Monday, 24 March 2014

Tentang Cita-cita dan Pekerjaan



Don't worry lady, you still have me


Siapa yang tidak ingin punya pekerjaan yang diidamkan sejak kecil? Mereka yang memilikinya pantas disebut orang yang beruntung, juga orang yang bekerja keras. Apa kita termasuk orang beruntung juga pekerja keras itu? Apa pekerjaan kita sekarang adalah cita-cita kita? Lantas kalau bukan, apa kita harus tetap berjuang mengejar cita-cita tersebut? atau berhenti mengejarnya dan menekuni apa yang kita lalui sekarang. Pertanyaan-pertanyaan itu juga ditujukan untuk saya sendiri. 


Jawabannya?


Entah. 


Tapi ayo kita telusuri jawabannya bersama.




Cita-cita
Saya teringat guru SD yang saat itu bertanya apa cita-cita saya dan teman-teman sekelas, siapa yang ingin jadi dokter atau siapa yang ingin jadi presiden atau siapa yang ingin jadi tentara. Saat itu tak ada satupun yang disebut guru itu terbesit di dalam benak saya. Entah ingin jadi apa, saya tidak tahu. Beberapa pekerjaan yang dijadikan contoh dalam buku-buku SD itu menyempitkan pandangan saya tentang cita-cita. Cita-cita yang didefinisikan menjadi sebatas pekerjaan saja. Padahal banyak yang mencita-citakan kebebasan, rumah yang aman, keluarga yang mapan, dan cinta yang nyaman. Jelas hal itu bukan pekerjaan. Namun masyarakat, termasuk kita di dalamnya, sering menuntut terlalu banyak melebihi apa yang diri kita sendiri bisa. Saat ditanya cita-cita, masyarakat kita menuntut jawaban yang realistis. Definisi cita-cita yang mereka rujuk adalah pekerjaan yang bisa mengenyangkan perut atau mengangkat derajat orang tua dan keluarga. Dibandingkan apa cita-cita kamu, akan lebih mudah untuk menjawab apa pekerjaan yang kamu inginkan.

Saya cukup yakin jika pertanyaan serupa dilontarkan, belum ada anak SD sekarang yang punya jawaban cita-cita untuk menjadi pendaki gunung Everest, aktivis HAM, pengacara lingkungan, atau seorang pelancong. Apalagi seorang blogger, penggiat media sosial, dan juga web designer. Menurut saya mereka sama pentingnya dengan dokter dan juga tentara apalagi di tengah hiruk pikuk globalisasi dan kehidupan dunia maya saat ini. Namun begitu tetap saja, mana pekerjaan yang penting atau tidak penting kadang menjadi saru dengan kepentingan banyak orang dalam hidup kita seperti kepentingan pasangan atau orang tua contohnya.

Obsesi orang tua sering termanifestasi dalam keputusan-keputusannya untuk pekerjaan (dan juga kehidupan) anaknya. Saya setuju jika orang tua selalu tahu yang terbaik untuk anaknya namun saya menyadari bahwa kadang mereka keliru membedakan mana yang terbaik untuk mereka dan mana yang terbaik untuk anak mereka. Tidak jarang keputusan yang mereka anggap terbaik untuk anak mereka malah menjatuhkan anak mereka sendiri. Jika keputusan mereka tidak sesuai dengan bakat dan minat anak, anak akan merasa dibebani oleh ekspektasi yang luar biasa berat. Bagus jika hal tersebut bisa menjadi motivasi agar ia bisa maju memikul beban tersebut. Tapi sayang jika hal tersebut membebani anak untuk menjalani kehidupannya. Pelampiasan yang cenderung memberontak dan juga menjerumuskan bisa menjadi pilihan yang sering tidak dilihat orang tua. Banyak kasus yang terjadi mengilustrasikan hal ini terlebih saat anak menginjak dunia kuliah.

Dalam mata saya cita-cita memiliki satu paradoks. Di satu sisi cita-cita harus realistis dan gampang dicapai tapi di sisi lain cita-cita harus tampak sebagai satu kondisi yang hampir mustahil untuk diraih. Gantunglah cita-citamu setinggi langit memang satu kredo yang luhung jika kita bisa terbang bebas ke langit yang luas. Secara literal tangan kita tidak bisa menggapai langit. Namun saya mengingatkan diri sendiri bahwa kredo tersebut hanyalah kiasan. Bukan literal. Secara utuh, maknanya serupa kalau punya cita-cita jangan nanggung. Beberapa orang juga sering beranggapan cita-cita haruslah sulit diraih. Jika mudah, itu bukan cita-cita. Saya tidak ingin terjerembab seperti kebanyakan orang yang beranggapan cita-cita itu harus tinggi. Tapi saya tidak bisa mendebat bahwa cita-cita itu adalah kondisi yang kita ingin tapaki di masa depan, sebuah tujuan. 

