Wednesday, 25 December 2013

Serangan Panik!!

Suatu malam. Sepi. Hanya suara angin menggebu-gebu mengetuk jendela.

Saya terbangun. Bukan karena suara angin yang menganggu. Tapi dada yang berdebar kencang, napas yang terengah-engah. Saya merasakan kedua keanehan itu. Baru kali ini saya terbangun di tengah malam karena dada berdebar kencang dan napas terengah-engah.

----

Menjelang ujian, yang saya lakukan hanya tidur, makan, nonton, dan internetan. Saya tahu ujian yang saya hadapi adalah mata kuliah yang saya gak suka dan juga sulit. Saya sudah stres duluan. Jadi saya coba banyak refreshing/relaxing. Saking khusyuknya refreshing, saya sampai lupa untuk belajar. Ujungnya, saya hanya belajar dan membaca materi kuliah dengan alokasi 1/10000 dari waktu yang ada untuk belajar. Sisanya, leha-leha. Ya, saya keburu stres.

Dan stres ini menyelinap masuk ke dalam alam bawah sadar saya.





Solitude #20



-- Kasmaran --

Ada kupu-kupu mencumbu bunga Dahlia di taman,
Burung-burung Gelatik berkicau riang penuh harapan,
Orang-orang berpiknik menuai kesenangan,
Hari ini kesedihan pudar diisi kebahagiaan,
Dunia sedang kasmaran.

Sepasang tangan ingin bergandengan,
jarak dan waktu yang berdekatan,
hanya takdir tak mengizinkan..


Memorabilia



--Leeuwarden, 25 Desember 2013--

Solitude #19

Kincir Ria


Mari, aku ajak kau ke pasar malam. Banyak kerlap-kerlip lampu, warna-warni memusingkan. Banyak muda-mudi, tua muda, cekikikan menyebalkan. Banyak makanan dan minuman yang tumpah ke jalanan, menyedihkan. Banyak wahana ini itu, mencengangkan. Aku gandeng tanganmu erat dan tak peduli.

Mari, aku ajak kau ke pasar malam, tempat yang kau suka dengan sederhana. Ada wahana yang ingin kita coba.

Amsterdam, 22 Oktober 2013


Namanya Kincir Ria.

Saturday, 14 December 2013

Blablabla

this building is really nearby but i never get a chance to figure it out


Yesterday i went to grocery to buy stuffs. I didn't expect anything extraordinary during that short journey from my residence. It only took me 15 minutes to wrap what i needed in the grocery and went to the cashier. Because it was really freezing out there and no place had i thought more comfortable and warmer than my room. So i rushed back from grocery after i got what i needed.  While i was walking home, i passed a couple looking at the big church gothic building  at the left side of sidewalk. I didn't know why but my intention to came home fast became weakened as i eavesdropped, accidentally, their conversation.

A: That building is really beautiful.
B: Ya, but you're more beautiful.
A: Ah, thank you for bullshitting me. Let's go there anyway, i wanna explore what's in there with you.

They kissed and then walked on the pavement to the church.

So, apparently i had talent to spy on people. But more importantly, i took a picture where they were standing. The building was, indeed, beautiful. And their conversation was really warm somehow. For five minutes, i tried picturing myself and someone i love just looking around near the building. 

Then I chuckled. 
No thanks.



But then at home, i remembered a picture that i took when i was riding a bike:

Holding hands when riding a bike? really?


You see, those people always find a way to astound me.

Maraton Film Jepang: Mengenang Masa Lalu


Apa yang biasanya kamu lakukan di waktu luang?

Buat saya waktu luang itu penting. Ia adalah saat saya bisa kabur dari rutinitas dan melakukan yang saya senangi. Biasanya saya habiskan dengan jogging, berenang, baca buku, atau sekadar jalan-jalan. Di sini saya tak bisa menghabiskan waktu luang seleluasa seperti di Bandung. Di Bandung, saya bisa berenang di Sabuga minimal satu kali dalam seminggu sementara di sini, apalagi saat musim dingin, sulit. Serupa dengan jogging. Beberapa kali saya jogging di sini tapi mendekati musim dingin suhunya semakin jatuh dan anginnya bertambah kuat. Saya menyerah mengikuti budaya orang Belanda yang suka lari saat (menjelang) malam hari. Satu-satunya yang menyenangkan di sini adalah perpustakaan kota yang hanya lima menit jalan kaki dari tempat tinggal saya. Tapi walaupun saya ke sana, saya jarang membaca buku kuliah. Saya langsung pergi ke rak barisan filsafat atau sastra. Yang lebih jarang lagi adalah menonton film. Biasanya saya bisa pergi menonton film tiga kali dalam seminggu untuk pergi ke bioskop. Tapi di sini tiket bioskop agak mahal  €9 - €12 yang bikin saya harus puas lihat poster film-film terbaru di studio. Padahal saya seorang moviegoer. Menonton menurut saya sama seperti membaca buku atau mendengarkan lagu. Saya bisa menyelami pemikiran, ide, pengalaman, atau pesan yang tertuang di film tersebut. Baru-baru ini saya menonton beberapa film, bukan di bioskop tapi di kamar. Film-film yang saya tonton berasal dari Jepang. 


-------- 1. Ghost in the Shell (1996) 

Film pertama berjudul Ghost in The Shell (1996). Film ini menceritakan tahun 2029 yang digambarkan sebagai dunia yang serba cyber dan robotik dengan saling keterhubungan/keterikatan dalam jaringan yang memuat hampir semua informasi. Major Motoko, seorang polisi cyborg (manusia buatan), harus menginvestigasi kejadian-kejadian yang membuat panik pemerintah karena berhubungan dengan Puppet Master, yang dituduh sebagai biang keladi. Yang menarik dari film ini adalah perkembangan jiwa seorang robot. Setiap robot diceritakan memiliki dua bagian: the shell dan the ghost. Selama ini the shell atau cangkang adalah tubuh buatan yang mengikuti morfologi manusia yang diciptakan melalui bahan-bahan sintetis, tapi bagaimana the ghost atau jiwa yang dimiliki manusia? apakah bisa ditiru juga? Jawabannya adalah ya! Selamat datang di 2029 saat jiwa bisa dibuat dengan Artificial Intelligent atau Kecerdasan Buatan. 

Movie Poster
Film ini juga menengahkan persoalan dualisme yang diusung Descartes. Realitas menurut Descartes terdiri dari tiga bagian yaitu benda material terbatas (seperti meja, handphone, tas, komputer, televisi, tubuh manusia), benda mental-nonmaterial terbatas (ide, pikiran, jiwa), dan benda mental tak terbatas (tuhan). Pemisahan jiwa dan raga yang disebut dualisme ini menjadi bingkai dalam pengkarakteran film ini. Tapi dalam film ini juga saya menemukan beberapa kritik tentangnya, salah satunya interaksi antara jiwa dan raga. Konflik di film ini sangat terasa, yaitu tentang eksistensi kesadaran sendiri (self-consciousness) dan juga living form yang hadir dari arus informasi atau data. Bagaimana bisa benda material terbatas apalagi buatan manusia, cyber pula, bisa memiliki kesadaran dan bentuk kehidupan tersendiri? Saya jadi ingat buku The Selfish Gene (1976) karya Richard Dawkins yang menceritakan meme satuan unit kultur yang serupa dengan gen. Jika gen yang biologis bisa diturunkan, maka meme yang kultural (ide, pikiran) juga bisa beregenerasi dari satu pikiran ke pikiran lainnya. Film yang didukung oleh sinematografi dari Hisao Shirai ini membuat 82 menit perjalanan di tahun 2029 menjadi sangat cepat.  Film ini saya beri lima bintang di rottentomatoes.


