Thursday, 13 April 2017

Menjadi Tambah Tua

Bertambah Tua


Bertambah tua bukanlah hal yang menyenangkan: uban yang mulai subur terlihat, kerutan yang menggaris jelas di wajah, rasa lelah yang menumpuk, dan krisis yang tak berkesudahan.

And everything suddenly feels so personal.

Beberapa orang bertambah dewasa seiring dengan umur mereka yang berkurang. Beberapa orang justru tidak. Kedewasaan memang bukan dinilai dari umur belaka. Menurut orang tua saya, kedewasaan itu distandardisasi melalui kemampuan untuk menjalankan tanggungjawab dan beban yang diberikan, minimal sesuai dengan kapasitasnya. Contohnya, seorang anak berusia 12 tahun di satu desa di pelosok Tasikmalaya yang harus menjadi pedagang asongan demi menafkahi lima orang anggota keluarganya. Itulah dewasa versi orang tua saya: matang.

Saya setuju dengan orang tua saya bahwa kedewasaan adalah menjadi matang. Kata yang ringan tapi berat. Ringan karena banyak yang beranggapan bahwa seiring bertambah hari dan berkurang usia, kedewasaan otomatis bertambah dengan bertulang tahun. Saya juga dulu beranggapan bahwa berulang tahun adalah peningkatan kualitas kedewasaan yang linier dengan umur. Bahwa perjalaan hidup seseorang adalah linier dengan waktu, mungkin perlu ada kajian mendalam yang saya tahu ada jawabannya. Berat karena kedewasaan tidak selalu bertambah dengan bertambah usia.

Saya sadar bahwa hidup hanyalah fenomena mengulang. Sebuah siklus. Sebuah pergantian. Seperti siang dan malam, bahagia dan sedih juga akan silih berganti. Seperti lima tahun yang lalu saya membuat tulisan ulang tahun sebagai pengingat diri. Kini saya melakukan hal yang sama di waktu dan tempat yang berbeda. Siklus yang asing pada awalnya, perlahan-lahan membuat saya menjadi terbiasa dan saking terbiasanya, memunculkan kejenuhan dan melemparkan saya ke awal siklus: keterasingan. Waktu lagi-lagi menjadi determinannya.

Hidup pandai memberikan kado-kado kecil yang diselipkan saat menjalani hari yang tampak biasa saja. Kado yang saya sukai maupun tidak. Yang manis tapi juga tak jarang pahit. Dan saya yang sudah tua ini tampaknya belum bertambah dewasa secara signifikan. Karena saya masih belum bisa merangkul semua kado-kado yang bersemayam di pundak ini.

Saya mungkin belum dewasa tapi setidaknya saya yang tua ini menemukan beberapa bagian lain dari diri saya.




Pertama, saya mungkin terobsesi dengan keberhasilan. 

Keberhasilan yang berasal dari pencapaian hal-hal kecil. Dulu saya begitu senang dengan motivasi, positivitas, kesuksesan, kompetisi, dan inspirasi yang menjadi bahan bakar untuk berkarya. Saya pernah membuat resolusi tahunan dari tahun 2009 sampai 2012. Setelah membacanya lagi saya merasa konyol sekaligus geli.




I can’t believe and still laugh hard that I had listed ridiculous things such as langgeng, fitnes, bersyukur, and or any other abstractive things such as never surrender, be simple minded, have more sensibility to others as part of my yearly resolution.

Walau banyak hal-hal yang tidak tercapai, atau belum, setidaknya tulisan tersebut bisa jadi pengingat bagi saya bahwa dulu saya seperti itu loh. Target oriented and competitions freak. Ya itulah saya. Tapi sejak tahun 2013, saya sudah berhenti membuat resolusi tahunan. Alasannya, saya seolah memaksa saya menjadi dewasa secara prematur dengan mengejar hal-hal yang menurut saya penting. Padahal yang lebih penting bisa saja terjadi dan tidak ada di dalam daftar resolusi tersebut. 

