Monday, 27 May 2013

Jalan-jalan di Cimahi: Ingin Datang Lagi





Kota Cimahi merupakan kota kedua paling kecil di Jawa Barat setelah kota Cirebon (1). Selain itu umurnya juga paling muda. Tahun 2013 ini saja, Cimahi menginjakan langkahnya di tahun yang ke 12 pada 21 Juni. Meski kecil dan juga muda, kota Cimahi ini memiliki banyak hal yang bisa dijelajah. Apa saja yang menarik dari kota Cimahi? Saya akan berbagi pengalaman saya jalan-jalan di kota Cimahi.

Teman saya yang juga kuliah di Bandung berencana untuk pulang kampung ke Depok pada Minggu sore. Malam sebelumnya dia berkata ingin jalan-jalan singkat sekaligus mencari buah tangan untuk keluarganya. Karena sudah lama tinggal di kota Bandung, otomatis sudah jenuh untuk jalan-jalan di kota Bandung. Sebagai tuan rumah, saya menawarkan untuk jalan-jalan singkat di kota Cimahi. Mendengar hal itu, teman saya spontan bertanya, "Hah? Cimahi? Emang di Cimahi ada apa aja?". Saya jawab secara singkat, "Liat aja besok."

Menurutnya kota Cimahi itu kota yang tidak punya daya tarik untuk dikunjungi. Banyak orang yang menjadikan kota Cimahi sebagai tempat singgah saja atau kota selewat dalam perjalanan. Pemikiran seperti itu wajar bagi orang yang belum pernah mengunjungi kota Cimahi. Mereka yang belum pernah berkunjung ke kota ini akan punya opini bahwa kota Cimahi adalah kota yang kecil atau kota industri yang tidak memiliki daya tarik. Sebagai warga kota Cimahi, saya sendiri tertantang untuk menentang anggapan seperti itu khususnya anggapan dari teman saya sendiri.

Akrab di Area Gedung Pemkot Cimahi
Minggu pagi, saya dan teman saya langsung pergi ke area perkantoran Pemerintah Kota Cimahi (Pemkot Cimahi) di Jalan Raden Demang Hardjakusumah. Teman saya sedikit heran mengapa saya membawanya ke sana. Untuk mengenal kota Cimahi di Minggu pagi sangatlah cocok untuk berkunjung ke sana. Saat tiba di sana, dia sedikit terkejut melihat keramaian yang ada di jalan masuk menuju gedung perkantoran Pemkot Cimahi. Setiap Minggu pagi ada acara CFD (Car Free Day) di sekitar area gedung perkantoran Pemkot Cimahi, yaitu daerah jalan Raden Demang Hardjakusumah. Banyak sekali warga yang mengunjungi CFD. Sayapun menangkap momen ini melalui video:



Saat memasuki area gedung perkantoran, teman saya mendapatkan kesan lingkungan gedung yang bersih dan juga tertata: 
Bersih dan Tertata
Saat kami menuju pelataran parkir, ada beberapa remaja yang sedang melakukan tarian shuffling dan terlihat agak robotic di sana. Mereka sering berkumpul Minggu pagi di sana dan membentuk komunitas yang bisa menyalurkan hobi mereka. Saya sempat merekam gerakan-gerakan keren mereka:


Setelah itu kami menuju lapangan rakyat yang berada di gedung perkantoran pemerintah kota Cimahi. Di sana banyak orang bermain bulu tangkis, bersepeda, dan juga berileksasi. Teman saya kemudian berkata, "Wah hebat ya. Orang-orang bisa datang dan main di area gedung pemkot Cimahi. Mereka juga difasilitasi untuk berekspresi. Gua ngerasa pemkot Cimahi ini bersahabat dan merakyat." Saya merasa senang dan bangga menjadi warga kota Cimahi saat mendengar hal tersebut. Memang dengan seperti ini, warga akan merasa dekat dengan pemkot Cimahi. Gedung Pemkot Cimahi tidak memiliki kesan yang kaku, menakutkan, ataupun tertutup.

jalan-jalan santai, bersepeda, dan bermain badminton juga bisa :)


Setelah itu kami keluar area gedung perkantoran pemkot Cimahi karena waktu menunjukan pukul sembilan tiga puluh. CFD akan segera berakhir sekitar pukul 10. Saat melintas keluar, kami juga menemukan komunitas lain yang sedang bersosialisasi di CFD Cimahi yaitu Cimahi Reptile Community:

takut ular? 

Kota Hijau
Setelah mengetahui letak Pemkot Cimahi, saya kemudian mengantar teman saya berkeliling kotaCimahi. Teman saya terperangah saat melewati jalan-jalan kota Cimahi. Ia berkata bahwa di kota Cimahi banyak sekali area militernya. Tidak heran ia berkata begitu. Jika teman-teman jalan-jalan di kota Cimahi, teman-teman akan menemukan banyak sekali tempat pendidikan militer. Daerah pendidikan militer ini ternyata menempati 60% wilayah kota ini (2). Itulah sebabnya kota Cimahi terkenal dengan kota tentara, kota militer, atau kota hijau. Saat menjelaskan ini kepada teman saya, sayapun teringat perkataan sastrawan favorit saya, Pramoedya Ananta Toer, yang pernah berkata bahwa kota Cimahi memang terkenal dengan kota militer (3). Inilah salah satu ciri khas kota Cimahi sejak dulu. Saat menjelaskan, teman saya pun berceletuk dengan canda, "Jangan foto-foto di daerah militer, nanti kita ditembak!" 


Area Militer

Ngomong-ngomong kota hijau, sayapun menjelaskan bahwa hijaunya kota Cimahi bukan berarti militer saja. Hijau di sini bisa juga berarti ruang terbuka hijau. Dengan penduduk yang mencapai 600 ribu jiwa tepatnya 606.699 jiwa dan wilayah yang terbatas yaitu 44, 45 km persegi (4), tentunya kota Cimahi menghadapi tantangan besar ketika berbicara ruang terbuka hijau. Sebagai mahasiswa lingkungan (dan pernah mengambil tema tugas Rencana Tata Ruang Wilayah kota Cimahi), saya menjelaskan kepada teman saya bahwa sebenarnya kota Cimahi sedang berupaya meningkatkan ruang terbuka hijaunya karena pada saat ini dari jumlah yang direncanakan sebesar 15% kawasan, kota Cimahi baru memenuhi setengahnya atau seluas 300 ha (5). Nah, salah satu dari ruang terbuka hijau di kota Cimahi adalah Taman R. A. Kartini. Kamipun berisitirahat sejenak di sana sebelum  melanjutkan keliling kota Cimahi menuju Baros.