Adegan favorit: Makoto menyelam di sela waktu luangnya

-------- 2. 5 Centimeters per Second (2005) 
Berarlih dari film yang metafisis, saya menonton film yang agak melankolis, 5 Centimeters Per Second (2005) atau dalam bahasa Jepangnya Byôsoku 5 Senchimêtoru. Film ini sudah ada di harddisk saya sejak tahun 2011. Sayangnya saya (sok) sibuk dan melupakan film ini. Sampai saya bersih-bersih harddisk dan menemukan film ini. Saya tonton dan merasa menyesal setelah menontonnya. Kenapa tidak dari dulu saya tonton film ini.


Official Movie Poster
Film ini menceritakan Tono Takaki dan Shinohara Akari sebagai dua sahabat sejak kecil yang mesti dipisahkan karena Akari harus pindah ke kota yang agak jauh. Saat jauh dari masing-masing, keduanya menemukan fakta bahwa mereka saling menyukai dan menyayangi. Namun saat email dan telepon genggam adalah hal yang belum umum (dan telepon antarkota masih mahal tampaknya), apakah saling surat menyurat masih bisa menjaga hubungan mereka?

Plot dan penokohan yang sama-sama kuat diilustrasikan melalui animasi yang super duper indah. Serius, film benar-benar indah. Setiap gambarnya pantas untuk dijadikan lukisan atau wallpaper di komputer. Apalagi jika menonton dengan format blueray/HD, setiap detik akan memunculkan perasaan takjub. Selain itu scoring yang memukau telinga juga menjadi kelebihan film ini. Kita tidak akan dijejali cerita yang membingungkan karena dalam film ini dibagi menjadi tiga babak: Cherry Blossom, Cosmonaut, dan babak yang tak berjudul (saya anggap ini epilog).

Adegan favorit: how far should we go?
Bunga sakura yang berguguran



Menonton film ini, siapapun akan dibawa kembali mengingat masa kecilnya. Kebanyakan orang mengalami cinta monyet saat kecil. Saat kita menemukan sosok pertama yang kita sukai dan sayangi namun harus terpisah karena memang tidak ada kesempatan. Jarak bisa memindahkan sekolah, kota, namun apakah jarak bisa memindahkan hati? Geniusnya (atau kampretnya) Makoto Shinkai mengabungkan unsur Jarak dengan Waktu. Sebenarnya film ini biasa saja karena mengangkat kehidupan sehari-hari yang biasa. Namun justru kehidupan biasa yang diangkat itu membuat orang-orang berpikir 'ceritanya gw banget'. Saya tidak termasuk. Serius. Bener. Kita dibawa melihat perkembangan perasaan Akari dan Takaki dari kecil hingga dewasa dalam 63 menit saja. Film ini tidak menjungkirbalikan emosi kita namun meracuni emosi kita pada saat waktu tertentu kita merasa sesak. Jarak dan waktu yang dimainkan Makoto Shinkai menjadi kombinasi yang mematikan bagi pasangan yang sedang menjalani hubungan jarak jauh aka LDR. Judul 5 Centimeters per Second ini merupakan representasi hubungan manusia yang diambil dari kecepatan kelopak bunga sakura saat gugur/jatuh. Dalam satu bunga terdiri dari beberapa kelopak. Saat belum mekar, kelopak tersebut selalu berdekatan sampai akhirnya gugur dan akhirnya berpisah. Inilah yang menjadi analogi hubungan Takaki dan Akira.

Tidak seperti 500 Days of Summer yang menekankan cerita ketidakpastian dalam hubungan yang baru seumur jagung, film ini menyuguhkan hubungan yang dalam karena terjalin sejak kecil. Film ini menyuguhkan pesan tersendiri bagi saya.


-------- 3. Only Yesterday (1991)
Film selanjutnya adalah film klasik Jepang yang berjudul Omohide Poro Poro atau Only Yesterday dalam bahasa Inggrisnya. Film bergenre drama ini menceritakan seorang wanita bernama Takeo yang bekerja di Tokyo dan belum menikah meski sudah saatnya dia menikah karena sudah berusia 27 tahun. Saat musim panas, ia memutuskan keluar dari tempatnya bekerja untuk membantu para petani memetik safflower sekaligus berlibur di sebuah desa di Yamagata.
Official Movie Poster

Film ini sangatlah sederhana. Baik dari segi animasi maupun plot. Hanya saja yang memukau dari film ini adalah penokohannya. Penokohan Taeko sangat kuat di film ini. Konflik yang terjadi pun hanya berkisar pada diri Taeko dan masa lalunya. Namun saking kuatnya penokohan dan konflik internal, saya diseret melihat masa lalu Taeko dan bagaimana masa lalunya mempengaruhi cara pandangnya mengenai kekinian. Kadang kala sebagai orang dewasa kita masih dihantui oleh masa kecil kita. Inilah yang dialami Taeko. Kemanapun ia pergi, masa kecilnya selalu membuntutinya dekat. Sampai suatu hari ia belajar untuk melepaskan semua masa lalu dan bebannya. Taeko berkutat dengan prinsip-prinsip sewaktu kecil. Selain itu juga ia dihadapkan pada suatu pilihan untuk tinggal di kota atau di desa.

Scene favorit 
Meskipun animasinya sederhana dan gambarnya juga ceria, menurut saya film ini cocoknya untuk dewasa. Cerita yang mendalam pada masa lalu Taeko membuat film ini bukan berkisar pada hal kanak-kanak namun pada proses maturasi dirinya. Anak-anak yang menonton film ini aka mengalami kesulitan untuk memahami menjadi dewasa, sebaliknya orang dewasa akan sangat mudah memahaminya karena memiliki masa kecil. Dalam film ini juga dilukiskan budaya Jepang dalam berkeluarga. Seorang ayah atau kepala rumah tangga memiliki kekuasaan yang absoluti. Hal ini tergambar pada saat Taeko mendapat tawaran akting namun tidak mendapatkan izin dari ayahnya karena ayahnya menganggap akting bukanlah sesuatu hal yang menjanjikan.

