Wednesday, 10 December 2014

Keteter Desember




Seringkali waktu memang brengsek; membuat kita terlena di antara bunyi jarum jam yang berdetak di dinding kamar atau di pergelangan tangan. Atau, di sela-sela jam digital melingkar di pergelangan tangan mu atau terpampang di layar telepon genggammu. Berbeda dengan mu yang mungkin menyukai jam digital, aku lebih menyukai jam analog. Aku merasa lebih intim dengan waktu. Mungkin karena di saat sepi dan sendiri, aku bisa mendengar waktu yang berdetak konstan dan teratur, apapun yang terjadi di dalam hidup dan semesta ini. 

Seperti pagi ini. Telingaku sepertinya sengaja menangkap suara detak detik jam dinding  di kamar. Aku tertegun dan mencari tahu pukul berapa. Tanpa melihat jam dinding yang mulai menyebalkan itu, aku meraih telepon genggam yang setia sekasur bersamaku. 


Ternyata sudah siang. Dan sudah Desember. Sepuluh.

Wednesday, 5 November 2014

My First Love

"I dare you to write about 'my first love story'."
I felt a bit suffocated when a friend of mine asked me such thing. And i could sense the rest of my writing club friends were smirking like evil when that particular friend threw that challenge. Dear friends, it is a desecration to our holy friendship guild, just so you know.
To be honest, i never shared my first love story because, yeah, you know, it is really personal. I guess only a few people know about this. But, I also dare myself. So I gathered my sense of courage and accepted the challenge. It feels like i was challenged by a 14 yo old of me that sometimes haunted me every time i tried writing a blank new page in my life. 
I guess everyone my age has had their first love. A quarter century is a quite long journey particularly for me. But before i begin, i'm warning you to prepare some tissues. You know, just in case your eyes burst into tears (most unlikely to happen). You also have freedom to close this window anytime you want. It's kinda boring and romantic,  I don’t mind. Have i told you that i am one of helplessly romantics in the world? 
So, where should i begin?



Sunday, 13 April 2014

Nangkring di Pasar Malam Asia

Beberapa minggu ke belakang, saat saya melewati perpustakaan Leeuwarden, saya melihat sebuah papan iklan yang agak besar. Bukan ukurannya yang membuat saya tertarik namun apa yang menjadi isi iklan tersebut. 

PASAR MALAM ASIA.

Mungkin sekilas tidak ada yang salah dengan isi iklan tersebut. Tapi sekali melihat saya langsung melihat keanehan. Mengapa jika namanya PASAR MALAM ASIA, bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia. Karena bahasa Indonesia bukanlah bahasa Asia, setidaknya menggunakan ASIAN NIGHT FAIR akan menjadi lebih dapat diterima. Entah bahasa Indonesia memang menjadi daya tarik sendiri bagi warga di Belanda (karena banyak warga Indonesia), entah memang hegemoni bahasa Indonesia di Asia sudah melekat kuat, atau yang mengatur acara ini adalah orang Indonesia.

Apapun di balik itu, saya sudah memutuskan untuk mengunjungi even ini. Jarang sekali ada pasar malam yang isinya tentang Asia di Belanda, apalagi yang mencapai Leeuwarden, kota paling Utara di Belanda. Pasar Malam Asia ini diadakan tiap tahun dari kota ke kota. Maka dari itu saya tidak ingin melewatkan kesempatan langka ini.

Monday, 7 April 2014

An Effortless Day



After attempting to write the sub-chapter part of thesis for a whole day (An hour felt like a whole day, right, Einstein?), my brain got heated up and surrendered. There were too many articles, books, and journals i read. Sometimes they contradicted each other so when i finished reading, it made me mumbling like, "Why did i read this article?". I remember a professor in campus saying that read more will confuse you more. So now i got it. And it also made me extremely hungry, Prof. 

Then i decided to stop my whole body system to do thesis-related activities. 

Free yourself, buddies!

I cooked tofu soup with coconut milk and chili. I cooked it because they were the only things left in the fridge. But it tasted not bad. After filling up my tummy, another obstacle came: my eyes suddenly felt heavy. To be fair, i let my eyes to rest a little bit. Two hours nap was much a bit. I had a guilty conscience and tried very hard to push my self out of the bed. I opened up my eyes and felt dizzy. So, my brain was acting up. To be fair again, i let my brain to relax. I took a shower to eradicate the dizziness. I also set up a playlist to boost my mood during showering.

Some songs are:

Payung Teduh - Berdua Saja

And this one:

Payung Teduh - Resah

I finished showering but got carried away by the songs i had been listening to. These songs are good and gentle I got no courage to touch the stop button. I was thinking, while listening to the songs, it would be great if i read some easy-going book, which i actually did. I comforted my mind and eyes by reading Albert Camus, the Plague while still listening. I felt like my room was transforming into a world that wasn't familiar with time and place. I felt subtle.

Until i got hungry again, i looked at the clock. 

Then i realized that I've just spent three hours reading and listening to the repeated playlist. 

