan dukungan baik orang yang saya kenal maupun tidak. Saat saya butuh laptop untuk mengetik, saat saya butuh uang untuk kuliah, atau saat saya butuh dorongan saat saya lelah, saat saya butuh kamu untuk berkeluh kesah. Meski menjadi seorang sarjana adalah hal umum bagi banyak orang, saya merasa memiliki banyak hutang kepada kalian semua. Dan untuk itu saya berjanji akan berusaha mengamalkan ilmu saya untuk banyak orang.

Saya bersyukur saya bisa melewati ini semua.

Adapun hal yang saya tidak sukai dari kuliah yang mengubah saya adalah saya menjadi sangat penasaran, haus akan pengetahuan. Ada kesadaran yang perlahan tumbuh bahwa semakin saya tahu, semakin saya tidak tahu. Entah ini bisa menjadi sisi negatif ataupun bukan. Yang jelas pengalaman kuliah merupakan pengalaman saya yang paling menakjubkan: pergerakan mahasiswa, dunia literatur, pertemanan, cinta, dan banyak lagi tahapan penting saat itu yang membantu proses maturasi saya. Sampai sekarang, saya selalu mendorong saudara, teman, temannya teman, atau siapapun itu yang saya kenal untuk kuliah – membuka cakrawala pengetahuan kita untuk lebih luas. Setidaknya di ptn, jika mereka mampu ya pts. 

Saya tidak tahu apakah saya berhasil menjadi sarjana yang diinginkan oleh orang tua saya: lulus kuliah, dapat pekerjaan yang bagus, punya karir dan uang, menikah, punya cucu dan menjadi tua.  Meningkatkan taraf hidup dan derajat sosial saya sendiri. Saya benar-benar tidak tahu. Dan kalau saya belum menjadi sarjana yang orang tua saya inginkan, saya benar-benar meminta maaf kepada mereka dan Tuhan. Namun jika ada orang bertanya apa cita-cita saya, sayaakan tetap menjawab saya ingin menjadi penulis. Penulis hebat seperti Mochtar Lubis, Merari Siregar. Dan jika ada orang bertanya apa mimpi saya, saya akan menjawab hidup bahagia dan berkecukupan. Atau mati berusaha.

didedikasikan untuk semua yang sudah hadir dalam hidup saya

Tulisan ini dipersembahkan untuk para sposnor kuliah saya terutama (Alm) R. Hj. Agus Upi. Semoga Tuhan membalas amal kalian.

Tuesday, 12 March 2013

Wisata Kota Nestapa (Bagian I)



Teman, aku ingin mengajakmu bertamasya ke sebuah kota. Ia bukan persepolis, metropolis, atau akropolis. Jangan harap juga ia adalah kota yang sekarang kau diami atau pernah kau singgahi. Kau tahu ia ada. Ia adalah sebuah kota di mana hiburan melumer menjadi komoditas yang mudah ditemukan di pinggir jalan dan komitmen menyaru di antaranya lantas kabur ke dalam selokan yang mengalir menuju limpasan harapan yang tak bisa lagi kau temukan lagi wujudnya. Ia adalah kota bagi para avonturir untuk melepas penat dan mengambil rehat sejenak. Ia adalah kota bagi manusia filantropis untuk menjejakan kaki dan menebarkan darmanya. Ia adalah kota tamasya bagi kita untuk ditangisi keberadaannya.

Kita akan mulai tur ini dengan janji. Janji yang tak akan pernah kau ucap dua kali dan jangan pernah kau sesali. Janji yang kita untai ini akan menjadi penolong ketika kelak kita tersesat di kota ini. Kita perlu jejak untuk selalu bisa pulang, bukan? janji ini adalah jejakmu untuk selalu pulang bersamaku. Mudah saja. Kau hanya perlu berjanji untuk terus bersamaku. Apapun yang terjadi. Aku anggap anggukan itu bukti persetujuanmu. Kau sudah mengucap janji, kau sekarang memegang konsekuensi.