Taman R. A Kartini sebagai salah satu taman kota di Cimahi

Saat melewati Baros, kami melihat upaya pemkot Cimahi dalam membuat lingkungan hijau dan asri dengan wilayah yang sangat terbatas namun padat penduduk yaitu dengan pembuatan pembatas jalan yang diisi tanaman-tanaman. Hal ini cukup menyegarkan mata.

Taman mini di jalan 


Cyber City dan Industri Kreatif

Teman saya meminta segera diantar membeli buah tangan karena ia harus segera pulang. Sayapun menyarankan dua tempat yaitu Bandrek Hanjuang dan Batik Anggraeni. Saya memutar jalan melewati Baros. Di sana kami melewati BITC (Baros Information Technology and creative Center). Gedung ini menandakan bahwa kota Cimahi didaulat menjadi cyber city dengan slogan subway to the future. Sayang  kami tidak bisa masuk karena keterbatasan waktu.


Teman saya bertanya apa itu BITC. Ia mengira bahwa BITC semacam gedung olahraga. Saya menjelaskan sedikit tentang BITC kepadanya. Dengan sumber daya alam yang benar-benar terbatas, pemkot Cimahi berusaha untuk memaksimalkan potensi sumber daya manusia warganya. BITC adalah konsep dari pemkot Cimahi yang akan menjadikan wilayah Baros sebagai pusat kegiatan baru di Kota Cimahi yang dipercaya untuk dijadikan pusat kegiatan kreativitas. Di dalamnya terdapat ruangan Studio Research dan Development, ruang diskusi dan rapat serta ruang sarana prasarana film dan animasi. Dulu saya pernah mengunjungi BITC, ada komunitas animasi dan desain juga di dalamnya yang rutin bertemu. Kita bisa juga mengembangkan minat dan keahlian kita juga berbagi mengenai industri kreatif khususnya animasi.


Gedung BITC

masih gedung BITC
Setelah melewati Baros, kami menuju ke Bandrek Hanjuang yang letaknya tidak jauh dari Pemkot Cimahi, yaitu di jalan Cihanjuang no. 204. Bandrek Hanjuang merupakan salah satu produk industri kreatif yang ada di kota Cimahi dari segi makanan-minuman. Bandrek ini juga merupakan salah satu oleh-oleh khas kota Cimahi. Saat itu kami tidak sempat untuk melihat proses pembuatannya. Pengunjung bisa melihat pembuatannya jika mau. Di sini tidak saja dijual Bandrek dalam kemasan namun juga Bajigur, Kopi Bandrek, Kopi Bajigur, Sakoteng, enteh Bandrek, dan Beas Cikur Hanjuang. Harganya relatif terjangkau. Kemasan paling kecil satu rasa seharga Rp. 6000 sedangkan untuk campuran (9 rasa) hanya Rp. 12.000. Selain itu ada juga kemasan besar yang harganya berkisar antara Rp.45.0000 hingga 55.000. Kesan yang dirasa teman saya, "Sungguh menarik ada minuman tradisional yang berbau rempah-rempah yang diproduksi dalam kemasan. dan bisa langsung dibeli dari pembuatanya." Tidak hanya minuman, di sana juga tersedia Comring, Denjapi dan panganan lainnya.


Tempat pembuatan Bandrek Hanjuang


Berbagai rasa Bandrek Hanjuang

Dari Bandrek Hanjuang kami bergegas menuju Batik Anggraeni di Jalan Krakatau Nomor 4. Batik Anggraeni merupakan salah satu contoh industri kreatif di segi fashion. Batik Anggraeni menjual batik dengan motif khas kota Cimahi seperti motif rereng Kujang dan Kujang Cakra, Cirendeu, Ciawitali, Curug Cimahi, dan Militer. Harganya bervariasi dan terjangkau. Bisa dibeli dalam bentuk kain ataupun pakaian jadi. 


Batik motif khasi Kota Cimahi

Selain itu kita juga bisa melihat proses pembuatan batik:


proses pembuatan Batik



Setelah mengunjungi Bandrek Hanjuang dan batik Anggraeni untuk membeli oleh-oleh, kamipun pulang. Saya berceloteh sebelum berpisah, "Lho udah aja nih? Padahal masih ada Taman Kupu-kupu Cihanjuang, Lembur Batik, Kampung Adat Cirendeu, terus....". Lalu teman saya menjawab, "Wah, ternyata masih banyak yah. Jadi pengen balik lagi ke sini." 

Sayapun spontan bertanya, "Jadi, ada apa aja emang di kota Cimahi?", teman saya menjawab, "Yaahh....banyak...".  Kami berduapun tertawa terbahak-bahak. 

Itulah pengalaman saya dan teman saya berjalan-jalan di kota Cimahi. Meski kotanya kecil dan sumber daya alamnya terbatas, bukan berarti kota Cimahi bisa dilewatkan begitu saja. 

Cimahi, Saluyu Ngawangun Jati Mandiri!



------------------

*Foto-foto koleksi pribadi

*Sumber data & referensi:
(1) Kepadatan di Jawa Barat. 2012. Diakses melalui <http://www.jabarprov.go.id/index.php/subMenu/992>
(2) Cimahi Sebagai Kota Tentara. 2013. Diakses melalui
(3) Cimahi, Kota Wisata Sejarah Militer. 2009. Diakses Melalui  <http://entertainment.kompas.com/read/2009/12/30/1601361/Cimahi.Kota.Wisata.Sejarah.Militer>
(4) Kepadatan di Jawa Barat. 2012. Diakses melalui <http://www.jabarprov.go.id/index.php/subMenu/992>


Saturday, 18 May 2013

I do not fear death

Kematian

Tulisan ini dipicu oleh Surat Perpisahan Roger Ebert yang saya baca beberapa minggu lalu. Roger Ebert adalah salah satu kritikus yang paling dihormati dan dijadikan referensi kualitas film-film. Kalau kita beli dvd terus ada tanda bintang rekomendasi atau komentar dari Ruper &Ebert di sampulnya, iya itu Roger Ebert. Surat yang ditulisnya sebelum meninggal berjudul I do not fear death bikin saya berkontemplasi terus menerus. Waktu di motor, sebelum kuliah, setelah siaran, di bioskop, di wc, di mesjid, dan di tempat tidur. Jujur, saya merinding dan menitikan air mata saat membaca tulisannya. Dia menunjukan bahwa kematian bukan seperti apa yang ditakutkan setiap orang. Pada akhirnya ia akan datang kepada setiap yang bernyawa.

