Monday, 17 February 2014

Solilokui Daun Maple Merah

Aku terbang ke sana kemari dengan sayap transparan, menunggangi angin dan hinggap di sudut-sudut kota. Tubuhku seperti jemari manusia yang lancip di setiap ujungnya. 

Kami berwarna warni. Ada yang berwarna jingga, kuning, dan juga hijau tua. Tapi aku beda, orang tuaku juga berkata seperti itu, aku berwarna merah kesumba. Aku adalah daun maple merah. Acer rubrum. Teman-teman memanggilku Uum.

Aku menjadi bagian dari pohon di sebuah taman di kota. Ia sangat kokoh dan kuat. Kala angin kencang menerpa, ia menahan suku-suku kami untuk tetap menancap di cabang-cabang jemarinya. Aku senang tinggal bersamanya. Sejak aku masih tunas hingga sekarang, aku tumbuh melihat dunia bersamanya. Aku melihat anak-anak bermain di taman, menikmati udara di pagi hari, merasakan sinar matahari senja, dan berdansa saat musim semi tiba. Tapi tak ada yang abadi, begitu pula kebersamaan kami. Kami harus mengugurkan diri supaya ia bisa tetap hidup hingga muncul lagi generasi baru. Aku awalnya tidak terima karena cemburu. Aku sudah merasa nyaman tinggal di dahan itu dan kenapa harus pergi? Apalagi dengan alasan untuk tempat tinggal daun-daun yang baru. Namun ia menasihatiku dengan bijak, katanya, 

"Setiap daun harus pergi meninggalkan rantingnya. Ia harus berkelana di belantara dunia dan 
menemukan rumah baru." 

Aku mengernyitkan dahi, kubalas, "Tapi kita kan bukan manusia yang pindah memadati kota, menggantikan kita dengan pohon-pohon beton? Memangkas lahan tempat kita berkumpul? Membakar kita dan mengotori langit biru? 

Mengapa kita harus pindah?"

"Tepat sekali. Dan jawaban pertanyaanmu itu akan kau temukan setelah kau pindah. Yang perlu kau ingat, saat ada yang datang, ada pula yang harus pergi." Ucapnya sambil tersenyum.



Aku dibuat kehabisan kata. 

Monday, 3 February 2014

Di Balik Malam

Di Balik Malam


Di balik malam, ada sayup-sayup rintihan yang terdengar dari kejauhan.
Bercampur pilu dengan desingan angin yang mengembara dalam dingin.
Di balik malam, airmata yang tertahan menghangat dalam pijar lampu gemerlapan.
digenangi ragu yang mulai mengental dengan duka yang terus memilin.

Seorang pria tua menggondol harapan dibasahi liur doa yang menetes dari mulutnya
bercampur dengan bau amis cerita yang mengakar di matanya
Katanya," Di balik malam, ada cinta yang berbunga menjadi nestapa.
Di balik malam, ada nestapa yang lumer menjadi bahagia."

Di balik malam, sunyi dan sepi memacu birahi.
Airmata dan peluh menjadi saru dalam secangkir kopi
Bercampur sekeping pilu, setetes ragu, dan sejumput nestapa.
Panas dan pahit hinggap bergantian.



Ku sesap perlahan sambil menunggu fajar.









Leeuwarden, 3 Februari 2014

Saturday, 1 February 2014

Fragmen

Fragmen ini didedikasikan oleh sahabat dan keluarga HI Unpad 07 tercinta, Khairunnisa 
(3 April 1989-20 Januari 2014) yang telah berpulang ke sisi-Nya.

Cahayanya akan selalu membara dalam hati kami. Ia tidak akan terlupa.




Fragmen 8.

Gelap gulita.

Malam yang sudah sepi diisi oleh suara napasku yang terengah-engah. Tak hanya itu, aku juga bisa mendengar detak jantung yang berdebar kencang dan deru aliran darah yang memacu dahsyat melalui denyut-denyut nadi. Tubuhku basah oleh keringat. Airmataku mengalir menyatu dengan air yang keluar dari hidung.  Ada perasaan sesak yang menghimpit dada. Yang jelas ini bukan karena penghangat ruangan yang aku atur ke level medium. 


Aku hanya terbangun dari mimpi buruk.