Sunday, 8 September 2013

Surat


                                                                                                   Amsterdam, 7 September 2013

Kepada kebetulan
di mana pun kamu berada

Halo kebetulan, apa kabar?

Akhir-akhir ini kamu ramai dipikirkan banyak orang. Entah karena memang kamu hadir sebagai sosok kebetulan atau mereka hanya menangkap potretmu saja dan mengklaim telah bertemu denganmu. Yang jelas kamu sedang naik daun. Tapi aku masih ragu. Menurutmu apa kita pernah bertemu?

Waktu aku masih duduk di bangku sekolah dasar, aku pernah bertanya kepada guru kelasku, "Kenapa setiap kali aku memakai sepatu kiri terlebih dahulu, hujan selalu datang?". Mendengar pertanyaan yang bodoh dan konyol tersebut, tentu saja guruku dongkol dan terdiam beberapa detik. Tapi tidak seperti anak-anak sekolah dasar beruntung lainnya yang pertanyaannya masih dijawab dengan mitos dan fantasi, aku mendapatkan jawaban seperti ini, "Ya karena kebetulan aja." Padahal jawaban yang aku harapkan adalah semacam "Sepatu kamu itu sepatu ajaib yang yang bisa mendatangkan hujan" atau "Kamu itu anggota X-Men, Ibu kamu si Storm!". Jawaban fantastis dan fantasi seperti itu memang bukan jatahku karena guru tersebut di akhir kalimat berkata bahwa aku harus mendahulukan kaki kanan ketika bersepatu. Biar sopan.

"Terus yang kidal gimana bu?" tanyaku. Aku tak ingat jawaban apa yang aku dapatkan. Atau memang beliau tidak menjawab. "Jadi hujan gak akan datang kalau aku pake sepatu yang kiri dulu?" tanyaku lagi. Tentu saja guru yang sabar dan baik hati itu menjawab dengan sabar, "Tidak." Kemudian ia melepas sepatuku dan memasangkannya kembali. Kaki kiri terlebih dahulu. Saat itu hujan tidak datang walau aku terjaga semalaman. Sejak saat itu hujan tidak datang karena kaki kiriku lagi.


Bukankah (masa kecil) itu lucu?

Kamu tahu bahwa jawaban sesingkat itu tidak pernah memuaskanku. Jawaban semacam itu malah meninggalkan jejak kuriositas yang aku coba susuri. Aku coba mengikuti intuisiku hingga aku tahu bahwa memang ada yang kamu tinggalkan untukku. Sejak saat itu aku sering mendengar banyak orang menggunakan kata kebetulan untuk menjelaskan hal-hal semcam itu. Aku yang saat itu masih kecil tidak bisa mendefinisikan kebetulan, tapi aku tahu penggunaan kata itu.

--
"Eh, dompet aku ketinggalan di kelas. Untung tadi ada si Irma di kelas. Kebetulan dia lagi piket sama yang lainnya." -- Kebetulan.

"Gw tadi bangun siang. Untung dosennya gak masuk. Kebetulan banget." -- Kebetulan.

"Eh temen aku gak jadi datang. Kebetulan tiketnya udah aku beli. Kamu mau gak?" -- Kebetulan.

"Tadi damrinya mogok, eh kebetulan si Andri lewat pake mobilnya. Aku kan jadi bisa nebeng."


Dan kebetulan-kebetulan lainnya. Apa memang itu kau, kebetulan?