Gambar diambil dari sini

Saya ingat waktu kecil ada film Ari Hanggara yang saya tonton siang hari saat ibu sedang lelap tertidur. Setelah selesai menonton, Ibu terbangun mendengar suara saya yang menangis keras. Saat dia bertanya ada apa, saya menjawab bahwa Ari, tokoh anak kecil itu, mati disiksa oleh ayahnya sendiri. Ia dituduh mencuri padahal tidak. Saya menangis sesenggukan. Bukan karena saya takut diperlakukan seperti itu tapi karena simpati saya terhadap Ari. Ibu menenangkan saya dengan berkata, "Itu cuma akting. Ari yang asli masih hidup. Itu cuma film." Berulang kali Ibu berkata seperti itu, saya tetap menangis dan tak mau makan. Saya benar-benar merasa iba. Beberapa bulan setelahnya, saya baru bisa mencerna arti kata akting dan cuma film setelah saya melihat tokoh Ari di film atau iklan lain. Ia masih hidup. Awalnya saya berpikir, anak yang disiksa orang tuanya hingga mati akan mewujud lagi di kehidupan lain (baca:film lain). Tapi saya salah. Itu cuma film. Artinya pura-pura. Saat kecil, saya belum tahu bahwa seseorang bisa meninggal (kan) dunia ini dan beserta orang-orang tersayang. Orang pergi dan pasti kembali. Jika tidak bertemu lama, ia berarti sibuk. Lagi-lagi saya salah. Saya akhirnya tahu bahwa meninggal adalah kondisi saat saya tidak bisa bertemu dengan orang-orang lagi selamanya. Tapi pikiran  itu tidak merepotkan saya. Seperti anak kecil lainnya, pikiran tersebut lenyap saat saya bermain bersama teman-teman saya.

Menginjak bangku SMP, saya kemudian membaca novel si Jamin dan si Johan karya Merari Siregar. Seharian membaca buku tersebut harus berakhir dengan air mata lagi. Bedanya, tak ada teriakan atau tangisan keras. Saya berairmata dalam sunyi di bawah dekapan bantal. Saya tidak bisa menerima kematian si Jamin, adik Johan yang bernasib malang itu. Dari situ saya berpikir lagi. Tidak semua anak hidup bahagia selayaknya anak yang bisa bermain dan belajar saja. Ada yang harus bekerja layaknya orang dewasa dan akhirnya meninggal. Meskipun cerita itu fiktif tapi berhasil membangkitkan lagi keingintahuan saya terhadap kematian. Apa itu kematian? Kenapa begitu menyakitkan?

Lagi-lagi kesibukan seperti anak kebanyakan lainnya membuat saya melupakan pertanyaan-pertanyaan itu. Menginjak SMA, saya melihat sedikit titik terang mengenai kematian. Dengan pelajaran agama tentang surga dan neraka, pahala dan dosa. Tak ketinggalan malaikat pencabut  nyawa dan alam barzah yang akan kita lalui sebagai alam setelah kehidupan. Ilmu agama saya masih sangat dangkal tapi sampai sekarang saya masih percaya kepada Tuhan, Allah SWT. Saya juga percaya dengan adanya takdir yang meliputi kematian seperti yang tertera dalam Al-qur'an:
Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.(3:145)

Tapi karena ilmu agama saya masih dangkal, biarkanlah saya membahas kematian ini dari sudut pandang naif saya.

Kematian seseorang sudah digariskan dan tak bisa dihindari. Menjalani kehidupan seperti ini menjadi menunggu waktu saja. Kita menunggu kereta yang menjemput kita. Menunggu mobil jemputan pada saatnya tiba. Tanpa kita ketahui jadwal dan waktunya. Terbukti ketika teman saya harus pergi tanpa sempat mengucap perpisahan sebelumnya. Dini hari itu saya terbangun karena mimpi buruk tentang seseorang yang mengalami kecelakaan. Kaget dan berkeringat, saya mencoba menenangkan diri dengan meminum air putih dan kembali tidur. Karena itu saya agak terlambat datang ke sekolah. Saat pelajaran kosong dan saya sedang ngobrol dengan teman-teman saya, teman saya datang menghampiri saya di kelas dengan muka pucat dan mata berair. Dia mengabarkan bahwa seorang teman kami meninggal karena kecelakaan. Teman yang sehari sebelumnya bercanda tawa dengan saya dan yang lain. Teman yang sering membuat orang lain tertawa. Teman yang menyenangkan. Kemudian saya dan teman-teman langsung mengunjungi rumah dan mengantarkannya dikebumikan. Satu minggu kemudian, kami berbicara dan tidak melupakannya, mengenangnya dan masih berduka. Kami masih tidak percaya dia telah pergi untuk selamanya. Tak ada lagi tempat yang bisa kita datangi untuk bertemu dengannya selain makamnya. Ia benar-benar telah pergi. Jauh ke tempat yang tidak bisa kita jangkau selain dnegan doa. Satu bulan, dua bulan, dan tiga bulan kemudian teman-teman sudah mulai sibuk dengan pelajaran. Tak ada lagi yang mencoba mengenangnya. Saya yakin kini jika mereka ditanya tentang teman saya itu mereka pasti tidak akan lupa. Tapi mereka juga tidak mengingatnya. Hal itu menjadi kenangan SMA yang terkubur di hati masing-masing. Yang akan ada dengan menggali dulu kenangan tersebut. Sejak saat itu saat saya melihat konsep kematian: entah di film, lagu, ataupun melihat mobil jenazah, akan ada orang-orang yang pernah ada di hidup saya dan meninggalkan saya lebih dahulu. 

Kehilangan sering kita alami melalui kematian. Saya kehilangan salah satu orang yang paling berpengaruh dalam hidup saya, nenek saya. Saya tidak yakin jika adik-adik saya masih mengenangnya dengan cara yang saya lakukan. Setiap kehilangan tersebut menyebabkan teman dan keluarga yang berduka, kenangan yang mulai pudar, dan kesedihan yang mendalam. Beberapa minggu lalu, saya mengalami kecelakaan. Saat kejadian itu, ada beberapa sekon yang membeku dan yang terlintas adalah kematian. Apakah ada yang akan menangisi kepergian saya. Apakah ada yang lupa siapa saya. Apakah kalian akan tetap tersenyum sembari membacakan puisi-puisi saya. Apakah kecelakaan ini akan menjadi penutup cerita saya. Nyatanya belum. Saya bersyukur. Saya sadar belum banyak kebajikan yang saya berikan dan jelas saya belum bisa berguna bagi orang tua dan orang-orang terdekat. Rasa bersyukur karena masih ada waktu untuk melakukan sesuatu sebelum jemputan saya datang. Seperti di film Single Man saat George kehilangan Jim. George merasa hidup kembali setelah mengalami depresi  namun harus menemui ajalnya sebelum ia sanggup merengkuh rebound moment itu. Saya tidak ingin seperti itu, larut dalam kesedihan dan keputusasaan karena kehilangan. Dan saya berharap kalianpun tidak. Jika ingin meniru, tirula seperti tokoh Spock dalam Star Trek yang merengkuh kematian dengan berani dan pasrah. Bukan karena ia tidak merasa peduli meninggalkan orang-orangnya, tapi ia memilih untuk menghadapinya dengan berani walaupun orang salah mengartikan sikapnya. Selain itu sejatinya, setiap orang ingin kehidupannya berguna bagi orang lain sebelum menemui ajalnya. Begitu pula saya. Saya berdoa kepada Tuhan agar saya diberikan waktu yang cukup untuk melakukan tugas dan peran saya di dunia ini.