Now it's almost midnight! When i took a look at Microsoft doc how far i was getting my work done, i was disappointed at myself. I only made progress two short paragraphs. I barely made a page alone for my thesis today. My soul cried, my heart broke. And i hope somewhere around the world, a mother wasn't screaming, sensing her son doing nothing. 

Now, i'm feeling terribly sorry for myself. Because a day before, I had consoled every single cell in my body to cooperate with my soul to get, at least two sub-chapters of, my thesis done. 

BUT. I only made two paragraphs. I felt inconsolably sad. Also guilty. 

I need somebody to know that i should have not surrendered [to being a laid-back and procrastinator]. Now i'm writing this crap and munching bars of chocolate, expecting the endorphin is released so i wouldn't feel terribly bad for myself. To be honest, i feel sleepy right now and my guilty conscience is getting bigger. I should [cry to] sleep.


Bonne nuit.






Btw, the music videos are solacing, aren't they?



Monday, 24 March 2014

Tentang Cita-cita dan Pekerjaan



Don't worry lady, you still have me


Siapa yang tidak ingin punya pekerjaan yang diidamkan sejak kecil? Mereka yang memilikinya pantas disebut orang yang beruntung, juga orang yang bekerja keras. Apa kita termasuk orang beruntung juga pekerja keras itu? Apa pekerjaan kita sekarang adalah cita-cita kita? Lantas kalau bukan, apa kita harus tetap berjuang mengejar cita-cita tersebut? atau berhenti mengejarnya dan menekuni apa yang kita lalui sekarang. Pertanyaan-pertanyaan itu juga ditujukan untuk saya sendiri. 


Jawabannya?


Entah. 


Tapi ayo kita telusuri jawabannya bersama.


Sunday, 16 March 2014

Home Sweet Home

Going Home Together

If you ask a traveler what a home would be, he might answer an unforgettable adventure. If you ask an environmentalist what a home would be, he might answer this sole earth. If you ask a gold digger what a home would be, she might likely answer a big fancy house with swimming pool in the backyard and lavish cars parked in the garage. If you ask a teacher what home would be, he might answer the classroom where he teaches. If you ask a sailor what home would be, he might answer what lies beneath the sky and above the ocean.

See, everybody has different definition of what a home would be.

But if you ask me what home would be, i might not answer.

Wednesday, 12 March 2014

Menggubris Si Kelom Geulis

Setiap orang, seperti  apa yang Darwin katakan, akan berjuang untuk hidup melalui survival of the fittest. Entah dengan tujuan untuk meneruskan keturunan ataupun sekadar hanya bertahan hidup, kemampuan adaptasi dan sosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat menjadi senjata pribadi paling ampuh. Perubahan-perubahan yang signifikan telah bermunculan baik dalam tataran teoritis maupun praktis. Terlebih lagi di era globalisasi yang menuntut banyak perubahan multidimensional. Perubahan yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari berujung pada teknologi dan alat yang bisa membantu kehidupan orang banyak menjadi lebih praktis dan efisien. Contoh sederhana adalah komputer yang bisa menghemat waktu dan tenaga dibandingkan mesin tik atau disk cakram yang jauh lebih murah dan kompatibel dibandingkan kaset pita.

Monday, 17 February 2014

Solilokui Daun Maple Merah

Aku terbang ke sana kemari dengan sayap transparan, menunggangi angin dan hinggap di sudut-sudut kota. Tubuhku seperti jemari manusia yang lancip di setiap ujungnya. 

Kami berwarna warni. Ada yang berwarna jingga, kuning, dan juga hijau tua. Tapi aku beda, orang tuaku juga berkata seperti itu, aku berwarna merah kesumba. Aku adalah daun maple merah. Acer rubrum. Teman-teman memanggilku Uum.

Aku menjadi bagian dari pohon di sebuah taman di kota. Ia sangat kokoh dan kuat. Kala angin kencang menerpa, ia menahan suku-suku kami untuk tetap menancap di cabang-cabang jemarinya. Aku senang tinggal bersamanya. Sejak aku masih tunas hingga sekarang, aku tumbuh melihat dunia bersamanya. Aku melihat anak-anak bermain di taman, menikmati udara di pagi hari, merasakan sinar matahari senja, dan berdansa saat musim semi tiba. Tapi tak ada yang abadi, begitu pula kebersamaan kami. Kami harus mengugurkan diri supaya ia bisa tetap hidup hingga muncul lagi generasi baru. Aku awalnya tidak terima karena cemburu. Aku sudah merasa nyaman tinggal di dahan itu dan kenapa harus pergi? Apalagi dengan alasan untuk tempat tinggal daun-daun yang baru. Namun ia menasihatiku dengan bijak, katanya, 

"Setiap daun harus pergi meninggalkan rantingnya. Ia harus berkelana di belantara dunia dan 
menemukan rumah baru." 

