Monday, 3 October 2016

Empat Tahun Bersama TVRI Jabar


Banyak orang beranggapan pekerjaan idaman adalah hobi yang dibayar. Namun perkara idaman biasanya antara sulit didapatkan atau ya too good to be true.  Terlebih kalau berurusan dengan kenyamanan. Saya sendiri memiliki hobi jalan-jalan, naik gunung, menulis, atau tidur. Nyaman dengan latar belakang pendidikan saya di bidang politik dan lingkungan. Pekerjaan saya (setidaknya sampai Jumat lalu) adalah jurnalis televisi. Sama seperti orang-orang, saya juga suka tanya diri saya sendiri, sebenarnya mau saya itu apa?

2004 – 2007
Menjadi jurnalis adalah satu cita-cita saya. Saya mulai menyukai jurnalisme saat saya bergabung dengan majalah HAI sebagai reporter sekolah tahun 2004. Pekerjaan menjadi reporter adalah hal yang menyenangkan bagi saya yang masih siswa SMA.  Menyenangkan karena bisa dapat tiket gratis kegiatan-kegiatan SMA di kota Bandung termasuk Bazaar atau Pentas Seni (PENSI) dengan dalih liputan,  ikut termotivasi (self-loathing included) ketika mewawancarai siswa-siswi berprestasi, hingga mengulas film-film yang baru saja tayang di bisokop. Mengulas film ini yang paling menyenangkan dan agak saya dalami. Kalau sekadar menonton pakai uang sendiri mungkin tidak akan seserius dibayar orang (baca: kantor). Jadi saya harus melototi setiap adegan sambil mengingat-ngingat unsur intrinsik yang menarik dan sedikit cari tahu unsur ekstrinsiknya setelah film selesai. Plus meramunya jadi tulisan dengan bahasa abege. Saya baru tersadar bahwa saya jadi betulan khusyuk setiap menonton film sejak itu. Dari situlah saya mulai menggemari nonton film di bioskop hingga saat ini. Sayangnya kesenangan ini harus diakhiri saat saya kelas tiga SMA. Demi fokus masuk ke jurusan yang diinginkan orang tua, saya harus mengganti kegiatan menyenangkan itu dengan jam dan les tambahan yang, um, jauh dari menyenangkan.

2008 – 2010
Saya mengalami masa transisi dari abege SMA menjadi mahasiswa kupuke-kupuke alias kuliah-pulang-kerja. Dua tahun pertama saya kuliah, saya tidak berhubungan sama sekali dengan jurnalisme. Saya tidak bergabung dengan UKM jurnalistik. Saya lebih memilih kerja sambilan cari tambahan uang. Hingga di tahun 2009, ada lembaga pers fakultas bernama POLAR yang sedang regenerasi. Saya ikutan karena serius tertarik. Menariknya, pengukuhan anggota POLAR ini diadakan di Yogyakarta termasuk dengan studi banding dengan pers kampus UGM yang terkenal itu dan membuat liputan dengan materi dan alat seadanya. Pada saat itu saya senang bisa kembali ke dalam lingkaran diskusi editorial dan redaktur untuk menentukan topik mingguan. Saya juga senang bisa melihat tulisan saya masuk buletin kampus. Sampai akhirnya POLAR harus hibernasi lagi karena tidak ada penerus. Termasuk saya yang harus fokus mengerjakan skripsi karena masa beasiswa saya sudah di ujung tanduk. Oh man, money controls almost everything, right?

2011 – 2012
Dari tahun 2011 saya fokus, fokus, dan fokus mengerjakan skripsi yang berhasil diselesaikan akhir tahun 2011. Mengawali tahun 2012 saya merasakan pahitnya menjadi seorang fresh graduate:  lamar sana-sini dan ditolak sana-sini. Dari situlah saya belajar kuat menghadapi segala bentuk penolakan. Termasuk penolakan dari hampir semua bank negara yang saya coba lamar demi menyenangkan hati orang tua. Di tengah kegalauan mencari pekerjaan idaman, saya diajak rekan-rekan saya ikut seleksi penyiar TVRI Jawa Barat. Saat itu saya agak ragu karena saya punya krisis kepercayaan diri baik dengan penampilan sendiri maupun kemampuan berbicara di depan publik. Saya lebih suka menulis karena kata-kata bisa disunting berulang kali dan jurnalisme tulisan (baca: media cetak) bisa sangat menjelaskan tanpa harus melihat mimik muka atau penampilan.