Menjadi berhasil memang menyenangkan. Tapi tidak semua keberhasilan bisa diraih begitu saja. Saya ingat saat SMA kelas dua saya pernah mengurung diri di kamar mandi dan menangis seharian. Orang tua saya bolak-balik mengetuk pintu kamar mandi dan mengecek saya dan memaksa saya keluar. Tapi saya tetap bertahan. Kenapa kamar mandi? Karena saat itu saya berbagi kamar dengan kakak saya, saya malu menangis di kamar dan dijahili dia. Jadi saya butuh tempat publik yang bisa disulap jadi ranah pribadi secara instan. Kenapa saya menangis? Karena saya pertama kali dapat angka 3 skala 10 untuk ulangan matematika padahal saya sudah belajar mati-matian. Akhirnya saya dipaksa keluar karena kamar mandi satunya sedang rusak sehingga banyak orang di rumah yang sudah mengantri mandi dan marah-marah. Saya menyerah dan keluar. Orang tua saya menunggu di luar dengan muka meminta penjelasan. Saya ceritakan kesedihan saya, mereka hanya membalas,
“Oh kirain ada apa. Kaya besok kiamat aja.”

Bagi saya saat itu nilai 3 itu kiamat sugra.

Kejadian itu tanpa saya sadari berulang kali dalam beragam bentuk di keseharian saya. Saya sudah berusaha keras tapi gagal. Juga gagal memahami setiap kegagalan. Bagi saya setiap hal kecil itu bermakna dan pantas diperjuangkan. Ujungnya, saya sering capek sendiri. Saya sedikit memahami bahwa hasil yang sebenarnya saya butuhkan itu tidak selalu seperti yang saya bayangkan. Pada akhirnya, saya memaknai kertas ulangan tersebut seperti ini: kertas ulangan dengan nilai 3 yang angkanya selalu bikin saya mual itu saya laminasi dan saya tempel di atap di atas tempat tidur. Jadi setiap saya mau tidur ataupun bangun tidur, saya selalu diingatkan bahwa saya pernah belajar mati-matian tapi tetap dapat nilai jelek, dan sempat bikin waswas orang serumah. Terus, selanjutnya mau diapain? Saya terus belajar lebih keras lagi untuk dapat nilai yang lebih bagus. Ulangan selanjutnya saya dapat nilai 7 skala 10, saya sempat senang. Namun saya, mulai berpikir, mungkin ini bukan karena usaha saya semata. Tapi materi ulangannya memang lebih mudah. Atau orang tua saya berdoa supaya nilai saya agak bagus sehingga saya tidak perlu mengokupasi kamar mandi seharian dan buat orang rumah khawatir lagi.

Gagal itu rasanya menyakitkan. Seolah rasa percaya diri kita tergerus sedikit demi sedikit. Jika nilai anjlok saja bisa bikin saya mengurung diri di kamar mandi seharian, apalagi tentang percintaan. Percintaan adalah satu kegagalan paling menyesakkan dalam hidup saya. Saya mengelus diri sendiri bahwa cukuplah nilai saya anjlok di matematika saja, saya yakin saya punya nilai lebih baik dalam percintaan. It turns out that I was clueless about everything. Saya patah hati berulang kali. Dan sebagian memang karena diri sendiri. 

Setelah bersedih dan mengutuki diri sendiri, saya perlahan-lahan belajar menerima setiap kegagalan. Menjalani apa yang terjadi dengan mencoba menyadari ada banyak hal yang tidak bisa saya kendalikan. Saya juga sudah mulai berhenti untuk mengevaluasi dan mencari pertanyaan atas apa dan kenapa. Saya belum punya kemampuan untuk bertindak sebagai evaluator hidup saya sendiri. 

Walau saya punya obsesi terhadap keberhasilan, saya juga menemukan bahwa ternyata saya tidak suka menyerah sampai saya benar-benar lelah.


Kedua, saya mungkin terobsesi dengan kehilangan.

Bagi saya selamanya adalah abun-abun yang sangat naif dan tidak realistis. Perlu saya akui, saya sempat  berpikir bahwa hal itu mungkin terjadi. Bahwa kita – saya dan kamu – tetap sama selamanya. Bahwa bahagia itu selamanya, bahwa pertemanan itu selamanya, bahwa keluarga itu selamanya. Bahwa saya merasa utuh selamanya. Kita hanya ingin yang hal-hal yang kita sukai berlaku selamanya, bukan? Saya juga ingin seperti itu.

Kita memang egois. Tak apa.