Terbiasa dengan mendengar kematian orang lain, saya tidak berpikir apa yang akan terjadi dengan kematian saya sendiri. Orang-orang akan sedih. Kemudian mereka melanjutkan hidup. Belum ada karya yang saya sempat telurkan. Belum ada kontribusi yang saya tularkan untuk orang sekitar. Jika ada hal yang saya takutkan dari kematian hal itu adalah oblivion. DilupakanItu yang ditakutkan setiap orang termasuk saya. Ketika kita mati, raga kita akan menjadi mainan bakteri dekomposer. Dan akhirnya kembali menyatu dengan tanah.

Apa yang akan tetap ada saat itu tiba, saat kita tiada?  apa yang ditinggalkan kematian selain kenangan? 

V dalam V for Vendetta pernah berkata bahwa ideas are bulletproof. Itu yang menjadikan ide sesuatu yang membahayakan namun juga bisa membangun peradaban. Ketika kita tidak ada, ada memorablia yang dapat diingat dan berkembang menjadi sebuah gerakan, motivasi, atau percikan api ide-ide lainnya. Ide Horace bisa sampai ke generasi ini. Tidak salah jika Horace menuliskan carpe diem, quam minimum credula postero yang artinya seize the day, trusting as little as possible in the next (day)/future. Percayalah sedikit mungkin dengan hari esok. Mungkin dengan begitu kita akan melakukan apa yang harus kita lakukan. Berbuat baik atau menikmati hidup dalam cara yang optimis dan positif. Tidak ada yang akan kita sesali. 





Tiada yang tahu jika hari ini adalah hari terakhir kita. 


Friday, 3 May 2013

ATL yang Sudah Langka

Postingan kali ini lumayan penting untuk dibaca karena menyangkut kehidupan fans garis keras penikmat kuliner di Bandung. Bandung sebagai destinasi wisata kuliner udah gak perlu didebatin lagi tapi sayang kalo warga Bandung sendiri tidak menikmati kuliner kotanya. Kamis kemarin ada ujian ITL (Inovasi Teknologi Lingkungan) di kampus. Saya sebenernya gak terlalu ngerti banyak soalnya kontennya tentang teknologi industri yang lebih ke teknik, fisika, ama kimia. Yah jadi daripada pusingin mikirin ITL mending nyari ATL aja. ATL, ayam tulang lunak. 

Dari beberapa hari sebelumnya, saya emang pengen banget makan ATL. Terakhir kali beneran makan ATL itu tahun 2007 waktu ada acara bazaar di SMA. Ya, kalo makan bebek atau ayam sih sebenernya tulangnya saya makan juga sih. Apalagi kalo tulangnya gak begitu keras. Jadi kalo disodorin ayam, gak akan ada tulang yang kesisa. Tapi ngenes juga sampe tulang aja dilumat, makanya penasaran pengen makan ATL. Yah itung-itung ngebandingin seberapa lunak sih ATL dibanding tulang-tulang lain yang biasa saya lumat. Yah, mudah-mudahan dengan makan ATL, ITL saya bisa dapet A. Gak nyambung? Emang. Yang penting perut kenyang, belajar sih ntaran aja. gimana mau konsen belajar kalau perut kukurubukan.

Selasa malam saya muter-muter Bandung dari jam 9 sampe 12 cuma buat cari ATL. Sebelumnya saya udah googling ATL yang enak di Bandung. Salah satunya ATL di dago (depan Hotel Geulis). Tapi waktu ke sana udah gak ada. Mungkin karena emang warung tenda dan jam segitu udah gak ada. Biasanya sih yang jual ATL itu kebanyakan siang tapi biasanya kan kuliner juga rame kalo malam. Karena ga ada, akhirnya saya muter ke daerah Cihampelas. Dulu waktu SMA, saya inget ada warung tenda ATL di depan toko tas Elizabeth. Pas ke sana, eh udah gak ada. Entah tutup atau entah udah pindah. Akhirnya saya memutuskan ke daerah Burangrang. Biasanya malam-malam di sana masih rame. Terus pastilah ada ATL. Masa gak ada. Dan ternyata emang gak ada. Mungkin karena udah malam, sekitar jam 10an jadi udah pada sepi. Ujung-ujungnya makan Bebek Setan di depan lapangan Lodaya.


Bebek Setan

Ada tiga bebek sebenarnya yang dijual, Bebek Plecing, Bebek Sambel Ijo, sama Bebek Original. Bebek Plecing itu bebeknya ditaburi cabe kering yang pedas. Harga 19k. Bebek Sambel Ijo ditaburin sambel ijo harganya 17k. Yang original 15k. Tahu sama tempe cuma 1k. Kol goreng 4k. Tapi tiap mesen bebek pasti bakal dikasih kol gorengnya. Rasanya biasa aja. Malah gak pedes sama sekali padahal mesen bebek Plecing. Malah ada pembeli yang bilang, "Mas, cabenya lagi murah yah? kok gak pedes."

Hari berikutnya, Rabu malam saya gak nyerah nyari ATL. Berbekal hasil googling dan ingatan samar, ada satu warung ATL deket Dago Tea House. Namanya warung Amboe. Dulu pernah makan di sini tapi bukan ATL soalnya ATLnya abis. Jam 8an berangkat ke sana eh, malah tutup. Padahal sebelumnya udah nyasar ke Dago Pojok dulu. Yah perjuangan. Akhirnya, saya browsing lagi. Nemu ATL Djuwita di foodcourt Paskal Hypersquare. Tempatnya lumayan jauh tapi tempatnya cozy banget. Yah, akhirnya nemu juga.ATL belum punah ternyata

ATL Djuwita
ATL Djuwita dipaket dengan harga 22k. Isinya ayam tulang lunak (yaiyalah), terus tahu, tempe ama nasi. Ada juga bandeng presto, nasi tim, dll. Harganya dipatok sama. Akhirnya bisa juga makan ATL. Enak banget sampe akhirnya lupa belajar. Besoknya ujian ITL pun dapet jackpot. Gak bisa ngerjain sama sekali.

