Sunday, 2 December 2018

Cerita Setahun ke Belakang


Apa itu perjalanan diri?


Menghargai waktu adalah salah satu mata kuliah dalam silabus hidup yang terus aku ambil. Terutama dalam satu tahun terakhir, pembelajaran tersebut terus bersedimentasi dengan pengalaman dan perasaan yang campur aduk dengan kehilangan, kesabaran, penerimaan, dan penemuan diri. Dalam satu tahun ini aku merasa beruntung bisa mendapatkan ruang dan waktu lebih banyak untuk belajar memahami resiliensi dan kapasitas diri. Menurut hematku, aku tak jauh beda dengan makhluk hidup lainnya untuk tumbuh dan berkembang, seperti tanaman yang perlu disiram rutin dan mendapat cahaya matahari untuk tumbuh atau seperti binatang yang instingnya terus berkembang dalam memenuhi kebutuhan biologisnya. Lantas penyadaran diri perlu untuk bisa mengoptimalkan kapasitas tumbuh dan berkembang di tengah hari-hari yang monokrom.

Thursday, 8 November 2018

Berdamai di Puncak Ciremai

Damai di puncak Ciremai

Agustus lalu saya bersama dua rekan melakukan pendakian ke gunung tertinggi di Jawa Barat, gunung Ciremai. Dari Bandung kami bertolak pukul empat sore menggunakan kendaraan pribadi. Pukul lima sore lewat kami tiba di Sumedang dan mampir ke supermarket untuk membeli perbekalan sekaligus istirahat, salat, dan makan. Kesegaran hakiki yang tak boleh terlupa adalah sebungkus agar-agar nata de coco dan aloe vera untuk diseruput di puncak nanti. Setelah memastikan semua dibawa, pukul setengah tujuh magrib kami melanjutkan perjalanan.

Rute yang kami pilih adalah rute Bandung – Sumedang – Kadipaten  Majalengka melalui jalur pendakian Apuy. Saya menyetir sepanjang perjalanan ditemani mengobrol dengan teman saya yang duduk di sebelah. Supaya tidak mengantuk. Sementara rekan saya satu lagi sudah menyerah tertidur di kursi belakang. Dengan bermodalkan google map tujuan Balai Desa Argamukti, kami menyusuri jalan Kadipaten. Kami sempat nyasar hampir masuk ke jalan tol Cipali  saat di pertigaan Jatiwangi. Seharusnya kami belok kanan namun malah terus lurus. Saat menyadari jalan yang semakin gelap, kami memutar balik. 

Thursday, 20 September 2018

Antara Tenggelam dan Menyelam



Tak lebih dari setahun lalu saya berkesempatan untuk ikut kursus menyelam perairan terbuka (open water) di Bali tepatnya di Geko Dive Center, Padangbai. Untuk mendapatkan lisensi PADI ini saya perlu mengeluarkan biaya sekitar enam juta rupiah untuk kursus tiga hari belum termasuk akomodasi, hanya makan siang dan minuman komplementer. Ada kopi dan teh yang bisa dituang sendiri sepuasnya. Saya sempat riset harga dan harga tersebut memang standar kursus menyelam di Bali. Padangbai menjadi pilihan karena jauh dari destinasi wisata yang ramai. Sebelum memesan, saya sudah menyocokan jadwal dan juga keberangkatan. Kadang perlu menunggu lama agar kelas bisa dibuka atau harus masuk daftar tunggu. 

Monday, 3 September 2018

Sadar Ruang


Sadar Ruang


Berantakan, 2017


Masa kecil saya diwarnai beberapa kepindahan kediaman, setidaknya lima kali. Kepindahan terakhir sekitar tahun 2009 akhir adalah yang paling emosional untuk saya. Saat itu tahun kedua kuliah dan saya sudah bersarang dengan nyaman dalam waktu yang paling lama di rumah tersebut. Banyak sekali kenangan manis dan pahit tumbuh dan menempel bersama hari-hari di rumah tua itu. Alasan lainnya, praktis karena letaknya strategis di tengah kota Bandung. Pindah dari rumah itu seperti meninggalkan bagian diri yang paling mendasar: masa kecil dan kenangan yang membentuknya.

Friday, 22 June 2018

Mengenal Universalitas dalam ECF 2018

Extension Course Filsafat 2018


"Hidup lu kagak kurang rumit apa pake ikutan kelas filsafat segala?"