Tujuan pertama kita adalah kantor walikota. Setiap kota memiliki walikota. Seperti yang kita tahu, ia adalah figur sebuah kota. Seperti motor yang kita tumpangi ini, ia adalah setiap unsur yang merekatkan semua bagian mesin dan akhirnya bisa berjalan sesuai fungsinya. Kita adalah tamu yang baik: mengetuk pintu saat masuk dan berterima kasih saat keluar. Karena itu kita harus berkunjung ke kantor walikota. Setiap rumah memiliki keramahtamahan tersendiri. Untuk diterima dengan baik, kita harus membawa sesuatu untuk tuan rumah. Di sini kita diwajibkan membawa pohon uang dan seribu gigi anak kecil. Tak usah khawatir, aku sudah mempersiapkan semua itu sebelumnya. Jangan kau tanya dari mana, kau akan pingsan jika mendengarnya. Dan aku takut kau tak akan bangun lagi. Kau dan aku adalah orang yang ramah, dengan membawa hadiah ini, ia akan melunak pada kita karena ku dengar,  tuan rumah kota ini haus akan madah. Seperti yang aku yakini selama ini. Kau kerap bertanya siapa tuan rumah kota ini. Jangan ragu dan jangan kaku. Tuan rumah kota ini jelas saja walikota. Bukan orang-orang yang kita lihat mengantri di jalanan membawa jeriken untuk diisikan cinta. Bukan pula orang-orang yang memungut serpihan harapan yang empuk dan gurih. Jangan juga kau sangka tuan rumah itu adalah mereka yang menarik langit dan menangkap angin hangat saat memejamkan mata di gorong-gorong. Apalagi mereka yang memikul karung penuh duka di sudut kota. Kau lihat mereka semua berserakan tak berarti saat menuju kemari. Harus kau ingat! hadiah ini bukan untuk mereka karena mereka bukanlah tuan rumah kota ini. 

Kau hanya mengangguk saja sambil mengenggam kantung yang berisi seribu gigi anak kecil itu. Kau sebenarnya sedih. Rupanya ada beberapa gigi yang kau kenal.

Kita sudah mengunjungi kantor walikota. Kau lihat! Ia menyukai hadiah dari kita. Ia menganggap kita orang yang ramah. Memang! Saking gembiranya, ia langsung menanam pohon uang pemberian kita dan menyiramnya dengan air mata. Air mata siapa, aku tak sempat tanya. Yang jelas, air mata itu bening, hangat, dan berkilauan seperti  yang aku lihat keluar dari matamu tempo hari. Ia memberikan kita sepuluh koin untuk masuk ke dalam wahana yang populer di kota ini. Aku dan kau tersenyum berbarengan. Sudah banyak duka yang kita hirup dan semoga wahana ini bisa mengembuskan rasa yang kita berdua cari.

Kita menuju selatan kota. Ada kebun binatang yang terkenal di sana. Kau selalu tertarik pada etalase kehidupan liar. Aku paham itu, hutan beton sudah mengakar di mana-mana. Kau rindu masa kecilmu. Saat kau bermain di padang rumput bersama gajah yang hampir menginjak tanganmu yang mungil. Kau malah tertawa jenaka. Aku paham itu, kebun binatang seperti ini adalah bagian darimu yang rindu akan alam liar. Masa lalu yang menghangatkan masa kecilmu. Kau juga butuh pengingat bahwa alam adalah tempat kita bernaung. Kau selalu berkata seperti itu kepadaku. 

