Tuesday, 13 December 2016

Surat untuk Bumi


                                                                                                                    Sydney, 13 November 2016

Dear Bumi,


Apa kabar kamu di sana? Sudah hampir dua bulan saya tinggal di benua Kanguru, sembilan bulan sejak kepergian kamu. Tujuan dan waktu memang bukan kita yang menentukan bukan? Kamu yang ingin pergi ke sini malah saya yang terdampar di sini.

Friday, 28 October 2016

Menjalani Jeda Karir (Career Break)


Genap satu minggu saya menjejakan kaki di kota Sydney, kota paling padat penduduk di benua Australia. Saat ini sedang musim semi jadi cuaca masih bisa dianggap bagus. Walau cerah pada hari-hari biasanya, kadang diselingi hujan dan angin kencang. Untungnya saya sudah sempat mengunjungi Sydney Opera House dan Royal Botanical Garden saat hari sedang cerah dan jalan kaki mengelilingi kota. Dari pagi hingga malam, Sydney ini layaknya kota besar lainnya yang tak pernah tidur. Sibuk sepanjang hari sepanjang pekan. Saya sebenarnya bukan tipikal penyuka kota besar. Tinggal sebulan di Jakarta saja sudah buat saya pusing dan gak betah. Lantas apa yang sebenarnya saya lakukan di sini?

Sydney Opera House

Monday, 3 October 2016

Empat Tahun Bersama TVRI Jabar


Banyak orang beranggapan pekerjaan idaman adalah hobi yang dibayar. Namun perkara idaman biasanya antara sulit didapatkan atau ya too good to be true.  Terlebih kalau berurusan dengan kenyamanan. Saya sendiri memiliki hobi jalan-jalan, naik gunung, menulis, atau tidur. Nyaman dengan latar belakang pendidikan saya di bidang politik dan lingkungan. Pekerjaan saya (setidaknya sampai Jumat lalu) adalah jurnalis televisi. Sama seperti orang-orang, saya juga suka tanya diri saya sendiri, sebenarnya mau saya itu apa?

Sunday, 2 October 2016

Tentang PON XIX Jawa Barat

MENGAPA PON (TAK) HARUS ADA?

Lili dan Lala, maskot PON 19, diambil dari sini

Kamis lalu Pekan Olahraga Nasional XIX atau PON XIX (selanjutnya ditulis PON 19) di Jawa Barat resmi ditutup dengan penyerahan pataka dari Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan kepada Gubernur Papua Lukas Enembe sebagai simbol penyelenggaraan PON XX yang dituanrumahi Papua di tahun 2020. PON 19 ini menimbulkan eforia warga Jabar yang luber ke mana-mana. Ada yang semangat kedaerahannya mendadak meningkat. Ada pula yang latah menyukai olahraga. Termasuk saya.

'Eforia' ini sebenarnya muncul pada awal bulan September saat saya ditugaskan liputan PON 19. Saya sempat menolak tugas tersebut dengan alasan saya bukan reporter olahraga. Saya beralasan akan lebih baik jika liputan diserahkan pada reporter olahraga atau yang memang menyukai dunia olahraga. Atau setidaknya melek dunia olahraga. Sebetulnya saya  suka dengan olahraga. Saya suka renang, joging, atau bermain futsal hanya saja sebagai gerakan olah raga atau momen sosialisasi. Setelah memberikan beberapa nama sebagai pengganti saya, saya tetap ditugaskan untuk meliput PON ini. Jadilah saya punya eforia menerima tugas liputan PON 19 ini.

Eforia saya bercampur dengan rasa khawatir. Ada 44 cabang olahraga (cabor) yang dipertandingkan dan setidaknya saya harus menguasai aturan dan istilah dasar dalam cabang tersebut. Karena itu saya coba mencari referensi mengenai setiap cabor, termasuk menelusuri PON sebelumnya. Saya akui saya termasuk mereka yang pesimis dengan PON. Jujur, anggarannya yang fantastis membuat saya berpikir kalau PON ini hanyalah bagi-bagi jatah saja. PON 19 ini contohnya, anggarannya mencapai 3 triliun rupiah. Saya berpikir keras bahwa dana sebesar ini memungkinkan celah penggunaan dana yang tidak efektif jika tidak diawasi dengan saksama.