Kenyataannya, hari ini kita merasa utuh, esok merasa kehilangan. Itu pun tak apa. Beberapa kehilangan yang saya utarakan di blog seperti ini dan itu sebenarnya sama sekali tidak membuat saya kuat menghadapi kehilangan. Kehilangan selalu menyertakan rasa sakit yang mendalam. Dan rasa sakit itu menetap di satu ruang di hati saya. Saya kehilangan teman. Saya kehilangan keluarga. Saya kehilangan kekasih. Berulang-ulang. Namun saya tidak jua terbiasa dengan rasa sakitnya. Pun tidak menjadikan saya kuat, apalagi siap, menghadapi kehilangan selanjutnya. Kehilangan adalah hal yang paling saya benci di dunia ini. Saya belum sepenuhnya bisa memahami kenapa ada harus berpasangan dengan hilang, layaknya perjumpaan dengan perpisahan. Mengapa kita ditakdirkan untuk ada dan dekat jika harus hilang atau berpisah. Kalau mau dicari-cari maknanya pasti ketemu. Luput dicari juga tak jadi masalah. Bukankah hidup ini arbitrer? Lagipula tetap waktu yang menentukan. Kalaupun jawabannya tak kunjung ketemu, itu hanya satu hal yang menegaskan bahwa tak selamanya pertanyaan berpasangan dengan jawaban. Tuh kan, selamanya adalah kata yang naif.

Kita – saya dan kamu – sepakat berada di garis lengkung waktu yang sama dan mengakui satu momen bahwa kita hanyalah bidak yang tidak memiliki hak atas dirinya.

I'm despondent and you're helpless. 

Tapi izinkan saya beranggapan bahwa semua yang ada di dunia ini adalah mortal dan fana, dan kita sedang berjalan menuju tubir ketidakpastian yang pasti. Kenangan yang mulai memudar. Dunia yang terus berputar. Dan orang-orang yang saling menghindar. Kehilangan adalah luka hidup. Ia adalah duri pada setangkai bunga mawar yang cantik, atau kerapuhan pada kupu-kupu yang elok.

Saya belajar menerima saat saya kecewa dan gagal. Saya belajar menerima bahwa saat saya jatuh cinta, saya akan jatuh sejatuh-jatuhnya. I learn that I sometimes become too difficult even for myself. Saya belajar menerima saat saya menyakiti dan disakiti. Saya belajar memafhumi rasa sesak di dada saat saya merasa sendiri dan tak punya siapa-siapa selain Dia. Saya belajar kembali mengumpulkan kepingan-kepingan harapan yang pernah tercecer entah di mana. Saya belajar mempertahankan apa yang bisa saya pertahankan dan melepas apa yang memang perlu lepas.

Tidak pernah terlintas dalam benak saya untuk menulis hal sepersonal ini di blog saya. Mungkin saya kesepian. Mungkin saya butuh berekspresi. Mungkin saya merasa jadi orang paling menderita sejagad raya. Mungkin saya hanya berlaku dramatis dan melankolis. Mungkin saya butuh perhatian. 

Saya tidak tahu. Saya juga bingung.

Yang saya tahu saya ingin menulis dan inilah saya. Sedang berulang tahun, dua hari lalu. Saya dulu, saya sekarang, dan saya nanti, adalah saya. Saya yang bertambah tua. Yang masih mencoba menerima apa adanya diri sendiri, mengubah apa yang bisa saya ubah, dan tabah menjalani yang tak bisa diubah. Saya yang masih belajar meresapi kesedihan yang kadang rasanya menusuk dahsyat dan mensyukuri kebahgiaan yang datang walau begitu sederhana. 


Saya yang masih berusaha sedikit terbuka terhadap diri sendiri dan orang lain.




Saya yang bertambah tua.

3 comments:

Kori said...

Bacanya sampe tahan napas saking kerennya apalagi liat resolusi2nya. Hebat euy!
Aslinya lu emang suka cerita dan ngobrol ga sih? Baca tulisannya berasa gitu soalnya. #sotoy

Daun Merona said...

👍👍👍👍👍👍👍👍😄

Anonymous said...

Menyentuh juga baca tulisannya, Mas Pradip. Awalnya gara-gara liat twit soal depresi kuliah di luar negeri jadi malah nyasar ke sini. Semangat terus Mas kejar mimpinya. Fail again, fail better. Ditunggu juga tulisan-tulisan selanjutnya!