Aku mengernyitkan dahi, kubalas, "Tapi kita kan bukan manusia yang pindah memadati kota, menggantikan kita dengan pohon-pohon beton? Memangkas lahan tempat kita berkumpul? Membakar kita dan mengotori langit biru? 

Mengapa kita harus pindah?"

"Tepat sekali. Dan jawaban pertanyaanmu itu akan kau temukan setelah kau pindah. Yang perlu kau ingat, saat ada yang datang, ada pula yang harus pergi." Ucapnya sambil tersenyum.



Aku dibuat kehabisan kata. 

Monday, 3 February 2014

Di Balik Malam

Di Balik Malam


Di balik malam, ada sayup-sayup rintihan yang terdengar dari kejauhan.
Bercampur pilu dengan desingan angin yang mengembara dalam dingin.
Di balik malam, airmata yang tertahan menghangat dalam pijar lampu gemerlapan.
digenangi ragu yang mulai mengental dengan duka yang terus memilin.

Seorang pria tua menggondol harapan dibasahi liur doa yang menetes dari mulutnya
bercampur dengan bau amis cerita yang mengakar di matanya
Katanya," Di balik malam, ada cinta yang berbunga menjadi nestapa.
Di balik malam, ada nestapa yang lumer menjadi bahagia."

Di balik malam, sunyi dan sepi memacu birahi.
Airmata dan peluh menjadi saru dalam secangkir kopi
Bercampur sekeping pilu, setetes ragu, dan sejumput nestapa.
Panas dan pahit hinggap bergantian.



Ku sesap perlahan sambil menunggu fajar.









Leeuwarden, 3 Februari 2014

Saturday, 1 February 2014

Fragmen

Fragmen ini didedikasikan oleh sahabat dan keluarga HI Unpad 07 tercinta, Khairunnisa 
(3 April 1989-20 Januari 2014) yang telah berpulang ke sisi-Nya.

Cahayanya akan selalu membara dalam hati kami. Ia tidak akan terlupa.




Fragmen 8.

Gelap gulita.

Malam yang sudah sepi diisi oleh suara napasku yang terengah-engah. Tak hanya itu, aku juga bisa mendengar detak jantung yang berdebar kencang dan deru aliran darah yang memacu dahsyat melalui denyut-denyut nadi. Tubuhku basah oleh keringat. Airmataku mengalir menyatu dengan air yang keluar dari hidung.  Ada perasaan sesak yang menghimpit dada. Yang jelas ini bukan karena penghangat ruangan yang aku atur ke level medium. 


Aku hanya terbangun dari mimpi buruk.


Tuesday, 14 January 2014

Simpul




Teman-teman Aam sering mengoloknya dengan sebutan Si Cinbut, cinta buta. Ia tidak tahu seluk beluk di balik panggilan itu. Juga arti Cinbut atau cinta buta. Ia juga tidak mengerti mengapa teman-temannya suka meledeknya seperti itu. Yang ia mengerti, setiap kali ia jatuh cinta dunia menjadi tempat yang tidak dapat ia mengerti. Alasan-alasan logis luntur dikecup daya magis seseorang yang memikatnya. Tak ada langit yang menaunginya dan tak ada bumi yang dijejaknya. Semua terasa menjadi dekat. Detik bertransformasi menjadi jarak. Apalagi jika detik-detik mulai mengkristal bersama rindu yang sudah menguncup di hatinya, ia selalu berharap pertemuan menjadi penantian manis yang sudah tak sabar bisa ia petik.


Saturday, 11 January 2014

Condolences







Sunday, 20th September 2009. 

I remember it was supposed to be a very joyful day. Children were happy wearing new clothes and accessories asking some prize here and there for it was the day of winning. Family and friends gathered around and laughter started to instill the house with warmth. Sons and daughters got down on their parents' knees and asked their forgiveness. Abundant food filled the ravenous tummy as it had been held for thirty days. Along with happiness, roads were empty and sky were dense. Yes, it was the day of joy when every human's sheet of life was bleached to white, a clean slate, The Idul Fitri. Many people celebrated it that way. I did. Many people still do. I don't.

Wednesday, 1 January 2014

Solitude #21

Elegi Tahun Baru

Apa yang sebenarnya berharga dari pergerakan waktu yang linier? 
yang menggerogoti jiwa dan melemahkan raga kita? Menimbun banyak kejadian dan memudarkan kenangan menjadi serpihan kerinduan.

Apa sebuah selebrasi?
Mungkin karena waktu telah memahat kita menjadi patung es yang cantik namun rapuh.

Apa sebuah  kontemplasi? 
Mungkin karena waktu telah memilin kita menjadi tulisan-tulisan intim yang hanya mampu dicerna jiwa sendiri.

Apa sebuah refleksi?
Mungkin karena waktu telah meninggalkan jelaga yang tercoreng di muka kita.

Apa sebuah tawa eforia atau isak air mata?
Mungkin karena waktu selalu oksimoron; ia melahirkan kenangan dengan jenaka dan mengaburkannya dalam lupa. 

Entah.