Taeko Menyanyi

Taeko menyanyi lagi
Keluarga Taeko cukup mencerminkan gambaran umum keluarga di Jepang yang memiliki sistem hirarki yang sangat ketat. Dalam keluarga, seorang anak juga memiliki tanggung jawab tersendiri walau dalam masa pertumbuhan. Seperti adegan Taeko yang ingin mencicip buah nanas dan membuat sekeluarga penasaran. Namun ketika mereka mencobanya, ternyata nanas tidaklah seenak yang ada dalam ekspektasi mereka. Untuk mempertahankan ekspektasi tersebut, Taeko berusaha memakan nanas tersebut walaupun tidak enak. Dari adegan-adegan sederhana inilah saya berpendapat bahwa tidak semua keluarga harus hangat dalam menunjukan kasih sayangnya.

Selain itu gambar pedesaan di Jepang sangat membuat saya ingin pergi ke Jepang khususnya Yamagata. Kadang saya suka pusing dan penat tinggal di kota yang banyak sekali gedung pencakar langitnya. Saya lebih suka berkunjung ke hutan asli dibandingkan hutan beton.

Yamagata
Hal lain yang saya suka adalah lagu dan scoring dalam film ini. Di akhir film ini saya menemukan satu buah lagu yang sangat dalam sekali liriknya. Membuat saya berpikir ternyata orang Jepang memang pandai membuat lirik yang puitis. Judul lagunya adalah Ai Wa Hana, Kimi Wa Sono Shushi (Love is A Flower, You're the Seed).


Some say love, it's a river
that drowns the tender reed
Some say love, it's a razor
that leaves the soul to bleed
Some say love, it's a hunger,
and endless, aching need
I say love, it's a flower
and you, its only seed

 Lagu tersebut sukses bikin saya gak tidur semalaman.


Itu tiga film animasi Jepang yang saya tonton semalaman. Ternyata selain kompleks, orang Jepang juga bisa menjadi sangat puitis. Dan kisah yang mereka tulis tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Hal yang sederhana bisa dimaknai dengan dalam oleh orang Jepang. Ini yang membuat saya jatuh cinta pada budaya pop Jepang. Saya jadi teringat pada salah satu sastrawan Jepang yang bernama Ryunosuke Akutagawa yang menjadi sastrawan Jepang pertama yang novel dan cerpennya saya baca. Semenjak dari situ saya menyimpan perhatian khusus pada sastra dan budaya Jepang.

Monday, 9 December 2013

Jilbab Hitam, SS, dan Akhir Minggu



Sabtu kemarin salju sudah mulai turun tapi tidak seberapa banyak. Angin juga sedang ribut, entah berkeluh kesah apa tentang hidup. Tempat yang paling nyaman: kamar. Spesifiknya kasur. Saya bergumul dengan kasur seharian di bawah selimut yang hangat. Malas berbuat apapun. Tapi badan ini menuntut untuk bergerak. Saya penuhi tuntutannya dengan menulis-nulis ringan. Saya pikirkan apa yang saya lakukan di minggu ini. Tidak ada yang menarik. Apa yang saya lakukan untuk akhir pekan. Tidak ada yang menarik. Apa yang saya pikirkan. Tidak ada yang menarik. Tunggu. Sebenarnya ada yang menarik dan mengganggu pikiran saya kala lengang. 


----
Bulan lalu jurnalistik dunia maya di Indonesia digegerkan oleh fenomena Jilbab Hitam. Jika tidak membuka linimasa twitter, saya pasti tidak akan bisa menduga siapa Jilbab Hitam dan apa yang dilakukannya. Jilbab Hitam adalah akun anonimus yang membuat sebuah tulisan di sebuah situs blog untuk publik yang berisi tuduhan pemerasan Bank Mandiri oleh Tempo dan Katadata. Yang jadi persoalan adalah ketika postingan tersebut menghidangkan informasi yang dianggap tidak benar dan cenderung ofensif. Hal ini terbukti dengan, beberapa jam kemudian, tulisan tersebut hilang dari kanal informasi tersebut. Hal ini berarti dua hal; 1) ada usaha untuk membungkam sebuah kanal informasi; 2) tulisan tersebut dianggap melanggar kebebasan/hak orang lain. Saya juga sempat bingung apakah tulisan tersebut masuk dalam kategori Hate Speech atau Freedom of Speech. Hate Speech karena tulisannya tidak bisa diverifikasi dengan akun anonimusnya. Jika terbukti tidak benar, tulisan ini bisa menyinggung semua orang yang berafiliasi dengan Tempo. Dengan begitu banyak orang yang mengemukakan tulisan Jilbab Hitam yang dianggap didasari asumsi tanpa bukti hanya menjadi fitnah. Tapi hal tersebut juga bisa dikatakan freedom of speech dengan akun anonimus jika hal tersebut bisa menjadi cara untuk mengartikulasikan opininya saat keselamatan narasumber terancam. Maka dari itu, sama seperti akun wikileaks, akun Jilbab Hitam ini menjadi perdebatan apakah ia informasi yang dapat dipercaya ataupun tidak. Terlepas dari itu setiap informasi yang kita dapat memang harus dibuktikan apalagi jika informasi tersebut muncul ke permukaan dengan grasak grusuk. Seperti kata Montaigne, "He who establishes his argument by noise and command, shows that his reason is weak."

Terlepas dari riuh rendahnya opini orang di Twitter, saya kembali flashback ke zaman saya kuliah. Majalah Tempo adalah salah satu majalah yang harus dibaca oleh mahasiswa. Terutama mahasiswa ilmu politik dan sosial. Jangan heran tiap kali majalah itu tiba di etalase tempat fotokopian fakultas, tidak butuh waktu lama mahasiswa silih berdatangan membelinya. Dan tidak jarang pula, badan pers dan jurnalistik di berbagai kampus mengadaptasi struktur organisasi dan metode penulisan Tempo.

----
Beberapa minggu setelah isu Jilbab Hitam reda karena terbongkarnya siapa di balik akun tersebut dan juga klarifikasi dari pihak yang dituduh (Bank Mandiri, Tempo, Katadata), twitter sudah mulai ramai lagi. Saat saya membuka Twitter ternyata ada kasus yang menjerat Sitok Srengenge (SS), salah seorang budayawan dan penyair Indonesia. Setelah saya telusuri dari berbagai media, saya mendapatkan sebuah kronologi kasar yang menyimpulkan bahwa ia terlibat kasus 'perbuatan tidak menyenangkan' yaitu menghamili seorang mahasiswi. Lagi-lagi kasus ini menuai banyak asumsi. Yang membela SS tidaklah sedikit. Yang membela korbannya juga tidak sedikit. Percekcokan tentang hal yang jauh dari esensi juga terjadi di twitter seperti mengapa korban baru melapor setelah tujuh bulan hamil atau usia korban kan sudah cakap hukum, apa kalau tidak hamil akan tetap melapor, kenapa harus merasa dirugikan, sampai jawaban lucu terhadap pertanyaan kenapa memakai argumen budaya patriarki untuk melihat bahwa laki-laki bisa mengintimidasi wanita. Saya sendiri yang awam dan jauh dari pusaran informasi akan perkembangan kasus tersebut memilin asumsi-asumsi dari informasi yang didapatkan. Respon tersebut sebagian ada yang menguatkan korban dan sebagian justru mencela, yang membuat saya tertawa miris, sedih.