Mungkin benar, harus tinggi. Tapi dengan syarat tingginya sesuai dengan kemampuan diri sendiri sehingga yang tahu sejauh mana kita harus menggantung cita-cita kita hanyalah diri kita sendiri. Mungkin masyarakat terlalu sibuk dengan memperumit definisi cita-cita. Atau mungkin hanya saya yang begitu. Dari KBBI Edisi IV, definisi cita-cita tampak sungguh sederhana: 1) keinginan (kehendak) yg selalu ada di dl pikiran: 2) tujuan yg sempurna (yg akan dicapai atau dilaksanakan). Hanya saja kritik kecil saya untuk definisi yang kedua, tidak ada yang sempurna kecuali dalam dunia das solllen. Tujuan yang sempurna terlalu berlebihan, bukan?

Tampaknya cita-cita menjadi satu bagian dari pikiran solipsistik kita. Seperti selera makanan yang bisa sama dan bisa juga beda bagi tiap orang, cita-citapun begitu. Karena begitu, sudah menjadi kebiasaan bagi saya jika ada yang bertanya tentang cita-cita, saya balas dengan jawaban, definisi cita-cita menurutmu apa? (Sama halnya dengan mendefinisikan kemapanan, tapi kita sering kali ikut definisi apa yang telah masyarakat konstruksi sehingga kita langsung menjawab karena menganggap memiliki definisi yang sama dengan penanya).


Pekerjaan
Bekerja tentunya berbeda dengan cita-cita karena kalau serupa dan sama, tulisan ini sudah pasti tidak ada. Jika cita-cita tampak sulit untuk digapai karena ia adalah sesuatu yang senantiasa kita harapkan, pekerjaan tampak lebih manusiawi. Ia tampak mudah dicapai. Tunggu, lantas bagaimana jika seseorang berkata, pekerjaannya adalah melestarikan dan menyelamatkan lingkungan atau mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan atau membela kaum yang lemah dan tertindas serta menjaga stabilitas perdamaian dunia. 

Baiklah, orang-orang yang berkata seperti itu sepertinya hanya eksis di film-film heroik atau laga. Jawaban seperti itu terlalu general. Pemulung sampah yang hilir mudik di jalanan kota Bandung juga secara tidak langsung bisa disebut penyelamat lingkungan. Para pengusaha UMKM di Jakarta juga bisa disebut mengurangi angka pengangguran. Tak usah menjadi pahlawan untuk menjaga stabilitas perdamaian dunia, para TKW juga bisa disebut pahlawan devisa, menjaga stabilitas perekonomian Indonesia. Lantas menjadi pasukan perdamaian juga tidak serta merta langsung menjaga stabilitas perdamaian dunia, karena perang sesungguhnya berada di tangan para penguasa.


Pekerjaan memang membutuhkan jawaban yang jitu dan spesifik. Mungkin untuk mempermudah penulisan di biodata KTP dan surat-surat lainnya. Pekerjaan yang tidak bisa dideskripsikan dalam dua atau tiga kata selayaknya bisa mendapatkan KTP khusus yang lebih besar. Sebesar buku gambar saya sarankan. Karena jangan salah, bisa jadi ada orang yang menjawab seperti itu saat ditanya tentang pekerjaannya. Seorang teman pernah berkata pada saya bahwa pekerjaannya adalah menyelamatkan hidup manusia dan meningkatkan ekspektasi hidup orang-orang. Tampak pekerjaan yang berat. Dan memang berat. Pekerjaannya adalah menyelamatkan nyawa manusia. Ia bercerita memilih itu karena menganggapnya pekerjaan mulia. Tapi sayang pekerjaan mulia itu harus diinstitusionalisasikan ke dalam politik praktis dan komersialisasi industri farmasi. Dia diam saat saya berkata seperti itu. Mungkin karena merasa ataupun tidak.

Tidak ada niatan dalam tulisan ini untuk mendiskreditkan salah satu pekerjaan tertentu. Saya hanya beranggapan bahwa pekerjaan mulia itu tidaklah ada. Yang ada hanya perilaku mulia. Karena pada dasarnya pekerjaan adalah untuk menafkahi hidup kita (dan keluarga), terlepas dari pekerjaan itu harus mulia atau tidak. Maka dari itu kita sering memberitahu dan diberitahu untuk mencari pekerjaan dengan gaji yang tinggi, bonus yang intens, dan benefit yang banyak dari perusahaan. Tidak ada yang salah dengan pekerjaan seperti itu. Setiap orang layak mendapatkan kehidupan yang cukup secara finansial dan layak secara material.