Kebun binatang memang jadi tempat wisata favoritmu. Kita tiba di sana saat bulan purnama. Mereka yang dikandang tidak lagi pulas tertidur namun meraung, mengaum, dan menjerit kesetanan. Aku heran, mana mungkin binatang bisa kesetanan.  Ternyata mereka memang kesetanan. Beberapa petugas berusaha menenangkan mereka. Ada yang sedang menggigit leher sesamanya lalu kemudian memakannya. Petugas itu tampak benar-benar ketakutan hingga ia menembakinya sampai mati. Namun di sisi kandang bagian kiri, kau perhatikan betinya yang kau kira sedang berak. Kau perhatikan lagi dan ternyata apa yang ada di depanmu adalah betina yang sedang melahirkan tiga bayi yang masih hitam kemerah-merahan. Ia kemudian pergi di tengah bayi-bayi yang menyanyi dan menangis bersamaan. Beberapa saat kemudian muncul yang lainnya dan melahap ketiga bayi tersebut. Mereka tetap menangis dan bernyanyi dengan nada yang lebih tinggi. Kau pun terlihat menegang. Tanganmu mencengkram kandang besi dengan kuat. Petugas-petugas lainnya masuk dan mencoba menembaki mereka. Satu di antara petugas itu berteriak, belum pernah melihat mereka menjadi liar seperti setan ini. Kau menggelengkan kepala sambil berbisik, ini bukan kebun binatang.

Aku mengajakmu ke bagian kebun binatang yang lebih sepi. Aku tahu kau butuh sepi. Tapi kau harus hati-hati dengan sepi, ia bisa merongrongmu dari dalam tanpa sempat kau sadari. Kau mengangguk saja. Kau berlari-lari kecil menuju kandang yang penghuninya tertidur lelap. Kau kenal dia. Kau meneriakinya untuk bangun dan pulang, mengajaknya mencari seteguk udara segar di luar. Kau menggapai-gapaikan tanganmu untuk menyentuhnya. Ia bergeming. Tidak tampak seperti hidup, membatu dalam gelap. Kau bilang masih bisa merasakan detaknya. Kau tak berhenti berteriak. Memukul-mukul besi kandang dengan batu hingga tanganmu berdarah. Kau terus seperti itu hingga siang tiba. Kau menjadi iba. Duka yang paling dalam keluar dari napasmu dan terhirup olehnya. Ia membuka kelopak mata. Tak ada mata di situ. Kau pun lihat dengan jelas pasir keluar dari lubang telinganya. Kau iba. Kau terus iba dan ia menghantuimu. Ia tak bisa berkata karena tak ada mulut di situ. Kau iba. Kau terus iba dan ia menghantuimu. Kau meminta pergi dari sana. Tak ada lagi yang bisa kau cerna sebagai masa kecilmu yang indah. Gajah, jerapah, dan kuda nil yang biasa kau temani di tengah hari yang panas. 

Kau mulai mengubur masa lalumu.

Ban motor kembali berputar di jalanan. Aku masih bisa melihat duka dan iba keluar dari matamu. Warnanya seperti darah namun lebih hitam kelam. Seperti malam tanpa kehadiran apapun, malam saat aku terjebak. Kau meminta pergi ke utara. Jika selatan membuatmu berduka, maka utara bisa menghadirkan suka. Kau suka berasumsi. Itulah yang kau lakukan. Optimisme adalah keahlianmu. Kau menatap angin yang menggores kulit mu perlahan. Angin di utara lebih tajam dan membawa kerikil pedih yang menghilangkan harapan masa depan. Aku bisa merasakan harapan di dalam diriku tererosi perlahan-lahan. Kau menutup mata dan menggantikanku mengendarai motor. Aku juga menutup mata, mengikutimu refleks. Sedetik kemudian kami sudah berada di sudut paling utara di kota ini. Burung-burung besi bersarang di sana-sini. Kau takjub dan memberikan koin kepada Penjaga Utara. Angin berhembus sangat kuat. Semua yang kita kenakan terbang terbawa angin. Koin-koin berhamburan dan kau tangkap dua. Aku menangkap satu dan sisanya terbang terbawa angin. Koin-koin sisa kau pegang erat supaya tidak terbawa. Kita masuk dengan telanjang. Awalnya kau tak mau masuk tanpa pakaian. Tapi aku meyakinkanmu bahwa kulit adalah pakaian kita yang sebenarnya. Tak ada yang bisa melihat kita tanpa mengibiri. Kau mengangguk dan berjalan   ke dalam. Ada banyak orang di sini. Memalu, memacul, menuai, menggembala, membajak, menanam, memotong. Semua melakukannya tanpa jeda. Orang terus memalu besi-besi yang dialihkan kepadanya. Banyak yang kita pendam tapi aku yakin lebih banyak lagi yang mereka pendam. Ku lihat hitam pada mata mereka hilang entah ke mana. Kau melihat banyak rumah besi mengalirkan air hitam pekat yang panas dan asam ke sungai-sungai. Baunya sangat pekat. Seperti kotoran kita yang digabung dengan najis-najis lainnya. Aku hendak muntah namun aku berhasil berlari keluar sehingga muntah yang berada di ujung mulut berhasil ku telan balik. Kulihat kau sudah menungguku di atas motor. Ayo, serumu.