Mungkin tujuh bulan adalah lamanya ia untuk mengumpulkan keberanian memberitahu dunia akan hal yang terjadi padanya, mungkin perlu tujuh bulan baginya untuk mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang untuk menuntut keadilan. Dan tidak perlu di bawah umur untuk melaporkan tindakan-tindakan asusila atau tidak menyenangkan apalagi sampai menghamili. Terlepas dari kemungkinan itu, faktanya adalah ada seorang mahasiswa yang hamil tujuh bulan yang pasti dibanjiri air mata dan diliputi kebingungan. Ada seseorang yang butuh dikuatkan. 

Saya berusaha adil dalam pikiran. 

SS adalah penyair yang karyanya saya sukai. Setidaknya saya harus menemukan sudut pandang dia. Dari yang saya baca, ia melontarkan kalimat suka sama suka sebagai bagian dari pembelaannya. Dan pembelaannya yang lain adalah usahanya untuk menemui korban dibatasi atau setidaknya tidak dimediasi. Ia juga menuduh bahwa usahanya untuk bertemu dengan korban seolah dihalangi oleh mediatornya padahal dari jauh hari dia siap bertanggung jawab. Dalam melihat kasus seperti ini, saya ingin bersikap netral. Mungkin ada hal yang tidak saya ketahui, namun diketahui kedua pihak tersebut (atau kepolisian). Jadi buat apa saya membela salah satu pihak? Saya juga toh tidak mengenal keduanya. 

Tapi di sini saya harus mengambil sikap. Mengapa? Pertama, saya tumbuh bersama sastra. Sejak kecil sastra sudah menjadi sebuah dunia tempat saya mengasingkan diri. Saya menemukan kebebasan sekaligus pemberontakan dalam puisi. Termasuk puisi-puisi SS yang pernah saya bacakan di depan kelas sewaktu SMP dulu. Buku-bukunya juga saya miliki di rumah. Saya merasa dekat dengan sastra, salah satunya ya karena karya SS. Namun begitu, ada hal yang lebih besar dari sekadar tumpukan buku tersebut. Ada seseorang wanita yang telah 'dicederai'. Saya tak habis pikir bagaimana jika wanita tersebut adalah orang yang saya kenal. Saya berdoa semoga korban mendapatkan keadilan yang dicarinya. Lucunya, ada media yang secara khusus menggunakan eufimisme yang menurut saya berlebihan dalam membingkai berita-berita tentang SS. Beritanya menjadi lunak dan 'enak' dibaca. Well, saya tidak akan membahas itu lebih dalam.

---------

Hari Minggu yang tenang.

Setelah beres kuliah penuh satu minggu dan juga ujian, saya berhak untuk bermalas-malasan.

Sambil berleha-leha, saya berpikir bahwa tentu saja banyak yang berubah seiring berjalannya waktu. Persepsi kita terhadap sesuatu berubah. Mentalitas kita juga berubah. Dulu, saya ingin sekali terjun di dunia jurnalistik sebagai wartawan. Menonton peran wartawan di film The Hunting Party (2007), Balibo (2009), Good Luck, and Good Night (2005) dan The Killing Fields (1984) memicu keinginan saya untuk menjadi wartawan. Namun mendengar beberapa teman yang mengeluh bahwa beberapa berita-berita yang didapat harus sesuai dengan framing tempat dia bekerja membuat saya berpikir ulang. Hal tersebut memang wajar, apalagi wartawan juga memiliki perspektif tersendiri dalam menangkap realitas yang ada (subjective realism). Dulu, saya beranggapan bahwa sastrawan memiliki idealismenya sendiri.  Entah ia memotret kehidupan pada zamannya melalui prosa ataupun lari dari zamannya melalui proses, menjadi penyair dan menulis adalah bagian dari diri saya yang tak mungkin dihilangkan. Agak naif jika kejadian akhir-akhir ini menjadi generalisasi tentang apa yang ingin saya menjadi. Namun contoh adalah contoh. Masyarakat merekam itu semua.

Jadi apa saya tetap ingin menjadi seorang jurnalis atau sastrawan? Saya sendiri belum tahu. Setidaknya saya masih punya waktu berpikir hingga saya selesai kuliah. Terlepas keprofesian, saya masih menyukai kedua dunia tersebut.

Tuesday, 3 December 2013

Tersesat di Paris (1)

Berada di Eropa adalah sebuah mimpi untuk anak kampung seperti saya. Mimpi yang dirajut oleh konstruksi tentang negeri-negeri yang sama sekali berbeda itu hanya terangkum melalui film-film seperti Paris Je t'aime, Run Lola Run, The Baader Meinhof Complex, Amelie, Amour, Before Sunset, The Diving Bell and Butterfly, When in Rome, dan semacamnya yang kebanyakan berlatar di Perancis. Ditambah waktu kuliah sarjana dulu, ada mata kuliah khusus yang saya ambil: HI Eropa dan ekskursi bahasa Perancis di luar kampus. Selain itu, saya tertarik dengan para pemikir dan penulis dari Perancis. Sebut saja Descartes, Rodin, Sartre, dan Beauvoir. Jadilah saya seorang francophille. Otomatis Perancis adalah negara Eropa yang ingin paling saya kunjungi.

Dengan adanya kesempatan studi di Belanda, saya mencoba backpack ke Paris dengan titik awal keberangkatan dari Amsterdam. Sebelumnya saya sudah booking hotel di www.hostelbookers.com dan tiket megabus di www.megabus.uk. Kedua websites ini merupakan penyedia akomodasi yang paling murah yang saya temukan. Megabus adalah penyedia bus yang paling murah. Dengan tiket seharga £12, saya sudah bisa berangkat ke Paris dalam enam jam. Padahal jika menggunakan kereta langsung dari stasiun hanya memakan waktu tiga jam dengan tarif yang lebih mahal. Kami memutuskan untuk mengambil keberangkatan pukul 23.00. Megabus ini hanya memiliki dua jadwal keberangkatan Amsterdam - Paris dalam sehari. Sedangkan untuk hostelbookers.com, banyak sekali hostel dan juga apartemen yang murah di sekitar Paris. Teman saya menemukan sebuah apartemen dengan dapur seharga €23/hari. Saya memilih apartemen karena lebih hemat saat pergi bergerombol. Saya juga dapat menghemat pengeluaran dengan masak sendiri. Perlu diingat bahwa pembayaran hostelbookers dan Megabus akan lebih mudah jika menggunakan kartu kredit. 

Rencana saya untuk pergi ke Paris ini ternyata mendapat respon yang lumayan bagus dari teman-teman kampus saya. Setelah pergantian personil siapa yang ikut dan siapa yang tidak, ada 12 orang yang memutuskan backpack dengan saya. Semuanya orang Indonesia. Hal ini justru lebih menyenangkan untuk saya. Perjalanan akan menjadi lebih mudah dan menyenangkan jika kita bepergian bersama teman setanah air. Satu lagi, biaya perjalanan pun akan menjadi jauh lebih murah jika dibagi oleh banyak orang. Tanggung jawabpun menjadi lebih merata. Satu orang bertugas masak, satu mengurusi hotel, satu mengurusi tiket, dan satu mengurusi itinerary. 