Di balik itu, ada hakim dan jaksa yang seharusnya membawa keadilan di meja hijau namun harus mendekam di balik jeruji besi karena korupsi. Ada tunasusila muda yang membuka selangkangannya tiap malam hanya untuk membiayai orangtuanya yang sakit-sakitan dan menyekolahkan adiknya yang masih kecil. Rasanya tidak adil jika menilai seseorang mulia atau tidak hanya dari pekerjaannya saja. Tapi masyarakat lagi-lagi menutup mata terhadap hal ini. Kita belum terbuka terhadap kejujuran semacam ini. Orang akan lebih menghormati pekerjaan formal seperti hakim, pengusaha, politikus, dosen, anggota DPR, dibandingkan tunasusila. Jika tunasusila terlampau ekstrem karena dalam adat ketimuran dan agama pekerjaan tersebut tidak diizinkan (Sebenarnya masih jadi perdebatan namun saya mengeksludasi tunasusila agar tidak menimbulkan cabang pikiran lain dalam tulisan ini), kita bisa ambil contoh lain. Pekerjaan seperti loper, tukang sayur, petani, buruh pabrik, TKW, dan nelayan adalah pekerjaan yang apresiasinya tidak bisa lebih rendah dibandingkan pekerjaan eksklusif lainnya. Tidak sedikit TKW menjadi pahlawan devisa namun harus menerima perlakuan tidak adil. Buruh pabrik yang menghabiskan dua pertiga harinya untuk bekerja menyokong kebutuhan kita umumnya dibayar tidak layak. Petani dan nelayan terus menyokong keamanan pangan walaupun harus hidup di bawah garis kemiskinan. Apalagi mengingat negara kita yang katanya negara agraris dan maritim, petani dan nelayan harusnya menjadi pekerjaan yang menjanjikan. Tidak bisa dipungkiri bahwa mereka juga ikut memutar roda perekonomian bangsa dan menarik negara ini untuk maju.

Lucunya banyak orang masih merendahkan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Mungkin karena gajinya yang tak seberapa atau pekerjaannya yang tidak mendapatkan tepuk tangan riuh rendah dari orang-orang. Atau mungkin pekerjaannya tidak cukup baik untuk melamar seorang kembang desa anak Pak Lurah di tengah kehidupan yang serba sulit. Itu beberapa alasan yang sering bersarang di benak banyak orang tua sekarang. Hal itu tersirat dalam keputusan orang tua yang membatasi pilihan pekerjaan anaknya. Jangan jadi petani, ya nak. Jangan jadi nelayan seperti bapak. Karena indikator yang diset begitu tinggi, masyarakat kita yang beranjak modern ini banyak yang mengalami kesulitan dalam memilih pekerjaan. Kita lebih bangga membuntuti jejak negara-negara maju dan memilih berkehidupan masyarakat industri.


Jika memang penghasilan yang menjadi indikator pekerjaan layak atau tidak, banyak tunawisma di Bandung yang beberapa bulan lalu diberitakan mengantongi uang hingga hampir sembilan juta dari meminta-minta. Harusnya menurut masyarakat kita, pekerjaan mereka layak dan mulia. Karena selain berpenghasilan besar, mereka tidak secara tidak langsung mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran. Meski kompetensi mereka tidak banyak karena biasanya pendidikan formal yang mereka miliki hanya tingkat dasar atau menengah pertama, mereka setidaknya sudah mencoba bekerja dalam konteks apa yang menurut mereka bisa. Apalagi menilik survei BPS di tahun 2013, jumlah angkatan kerja bertambah namun tingkat partisipasi angkatan kerjanya menurun. Belum lagi menghitung pengangguran terselubung yang tiap tahunnya meningkat. Selain karena dinilai tidak memiliki daya guna, saya pikir tunawisma dilarang di Bandung karena (pekerjaan) mereka tidak teradministrasi di kantor pajak. Sehingga mereka dianggap tidak membayar pajak khususnya pajak penghasilan. Hal yang serupa juga terjadi untuk tunasusila. Padahal di negara-negara maju seperti Amerika, Belanda, dan Jerman, asalkan taat membayar pajak, pekerjaan seperti tunasusila adalah legal karena ikut menyumbang pemasukan negara. Tapi masyarakat Indonesia masih melarang pekerjaan-pekerjaan tersebut. Jadi masyarakat industri kok setengah hati begini, ucap bayangan saya.



Tentang Cita-cita dan Pekerjaan

Bayangkan jika setiap remaja yang beranjak dewasa di desa bercita-cita untuk menjadi pegawai kantoran di kota. Tingkat urbanisasi akan meningkat luar biasa signifikan. Apalagi jika remaja beranjak dewasa masih berpikiran untuk bekerja di kota. Daya dukung lingkungan perkotaan akan menurun drastis. Dengan iming-iming industrialisasi, banyak lahan akan dikonversikan menjadi pabrik dan permukiman. Pohon akan ditebang untuk membuat mebeul dan rumah.