Namun saya memutuskan untuk ikut karena pertama, saya melihat rekam jejak TVRI yang menurut saya masih memiliki idealisme untuk melayani kepentingan publik. Kedua, ini kesempatan saya untuk balik lagi ke jurnalisme karena lokasinya di Bandung yang memungkinkan saya untuk leluasa grusuk sana sini sambil bekerja. Tidak diterima pun tak apa, kan sudah terbiasa dengan penolakan (baca: kegagalan).

Ada beberapa tahapan seleksi mulai dari wawancara, tes bahasa Inggris, menulis esai, sampai tes kamera. Akhirnya saya dinyatakan lolos sebagai penyiar bersama dengan tiga orang lainnya yang kemudian menjadi sahabat seperjuangan saya. Walau sudah diterima sebagai penyiar, saya masih harus menjalani pelatihan, pengenalan, dan melopen (melatih logat penyiar). Sementara kontrak akan berjalan terhitung saya siaran pertama kali. Awalnya saya ragu karena ketidakjelasan kontrak sehingga tak heran banyak orang sempat mundur karena ketidakjelasan kontrak ini ditambah masa melopen yang lama. Di sisi lain, saya juga dihadapkan pada kontrak di salah satu bank negara yang seleksinya berhasil saya lewati dengan peluh jarak Bandung-Jakarta bolak balik tiap hari. Setidaknya ada satu yang menerima saya. Saya memilih dengan sangat hati-hati karena kalau saya diskusikan dengan orang tua, mereka pasti akan mendorong saya mengambil pekerjaan kedua. Jujur, saya telah bertanya pada banyak teman yang berprofesi sebagai banker dan pekerjaan tersebut tidak cocok dengan saya. Saya ini sebenarnya pemalas dan hobi bangun siang. Menjadi seorang banker menuntut orang-orang harus memangkas jam tidurnya dan bergerak seefektif mungkin. Yaiyalah, semua kerjaan mah emang gitu. Sedangkan jadi penyiar ini kerjaannya lebih santai.

Mundur sedikit ke awal tahun 2012, setelah saya lulus, saya diam-diam mendaftar banyak beasiswa seperti beasiswa Tifa Foundation, BGF, Beasiswa ASEAN, Malaysia, Thailand, sampai Beasiswa Unggulan. Belum ada LPDP saat itu. Beberapa beasiswa berbuah setengah manis karena hanya menawarkan beasiswa parsial. Sisanya ya penolakan lagi. Pada saat saya dinyatakan lolos di salah satu bank negara dan TVRI Jabar,  ada dua beasiswa setengah manis yang saya kantongi. Walau ada beasiswa tuition fee, biaya hidup di Inggris atau Perancis yang tidak murah itu harus saya cari sendiri. Abot pisan euy.

Tak disangka, pucuk dicinta ulampun tiba. Esoknya saya mau tanda tangan kontrak bank, ternyata saya dikabarkan mendapat beasiswa penuh dari Dikti melalui program Beasiswa Unggulan di Bandung. Akhirnya saya punya pertimbangan (baca: senjata) lain untuk ditawarkan ke orang tua saya. Orang tua dan keluarga besar saya sebenarnya tidak terlalu perhatian dengan pendidikan lanjutan. Banyak anggota keluarga besar saya yang hanya lulus SMA tapi sukses dan berhasil. Berpijak dari situ, persepsi pendidikan di keluarga besar ya hanya sebatas SMA tapi bisa sukses, ngapain lebih, toh sarjana aja banyak yang nganggur. Otomatis usulan saya untuk mengambil beasiswa mental begitu saja. Mulai dari emang, ibi, uwa, sampai orang yang saya tidak tahu kalau mereka memiliki hubungan keluarga dengan saya ikut-ikutan menasihati saya untuk memilih bekerja daripada lanjut sekolah lagi. Dalam hati saya sebenarnya sangat suka kuliah, diskusi, menulis, penelitian, dan bangun siang. Pokoknya tri dharma pendidikan tinggi banget deh. Untungnya, kakak saya mendukung dan berhasil meyakinkan orang tua saya tentang beasiswa ini. Saya sangat bersyukur ada yang mendukung saya. Ujungnya, beasiswa itu saya ambil dan saya juga menjalani pekerjaan saya sebagai penyiar.