Setelah semua urusan booking selesai, Rabu siang kami kumpul di Amsterdam. Sebelumnya kami jalan-jalan di sana untuk membeli bekal, atau sekadar mengunjungi toko-toko di sekitar. Saya sendiri penasaran masuk ke dalam Sex Museum dekat Stasiun Amsterdam Centraal. Teman-teman yang lain agak terkejut saya masuk ke museum tersebut. Tanpa susah payah menjelaskan saya hanya menjawab penasaran. Sebenarnya selain penasaran, saya ingin tahu bagaimana sejarah membentuk kontruksi seksualitas di Eropa ini. Ini bukan zaman ratu Victoria, yang mengekang para libertad. Dan lagi, saat kuliah sarjana, ada mata kuliah yang benar-benar wajib diikuti: Gender dan Seksualitas dan membuat saya penasaran dan tertarik dengan seksualitas. Pada akhirnya, saya masuk ke museum ini (Bakal ada di postingan berikutnya).

Pukul 20.00 saya bergegas menuju tempat pertemuan dekat hotel Krasnapolsky. Beberapa menit menunggu teman-teman yang lain, kami pun berangkat menuju port keberangkatan Megabus yang berada di Zeeburg P&R Coach Park di Zuiderzeeweg. Karena saya (dan kawan-kawan) melihat lokasi coach park ini hanya berada 3 Km dari stasiun, kami memutuskan jalan kaki. Setelah 30 menit jalan, kami tidak menemukan lokasi tersebut. Setelah tanya sana-sini dan juga mengandalkan google maps, kamipun mengetahui kenyataan bahwa lokasi Megabus tersebut berjarak 8 Km dari stasiun. Karena yang ada hanya jalan ke depan, kami menempuh jarak 8 Km dengan sukarela (mungkin beberapa ada yang terpaksa). Saya haturkan kekaguman saya kepada teman-teman senior dalam perjalanan kaki ini. Walaupun mengeluh capek dan membawa ransel yang sangat berat. Hal ini berkat google maps dan juga keberanian kami dalam bertanya sana-sini. Jika teman-teman tidak suka jalan, lebih baik menggunakan bis. Cukup merogoh kocek 2 Euro dapat menghemat energi yang dikeluarkan selama 2 jam, sejauh 8 Km. Namun, saya menemukan hal unik pada orang-orang Indonesia alias kawan-kawan saya ini. Saya pikir mereka pasti akan menolak jika mereka tahu bahwa jarak antara stasiun dan coach park ini ternyata 8 Km. Karena 8 Km dicicil menjadi beberapa tahap mereka tidak ngeh kalau mereka sudah berjalan sejauh itu.

A: "Berapa jarak dari sini ke kandang Megabus?"
P: "Cuma 3 Km."

---setelah jalan 3 Km-----

B: "Dip, kok belum nyampe?"
P: "Itu, satu kilo lagi."

---setelah jalan 4 Km-----

C: "Gimana tadi tanya orang? Berapa jauh lagi?"
P: "Katanya sekilo lagi."

-----Setelah jalan 5 Km dan energi mulai terkuras-----

D: "Dip, kok kagak nyampe-nyampe?"
P: "Jalan 30 menit lagi pasti nyampe."
A, B, C, D, dll: "serius!!!!"

-----Setelah jalan 7 Km dan harapan sudah mulai pupus-----

P: "Udah deket kok. Tuh lihat, bisnya!!"


Tekad untuk mengejar keberangkatan bis yang pukul 23.00 ini ternyata bisa menjadi bensin bagi kami untuk menggerakan kaki di tengah malam yang sudah larut dan juga dingin. Kami tiba di Zeeburg P&R Coach Park di Zuiderzeeweg pukul 22.00 lewat sedikit. Ternyata P&R Coach Park ini adalah taman untuk parkir bis dan mobil (Park & Ride). Banyak bis dan mobil yang berjajar entah itu menunggu penumpang ataupun hanya sekadar parkir. Letak Coach Park ini berdekatan dengan tempat kemping dan juga aktivitas outdoor. Hati-hati jika ada yang kebelet ke toilet. Karena toilet umum yang ada di sana sering kali tutup pada malam hari. Jangan bayangkan pool Megabus seperti pool travel Cipaganti atau X-Trans yang dilengkapi sofa, kafetaria, dan juga mushola plus toilet. P&R Coach Park benar-benar taman yang luas. Pilihan saya hanya dua saat itu: menahan sampai bis berangkat atau pipis di semak-semak. Akhirnya saya memilih yang paling logis dan nyaman. Kami harus menunggu di taman terbuka yang dingin. Karena kedinginan dan juga kelaparan, kami membuka bekal yang telah kami siapkan sebelumnya sambil menunggu keberangkatan.

Pukul 23.00 sopir Megabus mendekati para penumpang yang sedang duduk-duduk kedinginan. Ia berteriak dengan aksen Britishnya, "Tujuan Brussels dan Paris, merapat sini!" Saya dan beberapa teman sempat nyengir karena sopirnya mirip Hagrid di film Harry Potter. "Hagrid, take us to Paris, would ya?" bisik saya sambil ketawa. Kayaknya sih dia denger. Soalnya abis itu saya disuruh simpan tas di bagasi. Padahal ukuran tas saya tidak terlalu besar, hanya tas dailypack biasa. Hagridpun memeriksa tiket online yang sudah diprint dan mempersilakan kami menaiki Buckbeak, Megabus. Di dalam, interior busnya tidak terlalu mewah namun juga tidak jelek. Sangat standar dan ergonomis. Kami harus menunggu setengah jam karena ada penumpang yang datangnya telat. Saat dia datang, semua penumpang langsung lempar tomat, dia meminta maaf karena telat dan akhirnya perjalanan pun dimulai.

Enam jam tidak terasa di dalam bus karena pukul 05.30 saya sudah tiba di P+R Porte Maillot Paris. Perjalanan tidak terasa karena dilakukan malam hari dan untung karena saya tukang tidur. Saya hanya bangun saat transit di Brussels setelah itu tidur lagi. Sebelum turun dari bus, pastikan sudah berkunjung ke toilet yang ada di bus. Ini yang paling penting. Karena lima menit saya turun dari bis dan menjauhinya, sesaat itu pula busnya sudah hilang. Jangan..jangan?? Ya karena harus kejar setoran. Jadi saya harus menahan ritual pagi-pagi itu. Di sana saya ketemu teman sekelas saya dari Kolombia yang baru akan pulang. Dia bilang di Porte Maillot tidak ada toilet. Memang benar apa yang dia bilang. Karena Porte Maillot suasananya serupa dengan Zeeburg P&R Coach Park. Toiletless.