Wednesday, 1 May 2013

Introspeksi Hari Buruh 2013


Hari Buruh 2013.

Tadi pagi menjelang siang, saya sempat lewat Gedung Sate yang dipenuhi banyak orang yang sedang demo. Banyak tuntutan yang mereka ajukan melalui spanduk dan papan besar. Beberapa di antaranya: Kenaikan UMR, Tolak Kenaikan BBM, dan hapus sistem kerja kontrak. Dari tahun ke tahun para buruh ini konsisten dan gigih untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan mereka. Tapi apa dengan tuntutan merek apa yang jika dipenuhi akan membuat mereka sejahtera?

Tuntutan mereka tidaklah politis namun ekonomis. Mereka hanya ingin memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Dengan dieksploitasi seperti itu, siapa yang tidak menginginkan kesejahteraan yang setidaknya bisa membuat mereka makan nasi dan ayam goring sambil nonton sinetron pada malam hari sepulang mereka kerja di rumah kontrakan. Jika dilihat dari UMR, kota Bandung berada di angka Rp. 1.538.703 lebih kecil dibandingkan Bogor atau Karawang yang berada di kisaran Rp. 2000.000 tapi lebih besar dibandingkan Ciamis yang besarannya hanya Rp. 850.000. Dengan peningkatan indsutri besar di Jawa Barat yang mengeksploitasi pekerja maupun lingkungannya, menurut saya wajar jika mereka menuntut kenaikan gaji. Hal ini berdampak pada tuntutan mereka yang ingin menolak kenaikan BBM. Katakanlah buruh di Bandung mendapatkan gaji UMR maka tiap harinya mereka memiliki jatah pengeluaran sebesar Rp.50.000. Besar? Lumayan jika dilihat dari standar Bank Dunia untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari yaitu sekitar Rp. 20.000/hari/orang. Tapi jika ia adalah tulang punggung keluarga yang terdiri dari empat orang? Tentu saja tidak cukup. Kantor Kerjasama Internasional ITB aja bilang kalau mahasiswa di Bandung itu, dengan gaya hidup yang biasa saja, dapat menghabiskan Rp. 1000.000 sampai Rp. 1.500.000. Hal ini yang luput dari perhatian pemerintah: Bagaimana memberdayakan setiap orang dalam keluarga buruh sehingga memiliki keahlian untuk menghidupi diri mereka sendiri. Oleh karena itu tuntutan penolakan kenaikan harga BBM masuk akal bagi mereka. Kebutuhan mereka sudah sulit dengan harga yang sekarang. Apalagi dengan adanya kenaikan BBM jika tidak diimbangipeningkatakn kesejahteraan buruh dan keluarganya. Hak yang terakhir adalah penghapusan sistem kontrak. Banyak yang berpikir bahwa sistem kontrak atau outsourcing adalah perbudakan modern. Saya setuju tidak setuju. Maksud saya, banyak orang bekerja di perusahaan asing dengan sistem kontrak atau outsourcing tanpa merasa kekurangan karena gaji mereka pada dasarnya sudah besar. Mereka tidak merasa diperbudak. UMR saja sudah pas-pasan, apalagi jika dipotong oleh perusahaan outsourcing. Banyak juga buruh yang sudah mengabdi selama lebih dari duapuluh tahun namun masih tetap berstatus pegawai kontrak. Tidak heran jika tuntutan itu mereka lontarkan.

Saya ingat seorang teman, sebut dia Indro. Saya berkenalan dengannya tahun 2007 di sebuah pabrik di Padalarang. Saat itu saya juga bekerja sebagai buruh menggantikan teman saya yang harus pindah kota namun sisa waktu kontraknya selama dua bulan belum selesai. Dari Indro saya belajar banyak hal. Pertama, sebenarnya tidak semua buruh berambisi menuntut ini-itu. Indro dan beberapa teman-temannya sudah merasa berkecukupan dengan gaji Rp. 900.000 perbulan pada saat itu. Mereka menyadari bahwa pendidikan mereka terbatas dan karena itu jumlah gaji itu adalah yang pantas untuk mereka. Mereka bersyukur dengan keadaan mereka. Kedua, mereka bekerja sepenuh hati. Jangan sangka jika dengan gaji yang minim, mereka akan bekerja setengah-setengah. Jika teman sempat melihat acara Undercover Boss, beberapa buruh industri tertangkap kamera bekerja dengan sungguh-sungguh dan teliti. Itupun terjadi di Indonesia. Ia sering mengingatkan saya untuk tidak datang telat atau istirahat terlalu lama. Ia giat dalam bekerja dan jarang mengeluh. Dan saat hari libur atau Minggu, ia pergi dari Padalarang pukul delapan pagi menuju Bandung menggunakan kereta api. Setiba di stasiun Bandung, Ia pergi ke Gramedia hanya untuk membaca buku yang sampul plastiknya sudah terbuka. Ia belum bisa membeli buku yang harganya duapuluh ribu. Karena dengan duapuluh ribu, ia dan ibunya bisa makan selama dua hari. Setelah dua bulan, saya dan Indro harus berpisah karena masa kontrak saya yang habis.

Lima tahun berlalu.

Selama itu saya berteman dengan banyak anak orang kaya yang sering ngeluh pekerjaan yang mereka tidak suka. Pekerjaan mereka yang sampai malamlah, pekerjaan yang tidak sesuai dengan passionlah, atasan mereka yang galaklah, atau gaji yang pas-pasanlah. Mereka mengeluh tapi kenapa mereka tidak juga keluar dari tempat mereka bekerja? Bukan karena mereka nyaman tapi karena itu pilihan mereka, jawab mereka. Pilihan untuk menjadi seperti Indro yang bekerja untuk perusahaannya demi menafkahi keluarganya. Tanggung jawab yang dipikul oleh mereka adalah menyokong keluarganya.

Saya terkadang heran dengan teman-teman yang dicekoki oleh pendidikan kampus dan orang tua yang mencekoki anak-anak mereka dengan kebutuhan akan sebuah gelar. Mereka mendambakan gaji besar, menjadi sarjana karena materi. Saya juga, orang tua saya juga. Tapi yang saya sadari, apakah kita akan menjadi seperti Indro yang tidak memiliki pendidikan tinggi tapi sama dengan kita, mengulang rutinitas yang serupa dan disesaki kebutuhan dan kesibukan? Jawaban iya saru meluncur dari teman-teman. Saya juga lupa betapa perguruan tinggi kadang serius tidak mencap lulusannya dengan Tridharma Perguruan Tinggi: Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian. Poin yang terakhir seringkali yang kita lupakan.