"Hati-hati ikut kursus begituan nanti kena cuci otak."

"Berat amat sih ikutan kaya gitu. Mending ikutan kursus pranikah kek. Kursus jahit kek. Apa kek."

Itulah reaksi teman-teman saya saat tahu saya sedang ikut kelas filsafat. Bukan kelas sih tapi lebih ke kursus tepatnya, yaitu Philosophy Extension Course aka Extension Course Filsafat. 

Saturday, 19 May 2018

Ramadan Jauh dari Rumah

Tempat nongkrong favorit

Menjalani bulan Ramadan di kampung halaman selalu terasa menyenangkan. Ada secuil perasaan lega karena bisa berkumpul dengan keluarga dan hal-hal familiar lainnya: jajanan takjil menjelang magrib, orang berbondong datang salat tarawih, ajakan buka bersama, dan perayaan Lebaran. Sudah lima kali saya habiskan hari Lebaran di luar rumah. Dua di antaranya di luar negeri. Bagi banyak orang rantau puasa jauh dari keluarga adalah satu kebiasaan. Ada pula yang kebiasaannya tidak pulang menemui keluarga, bukan karena apa-apa, tapi ya karena memang sudah tidak ada keluarga. 

Sunday, 25 March 2018

Kemah Ceria di Puncak Artapela

Puncak Artapela, katanya, 2181 mdpl

Februari lalu saya bersama teman-teman berkesempatan menjajal puncak Gunung Artapela di kabupaten Bandung. Gunung Artapela ini lokasinya dekat sehingga saya bersama dua orang teman yang memang senang main di alam terbuka tidak perlu repot menyocokan jadwal. Dengan semangat kemah ceria, yang artinya tidak perlu susah-susah mendaki gunung hanya untuk berkemah, yang penting tertawa bahagia tanpa keluh kesah, kami pun mengajak siapapun untuk bergabung. Saya sebenarnya agak malas bertemu dengan orang baru karena harus menyesuaikan ritme dan frekuensi perjalanan. Namun mengingat ini kemah ceria, semakin banyak, ya semakin ceria. 

Friday, 2 February 2018

Tujuh Buku Favorit

Sebagian buku hasil sana sini

Selama tahun 2017, bertepatan dengan setahun saya berkelana di Australia, saya cukup terkejut menghitung ada 97 buku yang saya bawa pulang ke Indonesia. Tidak saya sangka setahun di Australia bisa mendorong saya untuk membaca buku lebih banyak daripada saat saya tinggal di Indonesia atau bahkan saat saya di Belanda yang seharusnya hanya berkutat seputar belajar dan baca buku malah tidak produktif. Semacam eat, sleep, repeat. Mungkin karena harga buku di Australia termasuk murah dengan standar hidup di sana.

Tuesday, 9 January 2018

Closure: 2017

Standing and heaving on a rocky crater of Mount Slamet

I couldn’t see time as I was blanketed by perfect pitch black inside a uv-proof tent my friend recently bought who was also sleeping soundly next to me. Quite the opposite, I couldn’t really sleep well that night. The fireworks were too debilitating. I forced myself to peek to see them but it was pointless as the mist covered the surrounding was too thick. Additionally other campers mostly still got up and cheered the year changing to mark the significant change whatever their heart desired. They were screaming and clapping in joy ignoring the mountain coldness. I was being too laid-back to even desire a change in 2018. Let alone join their march. I fixed my sleeping bag I was wrapped in, closed my eyes, and tried to shut my mind. I needed to rest as I had to get up at 4 am to go to the top of the mountain. But the restless mind wouldn't shut if it wouldn't. Was it the Puntang coffee I drank that afternoon? Was it the sound of my new found friend who was shivering in a tent in front of ours? I already gave my extra jacket and socks to him but he still was shivering. His shivering voice was too strong to ignore. I wondered why his tent-mate was still sleeping in peace. 

Normally, I was an easy sleeper. I slept while standing on a bus, while sitting on a motorcycle driven by someone else. Was it because my body too worn out? I was done hiking for ten hours to get to the first camping spot, additional two hours to where i was now, and expected to walk for more two and half hours to the top. I had no idea why i stayed awake even though I had closed my eyes. While dissecting the thoughts for the sake of an answer, the other tent’s inhabitants woke up already and talked loudly to get us up. I grabbed my phone and checked the time. It was almost 4 am. Time slided faster on a mountain.