Kami memutuskan untuk mencari toilet terdekat terlebih dahulu. Eforia Paris mesti tertunda karena persoalan ini. Saya menemukan subway atau yang lebih akrab dengan sebutan Metro dekat Porte Maillot. Masuk ke stasiun bawah tanah, loket masih tutup. Dan kami tidak menemukan toilet sama sekali. Ada teman dalam rombongan yang pernah ke Paris tapi dia juga lupa seluk beluk Paris. Sambil menyadarkan diri di sana -beberapa foto map Paris dan Subway, beberapa cari makan-minum- saya mencari toilet. Karena untuk masuk ke dalam stasiun harus menggunakan karcis, saya harus berpikir dahulu. Karena sebelumnya saya baca di http://www.ratp.fr/ (berguna untuk memahami sistem transportasi di Paris, map juga tersedia) bahwa harga tiketnya bervariasi dan paling murah €1.7 untuk zona tertentu dalam satu hari. Sayang jika menggunakan tiket hanya untuk mampir ke toilet. Saat saya sedang berpikir keras untuk beli tiket 'toilet' atau tidak, tiba-tiba beberapa orang berkulit hitam melompati mesin tiket. Beberapa temannya malah masuk melalui pintu keluar. Saya bengong. Di saat saya bengong, ada orang Cina yang menggunakan satu tiket untuk dua orang. Mereka masuk berdempetan. Di saat saya sedang bengong, tiba-tiba seorang teman saya sudah berada di dalam. Dia masuk melalui pintu keluar. "Dip, mau cari toilet kagak?"

Dengan mengumpulkan keberanian, saya masuk melalui pintu keluar. Mudah-mudah tidak terekam CCTV dan tidak dilaporkan ke kedutaan RI. Saya mengajak teman lain yang ingin pergi ke toilet. Di dalam stasiun metro memang serupa dengan kereta bawah tanah yang selalui dipotret di film-film dengan setting kota besar. Lorong agak gelap yang panjang dan juga mencekam. Mungkin karena asing jadi persepsinya didramatisasi. Tapi setelah 15 menit muter-muter lorong subway (sempat nongkrong lihat kereta bawah tanahnya dulu), ternyata tidak ada toilet di dalam stasiun! GAWAT!! Untuk memastikan, saya tanya seorang bapak dengan bahasa Perancis.

P: "Pak, di sini ada toilet gak sih?"
Bapak: "Kagak ada di sini mah."
P: "Terus adanya di mana?"
Bapak: "Di kafe-kafe."
P: "Tengs, Pak."
Bapak: "Yoi"

Ternyata setipe dengan Amsterdam. Gak ada toilet umum kecuali di stasiun besar atau kafe-kafe. Nasib berarti harus menahan ritual pagi-pagi. Kamipun balik lagi ke depan loket stasiun di mana teman-teman kami menunggu. Tujuan pertama kami adalah Arc de Triomphe yang ada di Charles de Gaulle Étoile. Kalau di peta, tinggal lurus dari Porte Maillot. Tapi kenyataannya banyak jalan bercabang dan papan nama jalannya sulit ditemukan. Google maps tidak bisa diandalkan karena roaming. Teman saya berinisiatif bertanya pada seorang warga menggunakan bahasa Inggris:

A: "Pak, tau Charles de Gaulle Étoile gak?"
Bapak: "Maaf, gak tau." -- Sambil melengos dan buru-buru pergi.

Semua jadi panik. Teman-temanpun mendorong saya untuk bertanya kepada warga menggunakan bahasa Perancis. Salah seorang teman malah mencegat warga sambil berkata, "Dip tanya dia aja! Cepet!" Otomatis warga tersebut kaget dan merasa terancam, akhirnya saya buru-buru ngomong:

P: "Maaf mas, mau tanya. kalo jalan ke Arc de Triomphe lewat mana ya?"
Mas: "Maksud lo, Charles de Gaulle Étoile."
P: "Iya, itu!"
Mas:" Lu lihat gedung tinggi yang ada lampu warna merah itu? Dari situ jalan terus aja."
P: "Jauh gak?"
Mas: "Ya, lumayan lah. Satu kilo."
P: "Oh deket itu mah. Thanks bgt mas."
Mas: "Sama-sama."

Berangkatlah kami menuju Arc de Triomphe. Beberapa meter kami melewati jalan bawah tanah yang bau pesing, kami menemukan taman. Di sana kami memutuskan untuk sholat subuh terlebih dahulu. Termasuk cuci muka dan gosok gigi. Tamannya besar dan untungnya gelap. Sayapun dihadapkan pada pilihan yang sulit lagi. Pipis di semak-semak atau tahan sampai menemukan toilet yang entah kapan. Setelah bersih-bersih dan berdoa agar tidak dilaporkan warga, kami melanjutkan perjalanan. Sepuluh menit berjalan, saya tiba di destinasi pertama: Charles de Gaulle Étoile.


Tempat ini merupakan salah satu tempat historis di Paris. Wajib dikunjungi bagi saya karena monumen ini dibangun atas perintah Napoleon Bonaparte. Arc de Triomphe sendiri berarti Gerbang Kemenangan. Sesuai namanya, monumen ini sebagai simbol kemenangan tentara Perancis yang kala itu dipimpin Napoleon melawan tentara Austria. Kalau baca di wikipedia, tempat ini juga jadi tempat untuk mengenang tentara yang gugur. Karena itu banyak karangan bunga di simpan di sekitarnya pada hari-hari tertentu. Sayang hari itu saya tidak melihat karangan bunga apapun. Setelah selesai foto-foto dan istirahat, kami lanjut menuju destinasi kedua: Menara Eiffel. Sebenarnya Arc de Triumph ini dekat dengan kawasan Champs Elysees yang terkenal dengan toko-toko modis dan trendi. Tapi karena saya gak punya ketertarikan sama fashion, saya melewatkan jalan-jalan di sana. Selain itu, saya juga yakin kalau toko semacam Louis Vitton di Jakarta lebih besar daripada di sana.

Jalan lima belas menit dari Arc de Triumph melalui Trocadero dan Passy, menara Eiffel sudah terjangkau oleh jarak pandang.

Saat melewati jalan Trocadero, saya sempat melihat beberapa pengemis. Saya duga sih migran dari Aljazair atau Timur Tengah. Mereka duduk di kursi kecil dan menyodorkan kaleng atau tangannya. Saya juga sempat melihat seorang ibu yang mengepak barang bawaannya di trotoar. Ternyata semalam dia tidur di sana. Selain itu saya berpapasan dengan beberapa wanita muda yang menggeret koper. Pemandangan yang tampaknya sudah biasa. Sambil mengamati sekeliling, saya tiba di ujung jalan Trocadero dan Passy. Simpang lima di mana saya bisa melihat menara Eiffel dari atas jalanan.