Childish Grown Up


I weep every time i reminisce my childhood. Not because it had given me uncountable deplorable moments, conversely, because it had made me happy as a child. I had a great time when i was a kid. I could play all day long, read many story books without worrying assignments. Sleeping and mind-wandering without running out of time. If i wanna flaunt, i definitely will brag about my childhood.  I love  tales and folklore. I always admire Timun Mas as i admire The Match Girl. I am amazed by how Tangkuban Parahu is made in one night as i am amazed by how the Pyramid in Giza is built in ages. I felt rich. I felt wonderful. My life, at a moment, was filled up with magic. I had so many adventures.


while i went jogging in one sunny morning, i found a kid sitting on the pedestrian walk side. Despite anything happened around her, she enjoyed reading at her best :) 


Time goes by and as any other children, i am growing up. It seems to be the only curse children have. If i could ever choose between being a kid or a grown up, i will put away the latter. But several people will say, "if you never grow up, you won't fall in love and stuff." I stopped thinking for a while then replied, "i am not interested. Kids do also fall in love and i think they love more sincerely than we do." It is true because when we grow up and fall in love, there are a lot of reasons why we love someone. We have desires to make love, start a family, and consider material things. Look at the children, when they love, they probably only have one reason, "because s/he is charming or beautiful or kind." Love at that age doesn't hurt. It feels good. 

When adults love, it is most definitely that getting hurt is always there. 

I felt eel the happiness of loving and being loved, the anxiety of possessing and being possessed, and also the agony of accepting and being accepted. I always started well and ignited flawlessly. I always had the feeling to keep the relationship on but in the end I could barely stand the pain and the agony of walking the road alone. How time can rot us, the ones that long time ago committed to be forever. 

I am possibly redundant telling this but it's because i value things more than anyone does. People tell me that i live too seriously. I don't laugh too often but think too often. I can't help if i always consider devoting  to someone so seriously. It helps me at least to resuscitate that i am a grown up and weak. And why as an adult, falling in love can be dangerous? because as an adult, we have spent time to experience the world. We feel more than the kids. And love itself involves feeling we have experienced. We crave more for someone we desire for and sometimes jealousy and selfishness leak out. And why adult can be like that? i honestly don't know the answer. If love has been an enigma since Adam and Eve, i wouldn't try to solve it. I would rather enjoy it. Even if thousand questions of it pop up in my mind and whisper to be explained, i don't bother.

Moments in life is drawing near. Looking an answer for each question is unattainable. But if you are looking for love, you will find one in the long run. But don't expect it will be beautiful. Some people have to take the its ugly side. That's why i condescend myself to someone i have crush on. I am afraid that i will be ugly side of love. I am afraid to bring a miserable life to someone i love and care about. I fear the possibility of making you unhappy and in pain. I am afraid you know that i am actually the ugly part of love. I am afraid you are afraid.


My heart is broken into pieces. You pick it up and mend it.
i don't fall in love anymore. 


------------------

I don't even remember if when i was a kid, i had already became this overwhelming, over-thinking kid. Yeah, it was so much simpler back then when i was a kid. 



"Learning life is a process, nature has taught me that life is really a cycle. Every beginning is a new ending, every ending is a new beginning: We live then we die. Moreover we pass our genes and ideas to the next generation. We relive it. So is love. We fall in love then we stop. At first, we were strangers. We were getting closer and feeling better. Then we were becoming lovers and a lot happier. But one day we hurt each other and decided to be over. We stopped being lovers. Then we are back as we were, strangers. We start a new cycle. To think about it, i realize that we don't actually stop loving. We pass it to another person and revive it. So because the misery and happiness is one inseparable package in life, we don't have to worry about it. We only have to feel the process and find out how to pass our spirit, our Zeitgeist, to our next generation." - Me, unconscious after swallowing two pans of pizza.




`

Pause and Playback melalui Menulis


Pause and Playback melalui Menulis
oleh Pradipta Dirgantara

-- Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah.-- (Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca)