Wednesday, 21 September 2016

A Fine Morning with Mount Sumbing

Going Up
Last month, I got an occasional job to Wonosobo in regard to commemoration of Indonesian independence. It was coincidentally matched with my friend’s plan to hike Mount Sumbing.  At first I just wanted to get my  job done then go back home right away. But after looking up about Mount Sumbing, I decided to join him to give a visit to Mount Sumbing after completing my job there.

We booked the bus tickets one hour before departure. I had browsed days before and found out Budiman that we chose undoubtedly because they provide two routes: from Bandung (Terminal Cicaheum) and Cimahi (Pasar Antri/Cimahi Mall) to Wonosobo (Terminal Mendolo). I had to be meticulously aware with their schedule from Cimahi because per last August they only served to Wonosobo only on morning (07.30) and afternoon (18.00). We were chasing a hike in the morning so we decided to go after sundown.

Saturday, 13 August 2016

Catatan Ringan: 5 Petualangan Sebelum Lulus


Sumber
Seorang teman, sebut saja Mawar, menantang saya untuk menulis topik yang ringan. Padahal dua postingan saya terakhir itu postingan ringan, dalih saya. Apa saya harus buat tulisan tentang makanan dan minuman ringan? Tapi ternyata yang diminta Mawar teman saya ini seperti yang sering ia baca: 7 cara jadi cewek idaman, 1001 cara mengecilkan perut, 8 upaya lulus cepat, 5 sehat 4 sempurna, dan angka yang digandeng kalimat singkat lainnya. Sebabnya menurut Mawar  teman saya ini, isi blog saya cuma berkutat di seputar kegelisahan, kegalauan, dan kecacatan mental yang dapat melemahkan karakter bangsa, kalau tidak tentang catatan perjalanan yang isinya narsisme belaka. Here we go, I've spitted what you said. Sebenarnya saya agak tersinggung dengan penilaian seperti itu. Tadinya mau jawab, blog gua ya terserah gua, tapi gak jadi karena nanti gak ada habisnya. Satu hal yang pasti, blog saya memang mengutarakan perasaan dan pengalaman saya selama ini. Pun begitu dengan blog orang lain. Sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Ah denial doang bisanya. Bukan, ini mah rasionalisasi keleus. 

Jadi, saya berniat menggabungkan sebuah angka dengan kalimat pendek sebagai bukti komitmen saya terhadap permintaan Mawar teman saya: 101 Cara Mengurus Anjing Dalmatians. Kebanyakan angka? Okay, kita tendang angka terakhir. Masih kebanyakan? Bagi dua kali tiga bagi tiga aja ya, jadi cuma 5 doang. Gak suka anjing? Banyak maunya ya. Okay, kita ganti topik karena saya juga gak punya Dalmatians. Gimana kalau 5 Petualangan Sebelum Lulus Kuliah? Bisa jadi tulisan ini bisa dibuat materi sekuel Petualangan Sherina dan Sadam waktu kuliah di Bandung. Terus mereka bingung sebentar lagi lulus tapi hidup mereka cuma dipenuhi ratapan kenangan petualangan mereka di kebun bayam Lembang dan Boscha doang. Tenang, saya gak akan tulis yang berhubungan dengan: kita harus ikut kompetisi debat internasional, ayo kita demo masak rektorat, kuliah yang rajin dan blablabla~~ . Yang jelas kuliah itu harus lulus pada waktunya, selow aja.

Sunday, 7 August 2016

Di Stasiun Pulang Kerja


Di stasiun ini, cuping hidungmu bergerak-gerak membaui aroma lelah yang menyeruak dari orang-orang lalu lalang. Bola matamu mencerminkan kekosongan orang-orang berpapasan. Raut mukamu berubah masam, merangkum kegelisahan orang-orang duduk dan mematung menanti malam. Mereka membangun sekat transparan dengan deretan telepon genggam, bacaan, atau penyuara kuping yang ditanamkan dalam-dalam. Saat kau hanya bisa sedikit berharap untuk membangun ruang sendiri, mereka sudah tenggelam. Kita putus asa untuk melocot kebisingan yang sudah mengerak di bawah kulit kita. 