In my throat

 Who can stop time from flying so fast? Can you even move by its side at the same speed?

Well, nobody can. If there were, it could be the descendants of Flash Generations II or modern age powered by the holy speedforce. But chill, i know this is not a good time to brag about superheroes that i fancy to become. I am just telling you how important time is. Cliche indeed. Maybe it's a common thing we often miss everyday. It's most likely thing we, Indonesian, ignore. To me, it is true saying that ignorance is a bliss. At the beginning of 2012, i was really zeal to reveal anything good in one year ahead. The fact, At the end of 2012, i was totally spaced out. It's like i had been drunk for the whole year. Yeah, i was died of euphoria. Kind-of.

Second has turned into minute and evolved into year. I feel so bad that i didn't seize it at maximum. As the time goes by, i look at the mirror and still say, "hey look at me, i'm still me. the dumb one who caught in confusion." I will always be that dumb one who slips in the second of reminiscing the past. I honestly don't look good with a Rolex in my wrist and might feel itchy because of that but truly, i want time to be at my side. I don't have to buy some fancy watches to know that time is a really expensive commodity. Yet, i am still incapable of valuating it. You are allowed to humiliate me for this matter now.

What was happened to me in 2012?
You must trust me when i drafted this writing the day after new year's eve. It's kinda a shame for me to have rethought this post and published it for almost three months. But i will be in a greater shame if i never publish this post after waiting so long. Maybe, it's the time that helps me to decide to post this today.

First, I graduated International Relations in early 2012 but still haven't got the scroll. You know my former department really sucks at making things easier. It is because i had to get my revised edition done asap. Somehow i never had a thought of completing it real soon. Apparently the revision team gave me to fix my thesis for minor improvement such as points, typo, and spaces. I wanted it to be perfect too but come on, i had had enough with my former thesis. In the end, i made it done in early 2013. I have the scroll in my hand. and yes, Mom and dad, your son is now having the bachelor scroll.

Second, i am now studying again by scholarship at my university enrolled in Natural Resources Management. I do have interest in environmental issues as i have experienced as a tutor for Environmentalism in International Relations back then when i was an undergraduate student. So, thanks God for giving me another opportunity to dig up my knowledge. I have another activity that i do beside studying. Last November, i started on air-session as a news anchor in a regional public TV station. I had passion in journalism and media. Previously i was a reporter in one popular magazine for teens in high school and it made me join the journalism body at my faculty. It was really fun to gather information and elaborate it into an enjoyable full writing. Sometimes, i was being pretentious and i could provoke people's mind through my writings. But you know, to be honest, being a reporter is not financially promising. My friends who now work as a reporter in national newspaper have told me that being a 'real' reporter is indeed really exhausting and challenging. They agree that being reporter is a stepping stone for their real career. They also said that when they're still young they want to chase their dreams. Until reality bites. Bites us really hard. I was hoping that i could be a reporter but seeing my condition now, that is i am studying again, i think i have to bury it for a while.

Third, i am over my past and heavy things that i have been carrying before. Past, wounded heart, unrequited love, bitterness of memories, and other tear-jerking moments in life. I am completely over it. You know, the idea of loving someone won't apply effectively if we don't start with loving ourselves first. Life's complicated yet beautiful. The only happy way to live it is to rejoice with life itself.

So, 2012 i was done with you.


2012 is so last year, not until a post about it comes up 3 months after.