Sunday, 28 July 2013

Solitude #17


Malam kali ini temaram tak seperti biasanya. Bulan berselimut awan tanda setuju. Seolah lelah, lampu jalan sudah beberapa kali ikut saru dalam gelap karena tak ada lagi pengguna jalan untuk ditemani. Udara pun ikut berkontemplasi menyebarkan gigil. Beberapa sudut kota sudah terlelap dalam gelap. Anak-anak sedang menyulam mimpi dan pasangan sedang memeluk erat harapan mereka. Kota ini begitu sepi. 

Aku mencoba melangkah tanpa bersuara. Menelusuri jejakmu yang menyatu dengan debu. Memburu napasmu yang bercampur dengan angin pilu. Menggamit kenangan bersamamu yang kian semu. Tapi aku masih ada di sini. Mencarimu. Tak ingin aku membuat gaduh kemudian bertanya kepada seisi kota akan kehadiranmu. Aku percaya kau masih ada di sini. Seperti aku yakin saat ini kau hadir di sela-sela pandanganku.

Siapa yang sangka malam di kota ini bisa begitu dingin. Mungkin karena angin yang mondar-mandir gelisah mencari tempat singgah. Kota ini juga menjadi begitu sepi. Entah karena hiruk pikuk sudah menjelma menjadi bunga tidur. Atau mungkin tak ada lagi yang terjaga. Sesekali ada harmoni binatang malam yang kadang menangis sesenggukan bersahutan dengan suara angin. Mungkin tidak sesepi yang aku kira. Tapi sekarang aku merasa sendu dan pilu.

Kususuri jalan setapak yang melintang di tengah kota. Kusadari ada embun sisa hujan yang bertengger di setiap daun telinga orang-orang yang sedang tidur. Aku perhatikan dengan saksama. Aku tahu kadang kau bersikeras hadir dalam keping-keping harapan atau kepercayaan yang sudah terkoyak-koyak.

Aku berjalan semakin jauh. Menjauhi kota yang kuyakini ada kehadiranmu di sana. Aku terus berjalan mencarimu. Meninggalkan gemerlap lampu yang menuai banyak pujian. 

Solilokui Angin Katabatik

Solilokui Angin Katabatik

Aku terlahir karena adanya perbedaan tekanan. Bagaikan cinta, aku kasat mata namun terasa; transparan. Bersamaan dengan kelelawar dan burung hantu yang terbang lirih, setiap malam aku mengembara dari Tangkuban Parahu ke Kawah Putih.  Aku adalah angin Katabatik

Aku bersemayam di Tangkuban Parahu. Dan kota ini adalah taman bermain bagiku. Dulu orang dengan ramai menyebutnya kota kembang. Suatu malam aku menyusuri liukan Cikapundung yang airnya bening. Aku bisa melihat beningnya air yang mengalir, menyentuh kepolosan batuan gamping, dan merasakan kecerian ikan-ikan kecil. Saat ku ikuti liukan sungai itu hingga memotong jalan Asia Afrika, aku terperangah. Kulihat sekuntum bunga tegak menjulang di atas permukaan air. Kelopak-kelopaknya besar dan tebal. Warnanya seperti lembayung. Ia dikelilingi oleh daun-daun air yang hijau segar. Dalam gelap, putiknya berpendar seperti mata anak-anak. Orang memuji dan mengamatinya. Ia adalah bunga Seroja.  Dan aku jatuh cinta padanya.

Setiap malam aku menemuinya untuk membantu menyebarkan benih dari putiknya yang mungil. Setiap malam aku melindunginya dari tangan-tangan jahil. Tapi seiring waktu, sampah mulai menggunduk. Air sungai menjadi cokelat pekat. Ia pun layu dan akhirnya mati. Aku hanyalah angin lalu. Aku mungkin tak berbentuk tapi hatiku bisa remuk redam. 


-----

Aku mengitari kota ini sekejap mata, memelesat bagaikan peluru.
Kemudian malam menjadi muram.

Aku berdialog dengan bulan. Katanya,  ia juga merekam.
Ia berduka. Tak ada lagi anak-anak yang bermain riang gembira di bawah cahayanya. Tak ada lagi suara tetembangan yang mengiringinya. Yang ada hanyalah suara klakson, suara mesin dan alat berat  yang menyaru dengan cekikikan di kafe. Yang ada hanyalah ricuh dan hingar bingar pembangunan dan pemerintahan.

Dulu, aku sering keluar siang hari dan memperhatikan anak-anak yang bermain bola di lapangan Gajahlumantung. Ku embuskan diriku saat mereka basah oleh peluh supaya segar. Ku goyangkan dedaunan pohon Karet, supaya mereka merasa teduh saat istirahat. Dan kubisikan sepoi-sepoi rerumputan agar mereka bisa merasa tentram dan damai. Tidak hanya itu, aku juga pernah menjadi kegemaraan anak-anak saat bermain layangan. Aku bercengkrama dengan anak-anak yang bermain layangan di Pasirkaliki. Ku bawa layangan mereka menjulang tinggi menyentuh langit biru. Ku dengar tawa mereka yang renyah. 

Kini tak ada lagi lapangan tempat bermain bola. Tak ada lagi pepohonan tempat berteduh. Tak ada lagi langit kosong. Yang ada hanyalah barisan mal, toko, dan kabel listrik yang melintang di langit.  

Kini tak kutemukan lagi air, batuan, dan ikan-ikan yang dulu. Yang ada hanyalah sampah, sampah, dan sampah. Kini tak ada lagi Seroja di sungai. Tergantikan oleh sampah, sampah, dan sampah.

Lama-lama, aku merasa gelisah. Ada dendam yang berkecamuk. Aku benar-benar ingin mengamuk. Tapi aku malah terdiam dan tertunduk bisu di tempat aku dan Seroja bersua. Aku menangis.

Tiba-tiba aku mendengar rintihan orang menangis di sana. Aku mendekat. Kulihat mereka duduk bersimpuh di trotoar. Ku lihat mereka tua dan matanya selalu kuyu. Mereka lelah. Menunggu sesuatu untuk berubah. Trotoar itu menjadi rumah bagi mereka yang kehilangan rumah.  Mereka yang lelah dan kehilangan arah. Mereka yang tidak bisa marah. Aku ingat Seroja.


Aku adalah angin Katabatik.
Kini, aku bersemayam di Jalan Asia Afrika.  



Bandung, Juli 2010.

*dipublikasikan dalam Antologi Puisi Negeri Sembilan Matahari*