Tanpa sadar aku mengucap kata kebetulan dan mengulangnya berkali-kali seakan kebetulan adalah sebuah fenomena yang terjadi secara empiris. Kamu tahu bahwa fenomena menurut Kant adalah citra atau bayangan atau refleksi dari noumena. Noumena sendiri adalah sesuatu yang ada di dalam dirinya sendiri, sesuatu yang menjadi sesuatu. Noumena ini tidak akan pernah kita ketahui. Kant menyebut noumena memiliki hubungan kausalitas dengan fenomena. Tapi aku selalu bilang bahwa Schopenhauer berpikir lebih jauh lagi. Ia menambahkan bahwa noumena tidak menyebakan fenomena, tapi will (kehendak) yang mengejawantahkan dirinya sendiri menjadi fenomena. Sehingga walau fenomena inilah yang ditangkap secara empiris oleh ilmu pengetahuan karena memiliki dimensi ruang, waktu, jarak, ataupun benda, mereka tetap bagian dari fenomena. Dengan kata lain banyak orang memahami kebetulan seperti memahami benda. Padahal kebetulan sendiri merupakan kondisi abstrak yang tidak bisa ditangkap secara empiris. Yang kita tangkap adalah fenomena itu sendiri.


Einstein pernah berkata, "Coincidence is God's way of remaining anonymous." Aku tidak tahu kalau kamu kenal Einstein tapi aku yakin kamu pernah bertemu dengannya. Apa kamu memang sebuah cara agar aku dan dia - kami - tetap percaya. Di benakku, kau hadir dalam bentuk yang lain, sebuah seri kejadian yang entah kenapa aku harapkan untuk tidak aku harapkan. Jika kehidupan ini memiliki bentuk ketidaksadaran, aku ingin sekali larut di dalamnya.

Tapi aku tidak bisa larut di dalamnya dan tidak sadar.

Kesadaran diawali oleh keraguan, ucapnya. Kamu ingat bahwa menginjak umur lima belas tahun, aku mulai menjadi peragu. Tidak bisa dikatakan skeptis apalagi apatis tapi memang aku sering meragu. Namun berulang kali aku dikelilingi oleh orang-orang yang percaya. Mereka religius tapi nampaknya belum paham apa itu spritiualis. Aku merasa sendiri. Aku terpaksa menelan pertanyaan-pertanyaan yang tidak cocok untuk mereka dengar seperti apakah ada entitas yang lebih besar dari alam semesta itu sendiri. Aku akan dialienasi jika membawa topik semacam itu kepada mereka. Lantas aku diam-diam berkenalan dengan karya-karya Achdiat Mihardja, Nietzsche, Copernicus, dan Voltaire. Meskipun tampak matematis, logis, dan juga empiris, dari mereka aku tahu bahwa, hidup tidaklah selalu linier. Kita masih bisa puitis. Bukankah dia percaya bahwa intuisi adalah salah satu sumber pengetahuan kita? Yang menuntun kita sampai saat ini. Percaya atau tidak percaya, tahu atau tidak tahu memang perlu dikunci rapat-rapat dalam benteng rahasia kita yang paling tersembunyi. Dan jika saatnya dia percaya padaku, dia boleh membaginya sedikit denganku. Agar aku tahu apa yang ada di benaknya saat itu. Karena apapun yang  dia negasikan, aku percaya dan tahu bahwa dia menaruh hati padaku.

Oh ya, apakah saat itu kau hadir?

Jika kehidupanku adalah rangkaian kebetulan-kebetulan yang membentuk dan menuju pada sebuah gambar yang lebih besar untuk aku maknai, bukankah itu bukan kau? Setiap kejadian baik dan buruk, gembira dan sedih, harapan dan putus asa, apakah terjadi begitu saja dalam hidup bagai lembaran buku yang sudah penuh lantas dilalui begitu saja? Karena kau tahu, kau yang menuntunku untuk bertemu dengannya. Melalui banyak ribuan momen keraguan lainnya untuk bisa disingkap sebagai suatu kalimat utuh yang akan selalu aku  yakini.