Menulis adalah suatu aktivitas yang dapat dikerjakan semua orang. Mulai dari menulis tulisan yang bersifat ilmiah maupun nonilmiah. Ada yang terbiasa menulis buku harian, puisi, dan juga unek-unek. Ada juga yang memang gemar menulis jurnal, laporan penelitian, sampai buku ilmiah. Satu hal yang membedakan antara tulisan ilmah dan nonilmiah tentu saja tujuan dan juga karakter tulisan itu sendiri. Tulisan ilmiah harus bersifat akademik, faktual, dan juga rigid. Sedangkan tulisan non ilmiah bisa bersifat fiktif, memiliki fakta, ataupun kombinasi keduanya: improvisasi dari fakta yang ada dan imajinasi.
Kita sudah diajari menulis sejak sekolah dasar. Di sekolah dasar kita diajari bagaimana membuat paragraf yang padu dan padan. Berawal dari sebuah kata yang berkembang menjadi beberapa kata yang disebut kalimat. Kalimat ini pun bisa dikembangkan sehingga menjadi paragraf yang dapat dipahami. Lantas paragraf-paragraf pun bermunculan dan membuahkan sebuah tulisan yang menjadi santapan bagi para pembaca. Sama seperti makanan, tulisan pun ada yang enak dan juga tidak enak. Hal ini bergantung pada selera dan segmentasi pembaca dan juga tidak terlepas kemampuan penulis dalam meramu kata-kata.
Di dalam tulisan terefleksikan tujuan penulis. Ide-ide yang ingin disampaikan oleh penulis. Menurut hemat saya, tulisan adalah realisasi konkret dari berbagai ide dalam benak penulis. Ide ini bisa datang dari mana saja: observasi, pengalaman sosial, dan inspirasi. Ide yang kita tuangkan ke dalam tulisan akan menjadi abadi dan bisa menjadi inspirasi banyak orang. Terlebih dengan adanya globalisasi, informasi, dan juga komunikasi yang serba lintas bantas (borderless) membuat tulisan kita sangat mungkin dibaca oleh orang dari berbagai macam negara sampai sudut yang sampai pelosok. Jika Anda pernah menonton film V for Vendetta, saya setuju dengan kutipan dialog di dalamnya bahwa ide itu antipeluru (the idea is bulletproof). Hal itu dikejawantahkan  oleh Marx dalam das Capital yang merupakan inspirasi kaum buruh yang membakar Eropa dan sebagian besar dunia hingga sekarang. Tubuh Marx mungkit bisa busuk diurai bakteri di dalam tanah namun idenya berkembang dan bergema dari masa ke masa.
Menulis adalaah budaya vital yang perlu dimiliki oleh seorang individu, terlebih bagi sebuah bangsa. Secara idealis, dengan menulis kita bisa mengubah pemikiran orang yang berarti juga bisa mengubah dunia. Secara pragmatis, dengan menulis kita bisa menafkahi hidup. Penulis menjadi profesi yang menguntungkan secara ekonomi. Namun terlebih dari itu, menulis dapat membebaskan pikiran kita dari belenggu-belenggu yang ada. Menulis adalah pelepasan ide intelektual ke dalam sebuah dokumen seperti halnya mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan dengan lega. Sama seperti membuat film atau lukisan, menulis adalah suatu proses atau cara untuk menyampaikan apa yang ada di benak kita.
Kita juga bisa lebih memaknai hidup dengan menulis. Menulis merupakan cara untuk seolah-olah bisa mempause satu fase atau satu fragmen dalam kehidupan kita kemudian merekamnya melalui kata-lata. Dengan begitu, kita bisa memutar ulang fragmen tersebut dengan membaca. Hal ini juga berarti menulis dapat membantu kita untuk mengingat. Tanpa adanya suatu dokumentasi berupa tulisan, ingatan kita akan terus tertumpuk dan akhirnya terlupakan. Sesuai dengan pepatah latin yaitu Scripta manent, verba volant: yang tertulis kekal, yang terucap menguap.
Banyak sekali manfaat dari menulis. Setiap orang bisa merasakan manfaat yang berbeda dari menulis. Proses menyenangkan ini bisa mengembangkan daya pikir, kreasi, dan imajinasi kita. Menulis membuat pikiran kita bergumul dengan keresahan dan problematika hidup. Di sini akan tercipta sebuh proses yang mengembangkan daya pikir sehingga bisa membuahkan solusi dari permasalahan yang dihadapi.
Realita yang hadir di Indonesia adalah budaya menulis masih tergerus oleh kebudayaan konsumerisme dan budaya populer barat. Bahkan budaya menulis di kalangan dosen di Indonesia masih teramat rendah. Dari 1.200 dosen yang ada di Institut Teknologi Bandung (ITB), hanya sekitar 400 orang atau 30 % yang ada mempunyai kemampuan menulis.[1] Jika guru dan dosen memang tidak produktif untuk menulis, sangat sulit untuk menumbuhkan motivasi bagi para siswa untuk menulis. Terlebih globalisasi juga memiliki dampak negatif. Teknologi informasi yang sudah jauh berkembang memberikan hiburan yang mengerosi minat menulis.
Fenomena ini akan menjadi krusial jika dibiarkan terus menurus tanpa adanya kontrol baik dari pemerintah maupun dari masyarakat. Kebudayaan kita akan tergerus oleh penterasi kebudayaan asing. Semakin lama, generasi muda akan memiliki banyak pembenaran untuk tidak menulis. Dan hal itu bisa saja mengancam kualitas kita sebagai generasi muda. Kita akan mudah dikalahkan oleh Jepang yang memiliki kebudayaan menulis yang tinggi sejak Restorasi Meiji. Kita akan dicemooh oleh Cina yang bisa menelusuri sejarahnya sampai 3000 tahun ke belakang.
Lantas pertanyaan besar yang timbul adalah apa yang sebenarnya harus ditanamkan agar bisa terus menulis. Saya akan mencoba memberikan pandangan terhadap permasalahn tersebut.

Minat Baca dan Sastra
Kita tidak bisa menulis tanpa membaca. Dan membaca akan kurang sempurna tanpa menulis. Menulis dan membaca bagai dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Minat baca yang tinggi akan dibayangi oleh minat menulis yang juga tinggi. Untuk menumbuhkan minat baca pada masyarakat harus dimulai sedini mungkin. Kita juga perlu hati-hati dalam memberikan bahan bacaan kepada anak-anak. Buku cerita ataupun komik memang bagus menstimulasi minat baca anak namun jangan sampai komik menggantikan minat baca  anak terhadap karya Chairil Anwar di kemudian hari. Komik pun tidak semuanya hanya bertema hiburan. Ada beberapa komik yang mendidik seperti Archi and Meidy. Komik semacam ini bagus untuk menjadi  awal untuk menumbuhkan minat baca. Jadi jangan sampai semua komik kita larang untuk dibaca anak-anak.
Peran institusi dan sekolah akan sangat menentukan minat bacaSiswa sekolah menengah atas akan lebih senang membaca komik karena dibiasakan membaca komik. Penanaman pemikiran seperti ini akan tumbuh seiring usia yang akan berlangsung hingga dewasa jika tidak diarahkan.
Di Jepang, negara pengekspor komik terbesar di Asia,  seorang komikus harus banyak membaca agar memiliki referensi sumber bacaan yang luas untuk mendukung komiknya yang berkualitas. Terbukti, komik Jepang yang memiliki berbagai level kesulitan cerita ini menyerbu masyarakat kita di banyak toko buku. Kita bisa melihat level bacaan dari yang bisa dibaca oleh anak-anak sampai yang memiliki plot rumit untuk dewasa. Dari produktivitas hiburan tertulis saja, komik, kita sudah kalah. Padahal jumlah penduduk kita lebih banyak dari Jepang.
Pihak sekolah sangat disarankan untuk membuat klub membaca dan menulis sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler. Pihak sekolah bisa saja membuat suatu klub membaca dan menulis atau bahkan memasukkannya ke dalam kurikulum seperti yang dilakukan banyak sekolah di Amerika. Untuk pemula, misalnya siswa tahun pertama sekolah menegah pertama, siswa harus membaca dua buah komik setiap bulannya. Mereka tentu akan senang karena komik merupakan bacaan hiburan. Namun setelah membaca komik tersebut para siswa harus membuat ringkasan cerita, unsur intrinsik dan ekstrinsik yang ada dalam cerita dan kemudian memberikan opini terhadapnya. Kegiatan semacam ini akan merangsang kepekaan dan kekritisan siswa. Tapi perlu diawasi juga komik mana yang memang cocok untuk dibaca oleh siswa tingkat SMP. Setelah itu,  para guru akan membuka sesi diskusi yang mengakomodasi keinginan siswa untuk berpendapat.
Kegiatan seperti ini akan menumbuhkan kesenangan terhadap membaca sekaligus menulis. Secara perlaham bobot bacaan akan ditingkatkan. Semula dari komik ringan menjadi cerpen, puisi, atau novel. Siswa pun hendaknya dianjurkan untuk membuat review atau kritik mengenai tulisan yang mereka baca. Hal ini harus dilakukann secara bertahap dan terus menerus sehingga ada kesinambungan antara satu jenjang pendidikan dengan jenjang pendidikan lainnya yang lebih tinggi. Contohnya, saat siswa memasuki SMA, siswa dapat dibimbing menulis artikel dengan jenis review dan guru harus menjelaskan bagaimana cara menulis artikel dan tulisan jurnalistik lainnya seperti feature, berita, dan opini. Selain itu dengan adanya penugasan review, siswa pun akan terdorong untuk menulis. Pihak sekolah pun harus mendorong siswa untuk menulis buku harian namun berisi pengalamannya dengan fenomena sosial yang terjadi setiap hari. Selain menulis, kepekaan terhadap lingkungan sekitar pun akan terdorong.
Pihak sekolah juga harus mulai mewajibkan bacaan sastra seperti karya Sapardi Djoko Damono,  Chairil Anwar, N. H. Dini, ataupun Sutan Takdir Alisjahbana untuk kemudian diringkas ataupun dikiritiki. Selain melestarikan budaya membaca, secara tidak langsung kita menanamkan minat membaca pada buku sastra Indonesia. Karya sastra yang menurut saya mudah dipahami dan menarik adalah cerita pendek atau cerpen. Sebuah cerpen yang sekadar hendak bercerita, dan betul-betul bercerita dengan bahasa yang lugas da terang, jalan cerita yang sederhana dan wajar, tokoh-tokoh dalam keseharian, tentu saja sudah memadai, bahkan bisa jadi sebuah cerpen yang bagus.[2]  Cerpen-cerpen yang memiliki makna dan juga gaya penulisan beragam dapat ditemukan di toko buku. Pihak sekolah harus bisa menyediakan kebutuhan siswa seperti halnya cerpen. Karya sastra memiliki amanat atau nilai sosial atau nilai kehidupan yang bisa dipelajari oleh kita  sehingga bisa membuat kita lebih baik menjalani hidup dna terbuka terhadap pluralitas fenomena sosial. Karya sastra yang disediakan tidak harus melulu Indonesia namun juga bisa dikombinasikan dengan karya sastra dari luar negeri seperti cerpen karya Ernest Hemingway atau Katherine Mansfield yang memiliki gaya penulisan unik, lugas, dan sederhana. Dengan membaca karya sastra, secara tidak sadar kita akan dituntun untuk mengunkapkan kegelisahan kita yang paling dalam mengenai suatu fenomena dan menumpahkannya dalam tulisan. Dengan kata lain, membaca karya sastra dapat menjadi nutrisi otak bagi kita untuk menulis.