Awal kuliah magister dimulai bulan Maret. Untungnya kerja di TVRI Jabar, jadwalnya tidak terlalu padat dan hanya mengikat melalui kontrak enam bulan. Jadi saya juga masih ikut berjejaring, berkomunitas, dan penelitian di kampus. Bersamaan dengan itu, saya juga memulai masa pelatihan dan melopen hingga bulan November. Pelatihan ini termasuk dengan pengenalan terhadap unsur-unsur produksi siaran, membuat berita, dan alih suara (dubbing). Dalam bidang pemberitaan TVRI Jabar ada dua mata acara unggulan yaitu Kalawarta dan Jabar dalam Berita. Pertama kali siaran saya memegang program berita Sunda, Kalawarta pada akhir bulan November. Yang menantang adalah, saya sebenarnya juga baru belajar berbahasa Sunda pada tahun 2010. Walau seringkali salah dan grogi, saya terus mencoba sampai bisa.

2013 - 2016
Banyak hal yang saya pelajari dari TVRI Jabar. Awalnya saya berpikir jurnalis televisi itu penyiar saja tapi ternyata penyiar atau newsanchor/newscaster berbeda dengan jurnalis televisi. Saya lebih suka menggunakan istilah jurnalis televisi karena jurnalis televisi tidak melulu menyampaikan berita langsung melalui siaran tapi fokus menggali satu isu atau topik untuk disampaikan ke khalayak banyak. Misalnya, ada topik kenaikan premi BPJS kesehatan individu. Jurnalis televisi (dalam hal ini reporter) membuat liputan berita mengenai hal tersebut yang kemudian akan disampaikan ke khalayak melalui penyiar. Pada tahun 2013 penyiar tidak diikutsertakan dalam kegiatan liputan berita kecuali untuk even tertentu. Dan selama tahun 2013 tugas saya ya siaran Kalawarta saja. Pernah sekali saya siaran Jabar dalam Berita dan ikut membuat beberapa paket siaran.

Belum genap setahun di sini, saya berniat keluar karena harus studi ke Belanda pada Agustus 2013 selama kurang lebih setahun. Saat akan keluar, atasan-atasan saya menyarankan untuk ambil cuti tak ditanggung (unpaid leave) dan ternyata diterima oleh Kepala TVRI Jabar pada saat itu.

Saya balik lagi ke TVRI Jabar pada bulan Agustus 2014 sambil menyelesaikan penelitian tesis. Memang agak keteteran mengerjakan tesis sambil siaran karena pada tahun 2014 ini banyak perubahan format siaran. Belum lagi saya harus beradaptasi ulang. Pada tahun ini dan seterusnya penyiar mulai dilibatkan dalam liputan dan siaran live-cross dengan format yang berubah-ubah. Siaran live-cross adalah siaran silang dari TVRI Nasional dengan TVRI daerah. Dan pada tahun ini pula saya dilibatkan secara intens di Jabar dalam Berita dan program-program dialog.

Tahun berikutnya saya mulai dilibatkan dengan kru TVRI Nasional. Even nasional pertama saya adalah 60th Asian African Conference Commemoration. Di sinilah saya pertama kali belajar dari kru TVRI Nasional mengenai reportase langsung even nasional. Saya juga dipercaya untuk bergabung dengan kru arus Mudik TVRI 2015. Kurang lebih seminggu saya kebagian reportase dan liputan di kawasan Nagreg. Saya banyak belajar dari reporter andal dan kru TVRI Nasional baik tentang persoalan teknis maupun kesenangan saat liputan. Oh ya saya juga belum lulus pada waktu itu.


