Monday, 14 December 2015

Tentang Pilkada Serentak 2015 di Jawa Barat





"Kok mau pak susah payah ke TPS di tengah banjir?"

Judulnya agak melenceng dari kebiasaan saya menulis penuh keresahan dan gundah gulana. Tapi serius, tulisan ini berawal dari gundah gulana saya yang menumpuk minggu lalu. Awalnya beneran mau memanifestasikan perasaan kalut dan galau menjadi kata-kata sok puitis dan romantis tapi entah kenapa juntrungannya malah ke sini. Ya sudah. Lanjut. Kalau memang lebih membosankan daripada sebelumnya, silakan tutup hati lamannya dan kasih duit kritik. 
Minggu lalu, tepatnya tanggal 9 Desember Indonesia (gak semuanya sih, ini majas totem pro parte aja) untuk pertama kalinya menyelenggarakan Pilkada Serentak. Dari namanya sudah bisa diterka bahwa pilkada serentak ini adalah pesta demokrasi yang penyelenggaraannya dilaksanakan serentak di berbagai daerah untuk memilih kepala daerah.  Belum bosen? Lanjut.

Wednesday, 2 December 2015

Kenangan dan Tiga Bayi Kucing

Bandung, 9 Oktober 2015


Kenangan Tersayang, 


Kita sama-sama belajar dari apa yang kita ketahui dan kita tidak ketahui. Kita pernah bersama-sama mencoba mendedah apa yang kita cintai sekaligus benci tanpa terlalu tinggi menengadah. Di situlah kita berbeda. Aku bersikeras mempertahankan argumen psikolog terkenal Hatfield bahwa hubungan itu ditentukan tiga faktor kunci: waktu, kesamaan, dan keterikatan. Kau setuju dengan waktu dan keterikatan, bahwa seseorang akan jatuh cinta dan berhubungan pada waktunya, saat ia siap, bahwa seseorang akan melepaskan keterikatannya pada dirinya sendiri dan membaginya dengan orang lain. Namun kau tak setuju jika kesamaan yang dilihat dari satu individu tercermin dalam individu lainnya akan menimbulkan kesukaan bahkan kecintaan. Karena aku, berbeda dengan kau, selalu tertarik dengan hal-hal kecil. Pelajaran-pelajaran yang bisa aku peras dari sekelilingku. Cukup adalah kata favoritku dan aku tak keberatan menjadi seorang mediocre. Di sisi lain, kau memimpikan hal-hal besar. Kau beranggapan kehidupan akan bermakna dan berarti jika melakukan petualangan-petualangan besar. Perbedaan bisa melengkapi satu  sama lain. Tapi dalam hal ini, kau terus menarik aku untuk melakukan hal-hal yang menurutmu besar dan signifikan. Kau meremehkan hal yang sepele dan biasa. Kau menolak untuk jadi mediocre.

Di situ kita menyadari, perbedaan tak selalu menggenapi. Karena ada keinginan masing-masing yang muncul dari diri kita terdalam yang akhirnya mengkontradiksi satu sama lain, perbedaan yang lambat laun terasa menjadi duri dalam daging. We gradually bored each other.