Peran Pemerintah dan Masyarakat
Pemerintah harus bisa mengakomodasi kebutuhan generasi muda dengan membangun perpustakaan yang lokasinya strategis. Saat ini pemerintah kita banyak membangun mal dan pusat hiburan lainnya. Tentu saja generasi muda berbondong-bondong datang ke mal daripada ke perpustakaan.
Perpusataakan : tempat yang membosankan dan jauh. Mal : menyenangkan dan tempatnya strategis atau meskipun jauh, lebih rela pergi ke mal daripada perpustakaan. Setidaknya itulah pencitraan perpusatakaan versus mal di kota Bandung. Tapi sebenarnya perpustakaan bisa menjadi lebih menyenangkan dari mal. Kita bisa membuat klub baca dan tulis yang informatif dan edukatif. Sisi edukasinya juga sudah tentu lebih banyak berbobot daripada di mal. Kecanggihan teknologi infromasi bisa dijadikan daya tarik untuk datang ke perpustakaan. Di sinilah peran aktif pemerintah sangat dibutuhkan.
Pemerintah juga bisa membuat perpustakaan keliling untuk menjangkau masyarakat di pinggiran kota. Pemerintah juga harus rajin mengadakan lomba menulis untuk lebih membangkitkan semangat menulis.
Dari sisi masyarakat, masyarakat dituntut untuk sinergis dengan pemerintah. Keluarga merupakan inti dari masyarakat. Oleh karena itu, peran orang tua juga sangat dibutuhkan untuk mendukung suasana yang kondusif bagi anak untuk membaca dan menulis.
Selain keluarga, pemilik toko buku juga harus bekerja sama untuk memberdayakan minat baca. Di Jepang ada kebudaayaan Tachiyomi. Tachiyomi merupakan istilah membaca namun tidak membeli. Kita bisa melihat aksi Tachiyomi di berbagai toko buku. Para pemilik toko buku mendukung sepenuhnya karena mereka yakin betul semakin banyak aksi Tachiyomi maka semakin banyak buku yang terjual. Tachiyomi ini semakin meligitimasi masyarakat untuk membaca sesuka mereka. Dan tidak  heran jika di Tokyo kita dapat menemukan seorang pemuda tertunduk khusyu membaca di kereta, atau seorang siswi menghabiskan waktunya membaca di taman. Pemandangan yang jarang ditemukan di Bandung.
Budaya lain yang dapat ditemukan di generasi muda Indonesia adalah budaya online. Kita seringkali melihat atau bahkan mengalami kecanduan terhadap facebook atau twitter. Hal positif dari perkembangan teknologi informasi dapat kita manfaatkan untuk tetap menulis. Membuat blog adalah salah satu cara memanfaatkan internet dengan benar. Kita bisa aktif menulis di facebook, twitter, tumblr dan sejenisnya. Tulisan kita harus memiliki konten kritis dan solutif terhadap fenomena yang ada. Hal ini akan membuat kita semakin menyukai aktivitas menulis. Pemanfaatan internet yang baik akan membuat kita lebih prodkuktif dalam menulis.

Komitmen Semua Pihak
Peran pemerintah, sekolah dan masyarakat harus sinergis dan secara aktif berkelanjutan. Upaya ini adalah untuk membangkitkan minat baca genersi muda. Dengan mengobarkan gairah membaca maka geneasi muda pun akan terdorong menulis. Komitmen semua pihak pun tidak boleh berapi-di awal namun padam di tengah-tengah. Kita Semua harus menanamkan budaya membaca.
Membaca seperti lubang kunci pengetahuan. Menulis adalah kuncinya. Temukan lubangnya, masukan kuncinya. Itulah analoginya. Membaca membuat kita peka dan menulis membuat kita kritis. Apa jadinya jika generasi muda yang sering dielu-elukan sebagai tombak bangsa tidak memiliki kemampuan menulis dan tidak kritis terhadap fenomena yang terjadi?
Harapan kita semua adalah generasi muda bisa mengembangkan potensi mereka melalui menulis. Bisa membuka cakrawala pengetahuan mereka melalui menulis. Bisa mengubah dunia melalui tulisan atau setidaknya bisa mengubah diri kta menjadi pribadi yang lebih baik.












[1] Galamdedia. Rendah, Budaya Menulis Dosen Indonesia. 2009. melalui <http://akatelsp.ac.id/2009/01/09/akatel/rendah-budaya-menulis-dosen-indonesia/ > [25/05/09]
[2] Kompas, 2001. Mata yang Indah. Jakarta : PT Kompas Media Nusantara,, hal. xxiii