Reportase Historical Walk AACC 2016

Setelah lebaran, tepatnya bulan Agustus saya berhasil lulus magister. Saya sempat menikmati kehidupan yang lengang setelah itu. Kegiatan saya hanya siaran, liputan, jalan-jalan, dan bangun siang. Saya sempat meliput Pilkada Serentak di daerah rawan bencana, kampung Cienteung. Plus berkegiatan di luar seperti jadi pewara atau moderator atau bantu proyek teman. Saya punya waktu lebih banyak untuk olahraga dan baca buku. Menyenangkan.

Pada tahun 2016, sambil menikmati waktu lengang, saya sempat mengikuti pendidikan dan latihan (diklat) penyiar nasional bersama teman-teman dari TVRI daerah lainnya. Selama tiga minggu, saya mendapatkan banyak pengetahuan dari beragam pembicara yang hebat mulai dari penyiar andal Usi Karundeng, Coreta Kapoyos, sampai sutradara Eka  Sitorus. Tidak hanya itu, saya juga menambah teman-teman baru dan pengalaman yang tidak ‘terlupakan’ (if you know what i mean) dari provinsi yang berbeda-beda.

Siaran Indonesia Terkini 2016
Saya juga sempat dilibatkan kembali dalam liputan dan siaran Mudik Asyik TVRI 2016 (harus pakai ‘asyik’, serius) dengan format yang berbeda. Jika tahun 2015 pekerjaan saya hanya reportase langsung, tahun 2016 ini saya juga memegang segmen studio mini. Tidak hanya di seputar berita, saya juga sempat dipercaya jadi pembaca katagori dalam Anugrah Gatra Kencana, yaitu awarding night tahunan bagi keluarga besar TVRI. Enaknya di TVRI itu, saya bisa menambah lagi teman-teman baru dari banyak daerah. Dan terakhir, saya juga dilibatkan dalam PON XIX Jawa Barat. Sungguh pengalaman tak ternilai bagi penyiar daerah seperti saya untuk bisa ikut semua itu.

Mudik Asyik TVRI 2016

Mudik Asyik TVRI 2016
Berpasangan dengan Maratun dari TVRI Sulawesi Selatan

Selain kesempatan, TVRI Jawa Barat jelas sudah memberikan banyak pelajaran dan kenangan bagi saya. Baik seputar jurnalisme maupun kemampuan inter- dan intrapersonal saya dapatkan: bagaimana menghadapi orang-orang, birokrasi, dan administrasi atau bagaimana meningkatkan kapasitas diri. Tidak bisa ditampik bahwa orang-orang masih memandang TVRI sebagai stasiun tv yang jadul. Tak apa, karena perubahan itu tak bisa drastis.

Tak hanya itu, saya juga menemukan keluarga senasib sepenanggungan yaitu rekan-rekan penyiar. Dua rekan seangkatan saya sudah keluar dan melanjutkan fase dalam kehidupan mereka. Kini giliran saya (dan mungkin teman saya yang satu lagi segera menyusul). Saat pertama kali masuk TVRI Jabar, masih basah di ingatan saya, banyak orang-orang  di sana mengatakan sambil tertawa, “TVRI Jabar mah ibarat kawah candradimuka penyiar. Tempat latihan dan belajar. Makanya orang-orang kalau udah cukup belajar sama latihan, ya keluar. “


Penyihir TVRI Jabar


Saya pikir, ini saatnya bagi saya untuk beranjak keluar dari zona nyaman saya dan melanjutkan petualangan. Semoga TVRI Jabar bisa terus menjadi sobat urang sarerea.



5 comments:

Reta Yudistyana said...

Luar biasaa bisa sampai empat tahun di TVRI Jabar! Pernah magang di sana, yang paling diingat sampai sekarang adalah ayam goreng & sayur yang dijual di ibu-ibu kantin TVRI Jabar situ yang enak..haha

M.R said...

If you’re brave enough to say goodbye, life will reward you with a new hello.

congratulation pradipski! ditunggu sepak terjang selanjutnya ;))

Pradipta Dirgantara said...

Wah masih inget aja Ret. Jadi keingetan juga pernah diwawancara km :))

Pradipta Dirgantara said...

Life is an infinite cycle of hello and goodbye. I don't like it anyway :))

Ditunggu sepak terjang apdetan blog lu Mei

Siti Syarah Ulfa said...

Kak kalau ingin magang kesana tahap tahapnya gimana kak??