Wednesday, 22 June 2016

Ngabuburit: Bertualang di Manglayang




1
Foto di atas sekilas seperti dalam keadaan senang dan mudah: 1818 mdpl doang. Tapi memang menyenangkan sih. Foto tersebut diambil Jumat lalu saat saya bersama dua orang teman – Tedi dan Dimas – pergi berkemah ke Gunung Manglayang. Rencana untuk pergi berkemah sudah menjadi wacana sejak bulan lalu namun belum terealisasi karena tak kunjung menemukan tempat yang cocok. Awalnya Prau menjadi pilihan pertama namun gagal setelah mengecek jadwal kerja kami yang hanya cocok dengan dua hari libur. Setelah memilih dan memilah, kami memutuskan mencari lokasi yang strategis dan mudah diakses di sekitar Bandung. Jadilah Gunung Manglayang yang lumayan dekat dari kota Bandung. Gunung Manglayang sendiri bisa diakses dari Bumi Perkemahan Batu Kuda di Cibiru dan Bumi Perkemahan Kiarapayung lewat desa Barubereum. Kami memilih lewat Kiara Payung karena memang lebih familiar. Selain itu saat masa awal mahasiswa, saya pernah berkegiatan di Kiarapayung (dan juga Manglayang sepertinya). Jadi masih ada bayangan samar. Termasuk bayangan bahwa Gunung Manglayang memiliki karakter seperti bumi perkemahan Kiara Payung. Mudah didaki.

Friday, 8 April 2016

Bumi

Kita sama-sama percaya ada luka yang menjelma gembira dan ada suka yang menjelma derita.
Kita sama-sama percaya ada bagian diri kita yang menyatu dengan alam semesta dan ada bagian dari semesta yang tercermin dalam diri kita. Kita sama-sama mengetahui 
bahwa waktu jualah yang menuntun kita 
kapan bersembunyi dan menampakan diri, 
kapan jemu berhenti dan kapan lelah berlari. 

Bumi terasa lebih sepi tanpa dirimu

Wednesday, 23 March 2016

Door Duisternis Tot Licht


Last night I witnessed my own dream leaving me empty: I was only blanketed in opulent darkness and floating comfortably without destination. I was free and lost: catching my own hands i couldn't see, reaching a heart i couldn't feel. I was trapped and okay. It was on repeat over and over as if it was only my destiny. 

I woke up sweating. My hands cold and the remaining waves of anxiety and doubt kept hitting me even after i opened my eyes. I was exhausted as if i had been having a series of explosive laugh, or cry, i didn't know i couldn't differ. I felt groggy and weepy. Even so the immediateness moved me from the bed and made me ponder how today could be a bit different. 

I walked slowly into the sun and noticed the shining morning dew. 

Door Duisternis Tot Licht.




Meru Betiri. 25032015.

Monday, 21 March 2016

Catatan Perjalanan Tesis I


"Ada yang tak kuasa kita tolak dalam hidup, seberapa keras kita menyangkal. Ada juga yang tak kunjung kita dapatkan, seberapa sering kita memohon. Menerima dan berserah diri, kita tak butuh menyangkal atau memohon." ~ Nenek, diterjemahkan dari bahasa Sunda.
 
Post dengan label Catatan Perjalanan Tesis yang menjadi penelitian selama kurang lebih dua tahun aku kerjakan dan bulan Agustus tahun lalu sudah aku selesaikan adalah bagian dari jurnal pribadiku (buku harian/catatan perjalanan). Entah mengapa kali ini aku ingin menuangkannya di sini. Mungkin karena sudah genap satu tahun sejak aku mengambil data di lapangan (tak terasa sudah akhir Maret!) ada dorongan bawah sadar untuk mendokumentasikannya di sini. Atau mungkin karena apa yang aku tulis di sini mencerminkan hal-hal penting dalam hidupku. Tak terkecuali tesisku ini. Tentunya tulisan ini dibuat dengan modifikasi redaksi kalimat agar layak baca, namun konten tetap sama.
 