Selain itu Indonesia negara ketiga dengan jumlah hutan hujan tropis terbanyak di dunia. Semakin banyak pohon ditebang berarti semakin berkurang daya dukung bumi ini. Padahal dengan pengawasan, pekerjaan-pekerjaan di hutan bisa membantu mengurangi degradasi lingkungan dan angka pengangguran. Hutan memiliki sistem ekonomi yang unik yang secara tidak langsung menyokong kebutuhan masyarakat perkotaan. Jadi sangat wajar jika masih ada masyarakat yang tinggal di hutan dan hidup bergantung pada produk kehutanan. Sama dengan ekosistem hutan, perdesaan juga memiliki ekosistem yang penting untuk menopang keberlanjutan kehidupan urban. Begitu pula dengan pekerjaan yang ada di desa yang mampu menyokong kehidupan di kota. Jika tidak ada yang menggerakan ekonomi perdesaan, lambat laun ekonomi perkotaan juga akan kolaps. 


Bukan berarti orang-orang di daerah rural dan pedesaan dibatasi dalam mencapai pendidikan dan pekerjaan. Hanya saja berdasarkan observasi saya, banyak sarjana yang berasal dari desa enggan balik lagi ke tempat asalnya untuk membangun desanya. Mereka lebih memilih bekerja di kota. Sepertinya perlu ada tindakan tegas dari pemerintah menyoal pekerjaan ini. Meningkatkan taraf hidup orang dengan tidak mengumpan mereka untuk datang ke kota-kota besar. Sebuah sistem yang bisa membuat perdesaan bisa bersaing dengan perkotaan.Instentif yang bisa membuat orang-orang ingin membangun desa dan daerah-daerah dengan ekonomi rendah. Pendidikan yang mengubah perilaku masyarakat modern yang kotasentris ini.





Saya teringat teman saya yang seorang buruh pabrik. Dulu kami sama-sama bekerja di salah satu pabrik besar di Padalarang. Umurnya pada saat itu masih 20 tahun, tiga tahun lebih tua dari saya. Pencapaian terbesar dalam hidupnya adalah menamatkan SMK. Ada satu percakapan yang saya ingat sampai sekarang. Kira-kira seperti ini:



Saya: Kang, capek geuningnya digawe di pabrik teh. | Bang, ternyata capek ya kerja di pabrik itu.


Kang: Euh, gawe mah teu di mana oge capek. | Kerja di mana saja juga capek.


Saya: Padahal mah cita-cita urang keur leutik teh hayang jadi presiden | Padahal cita-cita saya waktu kecil ingin jadi presiden.


Kang: Meni beurat maneh mah. Cita-cita urang mah hayang boga warung jeung wartel. | Cita-cita kamu berat sekali. Kalau cita-cita saya ingin punya warung dan warte (warung telepon).


Saya: Hereuy ketang. Nu penting mah digawe ngeunah. Henteu capek jiga kieu | Saya inginnya kerja enak. Enggak capek kaya gini.


Kang: Resep nyaho gawe di dieu teh, teu jauh ti lembur. Bisa nabung ongkoh. | Senang kerja di sini, enggak jauh dari kampung halaman. Bisa menabung juga.




Percakapan itu kemudian menjadi pengingat pribadi bagi saya di saat lelah menggapai cita-cita yang selalu tampak jauh atau di saat jenuh dan jengah menjalani pekerjaan yang kadang-kadang tampak membosankan. Ada kebingungan yang muncul antara harus menjalani pekerjaan sekarang dan melepaskan cita-cita atau menjalani pekerjaan sekarang dan terus mengharapkan cita-cita. Permasalahannya adalah saat kita menjalani pekerjaan yang tidak sesuai dengan cita-cita kita, mental kita untuk mengejar cita-cita akan cenderung mengalami depresiasi. Akhirnya kita lebih nyaman menjalani pekerjaan sekarang, yang tidak sesuai dengan cita-cita kita. Apakaha itu buruk? tentu saja tidak. Selama itu membuat kita nyaman, meneruskan pekerjaan itu tentunya menjadi bagian dari perjalanan hidup kita. Seperti seorang pengrajin yang membentuk benda-benda berseni dari materi biasa saja. Kita harus bisa memanfaatkan apa saja yang ada di dalam hidup ini. Namun apabila kita merasa tidak mampu menjalani pekerjaan yang kita pikir menyiksa diri sendiri, berhenti adalah solusi terbaik. Masalah gaji besar dan kecil, saya yakin itu relatif. 


Cita-cita atau pekerjaan apapun, yang penting adalah layak untuk dijalani dan dipertahankan. 

1 comment:

Amalia Yuli Astuti said...

Cita-cita dan pekerjaan itu bisa sejalur kalau kita tahu apa tujuan kita.