Aku tidak tahu jika ternyata kau hadir dalam ranah lainnya. Betul, banyak orang ingin mengertimu. Tidak seperti dalam ingatanku yang kabur. Aku tidak ingin mengertimu karena kau begitu kompleks. Aku, seperti lainnya, pasti memiliki blindspot yang tidak ingin orang ketahui. Tapi mereka tahu bahwa kau berteman dekat dengan peluang. Dan menggunakan blindspot ini untuk menyusuri jejakmu. Jika kau adalah sebuah eksekusi lemah dari pengetahuan tanpa adanya argumentasi ilmiah maka fenomenologi dan kosmologi memperkuatmu untuk menuntun kita kepada scientific discovery. Orang-orang mengatakan kita harus mengambil peluang. Tapi aku tidak mau mengambilnya. Lantas apakah kau yang berdekatan dengan peluang ini mampu melihat kausalitas? Jika tidak, maka aku tidak ingin lagi bertemu denganmu. Rantai sebab-akibat yang terus berulang membuatku merasa seperti dalam film Butterfly Effect, mencoba membuat akibat yang tepat tanpa bisa mengatur ulang penyebabnya. Tapi apalah daya, ini adalah realita di mana aku hanya bisa satu kali mengatur sebab dan menerima akibatnya.

Menurutmu apakah mau ia kuajak ikut kuliah fenomenologi dan kosmologi?  Menurutku juga tidak. Tapi tak ada salahnya untuk mengajak, bukan?


Dan lagi jangan tanya kenapa ia tidak tertarik padamu. Aku sampai memperbesar jarak dengannya karena ia tidak tertarik kepadamu. Akibatnya, kami sering tampak asing. Membisu dalam gigil-gigil dingin dan membiarkan mimpi kami yang berbicara melalui genggaman tangan. Karena sebab dan akibat hanyalah sebuah hubungan belaka dalam dunianya, bukan sesuatu yang penting. Baginya yang penting adalah aku. Bagiku yang penting adalah dia. Namun di sisi lain, aku merasa lebih dekat dengannya dengan memperlebar jarak. Aku tidak mengerti paradoks semacam ini. Selalu saja ada sesuatu yang sulit untuk aku jelaskan menjelma menjadi sebuah pertanyaan yang tidak perlu aku temukan jawabannya. Karena beberapa pertanyaan memang sudah cukup menjadi misteri toh. Sama seperti pertanyaan ku padanya, why do you love ME? yang jawabannya selalu menjadi misteri. Tapi aku merasa berbahagia dengan perasaannya padaku tanpa harus mengilhami alasannya. Tanpa harus mengerti alasannya.

Yang aku mengerti kau dan dirinya memiliki sesuatu yang aku kagumi sejak dulu: kalian adalah petualang. Benarkan?

Berpetualang adalah kegemaran kalian dan semoga kalian tahu jalan pulang. Dan semoga kalian tidak telat pulang. Karena aku tidak ingin telat mengajak kalian melihat Halley melintasi langit gelap kita. Iya, suatu saat nanti. Dan kau paham bahwa ia tidak lewat begitu saja sebanyak tiga kali hanya untuk diabaikan. Dengan kalkulasi astronomi dan Newton's Mathematicia Principa, Halley bisa diprediksi. Aku tidak tahu apa kalian suka melihat bintang dan benda langit pada malam hari tapi aku bisa menjamin kegiatan itu akan seru. Ku kira itulah maknanya kita bersama. Bisa memanfaatkan waktu yang ada sekaligus menerka-nerka makna yang tersembunyi di balik layar dunia. Walau makna yang kita dapatkan berbeda, kebersamaan kita sudahlah lebih dari cukup.

Ternyata banyak juga apa yang aku tulis ya. Tapi lebih banyak lagi apa yang belum aku tulis. Aku akan menyempatkan diri untuk menulis beberapa cerita lagi untukmu. Semoga, cerita ini bisa membuatmu senang. Aku dengan senang hati akan menunggu balasanmu. Sampaikan salam hangatku untuknya.


Sincerely yours,






PS: Oh ya, aku menulis surat ini saat di luar (kebetulan) sedang hujan :)