Tuesday, 14 January 2014

Simpul




Teman-teman Aam sering mengoloknya dengan sebutan Si Cinbut, cinta buta. Ia tidak tahu seluk beluk di balik panggilan itu. Juga arti Cinbut atau cinta buta. Ia juga tidak mengerti mengapa teman-temannya suka meledeknya seperti itu. Yang ia mengerti, setiap kali ia jatuh cinta dunia menjadi tempat yang tidak dapat ia mengerti. Alasan-alasan logis luntur dikecup daya magis seseorang yang memikatnya. Tak ada langit yang menaunginya dan tak ada bumi yang dijejaknya. Semua terasa menjadi dekat. Detik bertransformasi menjadi jarak. Apalagi jika detik-detik mulai mengkristal bersama rindu yang sudah menguncup di hatinya, ia selalu berharap pertemuan menjadi penantian manis yang sudah tak sabar bisa ia petik.


Saturday, 11 January 2014

Condolences







Sunday, 20th September 2009. 

I remember it was supposed to be a very joyful day. Children were happy wearing new clothes and accessories asking some prize here and there for it was the day of winning. Family and friends gathered around and laughter started to instill the house with warmth. Sons and daughters got down on their parents' knees and asked their forgiveness. Abundant food filled the ravenous tummy as it had been held for thirty days. Along with happiness, roads were empty and sky were dense. Yes, it was the day of joy when every human's sheet of life was bleached to white, a clean slate, The Idul Fitri. Many people celebrated it that way. I did. Many people still do. I don't.

Wednesday, 1 January 2014

Solitude #21

Elegi Tahun Baru

Apa yang sebenarnya berharga dari pergerakan waktu yang linier? 
yang menggerogoti jiwa dan melemahkan raga kita? Menimbun banyak kejadian dan memudarkan kenangan menjadi serpihan kerinduan.

Apa sebuah selebrasi?
Mungkin karena waktu telah memahat kita menjadi patung es yang cantik namun rapuh.

Apa sebuah  kontemplasi? 
Mungkin karena waktu telah memilin kita menjadi tulisan-tulisan intim yang hanya mampu dicerna jiwa sendiri.

Apa sebuah refleksi?
Mungkin karena waktu telah meninggalkan jelaga yang tercoreng di muka kita.

Apa sebuah tawa eforia atau isak air mata?
Mungkin karena waktu selalu oksimoron; ia melahirkan kenangan dengan jenaka dan mengaburkannya dalam lupa. 

Entah.