Bandung, 16 Maret 2015
Malam itu hujan cukup keras mengetuk-ngetuk atap mobil. Adikku, Nugraha, duduk di depan sibuk mengelap kaca depan mobil karena wiper sudah lama uzur. Entah mengapa tak kunjung diganti. Babeh duduk di bangku kemudi. Sementara aku dan adikku satu lagi, Gumilar, harus duduk berdesakan di belakang bersama ransel padat ukuran 60 liter. Suara Babeh yang menasihati kami bertiga tentang ini dan itu tak kalah oleh nyaringnya bunyi petir dan hujan. Namun begitu hujan di luar lebih menarik untuk diperhatikan. Sayup-sayup terdengar suara bagian mobil yang karatan butuh diolesi oli atau lampu lalu lintas yang merah-kuning-hijau menjadi blur. Aku menempelkan keningku ke kaca yang dialiri tetesan hujan.
Setelah melirik jam tangan setiap lima menit sekali, kami tiba pada lirikan ke sembilan. Nugraha keluar terlebih dahulu agar aku dan Gumilar bisa menyusulnya. Aku mengoper ranselku kepada Nugraha. Sementara Babeh melihat dari bangku supir. Mobil diparkir gerbang stasiun kereta api Kiaracondong agar terhindar dari ongkos parkir. Aku pamit kepada Babeh dan berlari ke dalam stasiun diikuti Gumilar dan Nugraha.
Saat tiba di depan pintu loket, aku melihat ke sekeliling dan sudah banyak orang berkerumun: menunggu kereta, menunggu keluarga, menunggu tiket, atau sekadar berteduh. Mereka membawa barang cukup banyak, diwarnai harapan atau kecemasan yang terbesit di muka mereka. Itu pula mungkin yang dapat orang-orang lihat di mukaku. Ada perasaan campur aduk antara cemas, senang, sedih, lega, dan nelangsa setiap aku duduk di bangku stasiun, terminal, maupun bandara. Ku tengok kedua adikku. Mereka juga sama basah kuyup sepertiku. Awalnya aku ragu untuk memeluk mereka karena kami sama-sama basah kuyup. Tapi setelah melihat muka mereka, aku spontan memeluk mereka satu persatu.
“Jaga Babeh sama Mamah ya.” Aku pamit berangkat.
“Hati-hati. Jaga diri, A!” Ucap mereka hampir berbarengan.
Setelah menukar tiket yang sudah aku pesan daring, aku bergegas menuju kereta yang sudah menunggu. Petugas kereta api memeriksa identitasku dengan teliti sebelum aku naik kereta. Lima menit kemudian, aku bertolak menuju Jember.
 
Berangkat!

 

Thursday, 18 February 2016

Berhenti Sejenak

Siang hari hujan mulai mencumbu tanah Gunung Halu. Aku dan kedua temanku bergegas menuju parkiran motor untuk pulang. Satu jam yang lalu kami baru saja membereskan tenda setelah bermalam di Curug Malela, Gunung Halu. Kami tahu kami harus bergegas saat matahari mulai dibayangi awan-awan kelabu yang berat akan rindu. Seolah adu cepat dengan alam, kami tak peduli saat di parkiran beberapa oknum menagih tiga lembar sepuluh ribu rupiah sebagai jasa meminjamkan tanah tempat kami bertenda. Mengendarai dua motor, kami sudah mengenakan jas hujan karena tinggal masalah waktu saja hingga hujan turun. Aku sebenarnya sudah khawatir sejak kemarin karena jika hujan turun, jalan keluar yang masih jelek dipenuhi batuan besar dan tanah besar itu pasti akan menyulitkan motor kami.

Sesaat Sebelum Hujan