Dari jalanan, ada beberapa orang yang menawarkan suvenir gantungan kunci dan replika menara Eiffel. Mereka mendekati dan menyapa dalam bahasa Indonesia. Dan menyapa kita dengan nama-nama yang umum semisal Ahmed atau Anto. Ya, trik lama. Tapi yang menggiurkan adalah harga yang bisa kita tawar. Misalnya lima gantungan kunci yang dihargai €1. Kita bisa menawar lebih murah lagi terlebih jika membeli banyak. Namun mesti berhati-hati dalam bertransaksi karena mereka sering main kucing-kucingan dengan polisi. Iya, mereka penjual ilegal. Makanya saya tidak berani membeli barang yang terbilang mahal saat mereka menawarkan jam tangan murah tapi bermerek asli. Belum tentu asli juga. Tapi teman saya mendapatkan untung karena hal ini. Saat bertransaksi, ada polisi yang mendekati. Kemudian penjual tersebut lari tanpa sempat mengambil barang yang sudah ada di tangan teman saya. Sedangkan teman saya belum membayar barang tersebut. Karena polisi yang patroli semakin banyak dan intens, para penjual enggan mendekati. Akhirnya teman saya mendapatkan gratis!


Saya tak henti mengucap syukur bisa melihat menara Eiffel. Karena apa yang saya alami sebelumnya baik dan buruk, senang dan sedih, pertemuan dan perpisahan, telah membawa langkah saya ke sini. Saya tidak pernah menuntut orang tua untuk mendukung saya pergi ke sini. Saya juga tidak pernah menuntut Tuhan agar saya bisa ke sini. Saya hanya berdoa dan berharap jika memang saya memang digariskan untuk bisa pergi ke Paris, saya akan berusaha. Ya, saya terus berusaha. Mengingat setahun sebelum lulus, saya mencoba mengirim surat korespondensi dengan profesor dan dosen di Paris. Meminta surat rekomendasi dan LOA. Saya pernah mendapat salah satunya. Mendapat keduanya juga pernah namun tidak mendapatkan beasiswa penuh. Meski mendapat beasiswa tuition fee saja atau biaya hidup saja, tetap sulit untuk memenuhi komponen salah satunya yang membutuhkan biaya banyak. Akhirnya saya membulatkan tekad untuk mencari beasiswa penuh. Oh ya, kalau mau berkoresponden dengan profesor di Perancis lebih baik menggunakan bahasa Perancis karena mereka sangat menghargai orang asing yang menggunakan bahasa Perancis. Tiga puluh menit sudah saya habiskan untuk berkontemplasi sambil melihat menara Eiffel yang masih ditutupi kabut. Saya berharap bisa kembali melihat menara Eiffel ini dengan orang yang saya sayangi. Saya masih ingat dari film Paris, Je t'aime bahwa Paris is city of romance. Kalau kita menghabiskan wktu di kota ini sendiri, alangkah ruginya :)


Beres foto dan kontemplasi, kami akan piknik di taman di depan menara Eiffel. Dalam foto di atas, kita tinggal menuruni beberapa tangga. Saya bersama beberapa kawab duduk di sebuah bangku tamn sambil menyantap bekal kami. Sesekali ada penjual suvenir yang bersikeras menawarkan dagangannya. Cuaca hari itu juga agak mendung. Sangat syahdu untuk menikmati suasana di taman. Tiba-tiba beberapa perempuan mendekati saya. Mereka membawa surat dan dengan bahasa Inggris yang pas-pasan berkata bahwa surat itu adalah sebuah petisi. Mereka meminta saya dan teman-teman untuk menandatangani. Saya sudah tahu gelagat mereka. Saya lihat isi petisinya untuk orang-orang homeless dan tunanetra-tunarungu.

M: "Mas. Kami minta dukungannya untuk petisi sosial."
P: "Petisi sosial apaan?"
M: "Ya untuk kegiatan sosial. Mas cuma harus tandatangan doang untuk memberikan dukungan."
P: "Bener, tanda tangan doang?"
M: "Iya."


Sebelumnya, saya sudah mencari tahu seluk beluk kota Paris di Internet dan mendapatkan informasi dari berbagai blog untuk berhati-hati terhadap penipuan semacam itu. Saya juga sudah memperingati kawan-kawan saya mengenai hal ini. Karena setelah menandatangani petisi tersebut kita dipaksa untuk menyumbangkan sejumlah uang. Kenapa saya bilang ini penipuan? Pertama, petisi itu berupa dukungan persetujuan terhadap satu aksi. Tanda tangan saja sudah cukup. Kedua, jika memang membutuhkan dana, mereka seharusnya bilang dari awal bahwa ini adalah sumbangan. Sayangnya satu teman saya, entah simpati atau khilaf, membubuhkan tanda tangan. Setelah itu dia dipaksa untuk menyumbang. Dia bilang ogah tapi si perempuan tetap minta. Karena kesal teman saya memberi alakadarnya. Yang mengejutkan, si perempuan tadi memaksa lagi. Dia bilang minimal sumbangan € 10. Buset. Akhirnya dengan kekuatan Indonesia bersatu kami berduabelas mendekati perempuan yang sedang memaksa teman saya itu. Melihat kami bergerombol, dia bergegas pergi sambil menggerutu.

Saya berpikir. Uang 10 bagi mahasiswa seperti kami sangatlah berarti. Dengan jumlah tersebut, kami bisa membeli 30 butir telur, 1 kg Ayam, dan 5 kg beras. Teman saya yang memberi secara sukarela juga akhirnya menggerutu. Tapi ya semoga saja dia ikhlas dan rezekinya ditambahkan. Insiden menyebalkan tersebut tidak membuat mood kami rusak. Kami lanjut mendekati menara Eiffel. Di dekat menara Eiffel, beberapa teman saya membeli oleh-oleh. Menurut saya harganya agak mahal. Jelas karena lokasinya strategis di daerah wisatawan. Selagi teman-teman membeli oleh-oleh. Saya mengantri untuk membeli tiket masuk ke dalam menara Eiffel. Antrian pag-pagi tidak begitu panjang, sebaiknya datang sebelum jam 11 siang. Tiket untuk masuk dan naik ke menara Eiffel terbagi dua. Yang pertama €9 hanya sampai level satu menara Eiffel. Yang kedua €12 sampai level kedua. Hal yang harus diperhatikan saat memutuskan naik atau tidak adalah cuaca. Karena saat itu cuaca sedang tidak begitu cerah, pemandangan dari menara Eiffelpun tidak begitu jelas dan indah. Selesai menara Eiffel, kami lanjut menuju destinasi ketiga: museum Louvre. Sebelumnya, saya melakukan ritual dulu di toilet dekat menara Eiffel. Mengingat susah sekali menemukan toilet umum, saya ajak badan saya bekerja sama untuk membuang muatan-muatan yang tidak perlu di sana.


