Wednesday, 23 March 2016

Door Duisternis Tot Licht


Last night I witnessed my own dream leaving me empty: I was only blanketed in opulent darkness and floating comfortably without destination. I was free and lost: catching my own hands i couldn't see, reaching a heart i couldn't feel. I was trapped and okay. It was on repeat over and over as if it was only my destiny. 

I woke up sweating. My hands cold and the remaining waves of anxiety and doubt kept hitting me even after i opened my eyes. I was exhausted as if i had been having a series of explosive laugh, or cry, i didn't know i couldn't differ. I felt groggy and weepy. Even so the immediateness moved me from the bed and made me ponder how today could be a bit different. 

I walked slowly into the sun and noticed the shining morning dew. 

Door Duisternis Tot Licht.




Meru Betiri. 25032015.

Monday, 21 March 2016

Catatan Perjalanan Tesis I


"Ada yang tak kuasa kita tolak dalam hidup, seberapa keras kita menyangkal. Ada juga yang tak kunjung kita dapatkan, seberapa sering kita memohon. Menerima dan berserah diri, kita tak butuh menyangkal atau memohon." ~ Nenek, diterjemahkan dari bahasa Sunda.
 
Post dengan label Catatan Perjalanan Tesis yang menjadi penelitian selama kurang lebih dua tahun aku kerjakan dan bulan Agustus tahun lalu sudah aku selesaikan adalah bagian dari jurnal pribadiku (buku harian/catatan perjalanan). Entah mengapa kali ini aku ingin menuangkannya di sini. Mungkin karena sudah genap satu tahun sejak aku mengambil data di lapangan (tak terasa sudah akhir Maret!) ada dorongan bawah sadar untuk mendokumentasikannya di sini. Atau mungkin karena apa yang aku tulis di sini mencerminkan hal-hal penting dalam hidupku. Tak terkecuali tesisku ini. Tentunya tulisan ini dibuat dengan modifikasi redaksi kalimat agar layak baca, namun konten tetap sama.
 
Bandung, 16 Maret 2015
Malam itu hujan cukup keras mengetuk-ngetuk atap mobil. Adikku, Nugraha, duduk di depan sibuk mengelap kaca depan mobil karena wiper sudah lama uzur. Entah mengapa tak kunjung diganti. Babeh duduk di bangku kemudi. Sementara aku dan adikku satu lagi, Gumilar, harus duduk berdesakan di belakang bersama ransel padat ukuran 60 liter. Suara Babeh yang menasihati kami bertiga tentang ini dan itu tak kalah oleh nyaringnya bunyi petir dan hujan. Namun begitu hujan di luar lebih menarik untuk diperhatikan. Sayup-sayup terdengar suara bagian mobil yang karatan butuh diolesi oli atau lampu lalu lintas yang merah-kuning-hijau menjadi blur. Aku menempelkan keningku ke kaca yang dialiri tetesan hujan.
Setelah melirik jam tangan setiap lima menit sekali, kami tiba pada lirikan ke sembilan. Nugraha keluar terlebih dahulu agar aku dan Gumilar bisa menyusulnya. Aku mengoper ranselku kepada Nugraha. Sementara Babeh melihat dari bangku supir. Mobil diparkir gerbang stasiun kereta api Kiaracondong agar terhindar dari ongkos parkir. Aku pamit kepada Babeh dan berlari ke dalam stasiun diikuti Gumilar dan Nugraha.
Saat tiba di depan pintu loket, aku melihat ke sekeliling dan sudah banyak orang berkerumun: menunggu kereta, menunggu keluarga, menunggu tiket, atau sekadar berteduh. Mereka membawa barang cukup banyak, diwarnai harapan atau kecemasan yang terbesit di muka mereka. Itu pula mungkin yang dapat orang-orang lihat di mukaku. Ada perasaan campur aduk antara cemas, senang, sedih, lega, dan nelangsa setiap aku duduk di bangku stasiun, terminal, maupun bandara. Ku tengok kedua adikku. Mereka juga sama basah kuyup sepertiku. Awalnya aku ragu untuk memeluk mereka karena kami sama-sama basah kuyup. Tapi setelah melihat muka mereka, aku spontan memeluk mereka satu persatu.
“Jaga Babeh sama Mamah ya.” Aku pamit berangkat.
“Hati-hati. Jaga diri, A!” Ucap mereka hampir berbarengan.
Setelah menukar tiket yang sudah aku pesan daring, aku bergegas menuju kereta yang sudah menunggu. Petugas kereta api memeriksa identitasku dengan teliti sebelum aku naik kereta. Lima menit kemudian, aku bertolak menuju Jember.
 
Berangkat!