Beres urusan di toilet. Ada perubahan. Kami harus segera check-in di hostel tempat kami akan menginap. Ternyata teman saya keliru melihat lokasi. Chelles, hostel yang saya book, ternyata berada di paling tenggara kota Paris. Dekat metro terakhir di rute E yaitu Chlles Gournay. Jalan tidak memungkinkan karena jarak dari Eiffel ke Chelles sekitar 30 Km. Maasalahnya kami tidak familiar dengan sistem metro di Paris. Biasanya turis yang jalan-jalan di pusat kota Paris hanya memerulkan tiket t+ yang berlaku untuk zona 1-3 karena jarak yang ditempuh berdekatan. Harga tiket t+ 1.7 per lembar namun menjadi €13.3 untuk satu carnet (baca: karnaey) yang isinya 10 lembar. Sedangkan untuk pergi ke daerah yang agak jauh, diperlukan tiket RER yang harganya tergantung jarak atau zona. Chelles berada di zona 4 oleh karena itu kami harus membeli tiket zona 3-5 seharga €4.47. Hal ini kami ketahui nanti. Di stasiun dekat menara Eiffel, saya membeli tiket 13 tiket t+ (1 Carnet, 3 single). Awalnya saya tidak tahu bahwa Chelles harus ditempuh dengan tiket yang berbeda karena berada di zona 4. Setelah membeli dari loket, kami berangkat ke Chelles. Kami harus ganti kereta di dua stasiun untuk mencapai Chelles. Saya tidak terlalu suka kereta bawah tanah. Pengap dan panas. Dibandingkan sistem kereta di Belanda, Perancis kalah dari segi kebersihan dan keteraturan. Sedangkan dari segi cakupan area, Perancis jauh di atas Belanda. Hanya saja, sama seperti kota-kota besar lainnya, di stasiun Paris dapat kita temukan banyak orang mabuk di pagi-malam hari. Meminta-minta. Atau jualan mainan. Dan jangan sangka di dalam kereta tidak ada pengamen. Nyatanya ada walaupun lebih elegan dan juga merdu suaranya dibandingkan pengamen di Indonesia. Itulah mengapa mereka menyebut diri mereka sendiri seniman jalanan.

Sampai di stasiun Chelles de Gournay, kami agak cemas karena takut turun di stasiun yang salah. Setelah memastikan benar, kamipun lega. Namun tidak lama, masalah lainnya muncul. Di setiap stasiun, entah itu mau masuk atau keluar atau ganti zona, kita harus memasukan tiket yang kita beli sehingga palang pintu tiket otomatis terbuka. Nah, di stasiun ini mesin tidak mau menerima tiket kami. Beberapa kali terdengar bunyi TEEEEEEt saat kami memasukan tiket ke dalam mesin. Kami pikir mesinnya yang rusak, tapi kami melihat orang-orang memasukan tiket dan palangnya terbuka secara otomatis. Kami mulai panik. Karena tidak seperti di stasiun-stasiun sebelumnya, stasiun Chelles de Gournay ini tampak teratur, bersih, dan dijaga oleh satpam stasiun. Agak sulit jika kami ingin berbuat 'kreatif'. Saya berpikir dan mengatakan pada teman-teman bahwa ini pasti karena tiket kita tidak mengakomodasi sampai Chelles. Tadinya saya ingin bertanya pada satpam yang melewati kami tapi saya ragu karena tidak tahu alasannya. Tapi karena terdesak keadaan, saya akhirnya kejar satpam tadi. Waktu saya mau mengejar satpam tadi, ternyata seorang teman sudah memanggil petugas di loket dengan mengetuk pintu loket tersebut. Muka petugas tersebut agak terganggu dan marah. Saya berlari ke arahnya, dan cepat berkata:

P: "Maaf mengganggu pak. Saya mengalami masalah kecil."
Bapak: "Masalah apa?"
P: "Begini, saya dan teman-teman tidak bisa menggunakan kartu ini untuk keluar stasiun."
Bapak:"Coba lihat kartunya. Hmm. Kamu abis dari pusat kota ya?"
P: "Iya Pak."
Bapak: "Tiket ini gak bisa dipakai sampai Chelles. Kamu harus membeli tiket lagi untuk sampai sini."
P: "Oh gitu. Saya tidak tahu. Jadi tiketnya beda-beda ya pak?" --Pura-pura polos dan (beneran) gak tau
Bapak: "Iya. Kamu dari mana?"
P: "saya warga negara Indonesia tapi tinggal di Belanda pak."
Bapak: "saya kir kamu orang Spanyol. Banyak yang ngaku Spanyol dan gak tau masalah ini."

----mungkin si bapak curiga kalo saya -nurutin orang Spanyol itu- pura-pura gak tahu. Wuih, kudu lebih kreatif nih-----

P: "Yaaaah pak, jadi saya harus balik lagi ke pusat kota untuk beli tiket lagi yang ke sini pak?"
Bapak: "Harusnya sih gitu. Ada berapa orang kamu sama teman-teman kamu?"
P: "Sama saya jadi 13 orang pak."
Bapak: "Waddduhh.. Yaudah, kali ini saya izinkan kamu dan teman-teman kamu lewat. Tapi lain kali jangan lagi ya."
P: "wah makasih banyak pak."

Teman-teman saya langsung ngikutin saya ngomong mersi boku monsyeur...Dan melelahkan juga sih ngomong dan mendengarkan bahasa Perancis sepanjang itu. Tapi kalau gak pake bahasa Perancis malah dibuat susah. Teman saya sudah coba tanya pake bahasa Inggris tapi malah dicuekin.

Kata adik saya sih, warga Perancis bangga sama bahasanya dan ogah pake bahasa Inggris karena dulu mereka pernah hampir dijajah Inggris. Yah, yang penting bisa keluar.

Berhasil keluar dari stasiun kami langsung menuju hostel karena sudah kelelahan. Jalan 15 menit lagi benar-benar menguras enegri kami. Sesampainya di hostel, kami tidak bisa masuk. karena respsionis berada di dalam gedung jauh dari pintu masuk. Sedangkan untuk masuk, kita harus memiliki kartu akses. Jadi gedung hostel yang kami tinggali ini seperti semi apartemen yang disewakan lebih murah jika menginap dalam waktu yang lama. Satu lagi, resepsionisnya cuma stand by sampai jam 5 sore. Itu alasan kami harus buru-buru check-in. Sebetulnya saya sudah menyarankan hotel lain yang lebih dekat di pusat kota namun teman saya keukeuh bahwa hostel ini dekat pusat kota. Untuk hal teknis semacam ini, tidak ada yang tahu. Saya sempat baca sekilas tentang review hostel ini. Jadi saya bisa menduga-duga apa yang harus saya lakukan. Akhirnya saya bertanya pada seorang lelaki tua yang tampaknya penghuni lama di sana dan menjelaskan situasi kami. Dia baik karena mau mengantarkan saya ke resepsionis sementara teman-teman saya menunggu di luar. Resepsionisnya sangat baik. Karena urusan hotel, teman saya yang ngurus, saya bilang ke resepsionisnya kalau teman saya gak bisa bahasa Perancis. Dan dia langsung mengerti dan ganti menggunakan bahasa Inggris. Sebenarnya kalau ngobrol pake bahasa Perancis bahas hal-hal yang ringan dan santai sih menyenangkan tapi kalo situasi mendesak terus suka capek. Tapi untung juga bisa bahasa Perancis dikit-dikit walau salah sini salah sana, ternyata berguna banget.

Ya, karena capek akhirnya dari sore sampai malam saya tidur nyenyak diselingi bathtub malam hari membuat saya tidur lebih nyenyak. Untung kamarnya bagus kalau gak....ya gak bakal gimana-gimana juga sih, Udah untung bisa tidur.

Review saya tentang hostel ini bisa dilihat di sini.


What a first day in Paris :)

Bersambung